Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar - Promosi Budaya, Sejarah, dan Wisata Mandar, Sulawesi Barat
Showing posts with label Majene. Show all posts
Banggae, Budaya, Budaya Mandar, Majene
Roppo atau yang dikenali dengan nama Rumpon, adalah tinggalan budaya bahari original suku Mandar, alat tangkap ikan tradisional yang jadi jejak kebesaran orang-orang Mandar dalam memburu ikan di laut lepas. Teknologi roppo adalah metode penangkapan ikan yang ramah terhadap lingkungan yang saat ini dikenal luas di beberapa negara.
Roppo dikenal sebagai alat tangkap ikan yang pertama kali dikembangkan oleh suku Mandar. Disebutkan dalam buku "Orang Mandar Orang Laut : Kebudayaan Bahari Mandar mengarungi gelombang perubahan zaman" karya Muhammad Ridwan Alimuddin bahwa roppo berkembang sebagai jalan atas kesulitan tanah pertanian yang subur yang dimiliki suku Mandar, hal ini yang kemudian mendorong orang-orang suku Mandar mencoba peruntungan dengan mengais rezeki dari berkah di laut, menangkap ikan di hadapan laut dengan kedalaman dari 100 meter hingga 2000 meter.
Teknologi Roppo kini banyak ditemukan di sepanjang perairan kepulauan Sulawesi, ada ragam aturan menarik tentang Roppo yang menjadi aturan tak tertulis diantara nelayan-nelayan Mandar, diantaranya jarak Roppo tidak boleh terlalu dekat karena potensi saling kait yang dimiliki bagian roppo yang ada didasar, pun jika saling terkait maka pemilik roppo pertama diberi hak istimewa untuk menentukan, pemasang roppo pertama punya hak menentukan pemasangan roppo berikutnya, serta boleh memanfaatkan roppo nelayan lain untuk singgah, atau mengambil ikan dalam jumlah kecil atau sebelumnya dengan izin pemilik roppo dan atau memberi hasil tangkapan ikan ke pemilik Roppo.
Teknologi roppo juga dikenali di Banggae, kabupaten Majene, Sulawesi Barat. nelayan di sepanjang Pantai Pacitan (Pangali-ali, Cilallang, dan Tanangan) adalah pelaku dan pembuat teknologi penangkapan sederhana ini. Seperti yang ditunjukkan oleh dokumentasi pembuatan roppo dibawah ini. Roppo dibuat dari tautan bambu mirip rakit yang nantinya akan diapungkan dilaut lepas Banggae.
Dasar roppo biasanya digunakan jalinan batu sebagai jangkar yang akan menahan agar roppo tidak hanyut. Batu diambil di daerah Kalasa, lokasi tambang batu di Majene yang terletak di daerah Mangge Kel. Totoli, Kedalaman Roppo nelayan Pangali-ali diperkirakan berada pada 700 meter hingga 1200 meter dari permukaan laut.
Roppo inilah yang kemudian akn dikunjungi secara rutin oleh nelayan untuk mengecek apakah terdapat ikan yang ada di bawah roppo, ikan-ikan ini bisa diperoleh dengan dijalan.
Sumber :
1. Alimuddin, MR. Hukum Laut di Mandar: Aturang Parroppongang. https://www.slideshare.net/ridwanmandar/hukum-laut-di-mandar-aturang-parroppongang
2. Alimuddin, MR. 2005. Orang Mandar Orang Laut : Kebudayaan Bahari Mandar mengarungi gelombang perubahan zaman.
Kontributor :
Foto : Milad Maulana
Teks : Milad Maulana, Muhammad Tom Andari
Budaya, Majene, Sendana, Wisata
Satu yang terlintas dalam pikiran saya sebelum menuju Paminggalan, jaraknya jauh, dan iklimnya dingin. Apapun itu, perjalanan tetap dilakukan, dengan mengucap Bismillah, kami memulai perjalanan dari Somba, kota kecamatan Sendana tepat pukul 12.00 menuju Paminggalan dengan beberapa orang dari masyarakat Paminggalan yanag menunggu kami di Somba. Perjalanan ini adalah dalam rangka menghadiri kegiatan workshop pengembangan objek wisata berbasis komunitas adat yang dilaksanakan oleh pemerintah desa Paminggalan.
![]() |
| Perjalanan menuju Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
![]() |
| Persiapan menuju desa Paminggalan Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
![]() |
| Kendaraan yang digunakan menuju desa Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
Paminggalan adalah wilayah terpencil di kecamatan Sendana kabupaten Majene, Sulawesi Barat masuk kedalam administrasi desa Paminggalan. Jaraknya hanya sekitar beberapa km dari batas dengan wilayah desa Kalumammang, Kecamatan Alu, kabupaten Polewali Mandar. Rute menuju Paminggalan juga sama ketika menuju desa Kalumammang, ada beberapa anak sungai kecil yang harus dilintasi tanpa menggunakan jembatan. Roda sepeda motor harus berkontak dengan dasar sungai, tak ada jembatan yang dibuat untuk melalui sungai, untuk sungai kecil mungkin tak mengapa, tetapi jik sungai besar dapat dibayangkan saat musim hujan, lalu lintas dari dan menuju desa Paminggalan mungkin akan terputus.
Saya berkendara berdua dengan seorang pemuda Paminggalan, tepat berada di belakangnya yang mengemudikan kemudi sepeda motor. Ia pemuda asli Paminggalan baru saja terdaftar sebagai mahasiswa baru di Universitas Sulawesi Barat,
keahliannya dalam mengendarai motor di perbukitan dan di dasar sungai menurut saya tidak perlu
diragukan lagi, sepertinya ia sudah hafal betul dengan semua bentuk dan letak lubang di jalan menuju Paminggalan, dan tampaknya juga rute ini ia lalui setiap hari.
Ragam tekstur jalan yang harus saya lalui menuju Paminggalan dari yang datar,
mendaki hingga menurun, dengan ragam pemandangan hijau bukit dan
lembah pedalama Sendana yang masih alami dan asri. Saat sang pemuda mellui tikungan tajam, jalur pendakian, jurang disamping kiri kanan seolah tak ia hiraukan, gas ia geber terus, sesekali dibelakangnya saya menutup
mata dan berpegangan/menarik bajunya (was was untuk menghindari
kemungkinan yang akan terjadi, entah itu terjatuh dari motor ataupun
terjun bebas ke jurang) itu yang terlintas di pikiran saya saat itu. Tapi lama-kelamaan saya sudah
mulai terbiasa, terkadang untuk beberapa detik saya tidak duduk diatas
sadel motor efek terangkat dari jok karena jalan yang rusak. Satu yang mencolok dari jalur menuju Paminggalan adalah jalur layan yang masih tak layak, masih berupa jalur jalan dengan batu-batuan yang lepas, jika pengemudi pemula maka pastilah akan kewalahan dengan sulitnya melalui jalur ini.
Sekitar 45 menit waktu yang kami habiskan untuk sampai ke desa Paminggalan dari Somba. Tak berapa lama kami disuguhkan makanan khas Mandar, orang-orang dari desa ini masih menggunakan bahasa Mandar. Kuliner yang hadir di meja
diantaranya yaitu gogos, golla kambu, manyang mammis, lameayu rakang (ubi
rebus). Golla kambu dan manyang mammis adalah dua kuliner yang mencolok dari Paminggalan, artinya kemungkinan ada stok pohon aren yang menjadi bahan baku kedua makanan dan minuman yang lezat ini. Manyang mammis adalah minuman yang diperoleh dari tandan pohon aren/enau manisnya tak perlu diragukan, jika ia diolah menjadi gula aren dan ditambahkan dengan parutan kelapa maka ia menjadi Golla kambu.
Setelah itu kami disajikan penampilan dari kelompok seni pencat silat Pakottau, seni bela diri yang juga ada dan lestari di Paminggalan, seni yang hampir ada di semua wilayah orang Mandar di Sulawesi Barat.
![]() |
| Seorang bapak pemukul gendang untuk mengiringi pertunjukan Pakkotau di desa Paminggalan, kecamatan Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
![]() |
| Pukulan gendang untuk mengiringi pertunjukan Pakkottau di desa Paminggalan, kecamatan Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
Pertunjukan Pakkottau selalu saja mendapatkan penonton yang ramai, masyarakat setenpat juga tak ketinggalan menyaksikan pertunjukan dengan iringan gendang. Pertunjukan yang biasa dihadirkan saat terdapat kenduri di masyarakat Mandar misalnya pada acara pernikahan, sunatan, atau syukuran.
![]() |
| Pertunjukan seni bela diri Pakkotau di desa Paminggalan, kecamatan Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
![]() |
| Pertunjukan seni bela diri Pakkotau di desa Paminggalan, kecamatan Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
Lalu rangkaian kunjungan kami dilanjutkan dengan Workshop Pengembangan Objek Wisata Desa
Berbasis Komunitas Adat oleh Pemerintah desa setempat bekerjasama dengan AMAN
(Aliansi Masyarakat Adat Nasional).
![]() |
| Workshop pengembangan objek wisata berbasis komunitas adat (Foto : Indra Ariana) |
![]() |
| Workshop pengembangan objek wisata berbasis komunitas adat (Foto : Indra Ariana) |
Terakhir kami bergerak menuju Air
Terjun Paminggalan, air terjun dengan bentuk unik dan struktur batu yang
menarik. Ini yang paling seru, kami melakukan perjalanan dengan treking beberapa menit hingga sampai ke titik utama air terjun.
![]() |
| Perjalanan menuju Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
Ada anak sungai kecil yang kami lalui sebelum sampai ke air terjun Paminggalan. Teman-teman harus mengangkat bagian celana agar tidak basah. Ini potret keasrian dan kealamian di Paminggalan yang dapat ditemukan secara langsung.
![]() |
| Perjalanan menuju Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
![]() |
| Keadaan sekitar Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
![]() | |
|
![]() |
| Aliran air di Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
![]() |
| Air Terjun Paminggalan, kec. Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana) |
Saya menghaturkan terimakasih untuk sambutan hangat masyarakat Paminggalan Sendana, budaya dan wisata Paminggalan dapat dijadikan sebagai tujuan kunjungan saat berada di Sendana, namun masih terbatas pada wisata petualangan dan minat khusus, karena akses menuju Paminggalan yang masih sulit. Paminggalan, 17 September 2017
Kontributor :
Foto : Indra Ariana
Teks : Indra Ariana, Muhammad Tom Andari
Banggae, Budaya, Majene
Panjang garis pantai kab. Majene membentang dari kecamatan Banggae Timur hingga kecamatan Malunda, nyaris tak ada wilayah yang tidak memiliki pantai. Potensi pesisir ini menjadikan Majene memiliki banyak budaya dan kebiasaan lokal masyarakat yang berkaitan dengan laut. Banyak pula masyarakat Majene yang berprofesi sebagai nelayan, menggantungkan nasib dan hidup dari laut.
Budaya bahari mulai dari perahu berkembang dengan baik di Majene, dari alat transportasi laut hingga menjadi alat penangkap ikan, perahu menjadi alat yang penting di Majene. Bahkan sebagian dari simbol daerah di Sulawesi Barat menggunakan simbol perahu sebagai bukti kedekatan hubungan wilayah ini dengan laut. Logo kab. Majene membubuhkan perahu didalamnya, logo provinsi Sulawesi Barat juga demikian. Suku Mandar yang menjadi penghuni hampir seluruh wilayah Majene memiliki banyak tinggalan jejak kebesaran budaya bahari, seperti perahu Sandeq.
Sandeq mulai dikenal semenjak dilombakan pada awal tahun 1990an, lalu berkembang menjadi perlombaan dalam nama "Sandeq Race" hampir secara rutin dilaksanakan pada tahun 2000-an. Lomba perahu ini yang kemudian menginisiasi sebuah lomba perahu mini Sandeq yang dilaksanakan di lingkungan Cilallang, kec. Banggae kab. Majene.
Lomba perahu Sandeq mini Cilallang, menjadi sajian yang menarik saat mengunjungi Majene khususnya di kecamatan Banggae. Pangali-Ali, Cilallang, dan Tanangan adalah tiga wilayah yang merupakan rangkaian domisili pelaut dan nelayan asal Majene. Pemkab Majene lebih mengenal tiga daerah ini dengan menyingkatnya sebagai "Pantai Pacitan" (Pangali-Ali, Cilallang, Tanangan) mereka memperkenalkan Pantai Pacitan dalam brosur promosi pariwisata yang sempat dicetak tahun 2000an. Salah satu atrakasi wisata yang dapat Anda saksikan ketika berkunjung ke Pantai Pacitan adalah lomba perahu Sandeq Mini Cilallang.
![]() |
| Sehari setelah lomba, perahu sandeq Mini diparkir diatas rumah panggung di lingkungan Cilallang, kec. Banggae kab. Majene (Foto : Nasriah Nasroum) |
Baru saja lomba perahu Sandeq ini diselenggarakan, kemarin (16/09/2017) oleh pelaksana dan inisiator lomba penduduk setempat yang dikenal dengan nama "Papaq Nasar" seorang pemilik loing ikan (penampung ikan khususnya ikan yang berukuran besar). Total ada 50 perahu Sandeq mini yang ikut dalam lomba kemarin dengan tarif/biaya pendaftaran Rp 10.000 per perahu.
![]() |
| Salah satu perahu sandeq mini yang dibuat sendiri oleh warga Cilallang kec. Banggae kab. Majene yang diikutsertakan dalam lomba perahu Sandeq Mini Cilallang (Foto : Nasriah Nasroum) |
Lomba perahu Sandeq mini menghadirkan banyak warga Cilallang, mulai dari anak-anak,remaja, dewasa hingga orang tua mendaftar dalam lomba perahu Sandeq ini, dengan menghadirkan masing-masing perahu mini buatan sendiri. Tidak heran jika masyarakat sekitar sini mampu membuat perahu sandeq mini, karena hampir semua warga berprofesi sebagai nelayan. Jika Anda pernah menelusuri lingkungan Pangali-Ali hingga Tanangan maka daerah ini adalah daerah padat nelayan dengan perahu yang penuh terparkir di sepanjang tanggul hingga daerah Tanangan.
Lomba perahu Sandeq mini Cilallang cukup rutin diselenggarakan setiap tahun, dalam tahun ini tercatat telah dua kali dilaksanakan. Pemenang lomba diganjar dengan hadiah uang tunai sebesar Rp 1.000.000 dari biaya pendaftaran yang dikumpulkan masing-masing peserta lomba.
Terdapat alternatif hiburan yang disajikan oleh lomba Sandeq mini dan dibuat sendiri oleh masyarakat Cilallang dengan kreativitas. Jika kemudian dikelola dengan baik maka bukan tidak mungkin lomba Sandeq mini dapat menjadi atraksi wisata menarik saat berkunjung ke Banggae Majene. Apalagi diperkuat dengan pilihan wisata budaya bahari yang terbaik didapatkan saat berkunjung ke wilayah Cilallang. Dari lomba-lomba kecil seperti ini biasanya lahir atraksi wisata yang dapat dijual dan mendatangkan pengunjung, hal yang positif dari sisi pandang pariwisata.
Kontributor :
Teks : Nasriah Nasroum, Muhammad Tom Andari
Foto : Nasriah Nasroum
Komunitas, Majene, Pamboang
Khalis Lolo, pemuda asal Bababulo, kec. Pamboang Kab. Majena, Ia ber-KDM dengan caranya sendiri, mengecat perahu paccumi miliknya dengan
membubuhkan logo KDM di bagian depan badan perahu, dicat dengan cat
kayu dengan modal paduan 4 warna yang berbeda, hasilnya logo KDM tampil
cerah dan kontras. bukti dukungan pada kampanye budaya dan wisata yang
dilakukan di KDM. Kalau kemudian saat ini begitu mudah membuat identitas logo KDM dengan cetak digital, hal yang anti main stream dilakukannya dengan membuat logo di badan perahu dengan melukisnya dengan cat.
![]() |
| Logo KDM di badan perahu paccumi bagian depan milik Khalis Lolo, saat sedang menelusuri bagian pesisir laut desa Bababulo, kec. Pamboang, kab. Majene (Foto : Muhammad Tom Andari) |
Perahu paccumi miliknya dibeli dengan hasil keringatnya sendiri, sebelum mengecat perahunya dengan logo KDM, perahu ini lama tak turun ke laut, ia melakukan perbaikan besar di bagian-bagian perahunya, mulai dari mengganti komponen yang tua dan mengecatnya dengan warna putih biru.
![]() |
| Khalis Lolo, di bagian buritan perahu sedang memegang guling sekaligus menjadi pemandu wisata diatas perahu miliknya di pesisir teluk Pamboang kec. Pamboang, kab. Majene (Foto : Muhammad Tom Andari) |
Sehari sebelumnya ia baru saja memasang
bagian-bagian seperti baratang, tadi, dan palatto di perahu miliknya
yang kadang ia gunakan untuk mencari ikan dan cumi. Untuk peluncuran perdana perahu baru miliknya ia mengajak KDM menelusuri keindahan Pamboang mulai dari desa Bababulo, Lalampanua hingga sedikit wilayah Pesuloang lalu kembali ke pesisir Bababulo, ada banyak keindahan dari sisi pandang laut yang bisa ditemui mulai dari teluk Pamboang, Pantai Taraujung, Tebing Taraujug Pokki, Laguna Taraujung, Bakau Taraujung hingga Rewataa. Semua adalah potensi destinasi wisata yang dimilki oleh kec.Pamboang kab. Majene.
Khalis Lolo menndukung lewat perahu miliknya dan seperti itu KDM biasanya menemukan orang-orangnya.
Kontributor :
Teks : Muhammad Tom Andari
Foto : Muhammad Tom Andari
Berita, Majene, Wisata Majene
Ritual baca selamatan dan pembersihan pembukaan calon tempat wisata
bahari pantai pasir putih "Lembang Bonde Pute" dilakukan kemarin (23/08/2017) di pesisir Desa Tubo, Kecamatan Tubo
Sendana, Kab. Majene.
Satu lagi calon objek wisata yang baru saja dimulai perintisannya di
kabupaten Majene. Lembang Bonde Pute, terletak di desa Tubo, kecamatan
Tubo Sendana, kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Ini adalah lokasi yang
nantinya akan dikembangkan menjadi pilihan objek wisata di desa Tubo.
Tubo adalah wilayah dalam kecamatan Tubo Sendana yang banyak memiliki
potensi objek wisata bahari. Ratusan meter pantai dengan sisi pasir yang
putih dan bersih di sepanjang jalur jalan trans Sulawesi Barat. Jika
melalui jalur darat Majene-Mamuju maka daerah-daerah in akan terlihat.
Hal ini yang kemudian dimaksimalkan potensinya dan akan dikelola oleh
masyarakat desa Tubo bersama dengan dukungan aparat pemerintah desa
Tubo.
![]() |
| Tradisi pembacaan doa dalam pembukaan objek wisata Lembang Bonde Pute di desa Tubo, kec. Tubo Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya) |
![]() | ||
| Tradisi pembacaan doa dalam pembukaan objek wisata Lembang Bonde Pute di desa Tubo, kec. Tubo Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya) |
![]() |
| Tradisi pembacaan doa dalam pembukaan objek wisata Lembang Bonde Pute di desa Tubo, kec. Tubo Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya) |
Lembang Bonde Pute akan dikembangkan dengan kemitraan bersama pemerintah desa Tubo dengan penggunaan anggaran Alokasi Dana Desa, dukungan finansial yang saat ini banyak digunakan untuk membantu pelaksanaan program pariwisata di tingkat desa di kabupaten Majene. Hal yang sama juga berlaku di kecamatan tetangga yaitu kecamatan Sendana, dimana pemerintah desa memasukkan program pengadaan fasilitas untuk objek wisata dengan menggunakan anggaran dari ADD desa setempat. Hal sederhana yang dapat membantu desa mengembangkan potensi wisatanya secara mandiri.
![]() |
| Kegiatan pembersihan lokasi objek wisata Lembang Bonde Pute di desa Tubo, kec. Tubo Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya) |
![]() |
| Jalur masuk objek wisata Lembang Bonde Pute di desa Tubo, kec. Tubo Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya) |
Potensi pasir putihnya yang putih alami dengan tekstur yang halus dan berukuran kecil merupakan unggulan yang akan ditawarkan kepada para pengunjung, hal yang mungkin jarang dijumpai di kabupaten-kabupaten lain di wilayah provinsi Sulawesi Barat.
![]() |
| Selfie dengan latar kegiatan ritual di objek wisata Lembang Bonde Pute di desa Tubo, kec. Tubo Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya) |
![]() |
| Latar pasir putih wisata Lembang Bonde Pute di desa Tubo, kec. Tubo Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya |
Untuk soal pantai Pasir Putih, wilayah Tubo Sendana tak bisa dikesampingkan, dari sekian daerah di kabupaten Majene ia memiliki wilayah pantai dengan pasir putih yang paling panjang.
Kontributor :
Foto : Hasbi Djaya
Teks : Hasbi Djaya, Muhammad Tom Andari
Kuliner, Majene, Sendana
Keterampilan membuka kelapa para perempuan penjual kelapa di daerah Apoang, kecamatan Sendana kabupaten Majene patut diacungi jempol, mengapa? ya karena butuh pengalaman untuk membuka jenis buah kelapa dengan bentuk bagian atas yang terbuka rata.
Pekerjaan membuka kelapa muda banyak dilakukan oleh kaum perempuan di daerah ini, dari beberapa kali kunjungan di banyak kedai yang berdiri di sepanjang daerah Apoang mulai dari membuka kelapa hingga penyajian kelapa muda diatas meja semua dilakukan oleh perempuan. Bentuk bagian atas kelapa muda biasanya terbagi atas dua, yang dapat dipisahkan dan dapat ditutup.
Pada awalnya buah kelapa yang betul-betul muda dipotong bagian atas dan bawahnya, permukaan bawah dipotong dengan rata agar buah kelapa muda bisa duduk diatas piring. Lalu bagian atasnya dibentuk dengan rata hingga nyaman untuk mengeruk daging buah dan menjadikannya serupa mangkuk untuk menampung air kelapa dan buahnya yang dicampurkan dengan gula aren atau sirup. Perempuan Apoang Sendana cekatan membuka buah kelapa ini, hanya beberapa menit semuanya sudah tersaji dengan lengkap di atas meja kayu, tak perlu lama menunggu.
![]() |
| Seorang perempuan yang sedang membuka kelapa muda di kedai di daerah Apoang, kecamatan Sendana, kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Foto : Arham) |
Soal citarasa kelapa muda di daerah Apoang, kecamatan Sendana, tidak perlu diragukan lagi, sajian dengan gula aren dan air kelapa muda dan daging buah kelapa yang benar-benar lunak saat digigit. Jika dahaga mendera saat melalui jalur Sendana yang panjang maka pejalan dapat mampir di kedai-kedai ini, sekedar untuk melepaskan dahaga sembari menikmati pemandangan laut lepas yang cantik di Apoang.
Saat pagi hari hingga sore hari Anda dapat mengunjungi kedai kelapa muda ini, saat malam hari, kedai ini banyak yang tertutup, namun masih ada beberapa kedai yang masih buka hingga malam hari, waktu terbaik mengunjungi kedai kelapa muda ini adalah saat siang hari hingga sore hari, saat siang terik waktu yang paling tepat mengatasi dahaga, dan sore hari view yang disajikan sangat menarik, terutama saat senja tampak dan matahari perlahan beranjak ke peraduannya.
![]() |
| Sajian menu kelapa muda, air kelapa, serta gula aren di kedai di daerah Apoang, kecamatan Sendana, kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Foto : Arham) |
Jika ingin mendapatkan menu kelapa muda yang benar-benar nikmat maka berkunjunglah ke Apoang, Anda tidak akan kecewa, dari cara penyajian, cita rasa, dan pemandangan sekeliling kedai semuanya membentuk sajian yang sempurna.
Kontributor :
Foto : Arham
Foto : Arham
Teks : Muhammad Tom Andari
Kuliner, Majene
Semua jepa yang diisi di bagian tengahnya, kami di Tubo mengenalnya dengan nama Pitta. Jadi, jepa ni gollai juga kami sebut pitta golla mamea. Yang saya
posting kami menyebutnya pitta rure (baca teri). Jepa (kuliner khas Sulawesi Barat yang terbuat dari singkong) dibuat dan bagian dalamnya diberi isian ikan teri atau biasa disebut "bau omber".
![]() |
| Ikan teri yang ada dalam pitta (Foto : Hasbi Djaya) |
![]() |
| Ikan teri yang ada dalam pitta (Foto : Hasbi Djaya) |
![]() |
| Pitta dan ikan teri (Foto : Hasbi Djaya) |
![]() |
| Lezatnya ikan teri yang ada dalam pitta (Foto : Hasbi Djaya) |
![]() |
| Ikan teri dalam pitta (Foto : Hasbi Djaya) |
Di Mamuju hidangan atau menu seperti ini disebut dengan nama Ambar. Cara membuatnya sederhana, teri basah dimasukkan ke bagian dalam Jepa saat jepa dipanggang diatas piringan tanah liat. Jika ingin mendapatkan hidangan Pitta yang sempurna maka sebaiknya pilihlah jenis ikan teri yang masih segar agar tekstur ikan yang didapatkan lunak dan tidak keras.
Kontributor : Hasbi Djaya
Kontributor : Hasbi Djaya
- Sureq Puang Lembang
- Sureq Datuk
- Sureq Jangan Jangan
- Sureq Lowang
- Sureq Taqbu-Taqbu
- Sureq Cubit-Cubitan
- Sureq Maraqdia
- Sureq Salaka
- Sureq Batu Darim
- Sureq Kapala Daerah
- Sureq Parara Kos
Budaya, Budaya Mandar, Foto Budaya, Majene
Kabupaten Majene baru saja memperingati hari jadinya, peristiwa tersebut dijadikan momentum bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Salah satu even menarik yang dilaksanakan oleh pihak panitia adalah pawai budaya, dan dalam kegiatan ini hadir beberapa tinggalan budaya khas Mandar, suku yang menghuni sebagian besar kabupaten Majene. Suku Mandar memiliki tinggalan budaya berupa sarung berbahan sutera, yang diolah dari ulat sutera, dijadikan benang, lalu ditenun menjadi sebuah sarung yang dapat digunakan sebagai kostum untuk upacara-upacara tradisi. Tinggalan budaya ini yang kemudian ditampilkan saat pawai beberapa waktu yang lalu.
Dalam pawai budaya ini di salah satu titik terdapat beberapa motif aarung sutera yang dipamerkan, ada begitu banyak sureq, menariknya adalah untuk tiap-tiap sarung sutera dilengkapi dengan identitas nama masing-masing sureq. Sureq adalah motif sarung sutera yang membedakannya dengan sarung yang lain, penamaannya biasa mengikuti trend yang sedang berlangsung saat sarung ditenun. Namun, di suku Mandar terdapat dua macam sureq asli atau dapat dikatakan sureq tradisional, keduanya adalah sureq padzadza dan sureq salaka. Keduanya adalah sureq "klasik" yang sangat populer dan pasti dikenali oleh para pemerhati sarung sutera.
Berikut ini adalah beberapa sureq yang ditampilkan dalam pawai budaya yang berlangsung di Majene baru-baru ini :
![]() |
| Sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti) |
Satu yang paling menarik dari nama sureq ini adalah adanya nama "Sureq Cubit-Cubitan" nama yang mungkin jauh dari budaya Mandar namun, penamaan sureq biasanya adalah sesuai dengan trend yang berlaku pada masa itu, kadang juga penamaan sureq biasanya mengikut pada momen atau kegiatan besar yang sedang berlangsung, atau ada peristiwa yang sedang mewabah, maka kemudian nama sureq akan disesuaikan.
![]() |
| Ragam sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti) |
Nama sureq Salaka adalah satu dari dua sureq utama untuk sarung sutera Mandar, sureq ini biasanya digunakan oleh para warga untuk mendatangi momen kematian, motifnya yang didominasi hitam mewakili keadaan berkabung.
Selain itu sureq Parara (Padzadza) juga adalah sureq utama dengan ciri khas berwarna merah, dalam pawai budaya ini ditampilkan modifikasi sureq padzadza yaitu sureq Padzadza kos.
![]() | |||||||||
| Aneka sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti) |
Sarung sutera menjadi tinggalan megah yang hampir dimiliki oleh suku-suku di Sulawesi Selatan dan Barat, merupakan budaya tradisional yang dilakoni oleh kaum perempuan yang mengajarkan kesabaran dan ketelatenan menjalin untaian benang, merapatkan jalinannya hingga menjadi sebuah sarung yang memiliki nilai lebih.
Kontributor : Desy Yanti
Kuliner, Majene
Wisata kuliner di Somba, ibukota kecamatan Sendana, kabupaten Majene adalah yang paling terkenal di lintasan jalur darat Sulawesi Barat. Anda yang sedang melalui jalur ini dapat mengenali kawasannya dari kedai-kedai yang berdiri tak jauh dari gerbang kota Somba. Daerah ini menjadi puat persinggahan kendaraan yang ingin menikmati wisata kuliner tradisional khas pesisir kabupaten Majene.
Berikut ini adalah beberapa diantara makanan tradisional yang dijajakan di kawasan kuliner Somba, kab. Majene.
![]() |
| ikan tuing-tuing yang telah dipanggang (foto Hasbi) |
1. Bolu Paranggi, jenis kue bolu berwarna cokelat dengan bahan gula aren yang membuat warna kue ini menjadi dominan kecokelatan. Kue ini dikemas dalam wadah plastik dan berisi sekitar 10-12 buah kue.
![]() |
| Golla kambu dan bolu paranggi paria(foto Hasbi) |
2. Buras, adalah serupa hidangan lontong yang terbuat dari beras namun berasa gurih karena saat dibuat diberi tambahan santan dan sedikit garam. Buras sangat tepat menjadi teman makan menu mie instan rebus, atau teman untuk menikmati hidangan menu ikan asap (ikan tui-tuing). Buras dibungkus dengan daun pisang dan ditanak hingga matang.
![]() |
| Buras yang lesat dan jadi pendamping saat dalu (foto Hasbi) |
3. Gogos, kuliner berbahan dasar beras ketan yang juga dibungkus dengan daun pisang, namun bedanya dengan buras adalah, gogos dibuat matang dengan cara dipanggang di atas bara api. Ini juga dapat anda temukan dijajakan di atas meja dalam kedai di Somba.
![]() |
| Gogos dengan bahan beras ketan (foto Hasbi) |
4. Golla kambu, kuliner dari bahan beras ketan yang dicampurkan gula merah, dan dibungkus dengan dau pisang kering. Adalah buah tangan yang dapat anda beli dan jadikan hadiah atau oleh-oleh yang terjangkau dan cukup lezat.
![]() |
| Kemas n golla kanbu(foto Hasbi) |
5. Ikan Terbang Asap, ikan ini lebih akrab disebut dengan ikan tuing-tuing, ikan yang diolah dengan cara diasapi hingga berwarna kuning keemasan, dipadukan dengan buras dan cocolan jeruk serta cabe berasa pedas.
![]() |
| Ikan tuing-tuing asap di Somba (foto Hasbi) |
Ikan terbang ini diperoleh dari perairan Sendana, dengan citarasa khas tersendiri membuat wisata kuliner anda menjadi berbeda dan seru. Jika beruntung dan saat musimnya anda akan dapat bertemu dengan menu cumi, cumi di kedai ini diolah dengan cara direbus dalam kuali tanah dengan gaya masak mirip dengan saat memasak ikan dengan kuah khas Mandar (bau peapi)
![]() |
| Kuliner cumi-cumi Somba, Majene (foto Hasbi) |
Kawasan wisata kuliner Somba, pada awalnya dikenal karena menu ikan terbang asapnya, namun saat anda sampai di kedai ini, maka ada lebih banyak menu yang wajib dan menggoda untuk dirasakan.
Kontributor : Hasbi
Banggae, Lingkungan, Majene
Lembang Sitodzong Mangge, kel. Totoli kec. Banggae kini hanya tinggal kenangan, sejak pemerintah menyulapnya menjadi bendungan untuk kemudian dialirkan ke kota sebagai sumber mata air yg dikelola oleh PDAM, kini debit airnya sudah semakin sedikit, sudah nyaris kering, tampaknya tak ada usaha pemerintah untuk melakukan usaha penghijauan di sekitar hulu sungai.
![]() |
| Lembang Sitodzong Mangge yang terletak di kel. Totoli, kec. Banggae, kab. Majene |
Majene memang selama beberapa waktu dikenal sebagai daerah yang memiliki sumber air minim, beberapa kali krisis air terjadi di pusat kota kabupaten, namun setelah aliran air dari Mangge di gunakan dan didukung juga sumber air dari Puawang, barulah kemudian PDAM kota kabupaten Majene memperoleh suplai air yang aman untuk kebutuhan masyarakat kabupaten.
Lembang Sitodzong Mangge mengalami pengurangan debit air kemungkinan adalah karena tak hijaunya vegetasi di hulu sungai, hal ini juga disebabkan secara umum oleh perubahan iklim yang berlangsung secara global, di wilayah kab, Majene terdapat sumber-sumber aliran air yang dulunya deras, kini berkurang drastis, hal yang sama seperti di Puawang dan di Somba, kec. Sendana, aliran-aliran air sungai mengering dan hanya menyisakan sedikit air sungai yang mengalir, lalu apakah lingkungan kita telah memasuki masa awal kerusakan, atau telah sampai pada puncak degradasi lingkungan?
Kontributor : Muhammad Dardi
Kuliner, Majene, Malunda
Pernah melintasi kabupaten Majene menuju kabupaten Mamuju atau sebaliknya? jika iya, maka anda sebaiknya mampir di Pantai Tanisi, ada pilihan wisata kuliner, berupa jajanan es teler dan soto ayam yang lumayan lezat. Pantai Tanisi berada dalam wilayah kecamatan Malunda, kab. Majene, kecamatan paling ujung di utara yang berbatasan langsung dengan kecamatan Tapalang, kabupaten Mamuju.
Ada pilihan kuliner es teler dan soto ayam yang harganya terjangkau, suasananya adem dan sejuk, karena berada di tepi pantai dibawah pohon hijau yang rimbun dan bebas dari sinar matahari langsung. Letak kedai ini tak jauh dari pos polisi Tanisi, sehingga mudah ditemukan, jika anda dari arah Majene menuju Mamuju maka tempat kedai ini berada di sisi kiri, dan sebaliknya jika anda dari arah Mamuju menuju Majene.
Kedai yang didirikan cukup sederhana, non permanen dengan fasilitas kursi dan meja plastik yang diletakkan di atas pasir pantai, suasana sejuknya lebih terasa karena lokasi kedai tepat dibawah pohon tepi pantai yang rindang.
![]() |
| Menu soto ayam yang sangat lezat di Pantai Tanisi, Malunda (foto : Pusvawirna Natalia Muchtar) |
![]() | ||
| Kedai es teler dan soto ayam Pantai Tanisi Malunda, Majene (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar) |
![]() | |
| Menu minuman di kawasan kuliner pantai Tanisi, kec. Malunda, kab. Majene (foto : Zulkifli Muhammad Siddiq) |
![]() |
| Menu minuman di kawasan kuliner Pantai Tanisi Malunda (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar) |
![]() |
| Menu es teler yang disajikan di Pantai Tanisi, kec. Malunda, Majene (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar) |
![]() | |||
| Pantai Tanisi di kecamatan Malunda, kabupaten Majene, Sulawesi Barat (foto : Rustam Randy) |
![]() |
| Sunset Pantai Tanisi yang sangat cantik (Foto : Baharuddin) |
Harga makanan dan minuman yang ditawarkan di kedai ini dari kisaran harga Rp 5.000 hingga Rp.18.000 dengan ragam menu seperti es teler, jus buah, dan soto ayam, dengan ditemani makanan serta minuman yang lezat anda dalam waktu yang bersamaan juga dapat menikmati pemandangan pantai yang cukup bersih, jika anda menghabiskan waktu di sekitar pantai ini sore hingga menjelang malam, maka anda akan mendapati view sunset (matahari terbenam) yang sangat indah.
Kontributor : Pusvawirna Natalia Muchtar
Tulisan Paling Banyak Dibaca
-
Munu Beach, atau pantai Munu adalah sebuah objek wisata baru di kabupaten Majene, Sulawesi Barat yang akhir - akhir ini populer di kalanga...
-
Sebut saja ini zi arah tradisi maritim (urgensi museum), yang saya lakukan ke kediaman sang legenda, Kapten Pahlawan Laut di Museum TNI A...
-
Dua batu ini menjadi saksi dan bukti sejarah lahirnya kesepakatan para leluhur kami di tanah Mandar. Di ikrarkan di wilayah kami yg kami ...
-
Buku Puang dan Daeng, Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar, buku budaya yang merekam dengan baik nilai-nilai dan status sosi...
-
Pengembangan wisata adalah mutlak membutuhkan fasilitas akomodasi, jika anda berada di kab. Majene provinsi Sulawesi Barat, dan ingin meman...
-
Mosso, adalah desa yang letaknya di dataran tinggi kec. Balanipa, berjarak sekitar 6-7 km dari jalan poros Majene-Polewali, dapat diakses d...
-
Berbagi cerita beberapa hari yang lalu saya mengikuti kegiatan membantu tetangga "Mallele boyang" (mengangkat dan memindahkan r...
-
Kami bersama jernihnya aliran air sungai kecil yang dinamai Salu Alambangan, berlatarkan hijaunya alam yang masih asri. terletak di dusun...
-
Sulawesi Barat sebagai provinsi yang terbentuk pada tahun 2004, banyak menyimpan potensi wisata yang belum dimaksimalkan dengan baik. Objek...
-
Kabupaten Majene baru saja memperingati hari jadinya, peristiwa tersebut dijadikan momentum bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan In...
Labels
Air Terjun
Akomodasi
Alu
Anreapi
Aralle
Arsitektur
Artikel
Banggae
Banggae Timur
Batetangnga
Berita
Binuang
Budaya
Budaya Mandar
Budong-Budong
Bukit
Buku
Bulo
Campalagian
Caving
Figur
Foto
Foto Budaya
Foto Sejarah
Foto Wisata
Gasing
Goa
Gua
Hotel
Kalukku
Kalumpang
Kanang
Karya
Kecantikan
Kegiatan
Kerajaan Binuang
Komunitas
Kuliner
Limboro
Lingkungan
Literasi
Lomba
Luyo
Majene
Makam
Makassar
Malunda
Mamasa
Mambi
Mampie
Mamuju
Mamuju Tengah
Mamuju Utara
Mandar
Obje
Objek Wisata
Opini
Pamboang
Pantai
Pantai Sulbar
Pattae
Penja
Permainan Tradisional
Polewali Mandar
Rebana Mandar
Refleksi
Sandeq
Sandeq Race
Sejarah
Sendana
Seni
Senja
Situs Sejarah
Sulawesi Barat
Sungai
Sungai Mandar
Sutera Mandar
Tapalang
Tapango
Tappalang Barat
Tarian Mandar
Teater
Teluk Mandar
Tinambung
Tokoh
Trip
Tubo Sendana
Ulumanda
Video
Wisata
Wisata Majene
Wisata Mamasa
Wisata Mamuju
Wisata Mamuju Tengah
Wisata Mamuju Utara
Wisata Polewali Mandar
Wisata Polman
Wisma Penginapan
Wonomulyo





















































