Ini kunjungan saya menemui Bapak Ir. Muh. Ilyas Andi Palontjongi. Beliau menuturkan mengenai Sejarah tentang ANREAPI, saat ini dikenal dengan wilayah dalam kec. Anreapi, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat dimana Anreapi berarti (dimakan api) dalam bahasa lokal,  peristiwa tersebut dilatarbelakangi oleh sifat keangkuhan dari 6 Tomakaka. Ke-6 Tomakaka tersebut ialah :
     
    1. Tomakaka Pappandangan
    2. Tomakaka Kunyi
    3. Tomakaka Pokko
     
    Ketiga Tomakaka ini digelar "Tallu Madilappa" (Tiga Didaratan).
    4. Tomakaka Sepang
    5. Tomakaka Messawa
    6. Tomakaka Suppirang
    Ketiga Tomakaka ini digelar "Tallu Maqdibulu" ( Tiga di gunung).
     
    Ke enam Tomakaka ini memiliki daerah Otonom dalam artian mereka mengelola sendiri sistem Pemerintahan tanpa ada campur tangan dari "Baqbana Binanga" dan "Ulunna Salu". Saking sombongnya dan merasa kuat, setiap perwakilan kerajaan yang menemui mereka untuk diajak bekerja sama selalu mereka tolak. Mereka selalu mengucapkan "KEDENGANMI TONDOLANGAKKU, MIKKITA PAQ LANGNGANG LANGIQ" yang artinya "Nanti ada Tuanku manakala saya menoleh ke langit". Peristiwa itulah yang dijadikan pemicu penyerangan Kerajaan Bone ke daerah kekuasaan 6 Tomakaka tersebut, pada saat terjadi peperangan antara BONE melawan 6 Tomakaka, yang menjadi Panglima Perang dari Tallu Maqdilappa dan Tallu Maqdibulu adalah Tandibiring. Ialah pemimpin perang melawan kerajaan Bone. Namun, karena kalah strategi perang dan jumlah pasukan akhirnya daerah dari ke-6 Tomakaka tersebut berhasil dikuasai oleh Kerajaan Bone maka dibumi hanguskanlah daerah kekuasaan 6 Tomakaka dan digelarlah "Anreapinna Bone". Setelah perang usai posisi Tallu Maqdilappa dan Tallu Maqdibulu berubah menjadi "SULLURANG". Sullurang ialah penghubung antara Pitu Baqbana binanga dan Pitu Ulunna Salu. Pasca Penyerangan Bone ke Anreapi, Kerajaan Binuang belum terbentuk.

    sejarah anreapi ilyas andi palontjongi
    Penulis bersama dengan Ir Ilyas Andi Palontjongi yang menjelaskan sekilas tentang sejarah Anreapi (Foto : Rajab Ashari)
    Selain tentang Sejarah penyerangan Anreapi, bapak Ir. Ilyas Andi Palontjongi juga menceritakan mengenai Paqbicara Bulang yang merupakan Hadat dalam struktur Kerajaan Binuang. Beliau mengatakan bahwa Tugas Paqbicara Bulang ialah menyelesaikan perkara yang ada dalam Kerajaan Binuang atau fungsinya sama dengan Hakim. Salah satu Hadat yang menjabat sebagai Paqbicara Bulang adalah Kakek beliau bernama Andi Palontjongi. Beliau juga mempersilakan anggota KDM untuk meliput barang-barang peninggalan kakek beliau berupa 2 buah keris dan tombak. Pada keris yang besar dengan 47 lekukan, Puluq (kepala keris) terbuat dari Gading Gajah.

    sejarah anreapi ilyas andi palontjongi keris pusaka
    Keris peninggalan koleksi Ilyas Andi Palontjongi dari Andi Palontjongi (Foto : Rajab Ashari)

    sejarah anreapi ilyas andi palontjongi keris pusaka
    Keris peninggalan koleksi Ilyas Andi Palontjongi dari Andi Palontjongi dengan 47 lekukan dan hulu dari gading gajah (Foto : Rajab Ashari)

    sejarah anreapi ilyas andi palontjongi tombak pusaka
    Tombak  peninggalan koleksi Ilyas Andi Palontjongi dari Andi Palontjongi (Foto : Rajab Ashari)

    Kontributor :
    Teks : Rajab Ashari
    Foto : Rajab Ashari

    Dalam suatu waktu saya menemui H. Matta, beliau pernah menjabat sebagai Tomakaka Penanian. Beliau juga yang melantik H. Andi Mappaewang sebagai Raja Binuang. Ada beberapa hal yang beliau sampaikan utamanya tentang Hadat Tertinggi di Kerajaan Binuang. Jika di Kerajaan Balanipa dikenal dengan istilah Appeq Banua Kaiyyang, maka di Kerajaan Binuang dikenal dgn sebutan "TALLU BATE" yaitu;

    1. Ulu Bate, diketuai oleh Tomakaka Mirring,
    2. Bate Tangnga, diketuai oleh Tomakaka Penanian,
    3. Cappa Bate, diketuai oleh Tomakaka Dara.

    Berbeda dengan Appeq Banua Kaiyyang dimana panggilan adatnya disebut "PAPPUANGAN" kalau di Kerajaan Binuang tetap menggunakan panggilan adat "TOMAKAKA". Adapun tugas dan fungsi dari TALLU BATE ialah mencari seseorang yang pantas untuk diangkat sebagai RAJA, setelah ditemukan bakal calon untuk diangkat sebagai Raja, maka akan dirapatkan bersama 3 Tomakaka, kemudian dari hasil kesepakatan tersebut maka Tomakaka Penanian sebagai Batetangnga mengumumkan bahwa sudah ada calon untuk diangkat sebagai Raja Binuang.

    h matta tomakaka penanian kerajaan binuang
    Penulis bersama H. Matta, Tomakaka Penanian, Perangkat Hadat di kerajaan Binuang (Foto : Rajab Ashari)
    Selain itu fungsi lain dari Tallu Bate adalah menurunkan tahta Raja Binuang apabila melanggar "Adaq Mappura Onro". Sama dengan sistem pengangkatan Raja-raja di Baqbana binanga, di Kerajaan Binuang juga tidak mengenal istilah PUTRA MAHKOTA, yang dimana seorang Raja memberikan tahta kepada anaknya secara langsung.

    Kontributor :
    Teks : Rajab Ashari
    Foto : Rajab Ashari

    Sebut saja ini ziarah tradisi maritim (urgensi museum), yang saya lakukan ke kediaman sang legenda, Kapten Pahlawan Laut di Museum TNI Angkatan Laut Loka Jala Crana, Surabaya. Menurut keterangan sejarah jenis perahu lete ini semula adalah perahu dagang, membawa teripang, kopra, dll, namun karena panggilan negara perahu ini bertransformasi menjadi armada pejuang 1947 dengan No Lambung 26 90 LLa..status terakhir kondisi fisik Kapten Pahlawan Laut, masih baik dan menyebarkan aroma perjuangan.

    perahu lete orang mandar kapten pahlawan laut
    Perahu lete "Kapten Pahlawan Laut" tersimpan rapi dalam ruang museumTNI AL Loka Jala Crana, Surabaya (Foto : Muhammad Qasim)
    Tampaknya Perahu Lete Kapten Pahlawan Laut punya rekam jejak sejarah yang penting dalam perjuangan kemerdekaan, ini karena wujudnya yang asli masih disimpan dan dirawat dengan baik dalam museum TNI AL Loka Jala Crana, Surabaya.

    museum tni al loka jala crana surabaya
    MuseumTNI AL Loka Jala Crana, di Surabaya, Jawa Timur (Foto : Muhammad Qasim)
    Perahu asli masih tersimpan dengan cukup rapi dengan dua jangkar di bagian haluan perahu, catnya mulai rapuh namun secara umum kondisi perahu masih baik. 

    perahu lete orang mandar kapten pahlawan laut
    Bagian haluan Perahu lete "Kapten Pahlawan Laut" di  museumTNI AL Loka Jala Crana, Surabaya (Foto : Muhammad Qasim
    Di bagian sisi samping badan perahu tertulis "Kapten Pahlawan Laut", strukturnya mirip perahu baqgoq yang dapat memuat penumpang cukup banyak dengan ukuran badan kapal yang gemuk. 

    perahu lete orang mandar
    Sisi samping badan kapal Perahu lete "Kapten Pahlawan Laut" div  museumTNI AL Loka Jala Crana, Surabaya (Foto : Muhammad Qasim)
    Bagian perahu tidak dilengkapi dengan layar, hanyalah rangka perahu yang utama yang disajikan dalam ruang museum.

    perahu lete orang mandar surabaya
    Perahu lete "Kapten Pahlawan Laut" tersimpan rapi dalam ruang museumTNI AL Loka Jala Crana, Surabaya (Foto : Muhammad Qasim)
    Menurut keterangan Kepala Dinas Pariwisata kab. Pangkep, Sulawesi Selatan Drs. Ahmad Djamaan, M.Si, putera Mandar yang berasal dari Kepulauan Kalmas (Kalukuang Masalima) Perahu (Lopi) lete "pahlawan laut adalah perahu milik Hj. Patimasang (keturunan Mandar) yang tinggal di Pulau Kalukalukuang. Di masa perjuangan kemerdekaan 1945-1949 perahu ini digunakan oleh pejuang asal Sulawesi seperti: Alm Ahmad Lamo, Andi Oddang, Aliem Bachrie dkk menyeberangi laut Jawa Timur ke Madura Pulau Kangean, Pulau Masalembu, Pulau Masalima, Pulau Kalukalukuang, Pulau Marasende, Pulau Kapoposang, hingga masuk Daratan Pangkep atau Makassar.

    perahu lete orang mandar museum tni al surabaya
    Bagian haluan Perahu lete "Kapten Pahlawan Laut" tersimpan rapi dalam ruang museumTNI AL Loka Jala Crana, Surabaya (Foto : Muhammad Qasim
    perahu lete orang mandar museum tni al surabaya
    Perahu lete "Kapten Pahlawan Laut" tersimpan rapi dalam ruang museumTNI AL Loka Jala Crana, Surabaya (Foto : Muhammad Qasim
    Masih dilanjutkan lagi oleh Ahmad Djamaan, yang pernah memegang jabatan sebagai camat di Kalmas (Kaulukuang Masalima) bahwa salah satu pelayaran yang sangat heroik adalah di tahun 1947 ketika tokoh-tokoh pejuang disebutkan di atas berangkat dari Lawang Jatim (Markas AL kala itu) membawa pesan proklamasi ke Sulawesi (Makassar) lalu singgah di Pulau Kalukalukuang Kec.Liukang Kalmas melakukan upacara penaikan bendera Merah Putih.

    Seperti yang diketahui Kepulauan Kalmas adalah sebaran wilayah orang-orang dari suku Mandar yang cukup besar, nyaris semua penduduk di pulau ini adalah orang Mandar, mereka berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Barat, sebagian besar berasal dari kabupaten Majene, konon dahulu mereka adalah perantau yang mencari kehidupan sampai ke daratan wiilayah Pangkep, dan mudah ditebak jika orang Mandar yang banyak di pesisir biasanya membuat pemukiman di pesisir pantai atau pulau-pulau tentu untuk mencari komoditas ikan yang menjadi sumber penghidupan mereka. 

    Pearahu lete saat ini dapat ditemukan replikanya dibangun di jembatan Pangkep, jembatan yang akan Anda lalui saat melintasi kab. Pangkep Sulawesi Selatan, tak jauh dari taman bambu runcing. Replikanya masih cukup baru, berseberangan dengan replika bangunan udang yang menjadi komoditas perikanan utama di kab. Pangkep. 

    replika perahu lete di kab pangkep
    Replika perahu lete di sisi jembatan sungai di kab. Pangkep Sulawesi Selatan (Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin)
    Dalam ruang museum TNI AL ini juga terdapat poster KRI Teluk Mandar, kapal perang milik TNI AL yang diambil dari nama Teluk di Sulawesi Barat dan diabadikan menjadi nama sebuah kapal perang.


    Poster KRI Teluk Mandar dengan nomor lambung 514 bersama KRI Teluk Sampit di ruang museumTNI AL Loka Jala Crana, Surabaya (Foto : Muhammad Qasim)
    perahu lete orang mandar kapten pahlawan laut
    Penulis bersama Perahu Lete Kapten Pahlawan Laut di ruang museumTNI AL Loka Jala Crana, Surabaya (Foto : Muhammad Qasim)
    Kontributor :
    Teks : Muhammad Qasim
    Foto : Muhammad Qasim

    ,

    Mosso, adalah desa yang letaknya di dataran tinggi kec. Balanipa, berjarak sekitar 6-7 km dari jalan poros Majene-Polewali, dapat diakses dari daerah Lamasariang -Tammangalle ke arah pedalaman dengan jalur pendakian dan turunan yang berganti. Mosso dahulu menurut jejak sejarah adalah satu dari empat negeri besar (banua kaiyyang) yang berkolaborasi dan membentuk sebuah kerajaan yang dinamai Balanipa, kerajaan yang kemudian dominan dan superior diantara kerajaan-kerajaan lain di wilayah yang disebut Mandar. 

    Jejak Sejarah Gong Taqbilobe
    Masyarakat desa Mosso, kecamatan Balanipa, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat mempercayai gong "Taqbi Lobe" peninggalan raja Balanipa pertama I Manyambungi, bergelar Todilaling. Lobe adalah nama tempat di Kerajaan Bima. Ketika Todilaling menjadi panglima perang Kerajaan Gowa - Tallo, ia pernah ditugaskan ke sana. Gong ini dan beberapa benda lain adalah pampasan perang untuk kemudian menjadi regalia (benda pusaka) Kerajaan Balanipa.


    gong taqbilobe regalia kerajaan balanipa di desa mosso
    Gong Taqbilobe yang dipercaya sebagai peninggalan raja pertama Balanipa, I Manyambungi, Todilaling di desa Mosso, kec. Balanipa, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin  -2015)
    Gong (dan beberapa alat musik yang dipukul) merupakan bagian dari ritual. Seperti nekara di Selayar, merupakan gendang yang terbuat dari perunggu. Dahulu hiburan (termasuk tari-tarian) adalah bagian dari ritual, bukan hiburan yang pemaknaannya seperti sekarang (gitar, biola, dll)

    Jejak Budaya Tenun Mulai Pudar

    Di Desa Mosso, salah satu Appeq Banua Kaiyyang (empat negeri yang membentuk Kerajaan Balanipa), "parewa tandayang" atau alat tenun sudah "digudangkan". Rata-rata menjawab satu dekade mereka tak menenun lagi. Wanita tua dengan penglihatan rabun untuk menenun, sementara wanita muda tak mewarisi tradisi moyang mereka untuk menenun, jadilah perangkat menenun hanya teronggok begitu saja tak digunakan.

    perangkat tenun di desa mosso balanipa polewali mandar
    Perangkat menenun sutera yang tak digunakan di desa Mosso, kec. Balanipa, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin - 2015)
    perangkat tenun di desa mosso balanipa polman
    Perangkat menenun sutera yang tak digunakan di desa Mosso, kec. Balanipa, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin - 2015)
    Akses menuju desa Mosso terbilang "berat" dengan medan jalan yang tak sepenuhnya mulus, tetapi jika ingin melihat panorama sekitar wilayah kecamatan Balanipa, maka desa ini akan sangat sempurna untuk jadi tujuan. 

    Kontributor :
    Teks : Muhammad Ridwan Alimuddin, Muhammad Tom Andari
    Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin 

    ,

    Ada Pendopo Di Kampung Jawa. Ada Kampung Jawa Di Tanah Mandar (Doeloe dan Sekarang)

    Pendopo di kecamatan Wonomulyo kab. Polewali mandar menurut sejarahnya dibangun sebelum kolonisasi (transmigrasi zaman belanda-1938) datang ke daerah Wonomulyo selain pendopo dibangun juga sarana lain diantaranya Rumah Jabatan Asisten Wedana (Camat) Selapan-selapan (tempat pertemuan selama tiga puluh lima hari) Bedeng-bedeng (gudang-gudang penyimpanan makanan), bibit dan perkakas pertanian, Poliklinik, Lapangan, Pasar, tanah Lanbau (perkebunan) yang sekarang digunakan sebagai pasar ikan. 

    pendopo kantor camat wonomulyo polewali mandar
    (Foto Atas : kolonisatie van javanen te mapili-res.celebes en onderh-1938, Foto bawah : pendopo sebagai bagian dari kantor kecamatan Wonomulyo, kab. Polewali Mandar)
    Tata ruang wonomulyo sekilas mirip tata ruang di wilayah Jawa bisa kita lihat dengan adanya alun-alun (merupakan suatu lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan dan dapat digunakan kegiatan masyarakat yang beragam) di depan pendopo kemudian dibangun mesjid besar di samping alun-alun dan juga dibangun pasar di depan alun-alun.

    Sebelum terbentuk sebuah pemerintahan adalah wilayah yang diperintah dalam kekuasaan distrik mapilli dan distrik tapango sebagai daerah swapraja
    Pendopo dari awal dibangun dan hingga kini masih tetap difungsikan sebagai tempat pertemuan masyarakat, kegiatan perlombaan kesenian dan juga sebagai rumah jabatan kepala kecamatan 

    Kontributor : 
    Teks : Gunawan Apriatno
    Foto : Gunawan Apriatno

    , , ,

    Dua batu ini menjadi saksi dan bukti sejarah lahirnya kesepakatan para leluhur kami di tanah Mandar. Di ikrarkan di wilayah kami yg kami menamainya Litaq Maringinna Balanipa yang sekarang menjadi wilayah kecamatan Luyo, kabupaten Polewali Mandar. Kedua batu ini berbentuk kubus persegi panjang yg satu ukurannya lebih tinggi dan yang satunya lebih pendek menyimbolkan wilayah pegunungan (Wilayah kerajaan Pitu Ulunna Salu ) dan batu yang pendek menunjukkan wilayah pantai (wilayah kerajaan Pitu Baqbana Binanga)

    Situs allamungang batu di kec. Luyo kab. Polewali Mandar
    Situs allamungang batu di kec. Luyo kab. Polewali Mandar (Foto : Mukhtar Aco)
    Menurut cerita leluhur, konon kedua batu tersebut diikat bersama sebagai simbol penyatuan dari kedua wakil delegasi (Londong Dehata yang mewakili Pitu Ulunna Salu dan Tomepayung (Maraqdia Kedua Balanipa) mewakili Pitu Baqbana Binanga ) Berikrar sambil meletakkan kaki mereka di batu tersebut. 

    Isi deklarasi tersebut tertuang dalam perjanjian yang terkenal dengan sebutan Assitaliang Allamungang Batu Di Luyo point penting dari perjanjian itu adalah identitas masing-masing wilayah, persatuan melawan musuh dan tekad menyatu sampai akhir kehidupan. Perjanjian tersebut ditutup dengan sebuah epilog bahwa :
    "Jangan pernah ada generasi kemudian yang bermimpi untuk menghancurkan perjanjian".(lihat risalah perjanjian).
    Ditinjau dari sudut hukum, rupanya nenek moyang orang-orang Mandar lebih dulu mengenal tata cara melakukan perjanjian internasional (Treaty) dan lebih dulu mengenal konsep-konsep demokrasi dan saya menilai sistem republik dan demokrasi sudah tercipta di Mandar 500 tahun silam jauh sebelum Soekarno dan The Founding Father lainnya mengagas konsep tentang Indoenesia.

    Kini artefak itu seakan kehilangan rohnya. Dibiarkan tanpa pemeliharaan, dan generasi Sulawesi Barat hari ini masih banyak yang tidak mengenal sejarahnya sendiri.

    Kontributor : Mukhtar Aco

    ,

    Ini dia foto Budha dengan lilitan kain yang dikencangkan dari tradisi kesenian Amarawati, India Selatan yang berkembang pada abad 3-5 masehi. Patung ini (duplikat?) ditemukan di Sampaga, muara sungai Karama (yang mengalir dari Kalumpang, Mamuju, Sulawesi Barat). Patung inilah yang kelak menjadi dasar penelusuran oleh para arkeolog dalam dan luar negeri untuk menelusuri peradaban kuno Kalumpang, Sulbar.

    patung budha yang ditemukan di kalumpang mamuju sulawesi barat
    patung budha yang ditemukan di kalumpang mamuju sulawesi barat (Foto : warisanbuddhanusantara.blogspot.com)
    Kini patung tersebut tersimpan di Museum La Galigo (lantai 2), kompleks benteng Fort Rotterdam Makassar, Sulawesi Selatan.

    Kiriman : Dahri Dahlan

    , , , ,

    Kanang adalah nama salah satu dusun di desa Batetangnga kec. Binuang. Daerah ini lebih dikenal dengan wisata buah dan permandian Biru serta lokasi pemancingan Rawabangun, dengan salah satu kuliner andalannya; "nasu kadundung". Nasu Kadundung sendiri adalah hidangan ayam kampung yang disajikan dengan bumbu-bumbu seperti daun kedondong muda dan pakis, hidangan ini dapat anda temui dengan mudah di kawasan Rawabangun.


    pemandangan sawah di kecamatan binuang
    pemandangan sawah di kecamatan binuang kab. Polewali Mandar
    Di daerah ini juga banyak situs sejarah yang belum diketahui orang banyak, termasuk oleh masyarakat di sekitar kecamatan Binuang. diantaranya adalah makam Tosalama di Penaniang (yang lebih dikenal sebagai Haji Sande'/Guru Bulo), tokoh penyebar islam di Batetangnga bersama Pua' Ilala (muridnya yang berasal dari Tomadio), situs Eran Batu (tempat tinggal nene' Cakkodo dan dan putra putrinya yang lebih dikenal sebagai toeran batu), Batu Pikkambuangan (batu latihan keprajuritan Binuang), Batu tempat Pelantikan Sippajollangi, Aruan di Binuang (I/IV??), dan masih banyak lagi

    Kanang berasal dari bahasa Pattae dari kata "ma kanakkanan'' atau sikanan, yang berarti "pantas,cocok,pas,dll'. diberi nama demikian karena untuk menyambut tamu di masa kerajaan, yang lebih dianggap "ma kanan" (pantas,cocok) adalah penduduk dari daerah tersebut, juga karena daerah ini merupakan "pintu masuk" ke wilayah Batetangnga.

    Nama dusun dan Desa di daerah ini memiliki sejarahnya sendiri, selain kanang, juga ada Biru, Passembaran, Penaniang, dan lain-lain. Penamaan Biru untuk wilayah tertua di daerah ini sebagai bentuk persaudaraan dengan kerajaan Bone (biru adalah salah satu wilayah taklukan Raja Bone kedua Petta PanreBessiE). Passembaran adalah tempat latihan tempur atau tempat "sisemba", sedangkan Penaniang adalah tempat orang-orang menyambut toeran Batu yang pulang dari Perang dengan cara bernyanyi.

    Kiriman : Mujahid Musa 

    , , , ,

    Kompleks makam Tambulese, adalah lokasi pemakaman bersejarah yang dimiliki oleh Majene, Sulawesi Barat. Berada di Lingkungan Teppo, Kelurahan Baru, Kecamatan Banggae Kabupaten Majene dengan topografi di atas bukit dengan ketinggian sekitar 55 m dari permukaan laut. Dalam kawasan kompleks terdapat sekitar 79 buah makam dengan berbagai macam ukuran, dan bahan nisan. 

    Kompleks Tambulese berbeda jika dibandingkan dengan makam-makam bersejarah lain yang ditemukan di kabupaten Majene, yaitu bahwa batu yang digunakan untuk membuat nisan terbuat daribatu berwarna putih. Jika di kompleks makam Imanang, Kubang dan pemakaman raja dan hadat banggae Mandar Ondongang dominan menggunakan bahan makam yang terbuat dari batu nisan berwarna hitam, maka kompleks makam Tambulese sangat berbeda. 

    Anda dapat mengakses objek wisata bersejarah ini dari pusat kota Majene menuju daerah utara tidak jauh dari Rumah Sakit Umum Daerah Kab, Majene, anda berbelok ke arah kanan  tepat di persimpangan lampu merah menuju lingkungan Teppoq. Tepat di gerbang makam maka anda akan disambut dengan penanda sederhana berwarna putih beratapkan seng  bertuliskan "Kompleks Makam Tambulese", di sudut kanan tertulis Dinas P&K Kab, Majene, dari teknik penulisannya kita sudah bisa menebak kapan penanda ini dibuat, saat ini pegelolaannya berada di bawah DISPORABUDPAR kabupaten.

    penanda di gerbang kompleks makam tambulese majene
    penanda di gerbang kompleks makam tambulese majene (Foto : Nasbi)
     Bahan batu nisan makam yang digunakan didominasi bahan batu solid berwarna putih dengan aturan yang cukup rapi terlihat. Untuk bentuk nisan nyaris sama bentuknya dengan nisan yang terdapat di pemakaman raja dan hadat kerajaan Banggae di buttu Ondongang.

    batu nisan kompleks makam tambulese
    batu nisan kompleks makam tambulese (Foto : Nasbi)




     Memiliki nisan dengan ragam hias unik dengan pola tertentu dan terlihat sagat artistik, diperkirakan dibuat dengan teknik memahat batu yang sangat berkembang di masa itu. Ada pekerjaan memahat batu yang sangat detail di setiap pola yang terlihat.

    nisan makam kompleks tambulese majene
    nisan makam kompleks tambulese majene (Foto : Nasbi)
    Diantara beberapa makam terdapat beberapa yang berukuran agak lebih besar dibandingkan lainnya, tampaknya semakin besar dan tinggi ukuran makam yang ada maka makin tingi status sosial pemilik makam semasa hidupnya. Disamping itu juga terdapat makam lainnya yang berukuran agak kecil, dengan nisan yang langsung terlihat di atasa permukaan tanah, tidak memiliki tingkatan batu.

    berbagai jenis makam di kompleks makam tambulese majene
    berbagai jenis makam di kompleks makam tambulese majene (Foto : Nasbi)
     Dari ragam hias  di nisan makam terlihat pola bunga dan daun, salah satu ciri khas pemakaman yang diidentikkan dengan Islam dengan arah membujur dari utara ke selatan dan menghadap barat atau timur. 

    ragam hias di nisan kompleks makam tambulese majene
    ragam hias di nisan kompleks makam tambulese majene (Foto : Nasbi)
    Kompleks makam ini cukup indah, ada banyak pohon kelapa berukurn kecil di sekitarnya. Karena berada di ketinggian, di sisi bukit Totoli dan berada diatas tebing yang dibawahnya terdapat sungai kecil menambah panorama berbeda makam ini. 

    Kiriman : Nasbi 

    Pasca perjanjian Bungaya, Aru Palakka lalu mengirim 4 orang utusan ke Mandar dengan maksud menyampaikan bahwa, "karaeng telah kalah. Jangan kita berperang. Bagaimana ketentuanmu di Karaeng, begitu pula di Bone." Lalu Maraqdia Tomatindo Di Langgana menjawab, "Telah kudengar perkataan Bone, namun saya belum mau mengikut sebelum datang panggilan dari Karaeng sendiri." Jawaban dari maraqdia tentu sama saja telah mengabaikan poin perjanjian bungaya yang berbunyi, "Gowa melepaskan pengaruhnya terhadap kerajaan di sekitarnya." 

    agresi arung palakka ke negeri mandar
    agresi arung palakka ke negeri mandar (ilustrasi)
    Singkat cerita, diambillah keputusan untuk menyerang Mandar yang cuek. Penyerangan pertama dibakarlah Soreang yang kemudian berganti nama menjadi Kandeapi. Musim hujan tiba, Bone mudik. Musim kemarau datang lagi menyerang hingga Samasundu - Napo. Setelah hampir ditombak oleh Daeng Rioso, barulah Aru Palakka mea'manu-manus (menghanyutkan diri) meminta orang Gowa untuk memperlihatkan diri. Tentu saja para Mandar heran dan mengutus Pappuangang Biring Lembang menemui orang Gowa dan berkata, "Mengapa Gowa datang? Kami berperang karna musuhnya karaeng. Kami tidak ada. Persengketaan dengan Bone." Lalu orang Gowa menjawab, "...... Semua orang makassar yang ada di negerimu, jual-lah untuk membeli peluru dan senjata. Nanti habis orang Makassar di negerimu, baru kamu jual orang Mandarmu! Alangkah marahnya Aru Palakka karna tidak sanggup mengalahkan Mandar. Nanti 50 malam barulah orang Bone mundur.

    Kisah di atas lagi-lagi sebagai bukti bahwa: perjanjian Bungaya tidak memiliki pengaruh, Mandar tidak mengenal  siapa Belanda, bahkan kerajaan Gowa-Bone tetap memiliki batasan untuk mengatur kerajaan lain. Meminjam bahasa anggota hadat Balanipa, "Odi adaq odi biasa."

    Kiriman : Ibnu Masyis


    Sebenarnya saya mau memulai kisah ini dengan mengutip pau-pau yang berbunyi, "Perempuan mana yang mau dimadu." tetapi, kesannya terlalu serius maka saya ganti saja dengan dengan ungkapan yang lebih santai yaitu, "ini hati, bukan karoppoq." 
    Dikisahkan bahwa pernah suatu ketika Maraqdia Balanipa yang bernama Daeng Marrumpaq (Tomatindo di Salasaqna) memenangkan perang di Soppeng. Atas kemenangan tersebut akhirnya beliau dinikahkan dengan putri petta Sojoe (bangsawan Soppeng) sebagai bentuk penghargaan. 

    Setibanya Daeng Marrumpaq di Mandar, tentu saja beliau disambut dengan meriah oleh masyarakat setempat layaknya pahlawan, tapi di saat yang bersamaan- permaisuri beliau yang bernama Petta Ibulle (putri Opu ri Luwu) justru memberi sambutan yang berbeda.
    kisah daeng marrumpaq tomatindo di salasaqna
    Ilustrasi
    Setelah mengetahui bahwa suaminya yang gagah perkasa itu telah menikah lagi di Soppeng, marah besarlah Petta Ibulle dan berkata, "Saya tidak mau dimadu dengan sepupuku!. Saking marahnya, Petta Ibulle lantas mengambil gendangnya Balanipa dan membuangnya ke jembatan. Maraqdia lalu menceraikan Petta Ibulle dan tak lama kemudian istri baru-pun melahirkan. Tiga belas tahun lamanya maraqdia Daeng Marrumpaq merangkap jabatan sebagai maraqdia Balanipa-Banggae hingga kemudian menyerang ke Kaili
     
    Sumber: Lontarak pattodioloang II

    Kiriman : Ibnu Masyis

    ,


    gedung peninggalan 710 di madatte polewali mandar
    gedung peninggalan 710 di madatte polewali mandar (Foto : Ibnu Masyis)
    Gedung peninggalan 710 di Madatte (Manding) yang berada tepat di antara (tengah) kantor kodim dan rujab dandim. Awalnya gedung ini dibangun dan dipersiapkan sebagai markas korem 4 Mappesonai. Tapi berhubung Andi Selle cs keburu memberontak, akhirnya 710 ditumpas dan rencana pendirian korem 4 tadi dibatalkan. Kendati demikian, konsep awal tentang basis atau kompleks militer yang berpusat di madatte tetap dijalankan sehingga kantor kodim dan batalyon 721 pangkalannya berada di daerah ini. 

    Konon, pohon camba sepanjang jalan depan kodim merupakan sisa-sisa masa lalu. Di pohon camba tersebut pernah- entah siapa orangnya yang diikat dan disiksa disitu. Sekitar tahun 60-70-an barulah gedung kosong menyeramkan di atas dipinjam pakai sekian tahun oleh SPG-KPG (sekolah pendidikan guru - Kursus pendidikan guru) yang hari ini kurang lebih setara dengan PGSD. Hampir bersamaan peleburan SPG ke SMA 3 polewali barulah gedung ini dikembalikan kepada pihak militer (kodim). Menurut penuturan caraka SPG yang bernama pak Hamka (alm)- pendatang dari Banggae, bahwa bila malam telah larut, kerapkali beliau mendengar suara derap sepatu layaknya pasukan yang berbaris.

    Kiriman : Ibnu Masyis

    , ,

    alquran peninggalan syekh abd mannan salabose
    alquran peninggalan syekh abd mannan (Foto : Adasi)

    alquran peninggalan syekh abd mannan banggae
    alquran peninggalan syekh abd mannan banggae (Foto : Adasi)
    Alquran peninggalan Syekh Abd Mannan, salah satu penyebar agama Islam di wilayah Banggae Kab. Majene Sulawesi Barat. Merupakan peninggalan Alquran yang cukup tua di wilayah ini, hanya dipertunjukkan ke khalayak umum dua kali dalam setahun, yaitu pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan saat bulan Ramadhan tiba

    Kiriman : Adasi


Top