, ,

    Messawe Saeyyang Pattuqduq, juga tradisi yang masih terus bertahan di suku Mandar, Sulawesi Barat setiap bulan Maulid atau dalam penanggalan hijriah yang jatuh pada bulan Rabiul Awal hingga beberapa pekan setelahnya maka daerah-daerah di Mandar akan terdapat banyak pertunjukan messawe saeyyang pattuqduq. Baru saja kemarin (Minggu, 03 Februari 2019) pessawe terakhir dihelat di desa Bala, kecamatan Balanipa, kabupaten Polman, Sulawesi Barat.  Ini adalah rangkaian terakhir dari pertunjukan saeyyang pattuqduq  yang bisa ditemukan tahun ini.

    tradisi messawe saeyyang pattuqduq
    Tradisi Messawe Saeyyang Pattuqduq dengan penunggang seorang Syarifah yang dihelat tahun ini di desa Pambusuang, kec. Balanipa, kab. Polman, Sulawesi barat (Foto : Wawan Rukman)
    Tradisi yang masih terus dilestarikan di suku Mandar ini akan menghadirkan parade kuda yang menari mengikuti rentak rebana, arak-arakan keliling kampung untuk mereka yang telah mengkhatamkan Al Qur'an. Pemuda atau pemudi yang mengenakan pakaian gaya arab, laki-laki mirip dengan kostum arab dengan gamis panjang Thawb dan penggunaan Kefiyeh, sementara perempuan akan mengenakan kerudung, biasa disebut Baqdawara. Biasanya seekor kuda ditunggangi oleh dua orang, satunya di bagian belakang menggunakan kostum budaya adat Mandar. Jika pasangan di bagian depan adalah orang dewasa, biasanya dibelakangnya duduk anak-anak atau remaja. 

    tradisi messawe saeyyang pattuqduq mandar
    Tradisi Messawe Saeyyang Pattuqduq dengan penunggang seorang Syarifah yang dihelat tahun ini di desa Pambusuang, kec. Balanipa, kab. Polman, Sulawesi barat (Foto : Wawan Rukman)
    Saat rebana ditabuh maka sang kuda dan beberapa pesarung (yang memegangi penunggang kuda) akan menjaga agar penunggang kuda tidak jatuh. Mereka  akan diarak di sepanjang jalur-jalur jalan dusun hingga pinggiran desa, tidak jarang kegiatan ini masuk kel jalur-jalur utama jalan provinsi, yang membuat kemacetan panjang, seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu di daerah Galung Tulu, kec. Balanipa kab. Polman, rusa jalan lumpuh selama beberapa jam.

    Dahulu kegiatan ini tidak begitu ramai, namun karena messawe saeyyang pattuqduq seolah-olah bergeser menjadi pertunjukan yang tampaknya menjadi ajang adu gengsi antara kampung dan desa maka kemudian setia dusun dan desa seolah bertarung menghadirkan jumlah pessawe dan saeyyang pattuqduq dalam jumlah banyak. 

    Walau ada sedikit pergeseran nilai dari awal maksud pelaksanaan ritual khataman Al Quran ini, namun dari sisi tinjauan atraksi wisata messawe saeyyang pattuqduq  sangat menarik bagi para pelancong atau pendatang dari luar daerah. 

    Kontributor :
    Foto : Wawan Rukman
    Teks : Muhammad Tom Andari

    ,

    Kearifan lokal Mandar yang juga masih bertahan di Sulawesi Barat adalah kegiatan "marriqdiq popupuang "  yaitu membuat lauk dari bahan ikan untuk acara/kenduri besar.

    marriqdiq popupuang mandar sulawesi barat
    Kegiatan Mariqdiq Popupuang di Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Wawan Rukman)
    Di kota yang agak besar, seperti di pusat ibukota kabupaten di Sulawesi Barat, pupuq tinggal dibeli di penjual atau di pasar, di kampung-kampung tradisonal Mandar, pupuq masih dibuat dengan cara gotong royong, maka kaum pemuda atau lelaki dewasa biasanya  akan berkumpul untuk menumbuk bahan ikan dalam lesung dengan alu.

    Kegiatan ini menghadirkan dominan kaum laki-laki dengan sisi maskulin mereka yang diharapkan mampu menghancurkan bentuk ikan menjadi lebih halus dan dicampur dengan bumbu dapur sehingga dapat dibentuk menjadi geometri segitiga pupuq. Para pemuda ini tentu saja diganjar oleh empunya rumah dengan jamuan kopi, penganan tradisional, dan tentu saja beberapa bungkus rokok yang biasanya disiapkan dalam wadah piring kecil. 

    Kontributor :
    Teks : Muhammad Tom Andari
    Foto :Wawan Rukman

    ,

    Mappakeqdeq boyang (mendirikan rumah) bersama dengan keluarga besar di Lambanan. Meakayyang adaqtaq mipasalili litaqtaq. Lambanan adalah desa yang punya histori religi kuno di wilayah Balanip, menurut beberapa literatur sejarah, kawasan ini adalah daerah pertama yang memluk agama Islam di kerajaan Balanipa. Setelah daerah ini mengalami Islamisasi, baru kemudian daerah-daerah lain di pusat kerajaan Balanipa menyusul memeluk agama Islam. 

    Lambanan terletak di puncak bukit, dengan topografi yang ekstrim, untuk menuju desa ini harus berbelok di daerah Galung Tulu, daerah antara Waitawar, desa Tammangalle dan desa Pambusuang. Tradisi mendirikan rumah yang kental dengan budaya kekeluargaan dan gotong royong masih sangat terasa di area ini, terbukti dari  kegiatan pendirian rumah oleh salah seorang warga yang menghadirkan banyak rangkaian acara tradisi. Penghadiran makanan tradisional, pemuka agama, dan warga sekitar menjadi pemandangan yang menarik.     

    Kegiatan mendirikan rumah panggung (Mappakeqdeq Boyang) di desa Lambanan, kec. Balanipa, Kab. Polman, Sulawesi Barat (Foto : Ilham)
    Kegiatan mendirikan rumah panggung di suku Mandar di daerah Lambanan adalah satu dari kegiatan massal yang menghadirkan puluhan bahkan mungkin ratusan orang, ini adalah untuk mengangkat tiang-tiang kayu dan membuatnya berdiri kokoh. Di Mandar, Sulawesi Barat utamanya di bagian pesisir pantai biasanya kegiatan ini akan dilaksanakan setelah Jumatan, mengapa? karena pada momen ini para kaum lelaki yang banyak berprofesi sebagai nelayan akan berada di daratan, tak melaut, karena shalat Jumat adalah waktu berkumpulnya kaum lelaki, sementara kegiatan mendirikan rumah melibatkn kegiatan fisik yang menguras tenaga, karena itu mudah menandai kegiatan mendirikan rumah, biasanya dilangsungkan pada hari Jumat, setelah shalat Jumat.
    Saat kaum lelaki dan para pemuda saling bergotong royong dalam mendirikan rumah panggung (Mappakeqdeq Boyang) di desa Lambanan, kec. Balanipa, Kab. Polman, Sulawesi Barat (Foto : Ilham)
    Tradisi mendirikan rumah panggung di desa Lambanan ini, berlangsung pada Jumat, tanggal 31 Agustus 2018. 

    Kontributor :
    Teks : Ilham, Muhammad Tom Andari
    Foto : Ilham

    ,

    Mattula Bala (Tolak bala) adalah tradisi yang dilakukan saat kampung sering dilanda musibah (makarra boi lino). Kegiatan tradisi yang didalamnya terdapat nilai dan pesan permohonan untuk memberikan keamanan dan kedamaian bagi kampung. 

    Mattula Bala biasa dilakukan oleh orang-orang Sendana di kabupaten Majene dan di daerah-daerah lainnya dimana populasi orang Mandar bermukim.

    Kegiatan mattula bala yang dilakukan oleh orang Mandar di Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    Adapun yang biasa disiapkan seperti ode-ode, banno/batte, taqbu sala, daun atawan (yang mengapung diair)+ air. Adapun taqbu sala, daun atawan setelah dilakukan do'a bersama diikat di atas pintu (ventilasi)

    onde onde mattula bala tradisi mandar
    Ode-Ode (Onde-Onde) yang biasanya akan disiapkan dalam kegiatan tradisi mattula bala (Foto : Indra Ariana)
    Rangkaian kegiatan tradisi yang berlangsung secara turun temurun yang merupakan bukti kekuatan warisan kebudayaan yang kuat di Sulawesi Barat.

    Kontributor :
    Teks : Indra Ariana
    Foto : Indra Ariana

    Kaleok adalah desa kecil yang terletak di perbatasan antara Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, tepatnya di ketinggian 600-800 meter di atas permukaan laut kecamatan Binuang, kabupaten Polewali Mandar,. Desa kaleok dikenal dengan desa yang memiliki bahasa daerah dan adat yang kental dengan garis keturunan Pattae.

    Salah satu adat yang ada dan masih dilaksanakan sampai saat ini adalah "Ma'tamba Bulung". Ma'tamba bulung dalam pandangan warga desa Kaleok merupakan upacara adat sebagai permohonan kepada yang Mahakuasa agar segala usaha masyarakat dalam ruang lingkup desa berhasil, baik dalam bidang pertanian, perkebunan, dan bidang lainya. Biasanya upacara adat ini dilaksanakan saat padi di sawah mulai berbuah dan dilaksanakan setidaknya satu kali dalam satu tahun.

    Kontributor :
    Teks : Ilal Futra Sytha
    Foto : Ilal Futra Sytha

    Selalu saya temui komat-kamit dan gerakan-gerakan tertentu lalu dibumbui dengan mantra, baik disaat menghidangkan makanan hingga perahu sudah mencapai bibir pantai. Itu saya temukan di desa tempat saya tinggal, desa Tubo, kec. Tubo Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat. Desa ini berada di kawasan pesisir utara Majene yang jaraknya sekitar 70an km dari pusat kota kabupaten. Karena berada di tepian laut dan pantai maka jenis pekerjaan masyarakat tidak jauh dari laut, banyak diantara penduduk di desa saya yang berprofesi sebagai nelayan. 

    ritual tradisi mengapungkan perahu di desa tubo majene
    Ritual dn tradisi sebelum mengapungkan perahu di desa Tubo, kec. Tubo Sendana, Kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)
    Hal yang unik adalah kebiasaan masyarakat Tubo sebelum melarung kapal ke laut, selalu ada doa-doa, makanan, dan ritual yang seolah harus dilakoni untuk meyakinkan bahwa perahu dilingkupi berkah, dan dimudahkan dalam perjalanannya kelak. 

    Sebelum perahu didorong ke laut, ritual-ritual semacam ini masih sangat kental dan sakral untuk dilalukan. Jika ia luput, maka mereka percaya akan terjadi halangan yang dapat mengganggu. Barazanji dan doa-doa lainnya serta menu yang lazim ditemui saat upacara-upacara adat di suku Mandar selalu saya dapati, sudah kesekian kalinya,  tentu saja dengan cara menghidangkan yang unik, sokkol, uleq-uleq, serta buah pisang yang dipotong  pada bagian ujungnya, abaya, kemenyan dsb.

    Buah pisang yang disajikan  beragam, biasanya dari jenis pisang yang berbeda, dari pisang kepok, serta pisang ambon disajikan diatas baki lebar 

    buah pisang ritual mengapungkan perahu di desa tubo majene
    Ragam jenis pisang dalam ritual mengapungkan perahu di desa Tubo, kec. Tubo Sendana, Kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)
    Selain buah pisang juga terdapat Sokkol yang terbuat dari beras ketan yang diberi campuran santan diatasnya disusun cucur, penganan lokal yang terbuat dari gula aren berbentuk bundar yang dimasak dengan digoreng. Tak lup pula ada bubur kacang hijau, yaitu kacang hijau yang direbus dengan campuran gula aren, ini selalu ada saat kegiatan ritual-ritual orang Mandar.

    sokkol dalam ritual mengapungkan perahu di desa tubo majene
    Sokkol dan rokok dalam ritual mengapungkan perahu di desa tubo, kec. Tubo Sendana, Kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)
    Juga selalu ada dupa (kemenyan) yang dibakar untuk melengkapi ritual lokal ini. Wanginya yang semerbak lalu akan mengisi segala ruang di sekitar lokasi ritual. Beriringan dengan suara Barazanji  yang bercerita mengenai sejarah hidup Nabi Muhammad S.A.W

    dupa dalam ritual mengapungkan perahu di desa tubo majene
    Dupa dalam ritual mengapungkan perahu di desa tubo, kec. Tubo Sendana, Kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)
    Pemandangan ini sudah biasa bagi kami penduduk desa, ini semua seolah wajib dilakukan jika ingin perahu diberkahi dan dipermudah dalam kegiatan melaut. Lalu kami warga sekitar akan berbondong-bondong datang membantu kegiatan ini, membantu mendorong perahu pemburu ikan tuna berukuran sedang. 

    gotong royong mengapungkan perahu di desa tubo majene
    Gotong royong mengapungkan perahu di desa tubo, kec. Tubo Sendana, Kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)
    Setelah itu makanan akan kami santap sebagai pengganti energi yang terkuras. Nilai-nilai gotong-royong dan kearifan lokal masih sangat terjaga di daerah pesisir desa Tubo, kab. Majene

    Kontributor :
    Teks : Hasbi Djaya , Muhammad Tom Andari
    Foto : Hasbi Djaya

    Dahulu ada banyak karangan atau tulisan dan buku-buku seputar bahasa Mandar, saat ini tak ada lagi buku baru yang dipublikasi dan berkaitan dengan bahasa lokal penyusun bahasa utama di Sulawesi Barat. Tokoh Abdul Muthalib, tokoh penulis dan periset Mandar yang menjadi peletak dasar Kamus Bahasa Mandar mungkin adalah penulis yang paling banyak mempublikasi karangan seputar penelitian dan akidah penggunaan bahasa Mandar, selain beberapa budayawan dan penulis lokal yang biasa menulis soal bahasa Mandar.

    buku tata bahasa mandar
    Sampul depan tulisan Tata Bahasa Mandar karangan Abdul Muthalib dkk (Foto : Sugiarto)
    Ini ditulis bersama 3 penulis lainnya yaitu Muhammad Sikki, Adnan Usmar, dan J. S. Sande. Ragam aturan dan hasil penelitian disajikan dalam tulisan ini. Salah satu dari tulisan Abdul Mutalib yang menarik adalah ragamnya penyebutan untuk satu benda dengan letak geografis yang berbeda. Dari sumber tulisan ini terdapat 4 dialek yang digunakan dalam bahasa Mandar diantaranya yaitu dialek Balanipa, dialek Majene, dialek Pamboang, dan dialek Sendana.

    Misalnya saja untuk buah pisang dalam bahasa Indonesia dialek Balanipa dsebut loka dalam dialek Majene loka, dialek Pamboang Lujo, dalam dialek Sendana loju. 

    Jika melihat cakupan wilayah, dari Paku sampai Suremana, istilah pisang saja dewasa ini akan sangat beragam, jika keluar dari apa yang disajikan oleh buku ini, misalnya saja pisang di daerah Campalagian disebut "Lijo" yang wilayah Campalagian akan dipengaruhi oleh bahasa Koneq-Koneq, sementara di wilayah kec. Tapango pisang disebut "Putti". Ada begitu banyak bahasa lokal yang akan berpengaruh dalam wilayah Mandar secara geografi. 

    Kontributor :
    Teks : Sugiarto, Muhammad Tom Andari
    Foto : Sugiarto

    , , ,

    Roppo atau yang dikenali dengan nama Rumpon, adalah tinggalan budaya bahari original suku Mandar, alat tangkap ikan tradisional yang jadi jejak kebesaran orang-orang Mandar dalam memburu ikan di laut lepas. Teknologi  roppo adalah metode penangkapan ikan yang ramah terhadap lingkungan yang saat ini dikenal luas di beberapa negara. 


    Roppo dikenal sebagai alat tangkap ikan yang pertama kali dikembangkan oleh suku Mandar. Disebutkan dalam buku "Orang Mandar Orang Laut : Kebudayaan Bahari Mandar mengarungi gelombang perubahan zaman" karya Muhammad Ridwan Alimuddin bahwa roppo berkembang sebagai jalan atas kesulitan tanah pertanian yang subur yang dimiliki suku Mandar, hal ini yang kemudian mendorong orang-orang suku Mandar mencoba peruntungan dengan mengais rezeki dari berkah di laut, menangkap ikan di hadapan laut dengan kedalaman dari 100 meter hingga 2000 meter. 

    Teknologi Roppo kini banyak ditemukan di sepanjang perairan kepulauan Sulawesi, ada ragam aturan menarik tentang Roppo yang menjadi aturan tak tertulis diantara nelayan-nelayan Mandar, diantaranya jarak Roppo tidak boleh terlalu dekat karena potensi saling kait yang dimiliki bagian roppo yang ada didasar, pun jika saling terkait maka pemilik roppo pertama diberi hak istimewa untuk menentukan, pemasang roppo pertama punya hak menentukan pemasangan roppo berikutnya, serta boleh memanfaatkan roppo nelayan lain untuk singgah, atau mengambil ikan dalam jumlah kecil atau sebelumnya dengan izin pemilik roppo dan atau memberi hasil tangkapan ikan ke pemilik Roppo.

    Teknologi roppo juga dikenali di Banggae, kabupaten Majene, Sulawesi Barat. nelayan di sepanjang Pantai Pacitan (Pangali-ali, Cilallang, dan Tanangan) adalah pelaku dan pembuat teknologi penangkapan sederhana ini. Seperti yang ditunjukkan oleh dokumentasi pembuatan roppo dibawah ini. Roppo dibuat dari tautan bambu mirip rakit yang nantinya akan diapungkan dilaut lepas Banggae.


    Dasar roppo biasanya digunakan jalinan batu sebagai jangkar yang akan menahan agar roppo tidak hanyut.  Batu diambil di daerah Kalasa, lokasi tambang batu di Majene yang terletak di daerah Mangge Kel. Totoli, Kedalaman Roppo nelayan Pangali-ali diperkirakan berada pada 700 meter hingga 1200 meter dari permukaan laut. 

    Roppo inilah yang kemudian akn dikunjungi secara rutin oleh nelayan untuk mengecek apakah terdapat ikan yang ada di bawah roppo, ikan-ikan ini bisa diperoleh dengan dijalan. 

    Sumber : 
    1. Alimuddin, MR. Hukum Laut di Mandar: Aturang Parroppongang. https://www.slideshare.net/ridwanmandar/hukum-laut-di-mandar-aturang-parroppongang 
    2. Alimuddin, MR. 2005. Orang Mandar Orang Laut : Kebudayaan Bahari Mandar mengarungi gelombang perubahan zaman.  

    Kontributor :
    Foto : Milad Maulana
    Teks : Milad Maulana, Muhammad Tom Andari

    , , ,

    Satu yang terlintas dalam pikiran saya sebelum menuju Paminggalan, jaraknya jauh, dan iklimnya dingin. Apapun itu, perjalanan tetap dilakukan, dengan mengucap Bismillah, kami memulai perjalanan dari Somba, kota kecamatan Sendana tepat pukul 12.00 menuju Paminggalan dengan beberapa orang dari masyarakat Paminggalan yanag menunggu kami di Somba. Perjalanan ini adalah dalam rangka menghadiri kegiatan workshop pengembangan objek wisata berbasis komunitas adat yang dilaksanakan oleh pemerintah desa Paminggalan.

    Perjalanan menuju Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    jalur menuju desa paminggalan sendana
    Persiapan menuju desa Paminggalan Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    jalur menuju desa paminggalan sendana majene
    Kendaraan yang digunakan menuju desa Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    Paminggalan adalah wilayah terpencil di kecamatan Sendana kabupaten Majene, Sulawesi Barat masuk kedalam administrasi desa Paminggalan. Jaraknya hanya sekitar beberapa km dari batas dengan wilayah desa Kalumammang, Kecamatan Alu, kabupaten Polewali Mandar.   Rute menuju Paminggalan juga sama ketika menuju desa Kalumammang, ada beberapa anak sungai kecil yang harus dilintasi tanpa menggunakan jembatan. Roda sepeda motor harus berkontak dengan dasar sungai, tak ada jembatan yang dibuat untuk melalui sungai, untuk sungai kecil mungkin tak mengapa, tetapi jik sungai besar dapat dibayangkan saat musim hujan, lalu lintas dari dan menuju desa Paminggalan mungkin akan terputus. 

    Saya berkendara berdua dengan seorang pemuda Paminggalan, tepat berada di belakangnya yang mengemudikan kemudi sepeda motor. Ia pemuda asli Paminggalan baru saja terdaftar sebagai mahasiswa baru di Universitas Sulawesi Barat, keahliannya dalam mengendarai motor di perbukitan dan di dasar sungai menurut saya tidak perlu diragukan lagi, sepertinya ia sudah hafal betul dengan semua bentuk dan letak lubang di jalan menuju Paminggalan, dan tampaknya juga rute ini ia lalui setiap hari. 

    Ragam tekstur jalan yang harus saya lalui menuju Paminggalan dari yang datar, mendaki hingga menurun, dengan ragam pemandangan hijau bukit dan lembah pedalama Sendana yang masih alami dan asri.   Saat sang pemuda mellui tikungan tajam, jalur pendakian, jurang disamping kiri kanan seolah tak ia hiraukan, gas ia geber terus, sesekali dibelakangnya saya menutup mata dan berpegangan/menarik bajunya (was was untuk menghindari kemungkinan yang akan terjadi, entah itu terjatuh dari motor ataupun terjun bebas ke jurang) itu yang terlintas di pikiran saya saat itu. Tapi lama-kelamaan saya sudah mulai terbiasa, terkadang untuk beberapa detik saya tidak duduk diatas sadel motor efek terangkat dari jok karena jalan yang rusak. Satu yang mencolok dari jalur menuju Paminggalan adalah jalur layan yang masih tak layak, masih berupa jalur jalan dengan batu-batuan yang lepas, jika pengemudi pemula maka pastilah akan kewalahan dengan sulitnya melalui jalur ini.

    Sekitar 45 menit waktu yang kami habiskan untuk sampai ke desa Paminggalan dari Somba. Tak berapa lama kami disuguhkan makanan khas Mandar, orang-orang dari desa ini masih menggunakan bahasa Mandar. Kuliner yang hadir di meja diantaranya yaitu gogos, golla kambu, manyang mammis, lameayu rakang (ubi rebus). Golla kambu dan manyang mammis adalah dua kuliner yang mencolok dari Paminggalan, artinya kemungkinan ada stok pohon aren yang menjadi bahan baku kedua makanan dan minuman yang lezat ini. Manyang mammis adalah minuman yang diperoleh dari tandan pohon aren/enau manisnya tak perlu diragukan, jika ia diolah menjadi gula aren dan ditambahkan dengan parutan kelapa maka ia menjadi Golla kambu.

    Setelah itu kami disajikan penampilan dari kelompok seni pencat silat Pakottau, seni bela diri yang juga ada dan lestari di Paminggalan, seni yang hampir ada di semua wilayah orang Mandar di Sulawesi Barat.

    pemukul gendang pakkottau paminggaln sendana majene
    Seorang bapak pemukul gendang untuk mengiringi pertunjukan Pakkotau di desa Paminggalan, kecamatan Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    pemukul gendang pakkottau paminggaln sendana majene
    Pukulan gendang untuk mengiringi pertunjukan Pakkottau di desa Paminggalan, kecamatan Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    Pertunjukan Pakkottau selalu saja mendapatkan penonton yang ramai, masyarakat setenpat juga tak ketinggalan menyaksikan pertunjukan dengan iringan gendang. Pertunjukan yang biasa dihadirkan saat terdapat kenduri di masyarakat Mandar misalnya pada acara pernikahan, sunatan, atau syukuran.
    pakkottau paminggalan sendana majene
    Pertunjukan seni bela diri Pakkotau di desa Paminggalan, kecamatan Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    pakkottau paminggalan sendana
    Pertunjukan seni bela diri Pakkotau di desa Paminggalan, kecamatan Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    Lalu rangkaian kunjungan kami dilanjutkan dengan Workshop Pengembangan Objek Wisata Desa Berbasis Komunitas Adat oleh Pemerintah desa setempat bekerjasama dengan AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nasional).
     
    workshop pengembangan objek wisata desa paminggalan
    Workshop pengembangan objek wisata berbasis komunitas adat (Foto : Indra Ariana)
    workshop pengembangan objek wisata desa paminggalan sendana
    Workshop pengembangan objek wisata berbasis komunitas adat (Foto : Indra Ariana)
      Terakhir kami bergerak menuju Air Terjun Paminggalan, air terjun dengan bentuk unik dan struktur batu yang menarik.  Ini yang paling seru, kami melakukan perjalanan dengan treking beberapa menit hingga sampai ke titik utama air terjun.


    menuju air terjun paminggalan sendana
    Perjalanan menuju Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)

    Ada anak sungai kecil yang kami lalui sebelum sampai ke air terjun Paminggalan. Teman-teman harus mengangkat bagian celana agar tidak basah. Ini potret keasrian dan kealamian di Paminggalan yang dapat ditemukan secara langsung.

    menuju air terjun paminggalan sendana majene
    Perjalanan menuju Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    susana sekitar air terjun paminggalan sendana majene
    Keadaan sekitar Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    Titik Utama Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    Aliran air di Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    Saya menghaturkan terimakasih untuk sambutan hangat masyarakat Paminggalan Sendana, budaya dan wisata Paminggalan dapat dijadikan sebagai tujuan kunjungan saat berada di Sendana, namun masih terbatas pada wisata petualangan dan minat khusus, karena akses menuju Paminggalan yang masih sulit. Paminggalan, 17 September 2017
      
    Kontributor :
    Foto : Indra Ariana
    Teks : Indra Ariana, Muhammad Tom Andari

    , , ,

    Ternyata lomba perahu Sandeq mini di wilayah Sulawesi Barat tidak hanya ditemukan di daerah Cilallang, kec. Banggae kabupaten Majene, namun ada juga yang dilaksanakan di pesisir kabupaten Polewali Mandar, tepatnya di dusun Labuang, desa Laliko, kec. Campalagian.  Lomba memacu perahu kecil yang dibuat dari kayu dengan layar dari plastik dan mengandalkan angin.

    Perahu sudah jadi nyawa orang Sulawesi Barat, terutama bagi suku Mandar yang banyak bersentuhan dengan laut sebagai sumber penghidupan. Perahu yang kini menjadi kebanggaan adalah perahu Sandeq, jenis perahu bercadik yang mendunia dan dikenal di seantero Indonesia. Sandeq sejak tahun 1990an bahkan sebelumnya sudah dilombakan, dan menjadi ikon budaya bahari yang paling terkenal. Perahu Sandeq lah yang kemudian menjadi inspirasi dilaksanakannya lomba-lomba perahu Sandeq mini di pesisir Sulawesi Barat. 

    Wilayah perairan Sulbar dari kabupaten Polman hingga kabupaten Majene dihuni banyak populasi nelayan, karena itu tak heran jika ada banyak yang mengenal jenis perahu sandeq, lewat lomba perahu sandeq mini, masyarakat pesisir mneghibur diri. Di perairan Labuang, kec. Campalagian misalnya, lomba perahu sandeq mini dilaksanakan sebagi sarana hiburan rakyat oleh banyak kalangan mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.  Jika di Banggae Majene lomba dilaksanakan dengan tarif pendaftaran yang dipungut dan hadiah dari lomba diperoleh dari biaya pendaftaran, maka di Labuang lomba dilaksanakan dengan hadiah yang disediakan sendiri oleh pelaksana lomba yang merupakan masyarakat Labuang sendiri. Tidak main-main pemenang lomba Sandeq mini diganjar dengan hadiah utama sebuah mesin katinting, istilah yang digunakan untuk menyebut mesin perahu yang ditempelkan pada perahu. 

    Kalau badan perahu Sandeq mini di Cilallang, Banggae Majene dicat putih maka perahu sandeq mini di Labuang, Campalagian dicat lebih berwarna, mulai dari warna biru, hingga merah. Namun bagian-bagianya nyaris lengkap, mulai dari baratang, palatto, sobal, dan guling semua ada dan dapat ditemukan. Dengan logo pada layar  diberi beragam logo, ada yang meniru dari logo peserta lomba perahu Sandeq Race, misalnya yang bertuliskan nama GPS, Sandeq GPS adalah perahu sandeq yang berasal dari desa Pambusuang, desa yang tak jauh letaknya dari Labuang. Adapula yang memberi logon untuk layarnya dengan tulisan "Repsol" nama dagang untuk perusahaan energi yang berbasis di Spanyol,  nama Repsol melekat pada nama dagang "Honda" yang biasa disandingkan, tampaknya pemilik sandeq adalah pecinta dunia otomotif.


    Lomba sandeq mini mengandalkan jalur lurus dan menunggu angin hingga  layar hingga perahu dapat meluncur diatas permukaan air, perahu yang terdepan dinobatkan sebagai juara pertama.

    Pelaksanan lomba Sandeq mini cukup rutin dilaksanakan, kabarnya akan dilaksanakan lagi saat bulan Desember, akhir tahun ini. 

    Kontributor :
    Foto : Fuad Zakhy
    Teks : Fuan Zakhy, Muhammad Tom Andari

    , ,

    Panjang garis pantai kab. Majene membentang dari kecamatan Banggae Timur hingga kecamatan Malunda, nyaris tak ada wilayah yang tidak memiliki pantai. Potensi pesisir ini menjadikan Majene memiliki banyak budaya dan kebiasaan lokal masyarakat yang berkaitan dengan laut. Banyak pula masyarakat Majene yang berprofesi sebagai nelayan, menggantungkan nasib dan hidup dari laut. 

    Budaya bahari mulai dari perahu berkembang dengan baik di Majene, dari alat transportasi laut hingga menjadi alat penangkap ikan, perahu menjadi alat yang penting di Majene. Bahkan sebagian dari simbol daerah di Sulawesi Barat menggunakan simbol perahu sebagai bukti kedekatan hubungan wilayah ini dengan laut. Logo kab. Majene membubuhkan perahu didalamnya, logo provinsi Sulawesi Barat juga demikian. Suku Mandar yang menjadi penghuni hampir seluruh wilayah Majene memiliki banyak tinggalan jejak kebesaran budaya bahari, seperti perahu Sandeq. 

    Sandeq mulai dikenal semenjak dilombakan pada awal tahun 1990an, lalu berkembang menjadi perlombaan dalam nama "Sandeq Race" hampir secara rutin dilaksanakan pada tahun 2000-an. Lomba perahu ini yang kemudian menginisiasi sebuah lomba perahu mini Sandeq yang dilaksanakan di lingkungan Cilallang, kec. Banggae kab. Majene. 

    Lomba perahu Sandeq mini Cilallang, menjadi sajian yang menarik saat mengunjungi Majene khususnya di kecamatan Banggae. Pangali-Ali, Cilallang, dan Tanangan adalah tiga wilayah yang merupakan rangkaian domisili pelaut dan nelayan asal Majene. Pemkab Majene lebih mengenal tiga daerah ini dengan menyingkatnya sebagai "Pantai Pacitan" (Pangali-Ali, Cilallang, Tanangan) mereka memperkenalkan Pantai Pacitan dalam brosur promosi pariwisata yang sempat dicetak tahun 2000an. Salah satu atrakasi wisata yang dapat Anda saksikan ketika berkunjung ke Pantai Pacitan adalah lomba perahu Sandeq Mini Cilallang.

    Sehari setelah lomba, perahu sandeq Mini diparkir diatas rumah panggung di lingkungan Cilallang, kec. Banggae kab. Majene (Foto : Nasriah Nasroum)
    Baru saja lomba perahu Sandeq ini diselenggarakan, kemarin (16/09/2017) oleh pelaksana dan inisiator lomba penduduk setempat yang dikenal dengan nama "Papaq Nasar" seorang pemilik loing ikan (penampung ikan khususnya ikan yang berukuran besar). Total ada 50 perahu Sandeq mini yang ikut dalam lomba kemarin dengan tarif/biaya pendaftaran Rp 10.000 per perahu. 

    Salah satu perahu sandeq mini yang dibuat sendiri oleh warga Cilallang kec. Banggae kab. Majene yang diikutsertakan dalam lomba perahu Sandeq Mini Cilallang (Foto : Nasriah Nasroum)
    Lomba perahu Sandeq mini menghadirkan banyak warga Cilallang, mulai dari anak-anak,remaja, dewasa hingga orang tua mendaftar dalam lomba perahu Sandeq ini, dengan menghadirkan masing-masing perahu mini buatan sendiri. Tidak heran jika masyarakat sekitar sini mampu membuat perahu sandeq mini, karena hampir semua warga berprofesi sebagai nelayan. Jika Anda pernah menelusuri lingkungan Pangali-Ali hingga Tanangan maka daerah ini adalah daerah padat nelayan dengan perahu yang penuh terparkir di sepanjang tanggul hingga daerah Tanangan. 

    Lomba perahu Sandeq mini Cilallang cukup rutin diselenggarakan setiap tahun, dalam tahun ini tercatat telah dua kali dilaksanakan. Pemenang lomba diganjar dengan hadiah uang tunai sebesar Rp 1.000.000 dari biaya pendaftaran yang dikumpulkan masing-masing peserta lomba. 

    Terdapat alternatif hiburan yang disajikan oleh lomba Sandeq mini dan dibuat sendiri oleh masyarakat Cilallang dengan kreativitas. Jika kemudian dikelola dengan baik maka bukan tidak mungkin lomba Sandeq mini dapat menjadi atraksi wisata menarik saat berkunjung ke Banggae Majene.  Apalagi diperkuat dengan pilihan wisata budaya bahari yang terbaik didapatkan saat berkunjung ke wilayah Cilallang. Dari lomba-lomba kecil seperti ini biasanya lahir atraksi wisata yang dapat dijual dan mendatangkan pengunjung, hal yang positif dari sisi pandang pariwisata.

    Kontributor :
    Teks : Nasriah Nasroum, Muhammad Tom Andari
    Foto : Nasriah Nasroum

    ,

    Pertunjukan koayang, atau pakkoa-koayang (lucu dan sangat menghibur), biasanya dipadukan dengan tabuhan rebana sebagai hiburan. Pertunjukan ini mungkin banyak yang tak tahu dan belum pernah menyaksikannya. Dari apa yang saya saksikan, saya tak percaya jika Anda tak tertawa terbahak bahak jika menyaksikan kelucuan mereka.

    Pertunukan Koayang yang ditampilkan oleh grup rebana di dusun Sumael dibarengi dengan cerita oleh lawan main pakkoayang yang disebut pattemba koayang. Bukan saja para koayang yang bergerak sendiri tapi ada lawan main pakkoayang yang disertai dengan guyonan dari awal hingga akhir pertunjukan. Biasanya tampil terlebih dahulu dengan koayang yang seakan terbang dan sesekali mencoba mematuk penonton.. setelah itu datanglah pattemba koayang dengan menunggang banyal guling (missawe) disertai dengan kayu sebagai senjata.. Masing-masing bergerak sesuka mereka dan dilanjut dengan guyonan lucu dan koayang ditembak. Setelah tertembak kemudian koayang tumbang dan mencoba dihidupkan kembali. (dari awal hingga akhir disertai komedi ). 

    Sejak saya masih anak-anak, pertunjukan ini sudah sering saya saksikan, karena kebetulan almarhum kakek seorang annangguru parrawana (pengajar rebana) dan pernah saya tanyakan bahwa memang sejak dahulu pertunjukan Koa-Koayang sudah ditampilkan.

    Pakkoa-koayang sudah hampir punah, dalam grup binaan rebana kakek saya bahkan sudah jarang juga ditampilkam, namun saat ada acara pernikahan atau khatam Al Qur'an dirumah kami, sajian Koa-Koayang tidak pernah absen dihadirkan. 

    tarian koayang sumael desa samasundu polman
    Atraksi Koayang di dusun Sumael, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)
    Koayang atau yang biasa disebut dengan Koa-Koayang terinspirasi dari sejenis burung  bernama Koa yang saat ini sudah jarang ditemukan. Dari burung Koa pertunjukan ini lahir, sehingga bagian kostum penarinya pada bagian atas menyerupai burung dengan paruh yang panjang.

    Menurut seorang anggota Teater Flamboyan Zulkifli Muhammad Siddiq Koa-koayang adalah genre pertunjukan rakyat, sama seperti ludruk dan ketoprak di pulau Jawa. Ditambahkan pula oleh Pendiri Uwakeq Culture Foundation, Muhammad Rahmat bahwa Koayang bukan merupakan tarian, ia dapat disebut tarian ketika lakon koayang ditarikan.


    tarian koayang sumael samsundu polewali mandar
    Prosesi pertunjukan Koayang di dusun Sumael, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)
    tarian koayang sumael samsundu polman
    Prosesi pertunjukan Koayang di dusun Sumel, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)

    tarian koayang sumael
    Prosesi pertunjukan Koayang di dusun Sumael, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)
    Sanggar seni Teater Ampat (Ammana Pattolawali) dari kab. Majene  pada tahun 2007  juga pernah membawakan pertunjukan ini di Jakarta, seperti dijelaskan oleh Sahari Ari. Jenis pertunjukan ini dahulu juga pernah dibawakan oleh Teater Flamboyant asal Tinambung, kab. Polman dalam pementasan pada tahun 1999 di IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, seperti yang dijelaskan oleh Abed Mubarak dari Teater Flamboyan.
     
    pertynjukan-koa-koayang-mandar-jogja
    Pertunjukan Koa-Koayang Teater Flamboyan tahun 1999 di IAIN Sunn Kalijaga Jogjakarta (Foto : Zulkifli Muhammad Siddiq)


    Pemain Pertunjukan Koa-Koayang Teater Flamboyan tahun 1999 di IAIN Sunn Kalijaga Jogjakarta (Foto : Muhammad Rahmat)
    Hanya sayang pertunjukan ini termasuk jarang dilakukan. Lokasi pertunjukan Koayang baru-baru ini dilaksanakan di kediaman kepala dusun Sumael, desa Samasundu, kecamatan Limboro, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat oleh grup rebana perpaduan dari 4 Grup (Binaan Alm. ABD. RAHMAN (Puaq Sipa'). 

    Kontributor : 
    Teks : Ahmad Basir
    Foto : Ahmad Basir, Muhammad Rahmat, Zulkifli Muhammad Siddiq

    Ketika berkunjung ke kampung halaman (Litaq Pembolongan) kemarin, saya menyempatkan diri berkunjung ke Kampung Tulu, Labuang, kec. Banggae Timur Kab.Majene. Ternyata disanalah pusat produksi minyak kelapa Mandar yang terkenal punya rasa khas. Ada rasa wangi yang tidak banyak dimiliki oleh pembuat minyak Mandar di tempat lainnya, dan minyak Mandar dari kampung Tulu memang berbeda dari segi warna dan aromanya.

    Orang-orang Banggae biasa menyebut daerah ini sebagai Kappung Pappolana, daerah penghasil minyak Mandar, di halaman rumah warga di daerah ini untuk beberapa waktu setelah panen buah kelapa maka akan ramai ditemukan proses pembuatan minyak, hingga produk-produk yang berkenaan dengan kelapa mudah ditemukan di kampung ini, mulai dari tempurung kelapa, sabut kelapa, dan ampas kelapa, semuanya mudah ditemukan disini. Ada kelompok produksi rumah tangga yang secara khusus membuat minyak kelapa asli Mandar di  kampung Tulu.

    kampung tulu banggae majene minyak mandar
    Minyak kelapa yang diolah secara tradisional di kampung Tulu, kec. Banggae Timur, kab. Majene (Foto : Ahmad Djamaan)
    Menurut saya, ini salah satu yang bisa menjadi ikon wisata di kab. Majene. Disini kita dapat menyaksikan keseluruhan proses pembuatan "Minyak Mandar" dari tahapan awal mengupas kelapa, memeras, memasak, hingga menjadi minyak untuk konsumsi dapur. 

    Potret ibu yang sedang dalam proses membuat minyak tradisional Mandar di di kampung Tulu, kec. Banggae Timur, kab. Majene (Foto : Ahmad Djamaan)
    Hebatnya kelompok-kelompok ini terdiri dari para wanita-wanita tangguh yang masih memegang etos budaya Mandar dan dikenal dengan konsepsi hidup "Sibali Parriq" Mereka adalah pejuang yang eksistensinya patut diapresiasi.

    Kontributor :
    Teks : Ahmad Djamaan
    Foto : Ahmad Djamaan

    Lama mencari tentang arti yang tertuang dalam syair (elong-elong) suku Mandar yang menyebutkan satu istilah "Bungakoda", ternyata nama itu berarti bunga "Anggrek". Arti Bungakoda sempat disebutkan oleh nenek saya sambil menunjuk sebuah tanaman bunga yang hidup di batang pohon mangga.

    - Jadzi Iya palakang di'e disanga BUNGAKODA aaa????
    - Sa'iyadzi. 


    (Jadi ini ternyata yang disebutkan sebagai Bungakoda?)
    (ya ini dia)

    Saya selama ini berpikir bahwa Bungakoda adalah sebuah penafsiran atau kiasan kepada wanita Mandar dalam lantunan syair lagu  "Topole di Balitung", ternyata tidak, Bungakoda punya arti langsung, ia berarti "bunga anggrek ".  Ada yang menerjemahkan Bungakoda menjadi "Anggrek Bulan"

    bunga koda anggrek bulan topole di balitung
    Jenis bunga anggrek yang berarti "Bungakoda" dalam syair lagu Mandar "Topole Di Balitung" (Foto : Ahmad Dimas Hasir)
    Suku Mandar menggunakan jenis tanaman/bunga untuk membuat kiasan dalam beberapa sastra tulisnya, misalnya untuk bunga melati putih "beruq-beruq", yang begitu populer sebagai perbandingan untuk wanita, warna bunga melati putih yang bersih serta wangi menjadi alasan mengapa bunga ini dijadikan perbandingan untuk wanita. Jika Bungakoda secara khusus berarti "Anggrek Bulan" maka ia akan sama dengan "Melati Putih". Bunga Anggrek Bulan memiliki warna daun yang juga putih, maka "Bungakoda" punya asosiasi dengan "Beruq-Beruq"

    "i'o diting Bungakoda dao meloq disulluq, dao meloq disulluq, muaq Tania tomamea gambaqna".
    (engkau si Anggrek bulan, jangan mau diseruduk, jika bukan oleh orang yang berikat pinggang merah"

    Lagu Mandar tersebut diperuntukkan bagi Tomatindo Di Balitung, (Maraqdia Sendana)  yang pernah melawat ke kerajaan Belitung,  bersama sekelompok pengawalnya selama ia menjabat posisi sebagai raja di kerajaan Sendana.

    Kontributor :
    Teks : Ahmad Dimas Hasir
    Foto : Ahmad Dimas Hasir

    Berziarah ke makam tosalamaq merupakan salah satu tradisi ritual yang masih di lakukan sebagian kalangan masyarakat di suku Mandar, seperti tempat yang saya kunjungi pagi ini. Tosalamaq ini berada di desa Buku, kecamatan Mapilli, Kab. Polewali Mandar, tepatnya di dusun Potong kurang lebih 200 meter dari sebelah utara sungai Maloso Mapilli atau kurang lebih 1 km dari pesisir Pantai Tanjung Buku.

    tradisi ziarah makam tosalamaq mandar
    Tradisi ziarah makam di dusun Potong, desa Buku, kecamatan Mapilli, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ayub Kai)
    tradisi ziarah makam tosalamaq
    Tradisi ziarah makam di dusun Potong, desa Buku, kecamatan Mapilli, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ayub Kai)
    Terdapat sebuah bangunan serupa rumah panggung dari kayu berukuran kecil dengan tinggi bangunan sekitar 2,5 - 3 meter beratap merah yang digunakan untuk tradisi ini. 

    Untuk persiapan ziarah juga disiapkan bahan makanan berupa buah-buahan seperti pisang yang diletakkan diatas baki dan makanan lainnya yang diletakkan di atas piring dengan alas dedaunan. Tugas ini dilakukan oleh kaum ibu.

    persiapan menu makanan tradisi ziarah makam tosalamaq
    Persiapan bahan makanan untuk tradisi ziarah makam di dusun Potong, desa Buku, kecamatan Mapilli, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ayub Kai)
    Bahan makanan  di atas tiap piring berupa ketupat, buras, pisang dan sambal, ini yang kemudian jadi pelengkap tradisi ziarah makam.

    menu makanan tradisi ziarah makam tosalamaq
    Bahan makanan untuk tradisi ziarah makam di dusun Potong, desa Buku, kecamatan Mapilli, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ayub Kai)

    makanan tradisi ziarah makam tosalamaq
    Bahan makanan untuk tradisi ziarah makam di dusun Potong, desa Buku, kecamatan Mapilli, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ayub Kai)
    Dari percakapan singkat yang saya lakukan bersama salah satu peziarah mengenai tosalamaq ini, ia mengatakan "dulu ada salah satu nenek dari keturunan kami yang pergi menaiki perahu di sekitar sungai, tiba-tiba hilang dan tidak kembali lagi selamanya (to mallinrung), sekian lama setelah kejadian itu salah satu orang tua dari keturunan (keluarga) kami ada yang bermimpi didatangi nenek kami yang telah hilang itu (to mallinrung), dan dalam mimpinya itu nenek kami yang telah hilang memberitahu bahwa dia ada atau tinggal ditempat yang di sebut tosalamaq tersebut".

    Kontributor :
    Teks : Ayub Kai
    Foto : Ayub Kai


Top