Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar - Promosi Budaya, Sejarah, dan Wisata Mandar, Sulawesi Barat
Showing posts with label Campalagian. Show all posts
Budaya, Campalagian, Lomba, Polewali Mandar
Ternyata lomba perahu Sandeq mini di wilayah Sulawesi Barat tidak hanya ditemukan di daerah Cilallang, kec. Banggae kabupaten Majene, namun ada juga yang dilaksanakan di pesisir kabupaten Polewali Mandar, tepatnya di dusun Labuang, desa Laliko, kec. Campalagian. Lomba memacu perahu kecil yang dibuat dari kayu dengan layar dari plastik dan mengandalkan angin.
Perahu sudah jadi nyawa orang Sulawesi Barat, terutama bagi suku Mandar yang banyak bersentuhan dengan laut sebagai sumber penghidupan. Perahu yang kini menjadi kebanggaan adalah perahu Sandeq, jenis perahu bercadik yang mendunia dan dikenal di seantero Indonesia. Sandeq sejak tahun 1990an bahkan sebelumnya sudah dilombakan, dan menjadi ikon budaya bahari yang paling terkenal. Perahu Sandeq lah yang kemudian menjadi inspirasi dilaksanakannya lomba-lomba perahu Sandeq mini di pesisir Sulawesi Barat.
Wilayah perairan Sulbar dari kabupaten Polman hingga kabupaten Majene dihuni banyak populasi nelayan, karena itu tak heran jika ada banyak yang mengenal jenis perahu sandeq, lewat lomba perahu sandeq mini, masyarakat pesisir mneghibur diri. Di perairan Labuang, kec. Campalagian misalnya, lomba perahu sandeq mini dilaksanakan sebagi sarana hiburan rakyat oleh banyak kalangan mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Jika di Banggae Majene lomba dilaksanakan dengan tarif pendaftaran yang dipungut dan hadiah dari lomba diperoleh dari biaya pendaftaran, maka di Labuang lomba dilaksanakan dengan hadiah yang disediakan sendiri oleh pelaksana lomba yang merupakan masyarakat Labuang sendiri. Tidak main-main pemenang lomba Sandeq mini diganjar dengan hadiah utama sebuah mesin katinting, istilah yang digunakan untuk menyebut mesin perahu yang ditempelkan pada perahu.
Kalau badan perahu Sandeq mini di Cilallang, Banggae Majene dicat putih maka perahu sandeq mini di Labuang, Campalagian dicat lebih berwarna, mulai dari warna biru, hingga merah. Namun bagian-bagianya nyaris lengkap, mulai dari baratang, palatto, sobal, dan guling semua ada dan dapat ditemukan. Dengan logo pada layar diberi beragam logo, ada yang meniru dari logo peserta lomba perahu Sandeq Race, misalnya yang bertuliskan nama GPS, Sandeq GPS adalah perahu sandeq yang berasal dari desa Pambusuang, desa yang tak jauh letaknya dari Labuang. Adapula yang memberi logon untuk layarnya dengan tulisan "Repsol" nama dagang untuk perusahaan energi yang berbasis di Spanyol, nama Repsol melekat pada nama dagang "Honda" yang biasa disandingkan, tampaknya pemilik sandeq adalah pecinta dunia otomotif.
Lomba sandeq mini mengandalkan jalur lurus dan menunggu angin hingga layar hingga perahu dapat meluncur diatas permukaan air, perahu yang terdepan dinobatkan sebagai juara pertama.
Pelaksanan lomba Sandeq mini cukup rutin dilaksanakan, kabarnya akan dilaksanakan lagi saat bulan Desember, akhir tahun ini.
Kontributor :
Foto : Fuad Zakhy
Teks : Fuan Zakhy, Muhammad Tom Andari
Campalagian, Foto Wisata, Objek Wisata, Wisata, Wisata Polewali Mandar
Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian wilayah Indonesia berupa lautan, tak heran jika banyak daerah wisata yang menawarkan keindahan laut. Indonesia salah satu tempat wisata yang menawarkan pesona laut, diantaranya taman laut Gonda, taman ini memang belum dikenal tetapi salah satu komunitas yang menamakan diri '' SAHABAT PESISIR '' sudah mulai mempublikasikan ke berbagai media.
![]() |
| Ikan dan terumbu karang di dasar laut dusun Gonda, Campalagian, Polewali Mandar (Foto : Ashari Sarmedi) |
![]() |
| Pohon bakau di dusun Gonda, desa Laliko, kec. Campalagian, kab. Polman (Foto : Anors Sas) |
![]() |
| Wisatawan lokal saat akan menelusuri keindahan bawah laut Gonda (Foto : Anors Sas) |
![]() |
| Wisatawan lokal sesaat sebelum snorkling di laut Gonda, Campalagian (Foto : Anors Sas) |
Kontributor : Anors Sas
Campalagian, Foto Wisata, Objek Wisata, Wisata, Wisata Polewali Mandar
Dalam kurun waktu beberapa bulan ini komunitas "Sahabat Pesisir" menggalakan program rehabilitas bakau di dusun Gonda
desa Laliko kec. Campalagian, banyak perkembangan yang bisa dirasakan dan
dilihat mulai dari terjaganya hutan mangrove dengan dilakukan penanaman
bakau, peningkatan kesadaran pada masyarakat akan pentingnya kebersihan pesisir pantai, dan bertambahnya kunjungan pelancong lokal.
Gonda menawarkan keindahan bawah laut yang mempunyai berbagai jenis karang
karang dan ikan ikan yang cantik, apalagi jenis ikan Nemo (ikan badut/ ikan giru/clown fish) yang sangat
diburu oleh pecinta hobi snorkling dan diving.
![]() |
| Hutan bakau Gonda di kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Wisatawan lokal yang mengunjungi dusun Gonda, kec. Campalagian (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Rumah pohon di dusun Gonda yang didirikan oleh Sahabat Pesisir dan Kompa Dansa Mandar (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Pengunjung yang berwisata di pantai Gonda, Campalagian, Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Pengunjung yang sedang menikmati liburan di pantai Gonda, Campalagian, Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno) |
Di Gonda, kita juga bisa menikmati keindahan pesisir dengan bersantai di pinggir pantai karena ada beberapa rumah pohon yang
telah dibuat oleh komunitas Sahabat Pesisir bekerjasama dengan Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (Kompa Dansa Mandar), disini kita bisa bersantai di
hamparan pasir, tak jauh dari lokasi perahu-perahu nelayan yang sedang ditambatkan.
Selain masyarakat dari luar kecamatan Campalagian yang berkunjung ke pantai Gonda beberapa minggu lalu masyarakat Gonda sendiri mulai datang berkunjung, tadinya mereka hanya melintasi Gonda untuk aktivitas melaut namun saat ini penduduk setempat datang untuk refreshing menikmati pesona pesisir pantai gonda dengan bermain sampan (lepa-lepa).
Kontributor : Gunawan Apriatno
Berita, Campalagian, Polewali Mandar
Sahabat Pesisir dan Kompa Dansa Mandar kembali melaksanakan penanaman bakau 16/04/2015 di Gonda Kec. Campalagian
Kab. Polewali Mandar. Selain penanaman kegiatan yang berpusatkan di
ekowisata ini juga melakukan kegiatan snorkling. Di Gonda, para wisatawan lokal bisa menikmati indahnya koral yang ada di
bawah laut Gonda. Selain itu, bagi wisatawan yang ingin menanam
mangrove juga dimungkinakan, sebab Sahabat Pesisir yang giat melakukan tindakan pelestarian di Gonda teah menyiapkan mangrove yang
siap tanam.
Member KDM dan Sahabat Pesisir menggunakan perahu kecil untuk mengangkut bibit bakau yang akan ditanam.
Dalam sebuah penyataan singkat dari sahabat pesisir juga
menyampaikan bahwa, kita akan terus usahakan penanaman secara
berkelanjutan, sebab terkadang ada yang mati oleh faktor x, tutur Ashari Sarmedi.
Kontributor : Hasbi
Member KDM dan Sahabat Pesisir menggunakan perahu kecil untuk mengangkut bibit bakau yang akan ditanam.
![]() |
| bakau yang ditanam di Gonda (Foto : Hasbi) |
![]() |
| Mengangkut bibit mangrove dengan perahu (Foto : Hasbi) |
Penanaman dilakukan di daerah yang berpasir dengan bahan bibit bakau yang telah disiapkan oleh pihak Sahabat Pesisir. Usaha penanaman bakau ini bertujuan untuk memperbanyak bakau yang ada di dusun Gonda.
![]() |
| Penanaman bibit bakau oleh member KDM, Gita Novianti Muchtar (Foto : Hasbi) |
Penanaman juga turut dilakukan oleh ketua Sahabat Pesisir Ashari Sarmedi yang bergabung bersama member KDM, di beberapa bagian terdapat mangrove yang sudah tampak tumbuh, walaupun masih berukuran kecil.
![]() |
| Penanaman bibit bakau oleh ketua Sahabat Pesisir, Ashari Sarmedi (Foto : Hasbi) |
Kontributor : Hasbi
Budaya, Budaya Mandar, Campalagian, Polewali Mandar
Baqgoq, perahu kebanggaan yang mulai terlupakan, gambar ini saya ambil di Baqbatoa, perkampungan nelayan tertua di kecamatan Campalagian, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dibawah ini adalah kondisi perahu Baqgoq
yang rusak karena dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Baqgoq memiliki ciri khas perahu Mandar dengan badan agak gemuk, jika dilihat dari bentuk badan kapal maka jenis ini memiliki kecepatan yang sudah jelas lambat.
![]() |
| Bagian sisi samping Perahu Baqgoq (Foto : Ashari Sarmedi) |
![]() |
| Bagian sisi samping Perahu Baqgoq yang telah rusak (Foto : Ashari Sarmedi) |
![]() |
| Bagian haluan Perahu Baqgoq yang telah rusak (foto : Ashari Sarmedi) |
Menurut
nelayan setempat, perahu jenis ini mulai tersisihkan karena beralihnya
nelayan ke perahu modern, sekali lagi arus modernisasi sedikit demi
sedikit mengikis corak budaya yang kita miliki. Tak lama lagi, Baqgoq
hanya cerita orang-orang yang pernah melihatnya, ia kemungkinan akan menyusul perahu Pakur yang telah lama punah, digantikan oleh perahu sejenis Sandeq yang dapat kita temukan dengan mudah saat ini di Sulbar, ada evolusi perahu yang terjadi, karena tuntutan modenitas, kemudahan dan faktor efisiensi dan efektivitas.
Kontributor : Ashari Sarmedi
Campalagian, Pantai, Polewali Mandar
Jangan disangka Gonda tidak Indah, ini buktinya, disini ada surga. Saat ini lokasi hutan bakau (mangrove) Gonda berada dibawah pengawasan para pemuda yang patut diacungi jempol, Ashari Sarmedi selaku ketua gerakan Sahabat Pesisir beserta member KDM Polman akan menjadikan lokasi ini menjadi destinasi wisata Hutan Mangrove Polman.
![]() | ||||||||||
| Bagian pesisir pantai Gonda dengan pohon bakau yang rimbun (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah) |
![]() |
| Pesisir pantai dusun Gonda, desa Laliko, kec. Campalagian, Polewali Mandar (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah) |
![]() | |
| Pesisir pantai dusun Gonda, desa Laliko, kec. Campalagian, Polewali Mandar (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah) |
Hutan mangrove Gonda terletak di dusun Gonda, desa Laliko, kecamatan Campalagian, merupakan pantai dengan terumbu karang yang indah dan pesisir yang ditumbuhi bakau lebat.
Kontributor : Muhammad Putra Ardiansyah
Campalagian, Kegiatan, Komunitas, Polewali Mandar
Trip Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar ke Pesantren Assalafiyah Desa Parappe, kec. Campalagian, Kab.
Polman mendengar cerita jejak panjang pesantren sederhana yang cenderung klasik dalam metode pengajarannya. Pesantren Assalafiyah telah melahirkan alumnus-alumnus yang paham soal membaca kitab-kitab kuning (kittaq gondol).
Pesantren in terletak sekitar 4-5 km dari jalur utama kec. Campalagian, tepatnya di desa Parappe, tidak jauh dari Pesantren Syekh Hasan Yamani. Pesantren ini cukup sederhana dan masih menggunakan metode klasik (salafi) yang berbeda dengan pondok pesantren modern (ashri), salah satu ciri khasnya yaitu santri prianya menggunakan sarung dalam kegiatan belajar mengajar, dan menggunakan semacam bangku pendek seukuran dada saat proses pembelajaran. Unggulan utama dari pesantren Assalafiyah Campalagian adalah satu-satunya pesantren yang masih eksis mengajarkan pembacaan kitab kuning.
![]() |
| KH Latif Busyro dan ustad Subhan dua pengajar di ponpes Assalafiyah Parappe Campalagian (Foto : Muh. Putra Ardiansyah) |
![]() |
| member kompa dansa mandar di ponpes assalafiyah campalagian (Foto : Muh. Putra Ardiansyah) |
![]() |
| Member kompa dansa mandar mendengarkan penjelasan dari pihak pengajar ponpes assalafiyah campalagian (Foto : Muh. Putra Ardiansyah) |
Berita, Campalagian, Kegiatan, Polewali Mandar
Setelah hari pertama penanaman bakau (Mangrove) Kompa Dansa Mandar dibantu oleh organisasi siswa PMR (Palang Merah Remaja) SMA Neg 1. Campalagian, kemarin (20/10/2014) beberapa siswa dari MTS DDI Lapeo menemani KDM melakukan penanaman bakau di area pesisir dusun Gonda, desa Laliko, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar.
![]() | |||||||||||||||||||||||||
| siswa MTS DDI Lapeo Campalagian membawa bibit bakau (Foto : Rully) |
![]() |
| siswa MTS DDI Lapeo Campalagian membawa bibit bakau ke lokasi penanaman (Foto : Rully) |
![]() |
| siswa MTS DDI Lapeo Campalagian saat menanam bakau (Foto : Rully) |
![]() |
| siswa MTS DDI Lapeo Campalagian berfoto bersama setelah menanam bakau (foto : Rully) |
Campalagian, Caving, Gua, Komunitas, Polewali Mandar, Trip, Wisata, Wisata Polewali Mandar
Misteri Gua pantai Labuang Campalagian tak henti-hentinya
membuat kami terpanggil untuk menelusurinya, sore itu tanpa ada aba-aba
saya dan Bayu kembali ke titik awal penelusuran. Sebelum turun ke Gua
kami sejenak bernostalgia, memasang jebakan burung puyuh, kegiatan semasa
SD sepulang sekolah. Sambil menunggu teman-teman lain yang ingin ikut menelusuri gua, jebakan demi
jebakan kami sebarkan, berharap ada puyuh yang rela kami bodohi.
Cahaya matahari mulai memerah, menandakan hari mulai sore, teman-teman yang kami tunggu tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya, karena mulai bosan saya dan Bayu mengambil inisiatif untuk turun berdua, dan bergegas ke mulut Gua, sebelum sempat turun kami bertemu dengan penjaga kebun tempat gua berada. Sayapun menyapa si pemilik kebun untuk memancing pembicaraan, dan itu berhasil, setelah berbincang cukup lama sang empunya kebun mengajak kami ke dalam gua dan memulai penelusuran, bermodalkan 2 buah senter kamipun menerobos gelapnya gua, didalam gua riuh suara jutaan kelelawar menghantam gendang telinga, tak lama pak tua memberi kode senter kepada kami tuk menghampiri beliau, dia menunjuk kearah jalur baru, jalur yang belum kami temukan di penelusuran kedua.
![]() |
| Kelelawar yang tinggal dalam gua di Pantai Labuang Campalagian (Foto : Ashari Sarmedi) |
Mengikuti pak tua dari belakang,
sesekali menyorotkan cahaya senter ke atap gua, memastikan tak Ada hal
yang kami takutkan di atas sana, hal dalam rantai makanan, bila ada
produsen pasti ada konsumen, ada banyak
kelelawar sudah pasti mengundang ular sebagai pemangsanya, hal itulah
yang kami takutkan.
![]() | |
| Tampakan bagian dalam gua yang dipenuhi oleh kelelawar (Foto : Ashari Sarmedi) |
![]() |
| berjalan menyusuri ruang-ruang dalam gua pantai labuang dengan atap gua dipenuhi kelelawar (Foto : Ashari Sarmedi) |
Kontributor : Ashari Sarmedi
Campalagian, Caving, Gua, Komunitas, Polewali Mandar
Caving, caving berasal dari kata cave yaitu gua, namun orang yang menelusuri di maksud cover, sebelum memasuki mulut gua kita harus mengetahui kode etik gua terlebih dahulu, setiap kegiatan dalam komunitas pasti memiliki aturan main tertentu karenanya setiap petualang cerdas harus menyadari bahwa gua merupakan
lingkungan yang sangat sensitif dan mudah tercemar, karenanya
penelusuran gua harus :
1. Tidak mengambil sesuatu, kecuali mengambil gambar (potret)
2. Tidak meninggalkan sesuatu, kecuali jejak kaki.
3. Tidak membunuh sesuatu, kecuali waktu.
2. Tidak meninggalkan sesuatu, kecuali jejak kaki.
3. Tidak membunuh sesuatu, kecuali waktu.
Ketiga aturan di atas saya dapatkan di komunitas pecinta alam, dan
pastinya berusaha untuk mengaplikasikannya di penelusuran gua.
Ekspedisi Pertama
Hari itu melalui postingan gambar gua dari seorang teman, tentang sebuah gua yang terletak di sekitar pantai Labuang, Campalagian. Melihat postingan tersebut
timbul rasa penasaran, segeralah saya beserta ketiga teman yang tak jauh
dari lokasi tersebut langsung bergegas hanya untuk sekedar melihat
lokasi di mana gua itu berada. Dengan hanya berbekal senter dan alat
seadanya kami berempat melangkahkan kaki, kurang lebih setengah jam kami
mengelilingi daerah pantai Labuang, menyisiri pesisir pantai, namun tak
satupun gua yang kami dapati. Kamipun mengambil inisiatif untuk
mencarinya lebih jauh ke arah selatan sekitar 100 meter dari bibir pantai,
karna menurut salah seorang teman, sewaktu kecil dulu ia pernah
melihat gua di tempat itu, tapi yang menjadi masalah adalah ia telah lupa di mana
letak tepat gua tersebut.
![]() |
| Saat menelusuri gua pantai labuang campalagian (Foto : Muhammad Abrar) |
Kamipun melanjutkan perjalanan di antara
semak beluntas, tak begitu lama kami berjalan tiba-tiba tercium aroma
tak sedap, "tidak salah lagi guanya pasti sudah dekat", sekitar 5 meter
kami berjalan akhirnya kami-pun menemukan gua tersebut. Gua yang telah
tertutupi oleh tumbuhan-tumbuhan liar di sekitarnya. Kami berhenti
sejenak untuk membicarakan, apakah kita akan melanjutkan ke dalam atau
hanya sekedar ingin mengetahui letak dari gua ini ?, dan jawabannya
adalah "lanjutkan saja pak ketua". Kami lalu meneruskan rute susur gua berbekal 3 buah senter, salah satu senter telah mulai suap baterainya ."sungguh petualangan yang nekad".
![]() |
| Ekstra hati-hati saat menelusuri gua pantai labuang campalagian (Foto : Muhammad Abrar) |
![]() |
| Saat berada dalam gua pantai Labuang Campalagian (Foto : Muhammad Abrar) |
![]() |
| Ruang dalam gua pantai labuang campalagian (Foto : Muhammad Abrar) |
Berjalan di jalan curam dengan bau kotoran kelelawar yang sangat menyengat , belum lagi harus meloncat dari satu batu ke batu yang lain, sungguh
perjalanan yang sangat memuaskan adrenalin, tapi apa daya hanya
sekitar 20 meter kami berjalan, kami harus memutuskan untuk segera keluar
dari gua, faktor utama karena aroma kotoran kelelawar yang semakin menyengat dan menusuk hidung hingga mencabik-cabik isi perut, belum lagi kekhawatiran akan adanya binatang buas seperti faktor ular dan lain-lainnya. Dengan penuh keraguan kamipun bergegas ke
luar dari gua dan melanjutkan perjalanan menuju bibir pantai Labuang, dan menyaksikan terbenamnya matahari. Lalu sambil mengadakan diskusi
kecil-kecilan, dimana kesimpulan diskusi berujung pada recana untuk mengadakan ekspedisi
kedua dengan rute yang lebih jauh dan lebih dalam dibanding ekspedisi pertama.
Kontributor : Muhammad Abrar
Campalagian, Caving, Gua, Komunitas, Polewali Mandar
Setelah penelusuran awal, kami kembali ke Gua Pantai labuang untuk kedua kalinya, bersama 5 teman lainya saya memulai penelusuran, awalnya kami sedikit
takut, tapi semua terbuyarkan, rasa penasaran kami yang menggunung terobati juga.
Setelah menyusuri gua sepanjang 50 meter, kami berhenti sejenak,
kami saling menatap. di depan jalan mulai agak mengecil, hanya bisa
dilalui oleh 1 orang itupun dengan merayap, seolah kembali kemasa SMA saat-saat pendiksaran PMI, kamipun menundukkan
badan dan mulai merayap, sekitar 20 meter merayap kami melihat ada
seberkas cahaya di arah depan. Kami menghela nafas panjang dan mulai merayap kembali untuk mencapai cahaya itu, betapa terperangahnya kami,
ternyata cahaya itu berasal dari bibir pantai, salah satu ujung Gua
ini. Wajah yang tadi pucat terganti wajah yang merona karena kepuasan
yang tak terhitung, lalu kami berteriak ke laut, menyalurkan semangat yang
belum habis.
![]() |
| Member KDM Polman saat berada dalam gua di Pantai Labuang Campalagian (Foto : Ashari Sarmedi) |
![]() |
| Member KDM Polman saat menyusuri bagian luar gua Pantai Labuang Campalagian (Foto : Ashari Sarmedi) |
Pada jarak sekitar 60 meter ke bagian dalam gua, terdapat fosil kerang
berukuran 30 cm, posisi kerang menempel di langit-langit gua, dari
kerang itulah kami sempat melihat tetesan air, bentukan kerang lumayan besar, dan menempel pada posisi yang unik "pemandangan yang indah".
Ada beragam jalur yang terdapat di bagian dalam gua, jalur menuju arah laut menjadi yang paling mungkin kami telusuri, karena untuk menjelajah jauh masuk ke bagian dalam sangat tidak mungkin dengan peralatan yang minim, belum lagi udara semakin pengap dan oksigen terasa sangat kurang.
Ada beragam jalur yang terdapat di bagian dalam gua, jalur menuju arah laut menjadi yang paling mungkin kami telusuri, karena untuk menjelajah jauh masuk ke bagian dalam sangat tidak mungkin dengan peralatan yang minim, belum lagi udara semakin pengap dan oksigen terasa sangat kurang.
Kontributor : Ashari Sarmedi
Tulisan Paling Banyak Dibaca
-
Munu Beach, atau pantai Munu adalah sebuah objek wisata baru di kabupaten Majene, Sulawesi Barat yang akhir - akhir ini populer di kalanga...
-
Sebut saja ini zi arah tradisi maritim (urgensi museum), yang saya lakukan ke kediaman sang legenda, Kapten Pahlawan Laut di Museum TNI A...
-
Dua batu ini menjadi saksi dan bukti sejarah lahirnya kesepakatan para leluhur kami di tanah Mandar. Di ikrarkan di wilayah kami yg kami ...
-
Buku Puang dan Daeng, Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar, buku budaya yang merekam dengan baik nilai-nilai dan status sosi...
-
Pengembangan wisata adalah mutlak membutuhkan fasilitas akomodasi, jika anda berada di kab. Majene provinsi Sulawesi Barat, dan ingin meman...
-
Mosso, adalah desa yang letaknya di dataran tinggi kec. Balanipa, berjarak sekitar 6-7 km dari jalan poros Majene-Polewali, dapat diakses d...
-
Berbagi cerita beberapa hari yang lalu saya mengikuti kegiatan membantu tetangga "Mallele boyang" (mengangkat dan memindahkan r...
-
Kami bersama jernihnya aliran air sungai kecil yang dinamai Salu Alambangan, berlatarkan hijaunya alam yang masih asri. terletak di dusun...
-
Sulawesi Barat sebagai provinsi yang terbentuk pada tahun 2004, banyak menyimpan potensi wisata yang belum dimaksimalkan dengan baik. Objek...
-
Kabupaten Majene baru saja memperingati hari jadinya, peristiwa tersebut dijadikan momentum bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan In...
Labels
Air Terjun
Akomodasi
Alu
Anreapi
Aralle
Arsitektur
Artikel
Banggae
Banggae Timur
Batetangnga
Berita
Binuang
Budaya
Budaya Mandar
Budong-Budong
Bukit
Buku
Bulo
Campalagian
Caving
Figur
Foto
Foto Budaya
Foto Sejarah
Foto Wisata
Gasing
Goa
Gua
Hotel
Kalukku
Kalumpang
Kanang
Karya
Kecantikan
Kegiatan
Kerajaan Binuang
Komunitas
Kuliner
Limboro
Lingkungan
Literasi
Lomba
Luyo
Majene
Makam
Makassar
Malunda
Mamasa
Mambi
Mampie
Mamuju
Mamuju Tengah
Mamuju Utara
Mandar
Obje
Objek Wisata
Opini
Pamboang
Pantai
Pantai Sulbar
Pattae
Penja
Permainan Tradisional
Polewali Mandar
Rebana Mandar
Refleksi
Sandeq
Sandeq Race
Sejarah
Sendana
Seni
Senja
Situs Sejarah
Sulawesi Barat
Sungai
Sungai Mandar
Sutera Mandar
Tapalang
Tapango
Tappalang Barat
Tarian Mandar
Teater
Teluk Mandar
Tinambung
Tokoh
Trip
Tubo Sendana
Ulumanda
Video
Wisata
Wisata Majene
Wisata Mamasa
Wisata Mamuju
Wisata Mamuju Tengah
Wisata Mamuju Utara
Wisata Polewali Mandar
Wisata Polman
Wisma Penginapan
Wonomulyo





































