, , ,

    Satu lagi pesona wisata tersembunyi yang kini ditawarkan oleh kabupaten Mamuju Tengah, pecahan kabupaten Mamuju. Daerahnya yang memiliki banyak kawasan hutan dan daerah pedalaman yang masih rimbun menyajikan sajian wisata air terjun dengan debit air yang menjadi sumber aliran sungai Budong-Budong. Air terjun Lumu wisata petualangan baru bagi para penjelajah alam pedalaman, terletak di Salu Lisu, di hulu sungai Budong Budong, kecamatan Tobadak, kabupaten Mamuju Tengah, provinsi Sulawesi Barat.
    Akses menuju air terjun Lumu terbilang sangat ekstrim dan sulit diakses, jika menelusurinya sendiri niscaya Anda tak akan pernah sampai rimbunnya hutan dan tak adanya petunjuk jalan jelas menjadi penyebabnya, apalagi jika hanya dengan mengandalkan petunjuk lisan atau bahkan petunjuk tulian. Menuju air terjun Lumu mutlak dengan bantuan seorang pemandu. Seperti yang dialami seorang pemuda Mamuju Tengah Rahmien Mahrul yang pernah mencoba menelusuri air terjun ini, ia harus kembali karena tak menemukan air terjun dengan banyak tingkatan ini.  

    Air Terjun Lumu, di daerah Lumu, desa Salu Lisu, kecamatan Tobadak, kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Foto : Zulkarnain Bonja)
    Satu-satunya publikasi dokumentasi yang terbaru diperoleh dari air terjun ini adalah dari  pegawai, bakti rimbawan KPHP Budong Budong dan mahasiswa magang Kehutanan UNISMUH Makassar pada tahun 2016 lalu, seperti yang dijelaskan oleh Zulkarnain Bonja setelah menelusuri langsung dan mendokumentasikan keindahan air terjun dengan debit air yang deras ini.

    Dijelaskan lebih lanjut oleh Rezky Amalia Sari dari pihak UPTD KPH Budong-Budong yang bersama masyarakat setempat dan mahasiswa kehutanan Unismuh yang menadatangi langsung Air Terjun Lumu.  Air terjun berada di daerah Lumu, desa Salu Lisu , kecamatan Tobadak, Mamuju Tengah. Akses terakhir yang bisa ditempuh sampai ke Salu Andeang menggunakan perahu, kemudian untuk sampai ke Salu Lisu harus ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 10 km jarak datar untuk sampai ke air terjun ini. 

    Gambaran umum akses ke Air Terjun Lumu adalah sangat menguras tenaga, untuk sampai ke titik utama air terjun terdapat medan terakhir yang sangat ekstrim,  karena terdapat bagian hutan rimbun padat yang harus dilalui, bahkan masyarakat setempat juga tak pernah menjamahnya, ada banyak jalinan pohon dan untaian rotan yang dilalui, dan tidak menutup kemungkinan rotan kadanag digunakan sebagai alat bantu menanjak atau ada medan yang terjal.

    Rumah kebun terakhir yang akan ditemui berjarak sekitar 2-3 km dari air terjun Lumu, pengunjung dapat menginap di lokasi ini untuk memulihkan stamina. Dari rumah sederhana ini, perjalanan dengan jalan kaki dapat ditempuh dari Salu Lisu, sore harinya akan sampai di pondok terakhir, esoknya perjalanan di lanjutkan kembali. Tak cukup menggunakan waktu sehari untuk sampai dan pulang dari Air Terjun Lumu, karena aksesnya yang sangat sulit. Namun, akses yang sulit diganjar dengan keindahan alami Air Terjun Lumu, dengan tingkatan beragam, dengan tanaman hijau tumbuh alami di sisi jatuhnya air terjun.

    Air Terjun Lumu, di daerah Lumu, desa Salu Lisu, kecamatan Tobadak, kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Foto : Rahmien Mahrul)
    Bagian bawah air terjun Lumu  amsih menyajikan pesona rangkaian lengkap dari air terjun ini, debitnya masih sangat besar degan arus yang deras. Tim KPHP Budong-Budong dan mahasiswa Unismuh serta pemandu masyarakat setempat merasakan langsung kealamian air terjun ini. 

    Air Terjun Lumu, di daerah Lumu, desa Salu Lisu, kecamatan Tobadak, kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Foto : Rezky Amalia Sari)
    Mamuju Tengah menyajikan pesona alami objek wisata, walau aksesibilitas yang menjadi syarat utama sebuah objek wisata dapat menjadi syarat untuk daya tarik wisata, namun Air Terjun Lumu dapat menjadi tujuan bagi mereka para pencinta wisata petualangan yang memiliki daya jelajah tinggi dan semangat pantang menyerah menemukan keindahan alam Mamuju Tengah.

    Kontributor :
    Teks : Rezky Amalia Sari, Rahmien Mahrul, Zulkarnain Bonja
    Foto : Rezky Amalia Sari, Rahmien Mahrul, Zulkarnain Bonja  

    , , ,

    Mamose adalah adat orang Budong-Budong yang harus di lestarikan, ritual ini tepatnya dilaksanakan di desa Tabolang, kec. Topoyo, kab. Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Adat mamose di lakukan tiga kali dalam setahun yang pertama di lakukan sebelum masuk hutan, yang kedua dilakukan setelah selesai merumbut atau setelah membersihkan hutan atau tempat yang nantinya akan di tanamai tanaman dan yang ketiga di lakukan setelah panen.

    Dalam mamose terdapat berbagai ritual yang dilakoni, mulai dengan melakukan aksi menggunakan parang di tempat terbuka di sekitaran rumah adat Budong-Budong dan di saksikan langsung oleh raja dan masyarakat. Dalam aksinya Pamose sebutan bagi tokoh adat yang sedang beraksi dengan berbicara bahasa Budong-Budong lalu menyampaikan pesan-pesan terhadap raja maupun terhadap para masyarakat. Sebelum melakukan aksinya terlebih dahulu iringi dengan musik dengan gendang, saat pamose menghadap ke raja dan tobara musik gendang di hentikan lalu pamose memohon izin terhadap raja dan juga terhadap Tobara (ini adalah sebutan bagi kepala adat).

    Ritual adat Mamose Budong-Budong di Kab. Mamuju Tengah, Sulawesi Barat
    Ritual adat Mamose Budong-Budong di Kab. Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Foto : Rahmien Mahrul)
    Sehari sebelum melakukan ritual adat mamose maka didahului oleh kegiatan "Magora’" menggunakan perahu bermotor (katingting) berjalan menelusuri sungai Budong-Budong, sesaat menghampiri masyarakat yang sudah menunggu di tepian sungai maka akan  di lakukan "Magane", dengan menggunakan parang, bendera,obat tradisional yang di letakkan di atas piring dan juga sebatang kayu yang di tancapkan di tanah, Puntai melakukan ritual agar kiranya kegiatan yang dilakukan berjalan dengan lancar, dahulu kala bukan kayu yang di gunakan akan tetapi manusia yang di tanam sampai kepala, lalu di lempari kemudian kepalanya di ambil di ikat di atas bendera untuk di bawa di arak-arak di atas perahu. 

    Kegiatan Magora dan Magane dalam ritual adat Mamose di kec. Budong-Budong Mamuju Tengah
    Kegiatan Magora dan Magane dalam ritual adat Mamose di kec. Budong-Budong Mamuju Tengah  (Foto : Rahmien Mahrul)
    Agar masyarakat mengetahui kedatangan rombongan di tiup "Tantuang" yang terbuat dari kerang berukuran besar lalu kemudian singgah di setiap tepian sungai bila ada yang menunggu di pinggiran sungai, masyarakat yang menunggu di pinggir sungai lalu menghampiri rombongan lalu menyerahkan seperti rokok, makanan, minuman dan lain sebagainya, di terima langsung oleh Puntai yang merupakan tokoh adat. 

    Aktivitas Puntai dalam ritual adat Mamose Budong-Budong Mamuju Tengah
    Aktivitas Puntai dalam ritual adat Mamose Budong-Budong Mamuju Tengah (Foto : Rahmien Mahrul)
    Puntai kemudian akan mengambil air dari sungai dan dari dalam perahu kemudian di basuhkan ke kepala yang sedang sakit, sebelum rombongan berangkat maka kadang akan terjadi kehebohan yaitu siram menyiram antara rombongan dengan masyarakat yang berada di tepian sungai.

    Kontributor : Rahmien Mahrul

    ,

    Mamuju Tengah, adalah kabupaten termuda di Sulawesi Barat, pada awalnya ia masuk dalam wilayah Mamuju dan kemudian dimekarkan menjadi satu kabupaten tersendiri.
    Beberapa warga desa sejati berfoto bersama di depan masjid Jami Al Mudzakkir, Topoyo, Mamuju Tengah (Foto : www.muslimextimor-timurdirantau.blogspot.com)

    Foto masjid Jami Al Mudzakkir, desa sejati, Tobadak 8 Topoyo, Mamuju Tengah
    Foto masjid Jami Al Mudzakkir, desa sejati, Tobadak 8 Topoyo, Mamuju Tengah (Foto : www.muslimextimor-timurdirantau.blogspot.com)
    Apa yang menarik di Mamuju Tengah selain mereka yang bersuku Bali, Jawa, Lombok dan NTT ? ada desa Sejati a.k.a Tobadak VIII yang merupakan tempat transmigran dari Timor Leste (Timor-Timur), mereka muslim pro integrasi yang lebih memilih menjadi warga negara Indonesia dibanding menjadi warga Timor Leste, desa ini kerap dikunjungi Gubernur Sulbar dan banyak bantuan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat  yang mengalir ke desa ini. 

    , , , ,

     
    objek wisata pantai kombiling mamuju tengah sulbar
    objek wisata pantai kombiling mamuju tengah sulbar (Foto : Heriadi Darwis)
    Pantai Kombiling, Kec.Pangale, Kab.Mamuju Tengah, salah satu pantai yang banyak dikunjungi oleh masyarakat di masa liburan. Dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai kelompok umur, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orng dewasa. Pilihan menikmati pantai Kombiling dengan mandi, atau sekedar melepas penat memandangi pantai.

    Kiriman : Heriadi Darwis


Top