, ,

    Pulau Popoongang atau biasa dituliskan Pulau Popoongan adalah salah satu pulau-pulau kecil yang menyusun kepulauan Balak-Balakang, secara administratif terletak di kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, karena jarak 60 mil laut dari perairan Mamuju maka kemudian pulau-pulau dalam wilayah Balak-Balakang ini jarang tersentuh. 

    Untuk soal potensi wisata barisan pulau di Balak-Balakang berada di level atas, untuk menemui pulau dengan pasir putih sangat mudah di tempat ini. Posisinya yang berada di selat Makassar antara Sulawesi dan Kalimantan dengan perairan dangkal menjadi tempat terbaik untuk tumbuhnya terumbu karang, hal yang sangat disukai wisatawan yang menikmati bentang bawah laut.

    pulau popoongang balak balakang mamuju
    Potret pantai berpasir putih di Pulau Popoongang yang diambil saat Ekspedisi Nusantara Jaya 2107 bulan September di kepulauan Balak-Balakang kab. Mamuju, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)
    Hanya sayang, Balak-Balakang lebih banyak dikunjungi wisatawan via Kalimantan Timur. Jalur terdekat untuk menuju pulau-pulau ini adalah via Kab. Paser atau dari Balikpapan. Sementara wisatawan yang berasal dari Sulawesi Barat bisa dikatakan nihil. Kalaupun ada yang berkunjung dari Sulbar, biasanya memiliki kepentingan yang urgen jika ingin menuju Balak-Balakang misanya untuk kepentingan ekonomi (mencari ikan), keperluan riset (peneliti), kewajiban pendidikan (guru dan pendidik). 

    pantai pulau popoongan mamuju sulbar
    Potret pantai berpasir putih di Pulau Popoongang yang diambil saat Ekspedisi Nusantara Jaya 2107 bulan September di kepulauan Balak-Balakang kab. Mamuju, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)
    Dari sekian pulau yang ada di Balak-Balakang, maka Pulau Popoongang memiliki struktur pasir putih yang sangat menarik. Gradsasi warna laut dari biru muda hingga biru tua dengan perairan yang tidak terlalu dalam, serta pasir putih dengan tekstur putih dan halus. Dari dokumentasi terakhir yang sempat dipotret Hasbi Djaya September 2017, peserta Ekspedisi Nusantara Jaya Sulawesi Barat yang baru-baru ini kembali dari pelayaran ke Balak Balakang, Popoongan memang memiliki pesona yang sangat layak untuk diunggulkan menjadi tujuan wisata.

    Hal tersulit yang dihadapi untuk mencapai Pulau Popoongang adalah akses nya yang sangat sulit, butuh biaya besar yang dihabiskan untuk menyeberangi selat Makassar menuju Balak-Balakang dari kab. Mamuju. Dari kajian pariwisata, maka syarat "kemudahan akses" belum tercapau untuk menjadikan kepulauan Balak-Balakang menjadi tujuan wisata, hal ini dapat ditangani jika otoritas setempat menyediakan alat transportasi dari Mamuju menuju Balak-Balakang.

    pulau popongan mamuju sulbar
    Potret pantai berpasir putih di Pulau Popoongang yang diambil saat Ekspedisi Nusantara Jaya 2107 bulan September di kepulauan Balak-Balakang kab. Mamuju, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)
    Popoongang, punya potensi yang sangat baik untuk jadi tujuan wisata bawah laut, terumbu karangnya menjadi jualan yang sangat baik.

    Hasil perikanan laut juga sangat melimpah di sekitar perairan Balak-Baakang, bahkan mudah menemukan "lobster" di perairannya. Nelayan-nelayan suku Mandar di Sulawesi Barat dari Rangas, Majene bahkan kadang berlayar sampai ke sekitar wilayah ini untuk berburu ikan-ikan karang berukuran besar. 

    Kontributor :
    Foto : Hasbi Djaya
    Teks : Hasbi Djaya

    ,

    Anjungan Pantai Manakarra Mamuju semakin mendekati proses penyelesaian dan perampungan, dapat dilihat dengan jelas bagian pesisir pantai yang direklamasi dan disulap menjadi tempat publik yang menarik. belum lagi ditambahkan landmark berwarna merah bertuliskan "Pantai Manakarra". Pemandangan ini jelas terekam dalam foto-foto dibawah ini.

    pantai manakarra mamuju
    Anjungan pantai Manakarra menuju proses peramapungan (Foto : Hasbi)
    Pada bagian depan terdapat sebuah miniatur perahu sandeq dengan tema "putih" , perahu sandeq merupakan perahu tradisional bercadik kebanggaan orang-orang Sulawesi Barat. 
    pantai manakarra mamuju sulbar
    Anjungan pantai Manakarra menuju proses peramapungan dengan desain atap berebntuk meja (Foto : Hasbi)
    Satu hal yang unik dari anjungan ini adalah terdapat beberapa atap yang berbentuk meja berwarna putih di hadapan landmark "Pantai Manakarra" sampai saat ini belum ada jenis atap yang seperti ini di Sulawesi Barat, ini adalah desain pertama yang pernah dibangun di Sulbar. Ini nantinya akan membuat kawasan anjungan menjadi semakin menarik.
    pantai manakarra mamuju sulawesi barat
    Anjungan pantai Manakarra menuju proses perampungan (Foto : Hasbi)
    Anjungan yang dibuat memuat konten budaya sebuah perahu Sandeq yang merekam kehidupan bahari orang-orang Sulawesi Barat, hampir sama seperti anjungan Pantai Losari di Makassar yang memajang ikon budaya di daerah ruang publik di sepanjang pantai.

    anjungan pantai manakarra mamuju sulbar
    Anjungan pantai Manakarra dengan miniatur perahu Sandeq  (Foto : Hasbi)
    Anjungan pantai Manakarra belum sepenuhnya rampung, namun bisa dikatakan mendekati rampung, hanya beberapa proses lagi maka ruang publik ini akan dapat dinikmati oleh masyarakat Mamuju dan Sulawesi Barat secara keseluruhan. Ini akan membuat aktivitas di sekitar pantai Manakarra akan semakin ramai oleh para pengunjung. 

    Kontributor : Hasbi


    Jembatan bolong yang ada di kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat ini merupakan salah satu pilihan objek wisata ketika anda berkunjung ke Mamuju dari arah selatan kota. Kita membutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit dari kota Mamuju untuk sampai ke tempat ini. Jika anda menempuh jalur dari selatan kota maka anda akan melalui jembatan bolong sebelum tiba di Mamuju. Sangat rugi rasanya jika kita melewatkan tempat ini untuk tidak sejenak beristirahat sambil mengabadikan momen-momen bersama keluarga atau teman terdekat anda. 

    Jembatan Bolong Mamuju yang baru di Sulawesi Barat
    Jembatan Bolong Mamuju yang baru di Sulawesi Barat (Foto : Hasby)
    Dahulu, jembatan bolong sangat santer dan kental dengan cerita mistis dan angker, ada banyak kendaraan yang harus mengalami kelainan dan keanehan di tempat ini, dari sekedar kasus mesin mati tiba-tiba, adanya penampakan makhluk astral, hingga terjadinya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan berbeda.Jembatan ini selalu jadi perhatian khusus bagi para pengendara, baii sepeda motor atau mobil, semua pengendara hampir tahu dan sudah menjadi rahasia umum jika tidak boleh sembarangan saat melintasi jembatan ini.

    Namun saat ini semenjak dibangunnya jembatan baru yang berwarna kuning, jembatan Bolong telah menjadi salah satu destinasi wisata yang ada di Sulawesi Barat. Ada banyak orang-orang yang kadang mampir hanya untuk berfoto narsis, warga setempat yang memadati jembatan saat sore, adanya penjual buah-buahan lokal (jika musim buah tiba), beberapa diantaranya yaitu buah durian, rambutan, serta langsat. Selain itu juga terdapat warung makan sederhana bagi yang ingin mampir dan mengisi perut kosong.

    Semenjak trend batu akik berkembang maka disekitar Jembatan Bolong juga dapat kita temukan dengan mudah para penjaja bahan batu akik, menjual bahan batu dalam bentuik bongkahan, lebih parah lagi, ada bagian-bagian stalaktit/stalakmit gua yang turut diperjualbelikan oleh para pedagang batu akik.

    Kontributor : Hasby

    , , , ,

    Saya memulai petualangan menjejaki bagian Kali Mamuju akhir pekan ini, bersama dengan beberapa rekan untuk menelusuri bagian hulu sungai Soqdo, sedikit lebih kedalam bagian sungai. Kami menelusuri bagian sungai dan bergerak ke arah hulu ke satu titik yang juga menarik untuk didatangi. 
    hulu sungai soqdo kali mamuju sulawesi barat
    Bagian hulu sungai soqdo kali mamuju sulawesi barat (Foto : Fahmir Ahmad)
     Bagian sungai ini adalah sisi lain dari sungai so'do, orang orang biasa menyebutnya Kali Mamuju, tempat ini berada sekitar kurang lebih 300 meter dari tempat yang sering dipadati oleh masyarakat. Akses jalan menuju bagian sungai Sodo ini terbilang cukup baik, dapat ditempuh dengan berjalan kaki, butuh beberapa menit untuk melakukan trekking, tentunya ke arah bagian pedalaman (hulu). Ada bagian hutan, kebun kakao, dan pohon durian yang akan kita lalui saat menuju bagian sungai Sodo ini.

    bagian hulu sungai soqdo kali mamuju
    Bagian hulu sungai Soqdo atau Kali Mamuju (Foto : Fahmira Ahmad)
    bagian hulu sungai soqdo kali mamuju sulbar
    Bagian hulu sungai soqdo, Kali Mamuju, Sulbar (Foto : Fahmira Ahmad) 
    Keadaannya sepi pengunjung, namun memiliki suasana yang sejuk. Bagian hulu sungai ini memiliki lokasi  untuk untuk berenang yang cukup luas, namun pada bagian sungai yang terletak ditengah tampak jelas kedalamannya, bagian tepinya masih cukup dangkal, dan tentu saja aman untuk jadi tempat mandi dan bermain air yang seru. 
    Bagian hulu sungai Soqdo dengan batu kali di tepiannya
    Bagian hulu sungai Soqdo dengan batu kali di tepiannya (Foto : Fahmira Ahmad)
    Ada yang menarik disini, saya sempat menemukan beberapa jenis kupu-kupu yang cantik, tapi karena keterbatasan kamera saya untuk memperbesar gambar saya tak bisa mengambil potretnya yang detail dan dari jarak dekat, yang jelas ini penanda kalau keadaan vegetasi sekitar sungai masih terjaga dan alami. Hari ini saya menutup pekan ketiga Februari dengan berkunjung ke tempat baru ini, semoga nanti saya bisa berkunjung lagi. 

    Kontributor : Fahmira Ahmad

    ,

    Sungai yang ada di Kelurahan Tasiu' Timur. Kec. Kalukku, Kab. Mamuju ini adalah sungai yang membentang luas membelah pegunungan yang ada di sekitarnya. Di sungai ini terdapat beberapa penambangan pasir yang menjadi sumber penghidupan masyarakat di sekitarnya. Warga setempat bekerja menambang pasir untuk digunakan sebagai salah satu material bangunan. Tak jarang juga dijumpai anak-anak kecil yang bermain dipinggiran sungai hanya untuk berenang atau sekedar menangkap ikan-ikan kecil.

    penambangan pasir di tasiu timur kalukku mamuju
    Proses penambangan pasir di Tasiu Timur, kec.Kalukku, kab. Mamuju (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    Proses penambangan pasir di Tasiu Timur, kec.Kalukku, kab. Mamuju (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    Penambang  pasir di Kalukku ini sudah menggunakan teknologi modern untuk menganbil pasir dari dasar sungai, tak lagi menggunakan sekop atau alat-alat tradisional dan manual, mereka menggunakan mesin yang mengisap pasir dan disaring di daratan, terdapat kawat penyaring yang dibuat dan berada tepat diujung mulut pipa pengisap, karena itu pasir yang telah diisap lewat mesin langsung disaring dengan kawat.

    kontributor kompa dansa mandar di kalukku
    Kontributor KOMPA DANSA MANDAR saat berada di sungai Tasiu Timur, Kalukku, kab. Mamuju (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    Sungai ini banyak memiliki batu dan air yang jernih, menjadi tempat bagi warga baik muda hingga orang tua menghabiskan waktu di bawah terik sinar matahari, mencari nafkah untuk keluarga mereka. 
    Kontributor : Muhammad Putra Ardiansyah

    ,

    5 Desember 2014 bertempat di Rumah Baca Lenterra Manakarra, Mamuju. Member Kompa Dansa Mandar (Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar) menghadiri diskusi dengan tajuk "Menuliskan Mandar". Diskusi kali ini menghadirkan seorang narasumber budayawan muda Mandar "Muhammad Ridwan Alimuddin". 

    ridwan alimuddin diskusi menuliskan mandar
    ridwan alimuddin dalam diskusi menuliskan mandar di rumah baca lentera manakarra  (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)
    film dokumenter baharuddin lopa diskusi menuliskan mandar
    film dokumenter baharuddin lopa yang diputar saat diskusi menuliskan mandar di rumah baca lentera manakarra (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)
    suasana diskusi menuliskan mandar di rumah baca lentera manakarra mamuju
    suasana diskusi menuliskan mandar di rumah baca lentera manakarra mamuju (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)
    Diskusi diawali dengan pemutaran film dokumenter tentang Peristiwa Panyapuang Galung Lombok atau rangkaian pembantaian korban 40.000 di Sulawesi Selatan serta ditutup dengan film tentang biografi jaksa Agung Indonesia masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid, Alm. Baharuddin Lopa. 

    Satu kalimat kutipan dari seorang Ridwan Alimuddin yang layak dijadikan pedoman dan terekam di kepala saat mengikuti diskusi. adalah "Menulis sejarah boleh salah asal jangan bohong"

    Kontributor : Pusvawirna Natalia Muchtar

    , ,

    Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar dalam rapat pembentukan Tim Kreatif Karewata Magazine di rumah baca lentera Manakarra Jl. Sultan Hasanuddin No 5 Mamuju (samping kantor lurah Binanga)(15/11.2014).

    tim karewata magazine rapat bersama kompa dansa mandar mamuju
    tim karewata magazine rapat bersama kompa dansa mandar mamuju (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

    kompa dansa mandar mamuju saat mengikuti rapat tim kreatif karewata magazine (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

    Karewata Magazine adalah cikal bakal media cetak yang kontennya diantaranya berisi rubrik seputar budaya dan wisata di Sulawesi Barat.

    Kontributor : Pusvawirna Natalia Muchtar

    , ,

    Tana Lotong nama kalumpang dahulu adalah sebuah perkampungan unik khas dataran tinggi, berjarak sekitar 90 kilometer arah timur mamuju ibukota sulawesi barat dengan waktu tempuh hingga 6 jam karena jalan yang menanjak dan berkelok.
    tana lotong kalumpang mamuju
    tana lotong kalumpang mamuju (Foto : Udhink)
    Kalumpang adalah tempat eksotik yang pernah dikunjungi manusia austronesia, moyang kita, lebih dari 3800 tahun lalu. Jejak dan buktinya sudah banyak dilaporkan para arkeolog dalam dan luar negeri. Diantaranya, tembikar sebagai penanda utama kebudayaan austronesia.

    Di kampung etnik nan spektakuler yang masih kuat menjaga adat dan tradisi ini dapat dijumpai berbagai ragam budaya dan kerajinan khas yang tidak ditemukan di tempat lain di indonesia, diantaranya sekomandi tenunan tangan khas kalumpang yang telah dipasarkan hingga ke prancis.

    Dapat pula ditemukan patung perunggu budha yang dikemudian dikenal dengan situs patung sikendeng, situs batu prajurit, pare manurung yang tumbuh di batu pare. Situs batu tabuqung (baca: tabu’ung). Kerangka-kerangka manusia diletakkan dalam peti kayu berukir dan diletakkan (bukan ditanam) di tebing batu. Lumpur berwarna biru laut dengan tekstur yang lembut dan wangi dijadikan tembikar yang prosesnya tak terbebas dari mistik dan spritual. 
    tana lotong kalumpang mamuju sulbar
    tana lotong kalumpang mamuju sulbar (Foto : Udhink)
    Termasuk situs-situs arkeologi yang sudah di-mark oleh lembaga resmi negara, misalnya situs minanga sipakko dan kamansi, yang telah diteliti sejak awal abad xx oleh orang belanda. Selain itu, ada pula berbagai peralatan batu, seperti beliung persegi, pisau, mata panah, mata tombak, hingga pemukul kulit kayu dari zaman neolitikum

    Di balik rimbunnya hutan kalumpang juga mudah dijumpai pohon kayu ebony (kayu hitam) dan gaharu. Serta menjadi tempat berlangsungnya kehidupan hewan langka seperti rusa dan anoa (hewan khas sulawesi), meskipun kini terancam punah oleh arus deras gelombang investasi tambang dan perkebunan skala besar.
    Kini saatnya untuk kembali ke kampung halaman, atau juga bermakna kembali ke dalam kesejatian diri. Merawat memori kolektif akan idealisme sejarah, menafsir dan merekonstruksi keluhuran peradaban leluhur bergegas menginspirasi zaman karena sejarah telah memanggil. Dalam kemasan event bertajuk “TANA LOTONG MEMANGGIL” dengan item kegiatan :
    - Festival pedalaman nusantara
    - Orang kalumpang dari rantau berbagi cerita tempo doloe
    - Riset dan seminar bahasa kalumpang
    - Pagelaran seni dan permainan rakyat
    - Workshop dan sarasehan
    - Fotography dan wisata budaya.
    - Touring motor trail jelajah kalumpang
    - Rekonstruksi peradaban kalumpang

    Event ini juga berupaya menganyam kembali kohesi sosial, budaya dan ekonomi yang pernah ada di antara komunitas pedalaman kalumpang, mamasa, toraja, seko, kulawi, minahasa, larantuka, batak, kalimantan dan pedalaman nusantara lainnya.

    Kehadiran dan partisipasi anda akan menambah meriah event ini. Dan rasakan sendiri getaran semangat dan energi menjalani hidup dari tari sayo. Rasakan sendiri bagaimana berpapasan dengan orang-orang yang menuju ladang berbekal tuak pahit dan tombak terhunus dengan kepala anak-anak muncul dari dalam keranjang di punggung; rasakan sendiri aroma tembakau dari lelaki yang melinting tembakaunya dengan kulit jagung ; rasakan sendiri olahraga jantung melawan arus deras sungai karama ; rasakan sendiri menjalani hidup di tengah-tengah orang yang masih mengunyah daun sirih dan pinang di zaman ini, tanpa handphone, facebook, apalagi twiter.

    Namun, pesona dan senyum manis gadis-gadis cantik tanpa polesan berkulit putih bersih bersuara merdu dengan pengetahuan musik yang mumpuni akan membuat anda tak ingat pulang.
    DATANG DAN NIKMATI, PETUALANGAN MENARIK MENANTI DAN MENANTANG ANDA DI TANA LOTONG DALAM EVENT BERTAJUK “TANA LOTONG MEMANGGIL”.
    Kalumpang, 14 – 21 Desember 2014

    Kontributor : Udhink

    , ,

    Kalumpang, adalah salah satu kecamatan di Mamuju, provinsi Sulawesi Barat, terletak di dataran tinggi dan pegunungan. Akses untuk menuju daerah ini cenderung sulit, bisa dikatakan mobilisasi masuk dan keluar kecamatan ini tidaklah tinggi. Namun dibalik keterasingannya dari dunia luar, Kalumpang memiliki kekayaaan budaya dan sejarah, dipercaya memiliki situs sejarah berusia 4.000 tahun lebih, dan diduga sebagai tempat awal masuknya migrasi manusia di Sulawesi.

    Waktu berkunjung ke Kalumpang saya baru tahu bahwa tas/keranjang khas buatan masyarakat di sana yang sering digunakan jika masuk hutan/kebun ternyata disebut TOKEN. Saya teringat dengan tas khas suku asli di Papua yang bernama NOKEN. Noken di Papua dan Token di Kalumpang sama-sama dipakai dengan cara digantungkan di kepala dan menjuntai membebani pundak. 

    foto noken di papua
    foto noken di papua (Foto : viva.com)
    Kiriman : Dahri Dahlan

    , ,

    Setelah menghabiskan waktu hampir 9 (sembilan) minggu menjelajah dan membongkar bentang alam Sulawesi Barat, nampak jelas potensi besar untuk industri pariwisata. Topografi alam yang terdiri dari bentang perbukitan dan garis pantai yang panjang di pesisir dipersenjatai ratusan teluk-teluk cantik, menjadikan Sulawesi Barat punya pesona yang dahsyat. Akulturasi kebudayaan yang aktraktif serta hospitality masyarakatnya, menjadikan Sulawesi Barat begitu memikat hati.

    Banyaknya objek-objek wisata potensial yang tersebar di setiap penjuru wilayah Sulawesi Barat, mengharuskan PEMDA setempat untuk bekerja keras dalam menggarap dan mempromosikan aset tersebut. Namun bukan berarti setiap objek harus mendapat perhatian dan atau diberikan sentuhan modernisasi terlebih dahulu, baru kemudian dipasarkan/dipromosikan. Ada baiknya objek-objek tersebut dipilah-pilah terlebih dahulu, kemudian digarap secara sistematis sebelum dipublikasikan.

    pasir putih tanjung ngalo tappalang barat mamuju
    salah satu objek wisata di kec. tappalang barat , mamuju, sulawesi barat,  tanjung ngalo (Foto : Hijranah)
    Dari sudut pandang pribadi, saya melihat banyak celah-celah yang kurang efektif dan efisien yang dilakukan oleh aparat terkait. Salah satu contoh: mendata habis setiap objek yang bisa dijadikan objek pariwisata untuk kemudian dikembangkan. Aktifitas tersebut akan memakan waktu dan berpotensi terbengkalai. Alasannya, mengkoleksi objek-objek tersebut kemudian membuat perencanaan anggaran dalam rangka pengembangan. Pertanyaannya kemudian, apakah anggaran untuk sektor tersebut bisa mengcover semuanya..!?. itu mustahil menurut saya.

    Dalam petualangan saya di Sul Bar, saya banyak bertemu dan berdiskusi dengan pejabat-pejabat pemerintah dari instansi terkait (Dinas Pariwisata), diantaranya adalah; Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Kabupaten Majene; Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Kabupaten Mamuju; Kepala Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata DISPORABUDPAR Prov. Sulawesi Barat. Dari sudut pandang seorang diver (penyelam), ada hal yang membuat saya senang karena pejabat-pejabat yang saya sebutkan diatas telah memprogramkan pengembangan industri pariwisata selam di Sulawesi Barat pada tahun 2015, bahkan PEMKAB. Mamuju telah akan merealisasikan program tersebut tahun 2014 ini. Namun, hasil diskusi dengan pejabat-pejabat terkait membuat saya tergelitik sekaligus prihatin. Betapa tidak, program pengembangan industri selam yang coba mereka garap terkesan asal-asalan dan tanpa arah, serta berpotensi menimbulkan dampak negatif yang tidak bisa diprediksi, karena tidak sesuai dengan prosedur standar dan tanpa acuan yang jelas.

    Berbicara tentang wisata diving (selam), ini merupakan salah satu industri potensial dalam Pariwisata. Namun bukan berarti, setiap daerah yang memiliki garis pantai yang panjang dan hamparan laut yang bagus layak untuk mengembangkan wisata ini. Karena wisata diving itu sendiri akan mempunyai dampak yang begitu luas dan mencakup beberapa aspek sosial budaya masyarakat setempat. Sehingga, tidak boleh asal-asalan dalam penggarapannya.

    Setelah saya berkoordinasi dengan salah seorang rekan (Cipto Aji Gunawan) yang ditunjuk sebagai tenaga ahli pengembangan wisata bahari dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, beliau menyatakan siap untuk membantu. Ada pun tahapan awal yang menjadi arahan beliau adalah:
    Melakukan survey kelayakan diving meliputi survey potensi, kesiapan masyarakat, sosial budaya dan analisa SWOT terkait aksesibilitas, amenitas dan atraksi pendukung.
    Langkah-langkahnya adalah sebagi berikut :
    # Pemda setempat (Bupati/Gubernur) mengundang dan meluangkan waktu untuk mendengar presentasi tentang survey pendahuluan itu, kalau mereka setuju maka survey dilakukan dengan hasil merupakan dokumen pengembangan termasuk langkah-langkah yang harus dilakukan, Bisa jadi mulai dari RIPPDA (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah) yang menjadi kewajiban daerah dan perintah Undang-undang. Langkah kongkrit yang paralel dilakukan adalah kegiatan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penggarapan infrastruktur dasar, manajemen pengelolaan dan mulai dilakukan strategi pemasaran termasuk juga membuat penawaran investasi bagi investor.

    Kiriman : Uwais Al Qarni

    , , ,

    Pantai Dayanginna, masyarakat menyebutnya dengan nama itu. Pantai ini terletak di kelurahan Galung, kecamatan Tapalang Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Diberi nama Dayanginna, karena ia terletak di dusun Dayanginna, tidak jauh dari Dusun Kuridi dan Dusun Patakeang.
    Pantai ini banyak dihuni oleh nelayan-nelayan Tapalang yang menggantungkan hidupnya dari laut. Sebagian besar pesisir pantai menjadi kawasan perumahan bagi nelayan, sehingga disini anda dapat melihat potret budaya kehidupan nelayan dari dekat. Tertarik berwisata menjelajahi bagaimana budaya bahari dibentuk? mungkin tempat ini bisa jadi pilihan yang tepat.

    pantai dayanginna tappalang mamuju
    pantai dayanginna tapalang mamuju (Foto : Hamsiah Jufri)
    Jika ingin menikmati Pantai Dayanginna yang agak lebih tenang, anda dapat bergerak ke arah beberapa km dari pantai yang ramai untuk menikmati senja yang selalu terbenam dengan indahnya. Menatap senja mungkin merupakan pilihan wisata yang dapat anda nikmati di sepanjang jalan dari kab. Majene hingga kota Mamuju, termasuk di kawasan Tapalang ini. Di sepanjang tahun anda dapat menikmati senja di pantai ini, karena pandangan anda akan langsung melihat garis horison laut, tak ada batuan ataupun tebing yang akan menghalangi. Di kawasan yang jauh dari pemukiman nelayan ini juga merupakan tempat bagi anak-anak di sekitar dusun menghabiskan sore dengan mandi  dan bermain bola di bibir pantai.
    senja di pantai dayanginna tappalang mamuju
    senja di pantai dayanginna tapalang mamuju (Foto : Hamsiah Jufri)
    Pantai di sekitar Dayanginna cukup panjang, namun dipisahkan oleh muara-muara sungai kecil.  Setidaknya ada dua muara sungai yang bertemu dan memisahkan jalur panjang pantai Dayanginna. Salah satu sungai yang bermuara di pantai ini adalah sungai Anusu. Anusu adalah nama yang diberikan pada sungai ini karena di daerah ini dahulu terdapat sebuah pohon "Anusu" berukuran besar yang hidup di dekat sungai.

    Daerah muara sungai Anusu di pantai Dayanginna menurut warga setempat menyimpan cerita-cerita mistis, konon muara ini dihuni oleh buaya buntung, kembaran  warga yang ada di sekitar daerah tersebut. Muara ini juga cukup menyeramkan karena lokasinya tidak jauh dari tempat pemakaman umum di dusun Dayanginna. Terlepas dari cerita tak logisnya, muara sungai Anusu memiliki air yang sangat jernih. Daerah Tapalang secara umum memang banyak dikaitkan dengan sesuatu yang berbau metafisika, sama halnya dengan cerita mistis Jembatan Bolong yang kini memiliki jembatan baru sebagai pengganti jembatan lama.

    Ancaman terberat yang dihadapi oleh masyarakat di Pantai Dayanginna saat ini adalah adanya abrasi pantai yang cukup parah menghantam sisi-sisinya. Berbagai cara dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah agar abrasi tidak mempengaruhi warga yang tinggal di pesisir. Salah satu cara yang mereka tempuh adalah dengan membangun tanggul disepanjang pantai, untuk menahan ombak yang pada saat-saat tertentu nyaris menghabiskan permukaan tanah disepanjang pantai. Walaupun alternative penanaman bakau “mangrove” pernah diusulkan namun, hal ini ditolak oleh warga yang tinggal di pesisir Dayanginna, mereka khawatir tidak akan ada lagi tempat untuk melakukan kegiatan “Panambe”, (menangkap ikan bergotong royong dengan menggunakan jarring besar yang dihalau ke tepian pantai).

    Kiriman : Hamsiah Jufri

    , ,

    Tepat pukul 08.00 hari Ahad, 20 April 2014, saya bersama dengan seorang rekan Irwan Saputra berangkat menuju empat titik objek wisata yg direncanakan akan kami kunjungi. Dengan menggunakan kendaraan roda dua, kami menapaki jalan demi jalan di bumi Manakarra. 

    Titik pertama yg kami kunjungi adalah label “Mamuju City” yang terletak di kawasan Kelapa Tujuh. Perjalanan menuju tempat ini ternyata tidak sejauh yang saya bayangkan saat melihat tulisan itu dari kejauhan. Meskipun jalanan agak menanjak dan membuat saya agak takut, tetapi semua terbayarkan saat kami tiba di tempat itu. Dari sana saya bisa melihat seluruh kota Mamuju, jauh diluar pesisir patai Manakarra  juga tampak pulau Karampuang, benar benar menakjubkan. Sayangnya kami tak bisa berlama-lama di sana. 

    melihat Pulau Karampuang dari jauh
    melihat Pulau Karampuang dari jauh (Foto : Gita Novianti Muchtar)
    berfoto di label mamuju city
    berfoto di label mamuju city (Foto : Gita Novianti Muchtar)
    Setelah itu kami menuju ke titik kedua yaitu Air Terjun Lekbeng  yang terletak di kecamatan Kalukku. Perjalanannya memakan waktu yang cukup lama, mengingat letaknya jauh dari kota Mamuju dan nyaris membuat saya mengantuk, hampir saja saya tertidur di atas motor. Sesampainya di Kalukku, tanpa basi basi kami pun menuju lokasi air terjun. Untuk sampai ke titik air terjun kami harus berjalan kaki sekitar beberapa meter dari jalan utama. Meskipun debit airnya tidak kuat, tetapi rasa penasaran saya terbayarkan dan berhasil kembali dengan beberapa foto yang bisa saya abadikan. Bahkan dengan bermodal buras dan cemilan, kami sempat makan siang di bawah kecilnya pancuran air terjun.

    air terjun lebeng mamuju
    air terjun lebeng mamuju  (Foto : Gita Novianti Muchtar)
    Setelah itu kami melanjutan perjalanan menuju titik ketiga yaitu Pantai Lombang-Lombang, namun 
    kami hanya mampir sebentar disana. Lalu titik keempat adalah Wisata Permandiang Bukit Jati Gentungan yang letaknya juga tak jauh dari lokasi Pantai Lombang-Lombang. Objek wisata ini menurut saya yang paling mengasyikkan. Saya bisa melihat keceriaan anak-anak saat bermain air di dalam kolam, melihat wajah sumringah dari kumpulan keluarga yang datang berkunjung ke sana. Bahkan saya bisa bisa menikmati fasilitas untuk bernyanyi yg ada di sana. Saya pun sempat mendendangkan sebuah lagu daerah favorit saya, dan merasa puas karena bisa ikut menghibur para pengunjung.
    Pantai Lombang-Lombang Mamuju
    Pantai Lombang-Lombang Mamuju  (Foto : Gita Novianti Muchtar)


    bukit jati gantungan mamuju
    bukit jati gantungan mamuju (Foto : Gita Novianti Muchtar)

    bernyanyi di bukit jati gantungan mamuju
    bernyanyi di bukit jati gantungan mamuju (Foto : Gita Novianti Muchtar)
    kolam renang di bukit jati gantungan mamuju
    kolam renang di bukit jati gantungan mamuju (Foto : Gita Novianti Muchtar)
    Ini adalah pengalaman yang benar-benar mengesankan buat saya menjelajahi empat objek wisata di Mamuju hanya dalam waktu sehari. Segala beban pikiran yang ada dalam kepala seketika hilang dengan semua pesona yang dimiliki oleh Mamuju. Terima kasih saya untuk segala ciptaan Allah SWT yang indah ini.

    Kiriman : Gita Novianti Muchtar

    , ,

    Mari kita lirik Mamuju sejenak, tempat dimana semua orang mengadu nasib, tempat dimana semua ras dan suku di Sulawesi Barat bergabung didalamnya , ada kemajemukan yang indah. Kali ini adalah Kelapa Tujuh, atau orang-orang biasa menyebutnya "Anjoro Pitu" kawasan wisata yang menjadi lokasi perumahan untuk bupati Mamuju. Titik terindah di Mamuju untuk melihat keseluruhan isi kota.

    Tempat ini terasa lebih indah jika dinikmati di malam hari, ada view seperti hamparan berlian, lampu lampu kota ikut menghiasi malam. Pun di pagi dan siang hari anda masih dapat menikmati "Anjoro Pitu" dengan melemparkan pandangan langsung ke Pulau Karampuang, salah satu pulau yang dimiliki oleh Mamuju dengan pesona karang dan tempat snorkling yang sempurna. Dari kawasan ini juga anda dapat melihat pesisir pantai Manakarra, pusat jajanan dan hiburan ketika malam tiba di Mamuju. 

    view anjoro pitu mamuju
    view anjoro pitu mamuju (Foto : Ahriadi)
    view pulau karampuang dari anjoro pitu
    view pulau Karampuang dan kawasan kota Mamuju dari anjoro pitu (Foto : Ahriadi)
    view kelapa tujuh Mamuju dengan latar pulau Karampuang (Foto : Ahriadi)
    Tanjung Rangas juga dapat anda lihat dari sini, ada lekuk-lekuk serupa teluk yang bisa anda lihat di sisi kiri (jika anda menghadapkan tubuh ke Pulau Karampuang). Anjoro Pitu dijadikan salah satu spot wisata di kota ini karena view nya yang bisa secara keseluruhan melihat kota Mamuju dari ketinggian hingga ke kawasan lautan.

    Kiriman : Ahriadi

    Ini dia penampakan “Jembatan Bolong” yang baru, menurut kabar yang beredar saat ini, pihak pemerintah Provinsi Sulawesi Barat ingin mengganti nama Jembatan Bolong menjadi “Jembatan Takandeang”. Nama Takandeang adalah nama daerah atau wilayah dimana jembatan ini berada. Jembatan ini berfungsi sentral di rute darat trans Sulawesi Barat dan menggantikan fungsi jembatan lama yang dianggap sudah tidak layak lagi digunakan. 

    Jembatan Bolong ini merupakan sarana pengganti jembatan yang lama, tidak jauh dari lokasi ini anda dapat menemukan jembatan sebelumnya yang sudah tidak digunakan lagi. Jalur jembatan sebelumnya lebih tajam, sehingga dahulu ada banyak kecelakaan yang terjadi di kawasan ini. Bentuk tikungan yang menukik tepat di mulut jembatan menjadi salah satu faktor resiko malapetaka di jembatan ini.

    jembatan bolong mamuju dengan warna baru
    Jembatan Bolong dengan warna kuning yang baru  (Foto : Heriadi Darwis)
    Pada malam hari di lokasi jembatan Bolong yang baru  dilengkapi dengan penerangan yaitu lampu berwarna putih, hingga pengendara dapat melalui jalur ini dengan nyaman. 

    Kiriman : Heriadi Darwis

    , ,

    tanjung losa mamuju
    tanjung losa mamuju (Foto : Hijranah)
    Tanjung Losa adalah salah satu destinasi wisata indah di Kabupaten Mamuju yang belum banyak di kunjungi. selain karena kurangnya fasilitas, promosi serta akses jalan pun kurang mendukung. ditambah lagi cerita-cerita mitos nan angker yang sering di ucapkan oleh penduduk lokal sehingga mengurangi minat sebagian besar orang untuk berkunjung di tempat ini. Tanjung Losa berada paling ujung Kecamatan Simboro berbatasan dengan Tanjung Ngalo Tappalang Barat.

    Kiriman : Hijranah

    , , ,


    personil tari topemanna tappalang
    personil tari topemanna tappalang (Foto : Raditya Eka)
    Tari Topemanna merupakan tari daerah yang berasal dari Tappalang, salah satu kecamatan di kab. Mamuju yang dulunya memiliki satu kerajaan yang masuk dalam federasi Pitu Baqbana Binanga. Tari ini tidak sering dipentaskan, hanya digunakan untuk menyambut tamu atau pejabat yg berkunjung ke Tappalang, filosofinya hampir sama dengan tari Paduppa dari Bugis yang berfungis sebagai tari penyambutan.

    Kiriman : Raditya Eka


Top