, ,

    Satu hal yang membuat saya kangen dan rindu dengan tanah Mandar adalah saat jauh, saya selalu teringat kebiasaan bersama nenek untuik merawat tubuh. Cara sederhana perempuan Mandar merawat tubuh adalah dengan menggunakan lulur (piroros) berwarna hitam. Menurut penuturan nenek, lulur ini digunakan oleh gadis di suku Mandar, Sulawesi Barat dari dulu sampai sekarang untuk merawat kulit mereka. 

    Lulur hitam (piroros malotong) digunakan saat mandi karena memang lulur ini dipercaya dan diyakini memiliki khasita dan manfaat yang brilian untuk membuat permukaan kulit menjadi halus, mulus, dan bersih, ini juga membuat kulit putih tampak kinclong. 


    Untuk menggunakan lulur hitam ini tidak butuh waktu lama, cukup oleskan pada seluruh badan dan bisa jua digunakan untuk perawatan wajah. 

    Lulur hitam terbuat dari beras yang disangrai terlebih dahulu seperti pengolahan biji kopi saat disangrai. Beras ini disangrai hingga berwarna hitam kecoklatan, setelah itu dicampurkan dengan air dan bunga (dapat ditemukan dengan mudah di pasar tradisional campuran aneka daun-daunan). Lulur hitam memiliki bau yang sedikit aneh, tetapi menurut beberapa orang bagus untuk perawatan kulit. 

    Selain lulur hitam untuk mandi juga dikenal lulur putih (piroros mapute), lulur putih juga dibuat dengan terlebih dahulu disangrai lalu dihaluskan dengan cara ditumbuk. 


    Kontributor : Anchye Nurdin


    , ,

    Saat pertama kali bertemu dan melihat beliau, entah kenapa mata sayu yang dihiasi keriput tanda umur mulai uzur itu membuatku terkesima. Beliau menyapa saya. Suara halus tertutur dari ucapannya yang renta menjabat tanganku. Bahagia bisa menggenggam tangan seorang ilmuwan Mandar. 

    Siapa yang tidak mengenal bapak Abdul Muthalib. Beliau termasuk intelektual Mandar yang cukup disegani, selain memang sudah senior. Saya belum lahir, beliau sudah meliharkan puluhan karya. Hampir seratus karya yang beliau lahirkan terpajang di perpustakaan luar negeri, khususnya di Kyoto Jepang. Sebut buku cerita rakyat Sulawesi Selatan, Ditirakkaqna Alang, Sastra Lisan Toloq Mandar, Transliterasi dan Terjemahan Peppasang dan Kalindaqdaq, Struktur Satra Lisan Mandar, Kedudukan dan Fungsi Bahasa Mandar, Tata Bahasa Mandar, dan Sistem Perulangan Bahasa Mandar.  Masih banyak karya-karya beliau yang tak sempat saya sebutkan. Beliau patut digelari dan masuk klasifikasi seorang pakar bahasa, khususnya Bahasa Mandar.

    Saat bertamu ke kediaman beliau pertama kali, Jumat lalu, santun beliau mempersilahkan kami masuk hendak bertamu kerumah. Menanyakan hajat kami bertamu. Rasanya agak malu barusan bercakap dengan orang hebat cakapku dalam hati. Kami sampaikan niat bertamu, selain datang untuk mengkomfirmasi kehadiran teman teman Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (Kompa Dansa Mandar) wilayah Makassar di hari Minggu nanti juga hendak menimba ilmu sekadarnya dari beliau.

    abdul muthalib tokoh penyusn kamus mandar indonesia
    Tokoh penyusun kamus Mandar - Indonesia Drs. Abd. Muthalib (foto : Muhammad Fadil M. )

    Saat mulai bercakap dan mulai menceritakan sepenggal perjalanan dan perjuangan hidupnya entah kenapa rasa berbaur saya terpacu untuk mengorek wawasan beliau. Beberapa kali saya melempar pertanyaan pada beliau ucap saya dengan logat Pambusuang yang saya rasa beliau tahu saya orang mana.

    “Tabeq puang, meloaq mittuleq, apa perbedaanna bahasa Mandar Pitu Baqbana Binangan anna bahasa Mandar Pitu Ulunna Salu puang?,” tanya saya malu. Beliau menjawab dengan sedemikian rupanya hingga mengeluarkan teori teori kebahasaan linguistik yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Hebatnya, beliau menuturkan itu dengan menghubungkannya pada kebahasaan di Mandar. Sungguh hari itu lansung saya gelari beliau sumur ilmu. Ya, sumur ilmu. Sebab air dalam sumur itu adalah ilmu yang jernih dan menyehatkan. Disitulah inspirasi sehingga saya memberi judul tulisan saya ini “marandang” yang berarti jernih.

    Beliau juga mengenalkan saya pada titik temu perbedaan perbedaan bahasa di Manda. Perbedaan yang terjadi dalam dialektika bahasa Mandar itu disebabkan intonasi, geografis daerah, dan kebiasaan lidah dalam pengucapan bahasa Mandar yang turun temurun terwarisi di daerah masing-masing. Beliau mencontohkan bagian kecil perbedaan itu, sebut saja bahasa Mandar rumah adalah “boyang”. Itu berlaku untuk sebagian wilayah Balanipa dan Pitu Baqbana Binanga. Lain halnya dengan penyebutan rumah pada daerah Majene dan sebagian wilayah Pitu Ulunna Salu yakni “sapo”. 

    Pada hari ke dua, Minggu 1 Maret, saya dan beberapa teman-teman mahasiswa Mandar yang tergabung dalam Kompa Dansa Mandar mengunjungi beliau. Senyum sumringah terpancar dari wajahnya. Santun mempersilahkan kami masuk ke rumah. “Bincang bincang sedikit sambil menunggu teman teman ya,” tutur beliau. Diskusi-diskusi yang hidup itu membuat saya semakin “kepo” istilah anak muda sekarang. Apalagi kala beliau menyinggung kalindaqdaq dan Bahasa Mandar unik di Pambusuang. Ingin rasanya tertawa sepuasnya mendengar penuturan beliau menuturkan hal yang unik dari Bahasa Pambusuang.

    Beliau menyampaikan bahwa logat bahasa Mandar di Pambusuang yang berlainan dengan Bahasa Mandar di tempat lain. Itulah Bahasa Pambusuang, bahasa ma’arif atau bahasa kesepakatan atau kebiasaan orang Pambusuang. Beliau mencontohkan seperti ini, tentang nama binatang berkaki empat. “Cippeq inna muola cippeq, maneammu latto”. Terdengar kasar bagi orang luar Pambusuang, tapi sebuah kewajaran di Pambusuang. Tertawa dalam hati mengetahui keunikan bahasa kampung halamanku.

    Cerita-cerita kecil nan hangat mewarnai hari itu. Bahkan beliau memuji kami yang datang bersilaturrahim ke rumah beliau. “Saya sangat senang di kunjungi oleh anak-anak muda yang bersemangat seperti kalian, baru kali ini saya banyak bicara di rumah,” kata beliau.

    Selain itu beliau sempat bertutur mengenai keresahan sebahagian orang mengenai dirinya yang nama beliau hanya sebagai editor dalam Kamus Mandar terbaharu padahal sejatinya beliaulah yang menulis kamus Mandar tersebut. Saat memberi jawaban, beliau meneteskan air mata. “Banyak orang yang menanyakan kenapa saya ini, kenapa saya tak dicantumkan dalam ini. Apalah arti sebuah nama justru saya bangga ada yang membesarkan nama mandar selain saya,” terang beliau.

    “Apalah arti nama,” dengan nada rendah beliau mengucapkan itu pada kami. Entah saya sedang bertemu seorang sufi dalam hal kebahasaan Mandar. Sungguh saya kagum hingga mengucapkan dalam hati pun tak mampu untuk dibahasakan. Dialog yang sangat berbobot dan bermutu di samping pertanyaan pertanyaan yang terlempar cukup berkualitas. Sungguh hari yang berarti dalam hidup saya bertemu dengan seseorang yang ikhlas dan santun seperti beliau.

    Sebelum menutup dialog berbobot itu beliau berpesan, “Barangkali ada diantara kita kita ini yang mengangkat sebuah tulisan tentang Mandar”. Ucapan beliau ini memacu saya untuk menulis sebuah karya ilmiah berhubung Mandar.  Mudah mudahan terlahir sebuah generasi yang menyamai beliau ini, perjuangan dan karya beliau sungguh member kontribusi kebaharian ilmu di Tanah Mandar.

    Kontributor : Muhammad Fadil M.

    ,

    Ditengah gencarnya produk lem modern. Masyarakat suku Mandar memiliki lem yang bersumber dari alam yakni lem yang muncul dari getah pohon Barru. Lem tersebut merupakan andalan untuk menempelkan kertas sebagai bahan pembuat layang-layang, daya rekatnya tidak diragukan lagi, dengan menggunakan lem dari pohon Barru ini maka layang-layang mampu terbang selama 2 x 24 jam nonstop Lem alami ini akan keluar setelah kulit pohon di serut. 

    lem dari pohon barru untuk layang layang mandar
    getah dari pohon Barru yang dapat dijadikan lem untuk layang-layang (Foto : Muhammad Qasim)
    getah lem dari pohon barru untuk layang layang mandar
    getah dari pohon Barru yang menetes (Foto : Muhammad Qasim)
    Pohon Barru juga dapat bermanfaat untuk dijadikan bahan dalam membuat ramuan untuk mengatasi penyakit pencernaan. Pohon ini biasanya ditemukan tumbuh di tepi jalan, atau di tepi pematang sawah, merupakan pohon dengan batang yang berukuran besar. Kayunya banyak dijadikan sebagai bahan untuk kayu bakar di suku Mandar, Sulawesi Barat.

    Kontributor : Muhammad Qasim

    , , ,

    Sejak semalam (28/08/2014) sampai pagi ini (29/08/2014) melihat foto Komunitas Sureq Bolong yang melakukan pementasan di Makassar (kiriman dari Jayalangkaraq). 
    Penampilan Ishak Jenggot dalam Kampung Budaya Makassar 2014
    Penampilan Ishak dari Sureq Bolong saat pertunjukan di Kampung Budaya Makassar 2014 (Foto : Ishak )
    Di Makassar pernah lahir satu kelompok musik yang bernama Laba-Laba Duda Hitam. Kelompok ini cukup disegani dan dikenal, paling tidak di gedung kesenian Makassar. Paling membanggakan karena kelompok ini didominasi orang Mandar, sehingga karakter dan materi lagu/ pertunjukan mereka itu berpijak pada budaya Mandar. Sebutlah misalnya sayang-sayang, paccalong, kalindaqdaq, keke, gongga: dieksplor sedemikian rupa dalam setiap karya original mereka. Sayangnya kelompok ini berumur pendek, tapi meninggalkan kesan yang manis. 

    Saat gaung kelompok ini meredup, para punggawanya kemudian eksis (makin eksis) di Teater Kampus (Terkam) Universitas Negeri Makassar. Saya mau bilang, mereka lah para guru saya: orang yang mengajak saya untuk berteater. Kala itu, orang Mandar lagi yang dominan di Terkam, sehingga ada plesetan bahwa Terkam itu akronim dari teater kampung. Saya berani berkata, di fase itu-lah kejayaan Mandar dalam jagad kesenian di Makassar berada. Tanpa menapikan popularitas Alm. Nurdahlan Jerana, tapi nanti melalui abang Ishak Jenggot, Dalif Palipoi, Sahabuddin Mahgana: orang mandar memiliki wadah atau kelompok yang sangat-sangat berbau Mandar. Alhasil, rumah kost saya (Pondok Anugerah) di Dg. Tata I disesaki para peteater, pemusik, pelukis dan pesastra: dan dominan orang Mandar. Dari situlah kemudian, Komunitas Sureq Bolong dirancang. Selain karna mashab kesenian yang kental, kala itu hanya Teater Flamboyat yang eksis di Polman: dan tidak ada kualitas yang terakui tanpa kompetisi. Harus ada komunitas lain beberapa tahun ke depan (kesimpulannya). Hasil dari proses di atas: Dalif membentuk Sossorang, Sahabuddin merancang One Do, Ishak tetap di Sureq Bolong yang kemudian membina Madatte Arts. 

    Lalu seperti yang kita lihat hari ini, sanggar seni tumbuh subur di kabupaten Polewali Mandar: lebih berwarna dan dinamis. Untuk Tinambung saya mencatatnya seperti ini: sebanyak apapun komunitas yang lahir, loyalitas kepada lembaga tetap terjaga. Saya belum pernah mendengar ada komunitas di Tinambung yang gulung tikar. Walau pada kenyataannya, ada lembaga yang dihuni hanya 1-3 orang saja. Tapi hal ini didukung iklim yang baik: mereka saling bantu lintas lembaga. Kedewasaan seperti ini yang sangat sulit dilakukan di Polewali. Tapi lambat laun ke arah itu akan ada: saya mulai saja dari perpecahan di Madatte yang kemudian melahirkan 2 lembaga (tiga kalau Madatte juga dihitung). Pada akhirnya kita akan disatukan oleh kebutuhan. Contoh kasus, Maspit dan Alm. Darmawi pernah masuk formasi Laba-Laba Duda Hitam sekaligus tetap menjadi anggota TF. 

    Melalui tulisan pendek ini: dan mengamati perkembangan Kab. Balanipa, maka: saatnya ada poros Polewali (hebat dan kreatif dapat dipelajari: hanya persoalan waktu).

    Kontributor : Ibnu Masyis

    , , , ,

    Penja, kuliner ikan yang dapat  anda temui ketika berkunjung ke wilayah Sulawesi Barat. Ini adalah ikan yang berukuran kecil, lebih mungil dari ikan teri  dan konon dipercaya jatuh dari langit menurut cerita mitos di suku Mandar.

    Salah satu tempat yang berbeda untuk menangkap jenis ikan ini adalah di muara sungai. Di muara sungai Mandar di kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar misalnya, kadang ikan ini dapat ditangkap dengan mudah, utamanya disaat hujan. Selain di muara sungai, ikan ini juga dapat ditemukan di sepanjang pesisir teluk Mandar. 
    kuliner mandar penja pais
    kuliner mandar penja pais (Foto : Zulkifli Muhammad Siddiq)
    Untuk mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dari ikan Penja ini adalah mengolahnya dengan cara dipepes atau dalam bahasa Mandar "dipais". Penja pais, atau Penja Pepes merupakan teknik membuat ikan tersebut matang setelah sebelumnya dicuci bersih, dibungkus daun pisang dan dipanggang di atas api. Jika ingin lebih nikmat anda dapat membuat cocolan dengan bahan siraman air jeruk nipis, irisan bawang Mandar dan cabe rawit. Rasa asam dan pedas dipadu dengan sensasi aroma ikan segar dan nasi hangat membuat anda akan terkesima.

    Kiriman : Zulkifli Muhammad Siddiq

    ,

    Di suku Mandar Sulawesi Barat terdapat kebiasaan-kebiasaan yang membentuk unsur budaya, salah satunya adalah kebiasaan mempersiapkan kayu bakar untuk keperluan logistik dapur. Walaupun bahan bakar saat ini meninggalkan kayu sebagai bahan utamanya, namun di beberapa daerah masih dapat ditemukan masyarakat yang menggunakan kayu sebagai bahan utama untuk memasak.

    budaya menyusun kayu bakar di mandar
    bentuk susunan kayu bakar di mandar yang unik (Foto : Asad Sattari)
    Kayu-kayu ini selain digunakan untuk kebutuhan rumah tangga juga biasanya disiapkan untuk keperluan kenduri, pernikahan, selamatan, syukuran, atau akikahan. Anda akan melihat kaum pria yang memotong kayu hingga menjadi bagian-bagian kecil dengan ukuran sekitar dua jengkal orang dewasa, setelah itu disusu dengan rapi sedemikian rupa di bagian yang terkena sinar matahari langsung, hal ini juga bertujuan agar kayu cepat kering, karena kadang ketika memotong kayu menjadi bagian kecil kandungan airnya masih ada. 

    Susuan kayu bakar biasanya diletakkan langsung di atas permukaan tanah dengan geometri persegi, bentuk kotak, disusun ke atas hingga beberapa lapisan. Kayu-kayu ini jika telah kering oleh penyinaran matahari langsung maka akan disusun di bawah rumah panggung hingga kemudian diambil nanti saat akan digunakan untuk memasak.

     Kiriman : Asad Sattari

    , ,

    Minggu, 24 April 2014 di pagi hari saya menyempatkan mengunjungi pantai Losari dengan beberapa rekan. Satu yang menjadi pusat kunjungan dan paling menarik bagi orang-orang berlatar belakang Mandar adalah label bertuliskan "Mandar" yang terletak di anjungan yang bersebelahan dengan "Toraja". Namun, setelah tiba di tempat tujuan ternyata label Mandar yang ada di pantai Losari tersebut sudah mulai mengalami kerusakan di beberapa bagian hurufnya. Entah siapa yang merusak saya tak tahu. 

    label Mandar yang rusak di pantai losari
    label Mandar yang rusak di pantai losari (Foto : Hasbi)
    label Mandar yang rusak di anjungan pantai losari
    label Mandar yang rusak di anjungan pantai losari (Foto : Hasbi)
    bagian huruf label Mandar yang rusak di anjungan losari
    bagian huruf label Mandar yang rusak di anjungan losari (Foto : Hasbi)
    bagian label Mandar yang rusak di anjungan losari
    bagian label Mandar yang rusak di anjungan losari (Foto : Hasbi)
    Satu harapan adalah semoga saja label bertuliskan "Mandar" ini dapat dipoles segera, untuk kembali menyamankan pandangan mata di anjungan yang mewakili empat suku besar di daratan Sulawesi Selatan dan Barat.   Meskipun ini adalah karya dari Pemerintah kota Makassar, Sulawesi Selatan, tetapi setidaknya Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mungkin bisa memberikan sumbangsih (entah itu apa) agar kiranya segera bisa dilakukan proses rehabilitasi.

    Kiriman : Hasbi

    ,

    Setelah kemarin sempat mengikuti sebuah majelis di Tinambung, saya sedikit tertarik dengan jargon yang sering kali di ulang oleh pembicara "Mandar is something and orang mandar is something other". Nah, saya sedikit menemukan kalimat yang cocok dengan pendapat saya yang kemarin masih agak bingung untuk menjelaskannya seperti apa.

    ilustrasi nilai kemandaran
    ilustrasi nilai kemandaran
     Mandar adalah sesuatu, dan orang Mandar itu sesuatu yang lain! Jelas sekali, Mandar yang menurut saya lebih kepada sebuah "Nilai" yang sangat luhur dan bukan hanya alih-alih salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi ini, sebuah nilai yang menurut hemat saya sangat menarik, dari konsep-konsep yang tertanam dalam "Amandarang" seperti "Siriq", "Sibaliparriq" dan lainnya, yang mengajarkan kita tentang bagaimana baiknya kita menjalankan hidup.

    Nah, orang Mandar. Lahiriah, orang yang lahir di daerah Mandar adalah orang Mandar, bapak dan ibunya orang mandar, keturunan mandar, menikah dengan orang mandar, tidak usah terlalu dipikirkan orang yang mengaku orang Mandar (itu cuman persepsi saya). Tapi secara ideologi orang Mandar adalah orang yang mengerti tentang konsep ke-Mandar-an, mengaplikasikan dalam kehidupannya, hanya itu, sederhana adanya. 

    Tentang orang Mandar, baik buruk itu sudah biasa, bukannya sudah di takdirkan begitu, ada yang baik ada buruk, yang tinggi - pendek. Hal yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi orang Mandar yang punya ideologi, punya nilai kehidupan yang tidak bertentangan dengan konsep Mandar yang benar.

    Kiriman : Fiany Mandharina

    ,

    perahu sandeq kecil mandar
    perahu sandeq ukuran kecil (Foto : Zulkifli Muhammad Siddiq)
    Sandeq keccuq, orang-orang biasanya menyebutnya, adalah maket perahu sandeq yang sering dimainkan oleh anak-anak hingga orang dewasa di pesisir Sulawesi Barat. Mainan ini marak ditemukan saat waktu "timor" datang, yaitu masa dimana angin bertiup kencang dan hujan tak turun. Sandeq adalah salah satu icon Mandar yang populer dikenal oleh suku-suku diluar Mandar.

    Kiriman  : Zulkifli Muhammad Siddiq

    , , ,


    personil tari topemanna tappalang
    personil tari topemanna tappalang (Foto : Raditya Eka)
    Tari Topemanna merupakan tari daerah yang berasal dari Tappalang, salah satu kecamatan di kab. Mamuju yang dulunya memiliki satu kerajaan yang masuk dalam federasi Pitu Baqbana Binanga. Tari ini tidak sering dipentaskan, hanya digunakan untuk menyambut tamu atau pejabat yg berkunjung ke Tappalang, filosofinya hampir sama dengan tari Paduppa dari Bugis yang berfungis sebagai tari penyambutan.

    Kiriman : Raditya Eka

    kantor bri lama manding polewali mandar
    Kantor BRI lama di Madatte (Manding) Polewali Mandar (Foto : Ibnu Masyis)
    Kantor BRI lama yang berada tepat di samping sekretariat MADATTE ARTS. Sebelum dipindahkan ke lokasinya yang sekarang di kompleks pasar sentral pekkabata, BRI unit darma berada di Madatte sekitar tahun 80-an. Tentang gedung ini sewaktu masih berstatus kantor, saya pribadi memiliki cerita sewaktu kecil (belum sekolah). Jadi pernah suatu ketika, iseng-iseng saya melemparkan telur busuk (amboroang) tepat ke pintu kantor ini. Besok paginya, seisi kantor gaduh dengan bau busuk telur tadi

    Kiriman : Ibnu Masyis

    ,

    Mandarkan dirimu sekali lagi, bila jejal globalisasi semakin menjajah rasa ingin, maka bukan tidak mungkin kita menelan sampah muntahan sungai Mandar yang meranggaskan lembar demi lembar nilai identitas kemandaran yang sering kita gaungkan, bahkan tidak mustahil kita menjadi bukan bahagian dari Mandar itu sendiri.

    Kiriman : Ramli Rusli

    ,

    jepa gollai kuliner mandar
    jepa gollai kuliner mandar (Foto : Hijranah)
    Jepa, adalah salah satu makanan khas orang-orang yang bermukim di daerah Mandar, Sulawesi Barat, banyak ditemukan dibuat di kabupaten Majene dan kabupaten Polewali Mandar, Kuliner ini terbuat dari singkong yang diparut dan dperas hingga kandungan airnya hilang. Jepa juga dapat disajikan dengan tambahan gula aren (gula merah), dengan varian rasa yang akan berbeda dibandingkan tanpa menggunakan gula.

    Jika memilih menyantap jepa dengan menggunakan rasa yang "original" maka sebaiknya anda memasangkannya dengan pisang rebus. Selain itu anda juga dapat memasangkannya dengan ikan asap.

    Kiriman : Hijranah

    ,

    pangepeang lameayu (singkong) mandar
    pangepeang lameayu (singkong) mandar ( Foto : Masykur Sair)

    Pangepeang Lameayu , alat tradisional untuk mmeras parutan ubi kayu untuk membuang airnya, alat ini biasanya memakai pemberat batu di bagian tuasnya dan dipasang selama kurng lebih dua jam.

    Kiriman :  Masykur Sair

    , ,

    view pesisir majene hingga mamuju
    view pesisir majene hingga mamuju (Foto : Adinda Ulfa Maulidya)
    Pemandangan seperti ini yang selalu menemaniku disetiap perjalanan menuju kab. Mamuju, belajar memotret dari atas motor.

    Kiriman :  Adinda Ulfa Maulidya

    , ,

     

    festival sayyang pattuqduq majene sulbar
    festival sayyang pattuqduq majene sulbar (Foto : Ariel Milvy)

    Festival Sayyang pattu'du' di Assamalewuang Majene

    Kiriman :  Ariel Milvy

    ,

    perkampungan mandar di bali
    Tampak Rumah Di Perkampungan Mandar Di Bali (Foto  Andi Idham Jasin)
    Bertandang ke kampung Mandar di Dusun Mandarsari Desa Sumberkima, Gerokgak, Kab. Buleleng Bali "luluare malaqbitta" disini masih mempertahankan identitas daerah kita berupa bahasa Mandar yang digunakan sehari-hari serta beberapa ritual adat Mandar yang masih mereka pertahankan.

    Kiriman :  Andi Idham Jasin

    ,

     
    nelayan mandar lonrae bone
    Rumah penduduk suku Mandar di Lonrae Bone (Foto : Andi Wahyu Irawan)
    Kelurahan Lonrae, Kab.Bone, salah satu tempat 'rantauan' orang Mandar. Hidup rukun diantara suku Bajoe dan suku Bugis. Tempat ini semakin menyadarkan kita bahwa orang Mandar adalah pelaut ulung. Dominan masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan.Namun bisa dikatakan nelayan 'berdasi', sebab penghasilan tiap minggunya bisa mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta. Salah satu orang tersukses disana adalah orang asli Mandar. Beliau dikenal dengan nama Haji Bustam, pemilik beberapa kapal hotel Mandar.

    Kiriman : Andi Wahyu Irawan


Top