Wisata

Salu Alambangan, Jernihnya Sungai Kecil Desa Pamboborang

04 Feb 2019

Budaya

Kuliner

Rubu-Rubuq / Jabu-Jabuq/Bajabu Kuliner Lezat Olahan Ikan Dari Sulawesi Barat

Salah satu teknik olahan kuliner yang memegang prinsip "dibuang...

  • 09 Mar 2018
  • 1

    , , ,

  • Salu Alambangan, Jernihnya Sungai Kecil Desa Pamboborang

    Kami bersama jernihnya aliran air sungai kecil  yang dinamai Salu Alambangan, berlatarkan hijaunya alam yang masih asri. terletak di dusun Pamboborang, Desa Pamboborang, kec. Banggae, kab. Majene, Sulawesi...

    • 09:20
    • 2

    , ,

  • Messawe Saeyyang Pattuqduq, Tradisi Yang Juga Bertahan Di Sulawesi Barat

    Messawe Saeyyang Pattuqduq, juga tradisi yang masih terus bertahan di suku Mandar, Sulawesi Barat setiap bulan Maulid atau dalam penanggalan hijriah yang jatuh pada bulan Rabiul Awal hingga...

    • 03:37
    • 1

    ,

  • Begini Cara Pemuda Pamboborang Majene Mencari Potensi Pengembangan Pariwisata Desa

    Setelah bukit Galung Paara yang mulai dilirik dan dikunjungi banyak generasi milenial di Majene, kami pemuda desa Pamboborang, kec. Banggae terus berbenah dalam menemukan potensi desa untuk pengembangan...

    • 17:45
    • 0

    , ,

  • Bukit Galung Paara, Pemain Baru Objek Wisata Di Kabupaten Majene

    Bukit Galung Paara, desa Pamboborang, kec. Banggae, kabupaten Majene, pemain baru objek wisata yang sedang hits di Majene. Destinasi yang coba dikembangkan oleh pemuda setempat, Diantara  keunggulan objek...

    • 16:54
    • 0

    ,

  • Marriqdiq Popupuang, Budaya Yang Masih Bertahan Di Sulawesi Barat

    Kearifan lokal Mandar yang juga masih bertahan di Sulawesi Barat adalah kegiatan "marriqdiq popupuang "  yaitu membuat lauk dari bahan ikan untuk acara/kenduri besar. Kegiatan Mariqdiq Popupuang di...

    • 16:16
    • 1

    ,

    Mappakeqdeq boyang (mendirikan rumah) bersama dengan keluarga besar di Lambanan. Meakayyang adaqtaq mipasalili litaqtaq. Lambanan adalah desa yang punya histori religi kuno di wilayah Balanip, menurut beberapa literatur sejarah, kawasan ini adalah daerah pertama yang memluk agama Islam di kerajaan Balanipa. Setelah daerah ini mengalami Islamisasi, baru kemudian daerah-daerah lain di pusat kerajaan Balanipa menyusul memeluk agama Islam. 

    Lambanan terletak di puncak bukit, dengan topografi yang ekstrim, untuk menuju desa ini harus berbelok di daerah Galung Tulu, daerah antara Waitawar, desa Tammangalle dan desa Pambusuang. Tradisi mendirikan rumah yang kental dengan budaya kekeluargaan dan gotong royong masih sangat terasa di area ini, terbukti dari  kegiatan pendirian rumah oleh salah seorang warga yang menghadirkan banyak rangkaian acara tradisi. Penghadiran makanan tradisional, pemuka agama, dan warga sekitar menjadi pemandangan yang menarik.     

    Kegiatan mendirikan rumah panggung (Mappakeqdeq Boyang) di desa Lambanan, kec. Balanipa, Kab. Polman, Sulawesi Barat (Foto : Ilham)
    Kegiatan mendirikan rumah panggung di suku Mandar di daerah Lambanan adalah satu dari kegiatan massal yang menghadirkan puluhan bahkan mungkin ratusan orang, ini adalah untuk mengangkat tiang-tiang kayu dan membuatnya berdiri kokoh. Di Mandar, Sulawesi Barat utamanya di bagian pesisir pantai biasanya kegiatan ini akan dilaksanakan setelah Jumatan, mengapa? karena pada momen ini para kaum lelaki yang banyak berprofesi sebagai nelayan akan berada di daratan, tak melaut, karena shalat Jumat adalah waktu berkumpulnya kaum lelaki, sementara kegiatan mendirikan rumah melibatkn kegiatan fisik yang menguras tenaga, karena itu mudah menandai kegiatan mendirikan rumah, biasanya dilangsungkan pada hari Jumat, setelah shalat Jumat.
    Saat kaum lelaki dan para pemuda saling bergotong royong dalam mendirikan rumah panggung (Mappakeqdeq Boyang) di desa Lambanan, kec. Balanipa, Kab. Polman, Sulawesi Barat (Foto : Ilham)
    Tradisi mendirikan rumah panggung di desa Lambanan ini, berlangsung pada Jumat, tanggal 31 Agustus 2018. 

    Kontributor :
    Teks : Ilham, Muhammad Tom Andari
    Foto : Ilham

  • Lomba Sandeq Keccuq Labuang 2018 Kembali Dihelat

    Mairiqmi anginq di birinna sasiq. minjijir tomi tia lopi-lopi. Kurang lebih Sebanyak 150 lopi-lopi (lopi sandeq ukuran kecil) akan berlomba, mencari yang terbaik dan tercepat. Lomba Sandeq Keccuq...

    • 20:45
    • 1

  • Ini Perbedaan Bau Ambu Dan Bau Peapi Mandar

    Di jajaran kuliner Mandar bau peapi sudah lama terkenal di posisi pertama, hampir setara dengan jepa sebagai teman bersanding untuk menikmati bau peapi, namun menu ikanAmbu mungkin tidak...

    • 17:09
    • 0

  • Buku Puang Dan Daeng Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar

    Buku Puang dan Daeng, Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar, buku budaya yang merekam dengan baik nilai-nilai dan status sosial yang dimiliki oleh orang Mandar. Ada perekaman kasta...

    • 19:11
    • 1

    ,

  • Mattula Bala Tradisi Orang Mandar

    Mattula Bala (Tolak bala) adalah tradisi yang dilakukan saat kampung sering dilanda musibah (makarra boi lino). Kegiatan tradisi yang didalamnya terdapat nilai dan pesan permohonan untuk memberikan keamanan...

    • 19:08
    • 3

  • Mattamba Bulung, Upacara Adat Warga Kaleok

    Kaleok adalah desa kecil yang terletak di perbatasan antara Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, tepatnya di ketinggian 600-800 meter di atas permukaan laut kecamatan Binuang, kabupaten Polewali Mandar,....

    • 01:22
    • 0

  • Rubu-Rubuq / Jabu-Jabuq/Bajabu Kuliner Lezat Olahan Ikan Dari Sulawesi Barat

    Salah satu teknik olahan kuliner yang memegang prinsip "dibuang sayang" adalah dengan melakukan rekondisi pada sisa makanan, dekat dengan prinsip mencegah "mubazir" atau membuang-buang makanan. Orang-orang di Sulawesi...

    • 17:12
    • 1

    Petikan tulisan seorang anak bernama Romi, duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, berusia 12 tahun dan berasal dari daerah terpencil di kecamatan Tubbi Taramanu, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Betapa jelas tergambar dari tulisan singkat yang ia buat potret keindahan Tubbi Taramanu, dari pemandangan hingga riuh nyanyian burung, ia membanggakan dengan jelas potensi keindahan yang dimiliki Tubbi Taramanu (Tutar), daerahnya yang masih alami menjadi alasan ia merekamnya dalam tulisan lewat kata-kata "Kampung halamanku sangat indah banya pemandangan dan burung pun banyak"

    petikan tulisan romi tutar polman
    Petikan tulisan Romi dalam secarik kertas saat mata pelajaran SBK (Foto : Andi Syura Muhlis)
    Romi lalu bercerita akses menuju sekolah yang harus ia lalui. Masuk ke hutan  dan menyeberangi sungai besar, itu ia keluhkan dengan merekamnya lewat tulisan "tapi kami sulit berangkat ke sekolah" anak- anak seusianya di desanya setiap hari harus berhadapan dengan akses pendidikan yang cukup sulit. Hal yang kontras dengan apa yang ditemukan dengan  anak -anak lain yang hidup di perkotaan, dengan mudah dan lancar menuju sekolah, namun berbeda jauh dengan nasib Romi.

    Romi juga secara tidak langsung ingin menyampaikan kondisi bahwa kadang saat hujan lebat akan menghalangi aktivitasnya sehari-hari, beberapa wilayah Tubbi Taramanu dipisahkan oleh sungai yang kadang memuat debit yang begitu besar saat hujan datang. Besarnya debit air akan memaksa warga untuk berhenti dari aktivitas penyeberangan. Dan hampir semua kegiatan akan terhenti saat fenomena alam yang tak dapat dikendalikan ini sedang berlangsung. Sekolah Romi terhambat, begitu juga dengan segala kegiatan warga desa Tubbi Taramanu.

    Petikan tulisan Romi dalam secarik kertas saat mata pelajaran SBK (Foto : Andi Syura Muhlis)
    Berikut petikan tulisan sederhana dari Romi, disalin dengan tulisan asli dengan tanda baca disesuaikan dengan yang tertulis pada secarik kertas yang ia buat dengan pulpen saat mata pelajaran SBK (Seni Budaya Keterampilan).

    "Tentang Kampung Halamanku Tubbi Taramanu

    Kampung halamanku sangat indah banya pemandangan dan burung pun banyak

    tapi kami sulit berangkat ke sekolah, karna kami melewati hutan dan apalagi sungai besar. dan terpaksa saya tidak sekolah dan saya pun dirumah melihat pemandangan dan burung yang terbang.

    Saya bertanya pada di saya sendiri  muda-mudahan sungai tidak besar besok pagi dan sore-sore saya pergi ke kampung saya tinggal dirumah nenek saya dan akhirnya saya pagi-pagi bangun dan mandi akhirnya saya sekolah lagi sampai sekolah saya ditanya ibu guru"

    Realita yang terjadi di pelosok kecamatan Tubbi Taramanu dimana akses memperoleh pendidikan menjadi satu hal yang sulit. 

    Kontributor :
    Teks : Romi, Muhammad Tom Andari
    Foto : Andi Syura Muhlis

  • Ritual Dan Gotong Royong Mengapungkan Perahu Di Desa Tubo Majene

    Selalu saya temui komat-kamit dan gerakan-gerakan tertentu lalu dibumbui dengan mantra, baik disaat menghidangkan makanan hingga perahu sudah mencapai bibir pantai. Itu saya temukan di desa tempat saya...

    • 23:10
    • 0

    Buku-buku yang merekam tentang keragaman budaya di Sulawesi Barat cukup banyak, salah satunya adalah buku ini, dengan judul "Meneropong Prospek & Transformasi Pariwisata Budaya Majene" karangan  Fahmi Massiara, Abd. Rahman, dan Abd. Rimba. Saat ini penulis pertama memegang jabatan sebagai Bupati di kabupaten Majene. 

    Buku ini secara singkat mendeskripsikan secara rinci dan jelas serta sistematis mengenai potensi objek wisata budaya yang ada dan bertumbuh di kabupaten Majene, Sulawesi Barat seperti messawe saeyyang pattuqduq, adat istiadat perkawinan Mandar, tradisi parrawana Mandar, tradisi kerajinan tenun dan budaya sarung sutra Mandar dll.

    buku-meneropong-prospek-dan-transformasi-pariwisata-budaya-majene
    Buku Meneropong Prospek dan Transformasi Pariwisata Budaya Majene Jilid 3, karangan Fahmi Massiara, Abd Rahman dan Abd. Rimba (Foto : Arham)
    Buku yang mungkin pantas Anda miliki jika ingin menyelami kekayaan budaya suku Mandar, suku yang dominan menghuni kabupaten Majene. Buku ini layaknya katalog yang menyajikan daftar wisata budaya yang potensial untuk dikunjungi. Untuk memudahkan menandai atraksi budaya apa saja yang menarik dan kemungkinan berada di daftar kunjungan wisata Anda saat berada di Majene. 

    Selain potensi wisata sejarah, maka wisata budaya juga punya kans besar menjadi alasan berkunjung ke Majene, ada ragam tradisi dan budaya masyarakat setempat yang masih lestari dan dilakukan selama beberapa generasi misalnya tradisi menunggangi kuda menari setelah khatam Alquran, biasanya akan banyak ditemukan saat mendekat perayaan Maulid. Kadang pula ditunjukkan saat resepsi pernikahan sebagai acara pelengkap. 

    Jika ingin melihat banyak potret budaya, maka ikutilah ritus kehidupan orang-orang Mandar, dari kelahiran, pernikahan hingga kematian, masih ada tradisi kental yang berlangsung di kab. Majene, walaupun juga tak terlepas dari pengaruh modernisasi dan globalisasi yang perlahan dan pasti mengurangi tradisi-tradisi lokal yang ada. 

    Kontributor :
    Teks : Arham, Muhammad Tom Andari
    Foto : Arham

  • Potensi Wisata Sejarah Dalam Buku Hasil Survey Kepurbakalaan Wilayah Kab. Majene

    Dalam suatu kesempatan saya berkesempatan ikut dengan Aryandi, saat itu ia masih bertugas di dinas kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat (mungkin saat ini ia sudah berpindah ke dinas lain),...

    • 17:40
    • 0

  • Ragam Penyebutan Dalam Tata Bahasa Mandar Karangan Abdul Muthalib

    Dahulu ada banyak karangan atau tulisan dan buku-buku seputar bahasa Mandar, saat ini tak ada lagi buku baru yang dipublikasi dan berkaitan dengan bahasa lokal penyusun bahasa utama...

    • 17:38
    • 0

  • Mungkinkah Bahasa Daerah (Mandar) Akan Tinggal Kenangan?

    Mungkinkah bahasa daerah akan tinggal kenangan? Pertanyaan ini, saya tanyakan karena kedatangan tamu seorang anak berusia SMP dia masih keponakan. Zaki (namanya) datang membawa sebuah buku dongeng. Di...

    • 17:43
    • 0

Objek Wisata

Wisata Majene

Wisata Polewali Mandar

Wisata Mamuju

Wisata Mamasa

Berita