,

    Setelah bukit Galung Paara yang mulai dilirik dan dikunjungi banyak generasi milenial di Majene, kami pemuda desa Pamboborang, kec. Banggae terus berbenah dalam menemukan potensi desa untuk pengembangan pariwisata, tujuan akhir tentu saja menarik para wisatawan lokal maupun luar daerah dengan menonjolkan keeksotisan alam sekitar.

    Pamboborang mungkin dikenal dengan budaya pandai besi dan potensi wisata sejarahnya, tetapi desa kecil ini juga sebenarnya punya beberapa titik berpotensi wisata, diantaranya sungai kecil di tengah desa yang menjadi bagian dari mata air yang mengaliri wilayah desa.  Sungai ini punya potensi untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata lain di Pamboborang, tidak melulu hanya soal besi dan makam tua.

    mata air potensi pariwisata desa pamboborang
    Mata air yang mengalir dari pinggiran sungai kecil di desa Pamboborang, kec. Banggae, kab. Majene (Foto : Raspan)
    Pemanfaatan sungai kecil dengan tebing di pinggiran sungai menyerupai dinding Akar berbentuk batu dengan aliran air di atasnya, yah tidak sulit untuk menemukan mata air di pinggir sungai kecil di desa ini. Ini yang beberapa waktu lalu coba kami telusuri 
     
    mata air potensi desa pamboborang
    Mata air yang mengalir dari pinggiran sungai kecil di desa Pamboborang, kec. Banggae, kab. Majene (Foto : Raspan)

    Pamboborang punya aliran sungai kecil yang debitnya cukup banyak, untuk berendam dan mandi bisa dan kedalamannya masih terjangkau. Setelah berputar mengelilingi keelokan desa Pamboborang, sungai kecil in bisa menjadi penutup aktivitas kegiatan untuk mendinginkan dan merilekskan tubuh.

    sungai kecil potensi desa pamboborang
    sungai kecil potensi atraksi wsiata alam di desa Pamboborang, kec. Banggae, kab. Majene (Foto : Raspan)

    sungai kecil potensi wisata desa pamboborang
    sungai kecil potensi atraksi wsiata alam di desa Pamboborang, kec. Banggae, kab. Majene (Foto : Raspan)
    Bersama Komunitas Pemuda Desa Pamboborang kedepannya kami terus berusaha agar Pamboborang lebih baik dalam hal pengembangan pariwisata di tingkat desa yang pada akhirnya akan berujung pada dampak peningkatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat sekitar, seperti tujuan pariwisata yang memberikan  kesempatan pembukaan usaha, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan serta terpeliharanya keadaan lingkungan di sekitar objek wisata.

    Kontributor : 
    Foto : Raspan
    Teks : Raspan, Muhammad Tom Andari

    , , ,

    Roppo atau yang dikenali dengan nama Rumpon, adalah tinggalan budaya bahari original suku Mandar, alat tangkap ikan tradisional yang jadi jejak kebesaran orang-orang Mandar dalam memburu ikan di laut lepas. Teknologi  roppo adalah metode penangkapan ikan yang ramah terhadap lingkungan yang saat ini dikenal luas di beberapa negara. 


    Roppo dikenal sebagai alat tangkap ikan yang pertama kali dikembangkan oleh suku Mandar. Disebutkan dalam buku "Orang Mandar Orang Laut : Kebudayaan Bahari Mandar mengarungi gelombang perubahan zaman" karya Muhammad Ridwan Alimuddin bahwa roppo berkembang sebagai jalan atas kesulitan tanah pertanian yang subur yang dimiliki suku Mandar, hal ini yang kemudian mendorong orang-orang suku Mandar mencoba peruntungan dengan mengais rezeki dari berkah di laut, menangkap ikan di hadapan laut dengan kedalaman dari 100 meter hingga 2000 meter. 

    Teknologi Roppo kini banyak ditemukan di sepanjang perairan kepulauan Sulawesi, ada ragam aturan menarik tentang Roppo yang menjadi aturan tak tertulis diantara nelayan-nelayan Mandar, diantaranya jarak Roppo tidak boleh terlalu dekat karena potensi saling kait yang dimiliki bagian roppo yang ada didasar, pun jika saling terkait maka pemilik roppo pertama diberi hak istimewa untuk menentukan, pemasang roppo pertama punya hak menentukan pemasangan roppo berikutnya, serta boleh memanfaatkan roppo nelayan lain untuk singgah, atau mengambil ikan dalam jumlah kecil atau sebelumnya dengan izin pemilik roppo dan atau memberi hasil tangkapan ikan ke pemilik Roppo.

    Teknologi roppo juga dikenali di Banggae, kabupaten Majene, Sulawesi Barat. nelayan di sepanjang Pantai Pacitan (Pangali-ali, Cilallang, dan Tanangan) adalah pelaku dan pembuat teknologi penangkapan sederhana ini. Seperti yang ditunjukkan oleh dokumentasi pembuatan roppo dibawah ini. Roppo dibuat dari tautan bambu mirip rakit yang nantinya akan diapungkan dilaut lepas Banggae.


    Dasar roppo biasanya digunakan jalinan batu sebagai jangkar yang akan menahan agar roppo tidak hanyut.  Batu diambil di daerah Kalasa, lokasi tambang batu di Majene yang terletak di daerah Mangge Kel. Totoli, Kedalaman Roppo nelayan Pangali-ali diperkirakan berada pada 700 meter hingga 1200 meter dari permukaan laut. 

    Roppo inilah yang kemudian akn dikunjungi secara rutin oleh nelayan untuk mengecek apakah terdapat ikan yang ada di bawah roppo, ikan-ikan ini bisa diperoleh dengan dijalan. 

    Sumber : 
    1. Alimuddin, MR. Hukum Laut di Mandar: Aturang Parroppongang. https://www.slideshare.net/ridwanmandar/hukum-laut-di-mandar-aturang-parroppongang 
    2. Alimuddin, MR. 2005. Orang Mandar Orang Laut : Kebudayaan Bahari Mandar mengarungi gelombang perubahan zaman.  

    Kontributor :
    Foto : Milad Maulana
    Teks : Milad Maulana, Muhammad Tom Andari

    , ,

    Panjang garis pantai kab. Majene membentang dari kecamatan Banggae Timur hingga kecamatan Malunda, nyaris tak ada wilayah yang tidak memiliki pantai. Potensi pesisir ini menjadikan Majene memiliki banyak budaya dan kebiasaan lokal masyarakat yang berkaitan dengan laut. Banyak pula masyarakat Majene yang berprofesi sebagai nelayan, menggantungkan nasib dan hidup dari laut. 

    Budaya bahari mulai dari perahu berkembang dengan baik di Majene, dari alat transportasi laut hingga menjadi alat penangkap ikan, perahu menjadi alat yang penting di Majene. Bahkan sebagian dari simbol daerah di Sulawesi Barat menggunakan simbol perahu sebagai bukti kedekatan hubungan wilayah ini dengan laut. Logo kab. Majene membubuhkan perahu didalamnya, logo provinsi Sulawesi Barat juga demikian. Suku Mandar yang menjadi penghuni hampir seluruh wilayah Majene memiliki banyak tinggalan jejak kebesaran budaya bahari, seperti perahu Sandeq. 

    Sandeq mulai dikenal semenjak dilombakan pada awal tahun 1990an, lalu berkembang menjadi perlombaan dalam nama "Sandeq Race" hampir secara rutin dilaksanakan pada tahun 2000-an. Lomba perahu ini yang kemudian menginisiasi sebuah lomba perahu mini Sandeq yang dilaksanakan di lingkungan Cilallang, kec. Banggae kab. Majene. 

    Lomba perahu Sandeq mini Cilallang, menjadi sajian yang menarik saat mengunjungi Majene khususnya di kecamatan Banggae. Pangali-Ali, Cilallang, dan Tanangan adalah tiga wilayah yang merupakan rangkaian domisili pelaut dan nelayan asal Majene. Pemkab Majene lebih mengenal tiga daerah ini dengan menyingkatnya sebagai "Pantai Pacitan" (Pangali-Ali, Cilallang, Tanangan) mereka memperkenalkan Pantai Pacitan dalam brosur promosi pariwisata yang sempat dicetak tahun 2000an. Salah satu atrakasi wisata yang dapat Anda saksikan ketika berkunjung ke Pantai Pacitan adalah lomba perahu Sandeq Mini Cilallang.

    Sehari setelah lomba, perahu sandeq Mini diparkir diatas rumah panggung di lingkungan Cilallang, kec. Banggae kab. Majene (Foto : Nasriah Nasroum)
    Baru saja lomba perahu Sandeq ini diselenggarakan, kemarin (16/09/2017) oleh pelaksana dan inisiator lomba penduduk setempat yang dikenal dengan nama "Papaq Nasar" seorang pemilik loing ikan (penampung ikan khususnya ikan yang berukuran besar). Total ada 50 perahu Sandeq mini yang ikut dalam lomba kemarin dengan tarif/biaya pendaftaran Rp 10.000 per perahu. 

    Salah satu perahu sandeq mini yang dibuat sendiri oleh warga Cilallang kec. Banggae kab. Majene yang diikutsertakan dalam lomba perahu Sandeq Mini Cilallang (Foto : Nasriah Nasroum)
    Lomba perahu Sandeq mini menghadirkan banyak warga Cilallang, mulai dari anak-anak,remaja, dewasa hingga orang tua mendaftar dalam lomba perahu Sandeq ini, dengan menghadirkan masing-masing perahu mini buatan sendiri. Tidak heran jika masyarakat sekitar sini mampu membuat perahu sandeq mini, karena hampir semua warga berprofesi sebagai nelayan. Jika Anda pernah menelusuri lingkungan Pangali-Ali hingga Tanangan maka daerah ini adalah daerah padat nelayan dengan perahu yang penuh terparkir di sepanjang tanggul hingga daerah Tanangan. 

    Lomba perahu Sandeq mini Cilallang cukup rutin diselenggarakan setiap tahun, dalam tahun ini tercatat telah dua kali dilaksanakan. Pemenang lomba diganjar dengan hadiah uang tunai sebesar Rp 1.000.000 dari biaya pendaftaran yang dikumpulkan masing-masing peserta lomba. 

    Terdapat alternatif hiburan yang disajikan oleh lomba Sandeq mini dan dibuat sendiri oleh masyarakat Cilallang dengan kreativitas. Jika kemudian dikelola dengan baik maka bukan tidak mungkin lomba Sandeq mini dapat menjadi atraksi wisata menarik saat berkunjung ke Banggae Majene.  Apalagi diperkuat dengan pilihan wisata budaya bahari yang terbaik didapatkan saat berkunjung ke wilayah Cilallang. Dari lomba-lomba kecil seperti ini biasanya lahir atraksi wisata yang dapat dijual dan mendatangkan pengunjung, hal yang positif dari sisi pandang pariwisata.

    Kontributor :
    Teks : Nasriah Nasroum, Muhammad Tom Andari
    Foto : Nasriah Nasroum

    , ,

    Lembang Sitodzong Mangge, kel. Totoli kec. Banggae kini hanya tinggal kenangan, sejak pemerintah menyulapnya menjadi bendungan untuk kemudian dialirkan ke kota sebagai sumber mata air yg dikelola oleh PDAM, kini debit airnya sudah semakin sedikit, sudah nyaris kering, tampaknya tak ada usaha pemerintah untuk melakukan usaha penghijauan di sekitar hulu sungai. 

    lembang sitodzong mangge di kab. Majene
    Lembang Sitodzong Mangge yang terletak di kel. Totoli, kec. Banggae, kab. Majene
    Majene memang selama beberapa waktu dikenal sebagai daerah yang memiliki sumber air minim, beberapa kali krisis air terjadi di pusat kota kabupaten, namun setelah aliran air dari Mangge di gunakan dan didukung juga sumber air dari Puawang, barulah kemudian PDAM kota kabupaten Majene memperoleh suplai air yang aman untuk kebutuhan masyarakat kabupaten. 

    Lembang Sitodzong Mangge mengalami pengurangan debit air kemungkinan adalah karena tak hijaunya vegetasi di hulu sungai, hal ini juga disebabkan secara umum oleh perubahan iklim yang berlangsung secara global, di wilayah kab, Majene terdapat sumber-sumber aliran air yang dulunya deras, kini berkurang drastis, hal yang sama seperti di Puawang dan di Somba, kec. Sendana, aliran-aliran air sungai mengering dan hanya menyisakan sedikit air sungai yang mengalir, lalu apakah lingkungan kita telah memasuki masa awal kerusakan, atau telah sampai pada puncak degradasi lingkungan?

    Kontributor : Muhammad Dardi


    , , ,

    Permainan tradisional gasing di Indonesia semakin hari semakin jarang kita temukan, permainan masa kecil ini seolah hilang ditelan zaman, harus dipaksa bersaing dengan permainan modern seperti video game, dan game di telepon selluler yang semakin canggih. Namun sebenarnya jika dilihat lebih jauh permainan gasing unik adanya dan punya manfaat yang baik, karena mengasah kemampuan fisik anak, koordinasi gerakan tubuh, dan aktivitas olahraga. Hal ini jauh berbeda dengan yang ditawarkan oleh permainan modern yang cenderung minim gerakan.

    Permainan gasing saat ini hanya akan kita temukan dilakukan di desa-desa dan sudut-sudut kampung. Di Majene, Sulawesi Barat permainan gasing masih bisa kita temukan saat musimnya tiba. Permainan tradisional memang dikenal memiliki musim misalnya untuk musim gasing, musim kelereng, musim layangan, dll, tidak selamanya sepanjang tahun permianan ini akan kita temukan. Misalnya di daerah Panggalo, Salabose kec. Banggae, kab, Majene permainan gasing masih dilakoni oleh warga kampung ini, ia dimainkan oleh warga dari berbagai usia mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, ada keseruan tersendiri yang akan ditemukan saat mangadu gasing.
    Permainan tradisional gasing di Panggalo, Majene, Sulawesi Barat
    Permainan tradisional gasing di Panggalo, Majene, Sulawesi Barat (Foto : Muhammad Irfan)
    Gasing sendiri adalah mainan yang terbuat dari kayu yang kuat serta halus, dibentuk sedemikian rupa dengan bagian atas permukaan rata dan bagian bawahnya memiliki permukaan runcing, hal ini agar gasing tersebut dapat dengan mudah berputar pada porosnya. Bahan favorit yang digunakan oleh orang-orang Mandar, biasanya adalah kayu yang diambil di hutan yang dikenal dengan nama "asambi" jenis kayu kuat dan sangat baik digunakan sebagai bahan untuk membuat gasing yang berkualitas. Ada berbagai macam bentuk gasing yang dibuat dan dimainkan di Majene atau di kalangan orang-orang Mandar, mulai dari yang berbentuk lonjong, bentuk oval seperti telur, atau gasing dengan bentuk biasa dengan ukuran yang lebih besar. Gasing diputar dengan bantuan tali yang disebut "arra-arrang" bahannya dapat terbuat dari tali rafia yang disimpul dengan teknik khusus, atau jika ingin mendapatkan "arra-arrang" alami maka dapat menggunakan bahan daun pandan.
    Pemain gasing di Panggalo, Majene
    Pemain gasing di Panggalo, Majene  (Foto : Muhammad Irfan)
    Permainan tradisional ini biasanya dilakukan dalam dua bentuk permainan, pertama adalah dengan mengadu gasing yang paling lama berputar, gasing yang terakhir jatuh dan berhenti berputar dinyatakan sebagai pemenang. Permainan kedua adalah dengan mengadu dengan melempar gasing lawan yang sedang berputar, permainan ini biasanya dibentuk dalam  dua kelompok, satu kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang, dan bergantian memutar gasing dan kelompok lain melempar. Permainan gasing yang menjadi favorit di Panggalo, Salabose Majene adalah permainan kedua.

    Untuk memainkan permainan gasing maka digunakan lahan kosong dengan permukaan tanah datar dan rata, ini agar gasing bisa berputar dengan baik. Di Panggalo, Majene lahan-lahan kosong diantara rumah-rumah warga biasa dijadikan sebagai tempat untuk bermain gasing, para warga kampung akan datang dan bermain dengan macam-macam gasing mulai dari yang berukuran kecil hingga berukuran besar. Semuanya berkumpul dan larut dalam permainan tradisional yang unik ini.

    Kontributor : Muhammad Irfran


Top