, ,

    Messawe Saeyyang Pattuqduq, juga tradisi yang masih terus bertahan di suku Mandar, Sulawesi Barat setiap bulan Maulid atau dalam penanggalan hijriah yang jatuh pada bulan Rabiul Awal hingga beberapa pekan setelahnya maka daerah-daerah di Mandar akan terdapat banyak pertunjukan messawe saeyyang pattuqduq. Baru saja kemarin (Minggu, 03 Februari 2019) pessawe terakhir dihelat di desa Bala, kecamatan Balanipa, kabupaten Polman, Sulawesi Barat.  Ini adalah rangkaian terakhir dari pertunjukan saeyyang pattuqduq  yang bisa ditemukan tahun ini.

    tradisi messawe saeyyang pattuqduq
    Tradisi Messawe Saeyyang Pattuqduq dengan penunggang seorang Syarifah yang dihelat tahun ini di desa Pambusuang, kec. Balanipa, kab. Polman, Sulawesi barat (Foto : Wawan Rukman)
    Tradisi yang masih terus dilestarikan di suku Mandar ini akan menghadirkan parade kuda yang menari mengikuti rentak rebana, arak-arakan keliling kampung untuk mereka yang telah mengkhatamkan Al Qur'an. Pemuda atau pemudi yang mengenakan pakaian gaya arab, laki-laki mirip dengan kostum arab dengan gamis panjang Thawb dan penggunaan Kefiyeh, sementara perempuan akan mengenakan kerudung, biasa disebut Baqdawara. Biasanya seekor kuda ditunggangi oleh dua orang, satunya di bagian belakang menggunakan kostum budaya adat Mandar. Jika pasangan di bagian depan adalah orang dewasa, biasanya dibelakangnya duduk anak-anak atau remaja. 

    tradisi messawe saeyyang pattuqduq mandar
    Tradisi Messawe Saeyyang Pattuqduq dengan penunggang seorang Syarifah yang dihelat tahun ini di desa Pambusuang, kec. Balanipa, kab. Polman, Sulawesi barat (Foto : Wawan Rukman)
    Saat rebana ditabuh maka sang kuda dan beberapa pesarung (yang memegangi penunggang kuda) akan menjaga agar penunggang kuda tidak jatuh. Mereka  akan diarak di sepanjang jalur-jalur jalan dusun hingga pinggiran desa, tidak jarang kegiatan ini masuk kel jalur-jalur utama jalan provinsi, yang membuat kemacetan panjang, seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu di daerah Galung Tulu, kec. Balanipa kab. Polman, rusa jalan lumpuh selama beberapa jam.

    Dahulu kegiatan ini tidak begitu ramai, namun karena messawe saeyyang pattuqduq seolah-olah bergeser menjadi pertunjukan yang tampaknya menjadi ajang adu gengsi antara kampung dan desa maka kemudian setia dusun dan desa seolah bertarung menghadirkan jumlah pessawe dan saeyyang pattuqduq dalam jumlah banyak. 

    Walau ada sedikit pergeseran nilai dari awal maksud pelaksanaan ritual khataman Al Quran ini, namun dari sisi tinjauan atraksi wisata messawe saeyyang pattuqduq  sangat menarik bagi para pelancong atau pendatang dari luar daerah. 

    Kontributor :
    Foto : Wawan Rukman
    Teks : Muhammad Tom Andari

    ,

    Kearifan lokal Mandar yang juga masih bertahan di Sulawesi Barat adalah kegiatan "marriqdiq popupuang "  yaitu membuat lauk dari bahan ikan untuk acara/kenduri besar.

    marriqdiq popupuang mandar sulawesi barat
    Kegiatan Mariqdiq Popupuang di Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Wawan Rukman)
    Di kota yang agak besar, seperti di pusat ibukota kabupaten di Sulawesi Barat, pupuq tinggal dibeli di penjual atau di pasar, di kampung-kampung tradisonal Mandar, pupuq masih dibuat dengan cara gotong royong, maka kaum pemuda atau lelaki dewasa biasanya  akan berkumpul untuk menumbuk bahan ikan dalam lesung dengan alu.

    Kegiatan ini menghadirkan dominan kaum laki-laki dengan sisi maskulin mereka yang diharapkan mampu menghancurkan bentuk ikan menjadi lebih halus dan dicampur dengan bumbu dapur sehingga dapat dibentuk menjadi geometri segitiga pupuq. Para pemuda ini tentu saja diganjar oleh empunya rumah dengan jamuan kopi, penganan tradisional, dan tentu saja beberapa bungkus rokok yang biasanya disiapkan dalam wadah piring kecil. 

    Kontributor :
    Teks : Muhammad Tom Andari
    Foto :Wawan Rukman

    ,

    Mappakeqdeq boyang (mendirikan rumah) bersama dengan keluarga besar di Lambanan. Meakayyang adaqtaq mipasalili litaqtaq. Lambanan adalah desa yang punya histori religi kuno di wilayah Balanip, menurut beberapa literatur sejarah, kawasan ini adalah daerah pertama yang memluk agama Islam di kerajaan Balanipa. Setelah daerah ini mengalami Islamisasi, baru kemudian daerah-daerah lain di pusat kerajaan Balanipa menyusul memeluk agama Islam. 

    Lambanan terletak di puncak bukit, dengan topografi yang ekstrim, untuk menuju desa ini harus berbelok di daerah Galung Tulu, daerah antara Waitawar, desa Tammangalle dan desa Pambusuang. Tradisi mendirikan rumah yang kental dengan budaya kekeluargaan dan gotong royong masih sangat terasa di area ini, terbukti dari  kegiatan pendirian rumah oleh salah seorang warga yang menghadirkan banyak rangkaian acara tradisi. Penghadiran makanan tradisional, pemuka agama, dan warga sekitar menjadi pemandangan yang menarik.     

    Kegiatan mendirikan rumah panggung (Mappakeqdeq Boyang) di desa Lambanan, kec. Balanipa, Kab. Polman, Sulawesi Barat (Foto : Ilham)
    Kegiatan mendirikan rumah panggung di suku Mandar di daerah Lambanan adalah satu dari kegiatan massal yang menghadirkan puluhan bahkan mungkin ratusan orang, ini adalah untuk mengangkat tiang-tiang kayu dan membuatnya berdiri kokoh. Di Mandar, Sulawesi Barat utamanya di bagian pesisir pantai biasanya kegiatan ini akan dilaksanakan setelah Jumatan, mengapa? karena pada momen ini para kaum lelaki yang banyak berprofesi sebagai nelayan akan berada di daratan, tak melaut, karena shalat Jumat adalah waktu berkumpulnya kaum lelaki, sementara kegiatan mendirikan rumah melibatkn kegiatan fisik yang menguras tenaga, karena itu mudah menandai kegiatan mendirikan rumah, biasanya dilangsungkan pada hari Jumat, setelah shalat Jumat.
    Saat kaum lelaki dan para pemuda saling bergotong royong dalam mendirikan rumah panggung (Mappakeqdeq Boyang) di desa Lambanan, kec. Balanipa, Kab. Polman, Sulawesi Barat (Foto : Ilham)
    Tradisi mendirikan rumah panggung di desa Lambanan ini, berlangsung pada Jumat, tanggal 31 Agustus 2018. 

    Kontributor :
    Teks : Ilham, Muhammad Tom Andari
    Foto : Ilham

    ,

    Mattula Bala (Tolak bala) adalah tradisi yang dilakukan saat kampung sering dilanda musibah (makarra boi lino). Kegiatan tradisi yang didalamnya terdapat nilai dan pesan permohonan untuk memberikan keamanan dan kedamaian bagi kampung. 

    Mattula Bala biasa dilakukan oleh orang-orang Sendana di kabupaten Majene dan di daerah-daerah lainnya dimana populasi orang Mandar bermukim.

    Kegiatan mattula bala yang dilakukan oleh orang Mandar di Sendana, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Indra Ariana)
    Adapun yang biasa disiapkan seperti ode-ode, banno/batte, taqbu sala, daun atawan (yang mengapung diair)+ air. Adapun taqbu sala, daun atawan setelah dilakukan do'a bersama diikat di atas pintu (ventilasi)

    onde onde mattula bala tradisi mandar
    Ode-Ode (Onde-Onde) yang biasanya akan disiapkan dalam kegiatan tradisi mattula bala (Foto : Indra Ariana)
    Rangkaian kegiatan tradisi yang berlangsung secara turun temurun yang merupakan bukti kekuatan warisan kebudayaan yang kuat di Sulawesi Barat.

    Kontributor :
    Teks : Indra Ariana
    Foto : Indra Ariana

    , , ,

    Roppo atau yang dikenali dengan nama Rumpon, adalah tinggalan budaya bahari original suku Mandar, alat tangkap ikan tradisional yang jadi jejak kebesaran orang-orang Mandar dalam memburu ikan di laut lepas. Teknologi  roppo adalah metode penangkapan ikan yang ramah terhadap lingkungan yang saat ini dikenal luas di beberapa negara. 


    Roppo dikenal sebagai alat tangkap ikan yang pertama kali dikembangkan oleh suku Mandar. Disebutkan dalam buku "Orang Mandar Orang Laut : Kebudayaan Bahari Mandar mengarungi gelombang perubahan zaman" karya Muhammad Ridwan Alimuddin bahwa roppo berkembang sebagai jalan atas kesulitan tanah pertanian yang subur yang dimiliki suku Mandar, hal ini yang kemudian mendorong orang-orang suku Mandar mencoba peruntungan dengan mengais rezeki dari berkah di laut, menangkap ikan di hadapan laut dengan kedalaman dari 100 meter hingga 2000 meter. 

    Teknologi Roppo kini banyak ditemukan di sepanjang perairan kepulauan Sulawesi, ada ragam aturan menarik tentang Roppo yang menjadi aturan tak tertulis diantara nelayan-nelayan Mandar, diantaranya jarak Roppo tidak boleh terlalu dekat karena potensi saling kait yang dimiliki bagian roppo yang ada didasar, pun jika saling terkait maka pemilik roppo pertama diberi hak istimewa untuk menentukan, pemasang roppo pertama punya hak menentukan pemasangan roppo berikutnya, serta boleh memanfaatkan roppo nelayan lain untuk singgah, atau mengambil ikan dalam jumlah kecil atau sebelumnya dengan izin pemilik roppo dan atau memberi hasil tangkapan ikan ke pemilik Roppo.

    Teknologi roppo juga dikenali di Banggae, kabupaten Majene, Sulawesi Barat. nelayan di sepanjang Pantai Pacitan (Pangali-ali, Cilallang, dan Tanangan) adalah pelaku dan pembuat teknologi penangkapan sederhana ini. Seperti yang ditunjukkan oleh dokumentasi pembuatan roppo dibawah ini. Roppo dibuat dari tautan bambu mirip rakit yang nantinya akan diapungkan dilaut lepas Banggae.


    Dasar roppo biasanya digunakan jalinan batu sebagai jangkar yang akan menahan agar roppo tidak hanyut.  Batu diambil di daerah Kalasa, lokasi tambang batu di Majene yang terletak di daerah Mangge Kel. Totoli, Kedalaman Roppo nelayan Pangali-ali diperkirakan berada pada 700 meter hingga 1200 meter dari permukaan laut. 

    Roppo inilah yang kemudian akn dikunjungi secara rutin oleh nelayan untuk mengecek apakah terdapat ikan yang ada di bawah roppo, ikan-ikan ini bisa diperoleh dengan dijalan. 

    Sumber : 
    1. Alimuddin, MR. Hukum Laut di Mandar: Aturang Parroppongang. https://www.slideshare.net/ridwanmandar/hukum-laut-di-mandar-aturang-parroppongang 
    2. Alimuddin, MR. 2005. Orang Mandar Orang Laut : Kebudayaan Bahari Mandar mengarungi gelombang perubahan zaman.  

    Kontributor :
    Foto : Milad Maulana
    Teks : Milad Maulana, Muhammad Tom Andari

    ,

    Pertunjukan koayang, atau pakkoa-koayang (lucu dan sangat menghibur), biasanya dipadukan dengan tabuhan rebana sebagai hiburan. Pertunjukan ini mungkin banyak yang tak tahu dan belum pernah menyaksikannya. Dari apa yang saya saksikan, saya tak percaya jika Anda tak tertawa terbahak bahak jika menyaksikan kelucuan mereka.

    Pertunukan Koayang yang ditampilkan oleh grup rebana di dusun Sumael dibarengi dengan cerita oleh lawan main pakkoayang yang disebut pattemba koayang. Bukan saja para koayang yang bergerak sendiri tapi ada lawan main pakkoayang yang disertai dengan guyonan dari awal hingga akhir pertunjukan. Biasanya tampil terlebih dahulu dengan koayang yang seakan terbang dan sesekali mencoba mematuk penonton.. setelah itu datanglah pattemba koayang dengan menunggang banyal guling (missawe) disertai dengan kayu sebagai senjata.. Masing-masing bergerak sesuka mereka dan dilanjut dengan guyonan lucu dan koayang ditembak. Setelah tertembak kemudian koayang tumbang dan mencoba dihidupkan kembali. (dari awal hingga akhir disertai komedi ). 

    Sejak saya masih anak-anak, pertunjukan ini sudah sering saya saksikan, karena kebetulan almarhum kakek seorang annangguru parrawana (pengajar rebana) dan pernah saya tanyakan bahwa memang sejak dahulu pertunjukan Koa-Koayang sudah ditampilkan.

    Pakkoa-koayang sudah hampir punah, dalam grup binaan rebana kakek saya bahkan sudah jarang juga ditampilkam, namun saat ada acara pernikahan atau khatam Al Qur'an dirumah kami, sajian Koa-Koayang tidak pernah absen dihadirkan. 

    tarian koayang sumael desa samasundu polman
    Atraksi Koayang di dusun Sumael, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)
    Koayang atau yang biasa disebut dengan Koa-Koayang terinspirasi dari sejenis burung  bernama Koa yang saat ini sudah jarang ditemukan. Dari burung Koa pertunjukan ini lahir, sehingga bagian kostum penarinya pada bagian atas menyerupai burung dengan paruh yang panjang.

    Menurut seorang anggota Teater Flamboyan Zulkifli Muhammad Siddiq Koa-koayang adalah genre pertunjukan rakyat, sama seperti ludruk dan ketoprak di pulau Jawa. Ditambahkan pula oleh Pendiri Uwakeq Culture Foundation, Muhammad Rahmat bahwa Koayang bukan merupakan tarian, ia dapat disebut tarian ketika lakon koayang ditarikan.


    tarian koayang sumael samsundu polewali mandar
    Prosesi pertunjukan Koayang di dusun Sumael, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)
    tarian koayang sumael samsundu polman
    Prosesi pertunjukan Koayang di dusun Sumel, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)

    tarian koayang sumael
    Prosesi pertunjukan Koayang di dusun Sumael, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)
    Sanggar seni Teater Ampat (Ammana Pattolawali) dari kab. Majene  pada tahun 2007  juga pernah membawakan pertunjukan ini di Jakarta, seperti dijelaskan oleh Sahari Ari. Jenis pertunjukan ini dahulu juga pernah dibawakan oleh Teater Flamboyant asal Tinambung, kab. Polman dalam pementasan pada tahun 1999 di IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, seperti yang dijelaskan oleh Abed Mubarak dari Teater Flamboyan.
     
    pertynjukan-koa-koayang-mandar-jogja
    Pertunjukan Koa-Koayang Teater Flamboyan tahun 1999 di IAIN Sunn Kalijaga Jogjakarta (Foto : Zulkifli Muhammad Siddiq)


    Pemain Pertunjukan Koa-Koayang Teater Flamboyan tahun 1999 di IAIN Sunn Kalijaga Jogjakarta (Foto : Muhammad Rahmat)
    Hanya sayang pertunjukan ini termasuk jarang dilakukan. Lokasi pertunjukan Koayang baru-baru ini dilaksanakan di kediaman kepala dusun Sumael, desa Samasundu, kecamatan Limboro, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat oleh grup rebana perpaduan dari 4 Grup (Binaan Alm. ABD. RAHMAN (Puaq Sipa'). 

    Kontributor : 
    Teks : Ahmad Basir
    Foto : Ahmad Basir, Muhammad Rahmat, Zulkifli Muhammad Siddiq

    ,

    Biasanya ada dua istilah untuk soal seni bela  diri di suku Mandar, jika bukan Kottau maka istilah yang sering disebut adalah Maccaq, pelakunya disebut Pakkottau dan Pamaccaq, keduanya istilah yang diasosiasikan pada kegiatan olah fisik dengan gerakan-gerakan bela diri dan duel antara dua petarung. 

    Pakkottau lebih keras dibandingkan dengan Pamaccaq, Pamaccaq lebih banyak menggunakan gerakan tangan, ia lebih banyak dan dekat dengan gerakan tarian untuk pertunjukan, sementara Pakkottau lebih pada duel, walau keduanya sering dipertunjukkan pada acara-acara atau kenduri di masyarakat suku Mandar.

    Seperti yang beberapa lalu tampak di salah satu desa di kec. Balanipa, tepatnya di desa Bala, tak jauh dari Pantai wisata Palippis, pertunjukan silat atau Pakkottau kembali tampak dan dipilih sebagai alternatif hiburan untuk warga sekitar, bersanding dengan hiburan jenis electone yang disediakan oleh sang pemilik hajat. Pakkottau masih dipilih sebagai media hiburan yang menarik bagi sang empunya hajat, ada sajian tradisi yang menarik, terutama dari gerakan bela dirinya dan keseruan saat dua petarung sedang duel di arena tanding beralaskan karpet motif modern.

    pakkottau mandar
    Pertunjukan Pakkottau dari perguruan silat di desa Bala, kec. Balanipa, kab. Polewali Mandar (Foto : Andi Saribulan Al Qarim)
    Untuk kostum yang digunakan biasanya tergantung dari pelaku Pakkottau, jika berasal dari perguruan/ padepokan silat tertentu maka akan menggunakan kostum khusus sendiri. Namun jika tidak biasanya akan menggunakan sarung dan kopiah saja untuk kostum pelengkap sebelum bertarung.

    gerakan pakkottau mandar
    Gerakan Pakkottau dari perguruan silat di desa Bala, kec. Balanipa, kab. Polewali Mandar (Foto : Andi Saribulan Al Qarim)
    gerakan pakkottau mandar balanipa
    Gerakan Pakkottau dari perguruan silat di desa Bala, kec. Balanipa, kab. Polewali Mandar (Foto : Andi Saribulan Al Qarim)
    Setiap pertunjukan Pakkotau selalu akan diiringi dengan tabuhan gendang khusus berukuran kecil, mirip dengan Tifa, alat musik dari Timur Indonesia, tabuhan gendang untuk Pakkotau punya rentak khusus, beda dengan ketukan untuk tarian. Irama gendang ini yang menambah keseruan pertunjukan pertarungan Pakkottau.
     
    gendang pakkottau mandar
    Iringan gendang Pakkottau dari perguruan silat di desa Bala, kec. Balanipa, kab. Polewali Mandar (Foto : Andi Saribulan Al Qarim)
    Pakkottau saat ini masih dipilih oleh beberapa orang untuk menjadi alternatif hiburan, walau jumlahnya berkurang jika dibandingkan dengan  masa lalu yang masih lebih mudah menemukan Pakkottau dipertunjukan dalam setiap acara pernikahan dan kenduri lainnya. Tradisi Pakkottau masih hidup dan lestari di kantong-kantong wilayah suku Mandar. Bagian pertunjukan ini biasanya banyak dilakoni oleh mereka para pelaut dan nelayan, dan setiap pertunjukan ini akan mendapatkan upah/bayaran dari sang empunya hajat.

    Kontributor : 
    Teks : Muhammad Tom Andari, Andi Saribulan Al Qarim
    Foto : Andi Saribulan Al Qarim

    ,

    PPL (Pappalele), distributor pertama ikan sebelum dijual ke pasar. Biasanya setiap pagi jam 07.00-09.00 di pantai dusun Babatoa, desa Lapeo, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat dipenuhi para Pappalele yang menunggu nelayan-nelayan Mandar yang membawa ikan dalam jumlah yg banyak. Ikan yang ditangkap oleh nelayan akan diambil oleh pappalele dan dilanjutkan untuk dijual ke pasar.

    Profesi pappalele biasanya didominasi oleh ibu-ibu yang membawa wadah seperti ember atau wadah plastik untuk mengangkut ikan.
    aktivitas pappalele di pantai lapeo campalagian
    Aktivitas pappalele yang melakukan pemilihan ikan yang akan dibeli dari nelayan di Pantai Babatoa, desa Lapeo, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    pappalele pantai lapeo campalagian
    Aktivitas pappalele yang melakukan pemilihan ikan yang akan dibeli dari nelayan di Pantai Babatoa, desa Lapeo, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    Pappalele mengambil ikan langsung dari nelayan tentunya setelah kelompok nelayan membagi hasil tangkapan mereka dalam tim. Ikan hasil tangkapan nelayan tidak seluruhnya dijual ke Pappalele, mereka punya sistem pembagian hasil tangkapan diantara para nelayan sebelum dijual ke Pappalele.

    aktivitas pappalele pantai lapeo campalagian
    Aktivitas bongkar muat ikan  nelayan Mandar sebelum diambil oleh Pappalele di Pantai Babatoa, desa Lapeo, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    pappalele di pantai lapeo campalagian
    Seorang ibu yang berprofesi sebagai pappalele di Pantai Babatoa, desa Lapeo, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    Pappalele berfungsi sebagai jembatan penghubung antara produsen dan konsumen ikan, biasanya mereka akan menaikkan sedikit harga dari harga asli yang didapatkan dari para nelayan, lalu dijual di pasar yang terdekat misalnya di Pasar Campalagian.

    Selain dibawa ke pasar, sebagian Pappalele yang didominasi oleh kalangan ibu-ibu tua ini juga memilih jalan yang lebih mudah untuk menjual ikan ikannya, yaitu berjualan keliling kampung.

    Kontributor :
    Teks : Muhammad Putra Ardiansyah
    Foto : Muhammad Putra Ardiansyah

    ,

    Perahu tradisional Baqgo mulai tampak di pinggiran pantai Lapeo, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (24/03/2017), ini adalah kendaraan para PNS (Panesser) atau yang umum dikenal sebagai perahu pemburu ikan penja, ikan kecil yang jadi idaman pecinta kuliner di Sulawesi Barat. 

    perahu baqgoq pemburu ikan penja
    Armada Panesser di tepian pantai Lapeo, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    Baqgo adalah perahu tradisional Mandar dengan bodi "gemuk" yang digunakan untuk berburu penja di pesisir pantai Lapeo, Campalagian, dari tepian pesisir hingga ke mulut muara sungai-sungai kecil di antara Pappang dan Lapeo. Sesuai dengan lokasi ikan penja yang biasa ditemukan di tepi pantai atau muara-muara sungai. Muara sungai di kec. Tinambung, kab. Polewali Mandar juga adalah lokasi para pemburu ikan penja biasanya beraksi.

    perahu baqgoq pemburu ikan penja pantai lapeo
    Armada perahu Baqgo di tepian pantai Lapeo, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    Baqgo memiliki kelebihan sebagai kendaraan yang dapat masuk ke muara sungai dan lebih jauh kedalam bagian sungai, ia dapat berlabuh di bagian manapun di tepian sungai, karena ia tak butuh permukaan air yang dalam, karena itu ia digunakan oleh para Panesser untuk berburu ikan penja. 

    Bulang mate (matinya bulan) adalah waktu dimana ikan penja muncul dan diburu oleh para nelayan, saat bulan tak nampak maka biasanya ikan ini akan muncul, disaat itulah nelayan Mandar berburu ikan yang lezat ini.

    Kontributor :
    Teks : Muhammad Putra Ardiansyah
    Foto : Muhammad Putra Ardiansyah

    , ,

    "Towaine Mandar manarang manette mappapia lipaq saqbe mandar" Salah satu lirik dalam lagu daerah Mandar, yang berjudul "Towaine Mandar". Jika berpatokan pada lagu ini maka "Naissappai manetteq mane mala disanga towaine mandar" nanti ia tahu menenun sutera Mandar barulah dapat dikatakan ia perempuan suku Mandar. Jika berdasar pada ungkapan diatas mak akan sangat berat menemukan kategori "perempuan Mandar" dan kategori ini  akan sulit ditemukan di perkotaan, hanya ada di desa dan kampung-kampung saja. 

    Kegiatan menenun sarung sutera di suku Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)
    Saat ini pekerjaan menenun bagi perempuan Mandar sebagian besar dilakoni oleh gadis muda, atau wanita paruh baya, hingga orang tua di kampung-kampung, saat mengisi kegiatan senggang di waktu siang atau sore hari pekerjaan in kadang dilakukan. Menenun bagi perempuan di pesisir dilakukan saat suami-suami  mereka pergi melaut, sama dengan yang terjadi di bagian pegunungan, menenun juga dilakukan saat para suami wanita sedang pergi bertani atau berkebun.

    Kegiatan menenun sarung sutera Mandar perlahan tergerus oleh produk-produk sarung hasil pabrikan yang menawarkan harga murah dengan kualitas yang lebih baik. Namun posisi sarung sutera Mandar sebagai salah satu perangkat saat terdapat acara budaya misalnya kematian, pernikahan, kenduri, atau selamatan menyelamatkan posisi sarung sutera Mandar. 

    Kegiatan menenun sarung sutera yang dilakukan oleh perempuan di suku Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)
    Sekilas mengenal nama-nama alat tenun tradisional di Suku Mandar, dibawah ini adalah bagian dari alat tenun
    1.  "Toraq"

    Toraq, alat tenun tradisional suku Mandar, Sulawesi Barat (Fot : Ahmad Basir)
    2. Pappamalingang, yaitu alat serupa lidi yang digunakan untuk melilitkan benang  dan digunakan untuk memindahkan benang

    Pappamalingang, alat tenun tradisional suku Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)
    3. Pallossorang
    Pallossorang, alat tenun tradisional suku Mandar, Sulawesi Barat (Fot : Ahmad Basir
    4. Air panasi, yang dahulu dikenal dengan aroma tak sedap

    Air Panasi, bahan  tenun tradisional suku Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)
    Kontributor :
    Teks : Ahmad Basir, Muhammad Tom Andari
    Foto : Ahmad Basir

    ,

    Proses pembangunan rumah panggung masyarakat Mandar, di dusun Sumael, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, ini dapat terlihat dari pembangunan rumah panggung milik kepala dusun Sumael, Ahmad Basir (15/01/2017)

    ule ule tradisi pendirian rumah panggung suku mandar
    Uleq-uleq, cemilan utama yang harus ada saat tradisi pendirian rumah panggung di suku Mandar (Foto : Ahmad Basir)
    tradisi pendirian rumah panggung suku mandar
    Rumah panggung suku Mandar milik kepala dusun Sumael, Ahmad Basir (Foto : Ahmad Basir)
    Budaya gotong royong masih jelas terlihat di dusun Sumael, mulai dari proses perobohan, hingga pendirian ulang rumah kepala Dusun banyak dibantu oleh tetangga, dan warga dusun lain yang lokasinya tak jauh dari Sumael, masih dalam wilayah satu desa yaitu desa Samasundu. Mulai dari warga Kambajawa, Samasundu 1 dan Samasundu 2 semua bersatu membantu pendirian rangka rumah panggung yang baru.

    Kegiatan pendirian rumah panggung di suku Mandar adalah hal yang menarik, karena dibantu oleh masyarakat sekitar maka sang empunya rumah wajib menyediakan sajian khas tradisi yang akan menemani kegiatan berat yang hanya dilakoni oleh para pemuda ini. Dari sajian pisang beragam jenis, songkol, golla kambu yang diletakkan diatas nampan besar.

    pambaca tradisi pendirian rumah panggung suku mandar
    Hidangan  yang selalu ada saat kegiatan bernilai tradisi di suku Mandar (Foto : Ahmad Basir)
    pambaca tradisi pendirian rumah panggung suku mandar
    Hidangan  yang selalu ada saat kegiatan bernilai tradisi di suku Mandar (Foto : Ahmad Basir)
    Dan ada satu kuliner wajib yang harus hadir yaitu bubur kacang hijau dengan campuran gula aren, ini yang harus selalu ada dalam setiap acara tradisi pendirian rumah panggung. Dari dasar kata uleq-uleq (berarti ikut-ikut dalam bahasa lokal suku Mandar) yang bermakna diharapkan rezeki dan keselamatan selalu hadir dalam kegiatan yang dilaksanakan terutama untuk berkah pada rumah yang baru saja didirikan.

    pambaca tradisi pendirian rumah panggung suku mandar
    Hidangan  yang selalu ada saat kegiatan bernilai tradisi di suku Mandar (Foto : Ahmad Basir)
    Kontributor :
    Teks : Ahmad Basir, Muhammad Tom Andari
    Foto : Ahmad Basir

    ,

    Kurang lebih 15 tahun lamanya, air dari lembang Kallo (sungai kecil) ini yang ada di Desa Napo Kec. Limboro jadi penyuplai utama kebutuhan air warga untuk Dusun Sumael Desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, bahkan bisa dikata satu-satunya harapan masyarakat dalam penggunaan air sehari-hari, yang dialirkan kurang lebih 4,5 Km. 

    Kegiatan gotong royong warga dusun Sumael, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat, merawat Lembang Kallo (Foto : Ahmad Basir)
    Sebelumnya dusun Sumael sangatlah kekurangan air, demi untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari masyarakat Sumael harus berjalan kaki ke Sungai Mandar (Uwai Mandar) yang berjarak kurang lebih 2 Km (4 Km/PP) di wilayah kelurahan Limboro. Bisa juga ke Passauwang Kayyang (Sumur besar/ Atau lebih dikenal dengan Sumur Jodoh di Samasundu yang berjarak 1,5 Km (sudah pulang pergi) dengan jarak tempuh 1 jam.

    Lembang Kallo yang terletak di wilayah desa Napo, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ahmad Basir)
    Tetapi sekarang setiap bagian depan rumah warga dusun Sumael sudah tersedia keran air, bahkan ada dalam rumah penduduk. Airnya tak henti mengalir dalam 24 jam, sampai harus terbuang percuma, karena bak penampungan telah penuh. 

    Kegiatan gotong royong warga dusun Sumael, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat, merawat Lembang Kallo (Foto : Ahmad Basir)
    Untuk biaya perawatannya kami pengelola di Dusun setempat, menanggungkan beban kepada setiap warga sebanyak Rp. 2000/rumah dalam setiap bulannya, masih sangat murah untuk kuantitas air yang tidak ada batasnya.
    Kegiatan gotong royong warga dusun Sumael, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat, merawat Lembang Kallo (Foto : Ahmad Basir)
    Untuk perawatanny dalam dua bulan sekali biasanya masyarakat secara sukarela membersihkan tanggul air di Lembang Kallo, biasa juga 2-3 kali dalam sebulan jika ada hal penting yang harus sesegera mungkin di ditindaki baik itu perbaikan atau perawatan tanggul dan pipa penyaluran.  

    Kegiatan gotong royong warga dusun Sumael, desa Samasundu, kec. Limboro, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat, merawat Lembang Kallo (Foto : Ahmad Basir)
    Seperti hari ini (19/03/2017). Setiap satu rumah di dusun Sumael harus punya perwakilan seorang pemuda untuk turun tangan dalam kegiatan gotong royong, yang tidak punya pemuda dalam keluarganya akan memberikan rokok sebagai bekal bagi si pekerja sukarela nantinya.

    Kontributor :
    Teks : Ahmad Basir
    Foto : Ahmd Basir

    Penja, ikan ukuran mini yang akan Anda temukan di sepanjang perairan selat Makassar, daerah Sulawesi Barat hingga Gorontalo, jenis ikan ini masih bisa ditemukan. Ikan penja menjadi favorit bagi masyarakat Mandar, Sulawesi Barat, termasuk dalam kategori top kuliner yang selalu dirindukan, mengapa? karena masa kemunculannya yang singkat, hanya ada di akhir pergantian bulan. Orang-orang Mandar menandai waktu hadirnya ikan ini saat "Bulang Mate" atau (bulan mati) ini adalah waktu dimana bulan hilang dan jelang hadirnya bulan baru (pergantian bulan) masanya singkat hanya sekitar 3-5 hari. 

    Pantai Lapeo di dusun Babatoa, desa Lapeo, kec. Campalagian, kab. Polewali Mandar salah satu tempat dimana nelayan lokal setiap bulannya berburu ikan kecil ini, dari pesisir pantai hingga ke arah muara sungai kecil, mereka bergerak mencari ikan-ikan kecil ini. 

    perahu baqgoq di pantai lapeo campalagian
    Perahu Baqgoq di lepas pesisir pantai Lapeo, kec. Campalagian (Foto : Wahyudi Saputra)
    Dengan menggunakan perahu tradisional Mandar jenis Baqgoq mereka bertolak dari pantai hingga ke muara, muara sungai adalah tempat favorit ikan penja untuk berenang dan berkumpul. Untuk mendapatkan ikan dalam jumlah banyak digunakan jaring berukuran besar. 
    nelayan babatoa papanambe ikan penja
    Nelayan Babatoa, setelah melaut Papanambe (menangkap ikan penja) memarkir perahu di pantai Lapeo (Foto : Wahyudi Saputra)
    Kegiatan ini dalam bahas lokal biasa disebut dengan isitilah (Pappanambe) kegiatan menangkap ikan penja. Di kecamatan Malunda kab. Majene kegiatan Panambe  juga biasa dilakukan utamanya di dusun Pao-Pao, namun jenis ikannya bukan ikan penja, tetapi jenis ikan lain, Panambe teknik menangkap ikan menggunakan jaring besar dengan menggunakan dua kapal motor ukuran sedang.
    nelayan lokal mendorong perahu baqgoq di pantai lapeo
    Nelayan lokal mendorong perahu Baqgoq setelah menangkap ikan penja nelayan lokal mendorong perahu baqgoq di pantai lapeo (Foto : Wahyudi Saputra)
    Nilai ekonomi ikan penja cukup baik, lagi-lagi karena kemunculannya yang jarang maka harganya cukup tinggi di pasaran lokal, bahkan untuk menjaganya tetap ada, ikan ini diasinkan, diawetkan agar dapat dinikmati lebih lama, dan sewaktu-waktu dapat diolah di dapur para ibu rumah tangga.

    Kontributor :
    Gambar : Wahyudi Saputra
    Teks : Muhammad Tom Andari

    , ,

    Pohon waru, orang Mandar menyebutnya lambagu (baca: lambag[h']u), tangkai lunak yang ada di pangkal daunnya (dulu) digunakan oleh orang Mandar untuk mengkritingkan rambut. Pohon waru banyak ditemukan tumbuh di tepi sungai.
    khasiat pohon waru mandar
    ujung tangkai daun pohon waru (Foto : Dahri Dahlan)
    Caranya, ambil tangkai lunak tersebut, buang daunnya, lalu belah batangnya menjadi dua bagian, tetapi tidak sampai terpisah. Ambil bagian rambut yang mau dikriting, masukkan ujung rambutnya ke dalam tangkai yang sudah dibelah tadi, rapikan dan gulung sampai ke pangkal rambut, atau sampai pada bagian yang ingin dikriting. Jika sudah digulung, simpulkan ujung tangkai lunak tadi. Diamkan seharian lalu dibuka, rambutmu akan kriting. Selamat mencoba.

    Kontributor : Dahri Dahlan

    , , ,

    Kabupaten Majene baru saja memperingati hari jadinya, peristiwa tersebut dijadikan momentum bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Salah satu even menarik yang dilaksanakan oleh pihak panitia adalah pawai budaya, dan dalam kegiatan ini hadir beberapa tinggalan budaya khas Mandar, suku yang menghuni sebagian besar kabupaten Majene. Suku Mandar memiliki tinggalan budaya berupa sarung berbahan sutera, yang diolah dari ulat sutera, dijadikan benang, lalu ditenun menjadi sebuah sarung yang dapat digunakan sebagai kostum untuk upacara-upacara tradisi. Tinggalan budaya ini yang kemudian ditampilkan saat pawai beberapa waktu yang lalu. 

    Dalam pawai budaya ini di salah satu titik terdapat beberapa motif aarung sutera yang dipamerkan, ada begitu banyak sureq, menariknya adalah untuk tiap-tiap sarung sutera dilengkapi dengan identitas nama masing-masing sureq. Sureq adalah motif sarung sutera yang membedakannya dengan sarung yang lain, penamaannya biasa mengikuti trend yang sedang berlangsung saat sarung ditenun. Namun, di suku Mandar terdapat dua macam sureq asli atau dapat dikatakan sureq tradisional, keduanya adalah sureq padzadza dan sureq salaka. Keduanya adalah sureq "klasik" yang sangat populer dan pasti dikenali oleh para pemerhati sarung sutera. 

    Berikut ini adalah beberapa sureq yang ditampilkan dalam pawai budaya yang berlangsung di Majene baru-baru ini :
    1. Sureq Puang Lembang
    2. Sureq Datuk
    3. Sureq Jangan Jangan
    4. Sureq Lowang
    5. Sureq Taqbu-Taqbu
    6. Sureq Cubit-Cubitan
    7. Sureq Maraqdia
    8. Sureq Salaka
    9. Sureq Batu Darim
    10. Sureq Kapala Daerah
    11. Sureq Parara Kos
    sureq sarung sutera mandar
    Sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti)
    Satu yang paling menarik dari nama sureq ini adalah adanya nama "Sureq Cubit-Cubitan" nama yang mungkin jauh dari budaya Mandar namun, penamaan sureq biasanya adalah sesuai dengan trend yang berlaku pada masa itu, kadang juga penamaan sureq biasanya mengikut pada momen atau kegiatan besar yang sedang berlangsung, atau ada peristiwa yang sedang mewabah, maka kemudian nama sureq akan disesuaikan. 

    nama sureq sarung sutera mandar
    Ragam sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti)
    Nama sureq Salaka adalah satu dari dua sureq utama untuk sarung sutera Mandar, sureq ini biasanya digunakan oleh para warga untuk mendatangi momen kematian, motifnya yang didominasi hitam mewakili keadaan berkabung. 

    Selain itu sureq Parara (Padzadza)  juga adalah sureq utama dengan ciri khas berwarna merah, dalam pawai budaya ini ditampilkan modifikasi sureq padzadza yaitu sureq Padzadza kos.

    daftar nama sureq sarung sutera mandar
    Aneka sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti)
    Sarung sutera menjadi tinggalan megah yang hampir dimiliki oleh suku-suku di Sulawesi Selatan dan Barat, merupakan budaya tradisional yang dilakoni oleh kaum perempuan yang mengajarkan kesabaran dan ketelatenan menjalin untaian benang, merapatkan jalinannya hingga menjadi sebuah sarung yang memiliki nilai lebih.

    Kontributor : Desy Yanti

    , ,


    Beginilah kegiatan saya bersama keponakan yang ganteng, ketika awal memasuki bulan Ramadhan, kami sekeluarga berramai ramai membakar beberapa Solung atau Palla-Pallang, ini adalah lilin yang terbuat dari bahan kemiri, kami membakarnya di depan rumah masing-masing setelah magrib jelang malam awal bulan Ramadhan

    Mengapa membakar Solung atau Palla-Pallang ? menurut penuturan orang tua kami, ketika membakar lilin ini di sekeliling rumah, hingga dalam rumah(disimpan di tempat yang tidak memiliki cahaya) diyakini dan dipercaya datang mengundang malaikat pembawa keberkahan dalam rumah, karena umumnya malaikat suka cahaya yang terang benderang. Ini sebuah tradisi yang tidak dapat di hilangkan dari kampung kami tercinta. 

    solung palla pallang tradisi mandar jelang ramadhan
    Tradisi membakar Solung atau Palla-Pallang di suku Mandar jelang bulan Ramadhan (Foto : Anchye Nurdin)

    Perlu kita ketahui solung atau palla-pallang digunakan untuk menyinari sebagai pelita dikala gelap dan umumnya di gunakan juga di tempat sakral seperti pada pernikahan kaum laki laki mandar, dirumah calon mempelai wanita.

    Adapun cara membuat solung atau palla-pallang ini tak yaitu dari buah kemiri yang ditumbuk bercampur kapas, setelah itu ketika halus di remas perlahan, kemudian direkatkan pada bilah bambu yang tipis

    Kontributor : Anchye Nurdin

    , , , ,

    "Pakkottau/Paqmaccaq"
    Kottau dan Maccaq adalah seni beladiri yang dapat ditemukan di wilayah Mandar, Sulawesi Barat, merupakan seni untuk mempertahankan diri yang dipertunjukkan untuk tujuan menghibur, biasanya dapat kita  lihat dalam acara syukuran , khataman, akikahan, dan acara pernikahan. Ini adalah seni pertarungan dan duel antara dua orang yang menggunakan jurus tertentu dan diiringi dengan tabuhan gendang.

    Pertunjukan seni beladiri tradisi ini biasa dilakoni oleh kaum lelaki di Sulawesi Barat yang mempelajari seni ini, biasanya di sela-sela acara atau kenduri maka pertunjukan ini bisa disaksikan, akan ada para masyarakat sekitar yang menyaksikan pertunjukan, dan pasti ada dua orang yang berduel, mungkin bisa dikatakan bermain silat tradisional. Kedua orang biasanya mengenakan pakaian biasa dengan songkok hitam dan sarung yang dililitkan di pinggang, lalu akan ada penabuh gendang beserta gong yang mengiringi pertarungan.

    pakkottau-pamaccaq-binuang-Polewali-Mandar
    Pakkottau/Pamaccaq di Buttu Teneng, Binuang, kab. Polewali Mandar (Foto : Ijhal Marrannuang)
    Pertarungan yang dilakukan tentu saja dengan jurus-jurus silat tertentu, ragam perguruan silat kampung yang menjadi sumber belajar para pemain seni tradisi ini, ada yang sifatnya dibuka untuk umum adapula yag cenderung tertutup, jenis-jenis jurusnya juga sama, hal yang kontras adalah antara kottau dan maccaq, dimana kedua aliran seni beladiri ini cukup berbeda. 

    Permainan seni tradisi ini, lestrai terutama di wilayah pesisir, namun di Binuang utamanya di wilayah pesisir Amassangan juga masih bisa disaksikan. Kaum pemuda yang telah mempelajari teknik seni beladiri ini akan menunjukkan kepiawaiannya bermain silat dan saling menyerang dan bertahan secara bergantian, tampak sederhana, namun sebenarnya punya manfaat yang sangat baik, manfaat utamanya adalah menambah kebugaran, membakar kalori, sambil mengolah tubuh dan fisik, serta hal yang paling utama adalah menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur pendahulu.

    Pakkottau Pamaccaq Di Binuang, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat
    Pakkottau Pamaccaq Di Binuang, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ijhal Marrannuang)
    Terdapat satu wilayah di kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat yaitu di Buttu Te'neng (Binuang II) Kel. Amassangan Kec. Binuang. Sisa-sisa serpihan generasi Mandar yang ada diwilayah ini masih melestarikan apa yang mereka peroleh dari generasi sebelumnya,  mencoba kembali menemukan  apa yang diajarkan pendahulunya secara turun temurun. Mereka adalah keluarga Mandar Majene yang kini hidup di kec. Binuang.

    Kontributor : Ijhal Marrannuang


Top