, , ,

    Ternyata lomba perahu Sandeq mini di wilayah Sulawesi Barat tidak hanya ditemukan di daerah Cilallang, kec. Banggae kabupaten Majene, namun ada juga yang dilaksanakan di pesisir kabupaten Polewali Mandar, tepatnya di dusun Labuang, desa Laliko, kec. Campalagian.  Lomba memacu perahu kecil yang dibuat dari kayu dengan layar dari plastik dan mengandalkan angin.

    Perahu sudah jadi nyawa orang Sulawesi Barat, terutama bagi suku Mandar yang banyak bersentuhan dengan laut sebagai sumber penghidupan. Perahu yang kini menjadi kebanggaan adalah perahu Sandeq, jenis perahu bercadik yang mendunia dan dikenal di seantero Indonesia. Sandeq sejak tahun 1990an bahkan sebelumnya sudah dilombakan, dan menjadi ikon budaya bahari yang paling terkenal. Perahu Sandeq lah yang kemudian menjadi inspirasi dilaksanakannya lomba-lomba perahu Sandeq mini di pesisir Sulawesi Barat. 

    Wilayah perairan Sulbar dari kabupaten Polman hingga kabupaten Majene dihuni banyak populasi nelayan, karena itu tak heran jika ada banyak yang mengenal jenis perahu sandeq, lewat lomba perahu sandeq mini, masyarakat pesisir mneghibur diri. Di perairan Labuang, kec. Campalagian misalnya, lomba perahu sandeq mini dilaksanakan sebagi sarana hiburan rakyat oleh banyak kalangan mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.  Jika di Banggae Majene lomba dilaksanakan dengan tarif pendaftaran yang dipungut dan hadiah dari lomba diperoleh dari biaya pendaftaran, maka di Labuang lomba dilaksanakan dengan hadiah yang disediakan sendiri oleh pelaksana lomba yang merupakan masyarakat Labuang sendiri. Tidak main-main pemenang lomba Sandeq mini diganjar dengan hadiah utama sebuah mesin katinting, istilah yang digunakan untuk menyebut mesin perahu yang ditempelkan pada perahu. 

    Kalau badan perahu Sandeq mini di Cilallang, Banggae Majene dicat putih maka perahu sandeq mini di Labuang, Campalagian dicat lebih berwarna, mulai dari warna biru, hingga merah. Namun bagian-bagianya nyaris lengkap, mulai dari baratang, palatto, sobal, dan guling semua ada dan dapat ditemukan. Dengan logo pada layar  diberi beragam logo, ada yang meniru dari logo peserta lomba perahu Sandeq Race, misalnya yang bertuliskan nama GPS, Sandeq GPS adalah perahu sandeq yang berasal dari desa Pambusuang, desa yang tak jauh letaknya dari Labuang. Adapula yang memberi logon untuk layarnya dengan tulisan "Repsol" nama dagang untuk perusahaan energi yang berbasis di Spanyol,  nama Repsol melekat pada nama dagang "Honda" yang biasa disandingkan, tampaknya pemilik sandeq adalah pecinta dunia otomotif.


    Lomba sandeq mini mengandalkan jalur lurus dan menunggu angin hingga  layar hingga perahu dapat meluncur diatas permukaan air, perahu yang terdepan dinobatkan sebagai juara pertama.

    Pelaksanan lomba Sandeq mini cukup rutin dilaksanakan, kabarnya akan dilaksanakan lagi saat bulan Desember, akhir tahun ini. 

    Kontributor :
    Foto : Fuad Zakhy
    Teks : Fuan Zakhy, Muhammad Tom Andari

    , , , ,


    Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian wilayah Indonesia berupa lautan,  tak heran jika banyak daerah wisata yang menawarkan  keindahan laut. Indonesia salah satu tempat wisata yang menawarkan pesona laut, diantaranya taman laut Gonda, taman ini memang belum dikenal tetapi salah satu komunitas yang menamakan diri '' SAHABAT PESISIR '' sudah mulai mempublikasikan ke berbagai media.
    Ikan dan terumbu karang di dasar laut dusun Gonda, Campalagian, Polewali Mandar
    Ikan dan terumbu karang di dasar laut dusun Gonda, Campalagian, Polewali Mandar (Foto : Ashari Sarmedi)
    Pohon bakau di dusun Gonda, desa Laliko, kec. Campalagian, kab. Polman
    Pohon bakau di dusun Gonda, desa Laliko, kec. Campalagian, kab. Polman (Foto : Anors Sas)
    Wisatawan lokal saat akan menelusuri keindahan bawah laut Gonda
    Wisatawan lokal saat akan menelusuri keindahan bawah laut Gonda (Foto : Anors Sas)
    Wisatawan lokal sesaat sebelum snorkling di laut Gonda, Campalagian
    Wisatawan lokal sesaat sebelum snorkling di laut Gonda, Campalagian (Foto : Anors Sas)
    Sebagai tempat liburan dan rekreasi, tempat ini tidak hanya memiliki taman laut yang indah tetapi hutan mangrovenya juga sangat menarik perhatian untuk ditelurusi.Perahu Mini Sandeq pun siap mengantar anda untuk menelusuri pesisir Gonda.  Taman laut Gonda memiliki beberapa titik penyelaman dengan kedalaman yang berbeda-beda, beberapa diantaranya menjadi favorite penyelam karena alam bawah laut yang sangat eksotik dengan ikan nemo yang bervariasi.


    Kontributor : Anors Sas





    , , , ,

    Dalam kurun waktu beberapa bulan ini komunitas "Sahabat Pesisir" menggalakan program rehabilitas bakau di dusun Gonda desa Laliko kec. Campalagian, banyak perkembangan yang bisa dirasakan dan dilihat mulai dari terjaganya hutan mangrove dengan dilakukan penanaman bakau, peningkatan kesadaran pada masyarakat akan pentingnya kebersihan pesisir pantai, dan bertambahnya kunjungan pelancong lokal.

    Gonda menawarkan keindahan bawah laut yang mempunyai berbagai jenis karang karang dan ikan ikan yang cantik, apalagi jenis ikan Nemo (ikan badut/ ikan giru/clown fish) yang sangat diburu oleh pecinta hobi snorkling dan diving.

    Hutan bakau Gonda di kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar
    Hutan bakau Gonda di kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno)
    Wisatawan lokal yang mengunjungi dusun Gonda, kec. Campalagian
    Wisatawan lokal yang mengunjungi dusun Gonda, kec. Campalagian (Foto : Gunawan Apriatno)
    Rumah pohon di dusun Gonda yang didirikan oleh Sahabat Pesisir dan Kompa Dansa Mandar
    Rumah pohon di dusun Gonda yang didirikan oleh Sahabat Pesisir dan Kompa Dansa Mandar (Foto : Gunawan Apriatno)
    Pengunjung yang berwisata di pantai Gonda, Campalagian, Polewali Mandar
    Pengunjung yang berwisata di pantai Gonda, Campalagian, Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno)
    Pengunjung yang sedang menikmati liburan di pantai Gonda, Campalagian, Polewali Mandar
    Pengunjung yang sedang menikmati liburan di pantai Gonda, Campalagian, Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno)
    Di Gonda, kita juga bisa menikmati keindahan pesisir  dengan bersantai di pinggir pantai karena ada beberapa rumah pohon yang telah dibuat oleh komunitas Sahabat Pesisir bekerjasama dengan Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (Kompa Dansa Mandar), disini kita bisa bersantai di hamparan pasir, tak jauh dari lokasi perahu-perahu nelayan yang sedang ditambatkan.

    Selain masyarakat dari luar kecamatan Campalagian yang berkunjung ke pantai Gonda beberapa minggu lalu masyarakat Gonda sendiri mulai datang berkunjung,  tadinya mereka hanya melintasi Gonda untuk aktivitas melaut namun saat ini penduduk setempat datang untuk refreshing menikmati pesona pesisir pantai gonda dengan bermain sampan (lepa-lepa).

    Kontributor : Gunawan Apriatno


    , ,

    Sahabat Pesisir dan Kompa Dansa Mandar kembali melaksanakan penanaman bakau 16/04/2015 di Gonda Kec. Campalagian Kab. Polewali Mandar. Selain penanaman kegiatan yang berpusatkan di ekowisata ini juga melakukan kegiatan snorkling. Di Gonda, para wisatawan lokal bisa menikmati indahnya koral yang ada di bawah laut Gonda. Selain itu, bagi wisatawan yang ingin menanam mangrove juga dimungkinakan, sebab Sahabat Pesisir yang giat melakukan tindakan pelestarian di Gonda teah menyiapkan mangrove yang siap tanam.

    Member  KDM dan Sahabat Pesisir menggunakan perahu kecil untuk mengangkut bibit bakau yang akan ditanam.

    bakau yang ditanam di Gonda
    bakau yang ditanam di Gonda (Foto : Hasbi)
    Mengangkut bibit mangrove dengan perahu
    Mengangkut bibit mangrove dengan perahu (Foto : Hasbi)
    Penanaman dilakukan di daerah yang berpasir dengan bahan bibit bakau yang telah disiapkan oleh pihak Sahabat Pesisir. Usaha penanaman bakau ini bertujuan untuk memperbanyak bakau yang ada di dusun Gonda.





    Penanaman bibit bakau oleh member KDM
    Penanaman bibit bakau oleh member KDM, Gita Novianti Muchtar (Foto : Hasbi)
    Penanaman juga turut dilakukan oleh ketua Sahabat Pesisir Ashari Sarmedi yang bergabung bersama member KDM, di beberapa bagian terdapat mangrove yang sudah tampak tumbuh, walaupun masih berukuran kecil.

    Penanaman bibit bakau oleh ketua Sahabat Pesisir, Ashari Sarmedi
    Penanaman bibit bakau oleh ketua Sahabat Pesisir, Ashari Sarmedi (Foto : Hasbi)
    Dalam sebuah penyataan singkat dari sahabat pesisir juga menyampaikan bahwa, kita akan terus usahakan penanaman secara berkelanjutan, sebab terkadang ada yang mati oleh faktor x, tutur Ashari Sarmedi.

    Kontributor : Hasbi

    , , ,

    Baqgoq, perahu kebanggaan yang mulai terlupakan, gambar ini saya ambil di Baqbatoa, perkampungan nelayan tertua di kecamatan Campalagian, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dibawah ini adalah kondisi perahu Baqgoq yang rusak karena dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Baqgoq memiliki ciri khas perahu Mandar dengan badan agak gemuk, jika dilihat dari bentuk badan kapal maka jenis ini memiliki kecepatan yang sudah jelas lambat.

    Perahu Baqgoq di kec. Campalagian, Polewali Mandar
    Perahu Baqgoq di kec. Campalagian, Polewali Mandar (Foto : Ashari Sarmedi)
    Bagian sisi samping Perahu Baqgoq
    Bagian sisi samping Perahu Baqgoq (Foto : Ashari Sarmedi)
    Bagian sisi samping Perahu Baqgoq yang telah rusak
    Bagian sisi samping Perahu Baqgoq yang telah rusak (Foto : Ashari Sarmedi)
    Bagian haluan Perahu Baqgoq yang telah rusak
    Bagian haluan Perahu Baqgoq yang telah rusak (foto : Ashari Sarmedi)
    Menurut nelayan setempat, perahu jenis ini mulai tersisihkan karena beralihnya nelayan ke perahu modern, sekali lagi arus modernisasi sedikit demi sedikit mengikis corak budaya yang kita miliki. Tak lama lagi, Baqgoq hanya cerita orang-orang yang pernah melihatnya, ia kemungkinan akan menyusul perahu Pakur yang telah lama punah, digantikan oleh perahu sejenis Sandeq yang dapat kita temukan dengan mudah saat ini di Sulbar, ada evolusi perahu yang terjadi, karena tuntutan modenitas, kemudahan dan faktor efisiensi dan efektivitas. 

    Kontributor : Ashari Sarmedi

    , ,

    Jangan disangka Gonda tidak Indah, ini buktinya, disini ada surga. Saat ini lokasi hutan bakau (mangrove) Gonda berada dibawah pengawasan para pemuda yang patut diacungi jempol, Ashari Sarmedi selaku ketua gerakan Sahabat Pesisir beserta member KDM Polman akan menjadikan lokasi ini menjadi destinasi wisata Hutan Mangrove Polman.


    hutan mangrove gonda campalagian
    Bagian pesisir pantai Gonda dengan pohon bakau yang rimbun (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)









    hutan mangrove gonda campalagian polewali mandar
    Pesisir pantai dusun Gonda, desa Laliko, kec. Campalagian, Polewali Mandar (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)

    hutan mangrove gonda campalagian polman
    Pesisir pantai dusun Gonda, desa Laliko, kec. Campalagian, Polewali Mandar (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)

    Hutan mangrove Gonda terletak di dusun Gonda, desa Laliko, kecamatan Campalagian, merupakan pantai dengan terumbu karang yang indah dan pesisir yang ditumbuhi bakau lebat.

    Kontributor : Muhammad Putra Ardiansyah

    , , ,

    Trip Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar ke  Pesantren Assalafiyah Desa Parappe, kec. Campalagian, Kab. Polman mendengar cerita jejak panjang pesantren sederhana yang cenderung klasik dalam metode pengajarannya. Pesantren Assalafiyah telah melahirkan alumnus-alumnus yang paham soal membaca kitab-kitab kuning (kittaq gondol).

    Pesantren in terletak sekitar 4-5 km dari jalur utama kec. Campalagian, tepatnya di desa Parappe, tidak jauh dari Pesantren Syekh Hasan Yamani. Pesantren ini cukup sederhana dan masih menggunakan metode klasik (salafi) yang berbeda dengan pondok pesantren modern (ashri), salah satu ciri khasnya yaitu santri prianya menggunakan sarung dalam kegiatan belajar mengajar, dan menggunakan semacam bangku pendek seukuran dada saat proses pembelajaran. Unggulan utama dari pesantren Assalafiyah Campalagian adalah satu-satunya pesantren yang masih eksis mengajarkan pembacaan kitab kuning.

    kh latif busyro dan ustad subhan dua pengajar di ponpes assalafiyah parappe campalagian
    KH Latif Busyro dan ustad Subhan dua pengajar di ponpes Assalafiyah Parappe Campalagian (Foto : Muh. Putra Ardiansyah)
    member kompa dansa mandar di ponpes assalafiyah campalagian
    member kompa dansa mandar di ponpes assalafiyah campalagian (Foto : Muh. Putra Ardiansyah)
    member kompa dansa manda mendengarkan penjelasan dari pihak pengajar ponpes assalafiyah campalagian
    Member kompa dansa mandar mendengarkan penjelasan dari pihak pengajar ponpes assalafiyah campalagian (Foto : Muh. Putra Ardiansyah)
    Kompa Dansa Mandar saat mengunjungi pesantren Assalafiyah diterima langsung oleh pengasuh pondok pesantren KH. Latif Busyro dan beberapa pengajarnya, yang sebagian besar masih merupakan keluarga beliau.

    , , ,

    Setelah hari pertama penanaman bakau (Mangrove) Kompa Dansa Mandar dibantu oleh organisasi siswa PMR (Palang Merah Remaja) SMA Neg 1. Campalagian,  kemarin (20/10/2014) beberapa siswa dari MTS DDI Lapeo menemani KDM melakukan penanaman bakau di area pesisir dusun Gonda, desa Laliko, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar.

    siswa mts ddi lapeo campalagian membawa bibit bakau
    siswa MTS DDI Lapeo Campalagian membawa bibit bakau (Foto : Rully)

    siswa MTS DDI Lapeo Campalagian membawa bibit bakau ke lokasi penanaman
    siswa MTS DDI Lapeo Campalagian membawa bibit bakau ke lokasi penanaman (Foto : Rully)
    siswa MTS DDI Lapeo Campalagian saat menanam bakau
    siswa MTS DDI Lapeo Campalagian saat menanam bakau (Foto : Rully)
    siswa MTS DDI Lapeo Campalagian berfot bersama setelah menanam bakau
    siswa MTS DDI Lapeo Campalagian berfoto bersama setelah menanam bakau (foto : Rully)
    Menurut ketua pelaksana, Ashari Sarmedi, salah satu member KDM Polman, kegiatan ini akan menargetkan penanaman bibit bakau sebanyak lebih dari 10.000 bibit yang disuplai langsung oleh pihak YPMMD (Yayasan Pemuda Mitra Masyarakat Desa) dibawah pembinanya, Aziil Anwar.

    , , , , , , ,

    Misteri Gua pantai Labuang Campalagian tak henti-hentinya membuat kami terpanggil untuk menelusurinya,  sore itu tanpa ada aba-aba saya dan Bayu kembali ke titik awal penelusuran. Sebelum turun ke Gua kami sejenak bernostalgia, memasang jebakan burung puyuh, kegiatan semasa SD sepulang sekolah. Sambil menunggu teman-teman lain yang ingin ikut menelusuri gua, jebakan demi jebakan kami sebarkan, berharap ada puyuh yang rela kami bodohi.

    Cahaya matahari mulai memerah, menandakan hari mulai sore, teman-teman yang kami tunggu tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya, karena mulai bosan saya dan Bayu mengambil inisiatif untuk turun berdua, dan bergegas ke mulut Gua, sebelum sempat turun kami bertemu dengan penjaga kebun tempat gua berada. Sayapun menyapa si pemilik kebun untuk memancing pembicaraan, dan itu berhasil,  setelah berbincang cukup lama sang empunya kebun mengajak kami ke dalam gua dan memulai penelusuran, bermodalkan 2 buah senter kamipun menerobos gelapnya gua, didalam gua riuh suara jutaan kelelawar menghantam gendang telinga, tak lama pak tua memberi kode senter kepada kami tuk menghampiri beliau, dia menunjuk kearah jalur baru, jalur yang belum kami temukan di penelusuran kedua.

    kelelawar dalam gua pantai labuang campalagian
    Kelelawar yang tinggal dalam gua di Pantai Labuang Campalagian (Foto : Ashari Sarmedi)
    Mengikuti pak tua dari belakang, sesekali menyorotkan cahaya senter ke atap gua, memastikan tak Ada hal yang kami takutkan di atas sana, hal dalam rantai makanan, bila ada produsen pasti ada konsumen, ada banyak kelelawar sudah pasti mengundang ular sebagai pemangsanya, hal itulah yang kami takutkan.

    ruang gua di pantai labuang Campalagian
    Tampakan bagian dalam gua yang dipenuhi oleh kelelawar (Foto : Ashari Sarmedi)
    berjalan menyusuri ruang-ruang dalam gua pantai labuang
    berjalan menyusuri ruang-ruang dalam gua pantai labuang dengan atap gua dipenuhi kelelawar (Foto : Ashari Sarmedi)
    Dengan setengah menunduk penelusuran kami lanjutkan, sesekali wajah kami harus di hantam kelelawar yang terbang berlawanan arah dengan kami, harus diakui jalur kali ini lebih ekstrim dibanding yang sebelumnya, belum jauh kami menelusur, baju kami sudah basah oleh kucuran keringat yang deras akibat pengap dan panas. Pada jarak sekitar 60 meter perjalanan kami memutuskan unuk keluar, karena alasan sudah kurangnya pasokan oksigen dalam ruangan gua yang semakin sempit, Bapak empunya kebun yang mengantar kami juga tampak mengalami sesak nafas, setelah menuju mulut gua untuk keluar rekan yang kami tunggu ternyata sudah menunggu diluar.  

    Kontributor : Ashari Sarmedi

    , , , ,

    Caving, caving berasal dari kata cave yaitu gua, namun orang yang menelusuri di maksud cover, sebelum memasuki mulut gua kita harus mengetahui kode etik gua terlebih dahulu, setiap kegiatan dalam komunitas pasti memiliki aturan main tertentu karenanya setiap petualang cerdas harus menyadari bahwa gua merupakan lingkungan yang sangat sensitif dan mudah tercemar, karenanya penelusuran gua harus :
    1. Tidak mengambil sesuatu, kecuali mengambil gambar (potret)
    2. Tidak meninggalkan sesuatu, kecuali jejak kaki.
    3. Tidak membunuh sesuatu, kecuali waktu.
    Ketiga aturan di atas saya dapatkan di komunitas pecinta alam, dan pastinya berusaha untuk mengaplikasikannya di penelusuran gua.

    Ekspedisi Pertama
    Hari itu melalui postingan gambar gua dari seorang teman, tentang sebuah gua yang terletak di sekitar pantai Labuang, Campalagian. Melihat postingan tersebut timbul rasa penasaran, segeralah saya beserta ketiga teman yang tak jauh dari lokasi tersebut langsung bergegas hanya untuk sekedar melihat lokasi di mana gua itu berada. Dengan hanya berbekal senter dan alat seadanya kami berempat melangkahkan kaki, kurang lebih setengah jam kami mengelilingi daerah pantai Labuang, menyisiri pesisir pantai, namun tak satupun gua yang kami dapati. Kamipun mengambil inisiatif untuk mencarinya lebih jauh ke arah selatan sekitar 100 meter dari bibir pantai, karna menurut salah seorang teman, sewaktu kecil dulu ia pernah melihat gua di tempat itu, tapi yang menjadi masalah adalah ia telah lupa di mana letak tepat gua tersebut.

    saat menelusuri gua pantai labuang campalagian
     Saat menelusuri gua pantai labuang campalagian  (Foto : Muhammad Abrar)
    Kamipun melanjutkan perjalanan di antara semak beluntas, tak begitu lama kami berjalan tiba-tiba tercium aroma tak sedap, "tidak salah lagi guanya pasti sudah dekat", sekitar 5 meter kami berjalan akhirnya kami-pun menemukan gua tersebut. Gua yang telah tertutupi oleh tumbuhan-tumbuhan liar di sekitarnya. Kami berhenti sejenak untuk membicarakan, apakah kita akan melanjutkan ke dalam atau hanya sekedar ingin mengetahui letak dari gua ini ?, dan jawabannya adalah "lanjutkan saja pak ketua". Kami lalu meneruskan rute susur gua berbekal 3 buah senter, salah satu senter telah mulai suap baterainya ."sungguh petualangan yang nekad". 

    harus ekstra hati-hati saat menelusuri gua pantai labuang campalagian
    Ekstra hati-hati saat menelusuri gua pantai labuang campalagian (Foto : Muhammad Abrar)
    saat berada dalam gua pantai labuang campalagian
    Saat berada dalam gua pantai Labuang Campalagian (Foto : Muhammad Abrar)
    ruang dalam gua pantai labuang campalagian
    Ruang dalam gua pantai labuang campalagian (Foto : Muhammad Abrar)
    Berjalan di jalan curam dengan bau kotoran kelelawar yang sangat menyengat , belum lagi harus meloncat dari satu batu ke batu yang lain, sungguh perjalanan yang sangat memuaskan adrenalin, tapi apa daya hanya sekitar 20 meter kami berjalan, kami harus memutuskan untuk segera keluar dari gua, faktor utama karena aroma kotoran kelelawar yang semakin menyengat dan menusuk hidung hingga mencabik-cabik isi perut, belum lagi kekhawatiran akan adanya binatang buas seperti  faktor ular dan lain-lainnya. Dengan penuh keraguan kamipun bergegas ke luar dari gua dan melanjutkan perjalanan menuju bibir pantai Labuang, dan menyaksikan terbenamnya matahari. Lalu sambil mengadakan diskusi kecil-kecilan, dimana kesimpulan diskusi berujung pada recana untuk mengadakan ekspedisi kedua dengan rute yang lebih jauh dan lebih dalam dibanding ekspedisi pertama.

    Kontributor : Muhammad Abrar

    , , , ,

    Setelah penelusuran awal, kami kembali ke Gua Pantai labuang untuk kedua kalinya, bersama 5 teman lainya saya memulai penelusuran, awalnya kami sedikit takut, tapi semua terbuyarkan, rasa penasaran kami yang menggunung terobati juga. 

    Setelah menyusuri gua sepanjang 50 meter, kami berhenti sejenak, kami saling menatap. di depan jalan mulai agak mengecil, hanya bisa dilalui oleh 1 orang itupun dengan merayap, seolah kembali kemasa SMA saat-saat pendiksaran PMI, kamipun menundukkan badan dan mulai merayap, sekitar 20 meter merayap kami melihat ada seberkas cahaya di arah depan.  Kami menghela nafas panjang dan mulai merayap kembali untuk mencapai cahaya itu, betapa terperangahnya kami, ternyata cahaya itu berasal dari bibir pantai, salah satu ujung Gua ini. Wajah yang tadi pucat terganti wajah yang merona karena kepuasan yang tak terhitung, lalu kami berteriak ke laut, menyalurkan semangat yang belum habis.

    member kdm polman dalam gua di pantai labuang campalagian
    Member KDM Polman saat berada dalam gua di Pantai Labuang Campalagian (Foto : Ashari Sarmedi)


    bentukan bagian dalam gua pantai labuang campalagian
    Bentukan bagian dalam gua yang sempit dan minim oksigen (Foto : Ashari Sarmedi)


    member kdm polman saat menyusuri bagian luar gua pantai labuang campalagian
    Member KDM Polman saat menyusuri bagian luar gua Pantai Labuang Campalagian (Foto : Ashari Sarmedi)
    Pada jarak sekitar 60 meter ke bagian dalam gua, terdapat fosil kerang berukuran 30 cm, posisi kerang menempel di langit-langit gua, dari kerang itulah kami sempat melihat tetesan air, bentukan kerang lumayan besar, dan menempel pada posisi yang unik "pemandangan yang indah".
     
    Ada beragam jalur yang terdapat di bagian dalam gua, jalur menuju arah laut menjadi yang paling mungkin kami telusuri, karena untuk menjelajah jauh masuk ke bagian dalam sangat tidak mungkin dengan peralatan yang minim, belum lagi udara semakin pengap dan oksigen terasa sangat kurang.

    Kontributor  : Ashari Sarmedi

⬆
Top