, ,

    Messawe Saeyyang Pattuqduq, juga tradisi yang masih terus bertahan di suku Mandar, Sulawesi Barat setiap bulan Maulid atau dalam penanggalan hijriah yang jatuh pada bulan Rabiul Awal hingga beberapa pekan setelahnya maka daerah-daerah di Mandar akan terdapat banyak pertunjukan messawe saeyyang pattuqduq. Baru saja kemarin (Minggu, 03 Februari 2019) pessawe terakhir dihelat di desa Bala, kecamatan Balanipa, kabupaten Polman, Sulawesi Barat.  Ini adalah rangkaian terakhir dari pertunjukan saeyyang pattuqduq  yang bisa ditemukan tahun ini.

    tradisi messawe saeyyang pattuqduq
    Tradisi Messawe Saeyyang Pattuqduq dengan penunggang seorang Syarifah yang dihelat tahun ini di desa Pambusuang, kec. Balanipa, kab. Polman, Sulawesi barat (Foto : Wawan Rukman)
    Tradisi yang masih terus dilestarikan di suku Mandar ini akan menghadirkan parade kuda yang menari mengikuti rentak rebana, arak-arakan keliling kampung untuk mereka yang telah mengkhatamkan Al Qur'an. Pemuda atau pemudi yang mengenakan pakaian gaya arab, laki-laki mirip dengan kostum arab dengan gamis panjang Thawb dan penggunaan Kefiyeh, sementara perempuan akan mengenakan kerudung, biasa disebut Baqdawara. Biasanya seekor kuda ditunggangi oleh dua orang, satunya di bagian belakang menggunakan kostum budaya adat Mandar. Jika pasangan di bagian depan adalah orang dewasa, biasanya dibelakangnya duduk anak-anak atau remaja. 

    tradisi messawe saeyyang pattuqduq mandar
    Tradisi Messawe Saeyyang Pattuqduq dengan penunggang seorang Syarifah yang dihelat tahun ini di desa Pambusuang, kec. Balanipa, kab. Polman, Sulawesi barat (Foto : Wawan Rukman)
    Saat rebana ditabuh maka sang kuda dan beberapa pesarung (yang memegangi penunggang kuda) akan menjaga agar penunggang kuda tidak jatuh. Mereka  akan diarak di sepanjang jalur-jalur jalan dusun hingga pinggiran desa, tidak jarang kegiatan ini masuk kel jalur-jalur utama jalan provinsi, yang membuat kemacetan panjang, seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu di daerah Galung Tulu, kec. Balanipa kab. Polman, rusa jalan lumpuh selama beberapa jam.

    Dahulu kegiatan ini tidak begitu ramai, namun karena messawe saeyyang pattuqduq seolah-olah bergeser menjadi pertunjukan yang tampaknya menjadi ajang adu gengsi antara kampung dan desa maka kemudian setia dusun dan desa seolah bertarung menghadirkan jumlah pessawe dan saeyyang pattuqduq dalam jumlah banyak. 

    Walau ada sedikit pergeseran nilai dari awal maksud pelaksanaan ritual khataman Al Quran ini, namun dari sisi tinjauan atraksi wisata messawe saeyyang pattuqduq  sangat menarik bagi para pelancong atau pendatang dari luar daerah. 

    Kontributor :
    Foto : Wawan Rukman
    Teks : Muhammad Tom Andari

    , , , ,

    Perahu Sandeq Bintang Timur, adalah perahu Sandeq yang berasal dari daerah pesisir Tanjung Batu Kabupaten Majene, tahun  ini jelang Sandeq Race 2017 dijadwalkan akan turut meramaikan pelaksanaan lomba perahu layar tradisional. Setelah beberapa hari sebelumnya dipersiapkan setiap bagian-bagiannya, hari ini (31 Juli 2017) Bintang Timur diujicoba di pesisir Tanjung Batu. 

    Tampak bagian sobal (layar) yang cukup lebar dan terbuka lebar seolah siap menerima angin untuk membawanya meluncur jadi yang tercepat bersaing dengan perahu-perahu sandeq nelayan lainnya di kampung-kampung nelayan di Sulawesi Barat.

    uji coba perahu sandeq bintang timur sandeq race 2017
    Perahu sandeq Bintang Timur saat dalam uji coba di pesisir Tanjung Batu kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Arham)
    Bintang Timur pertama kali dilautkan hari ini oleh masyarakat sekitar Tanjung Batu dengan bantuan warga lainnya sekitar 25 an lebih orang turut membantu meluncurkan perahu ini. Ini adalah bagian rutin yang dilakukan sebelum tahapan lomba, menguji coba semua fungsi perahu, terutama pada kestabilan layar, dan bagian-bagian perahu lainnya misalnya baratang, palatto, dan guling. Jika terdapat bagian-bagian yang belum sempurna maka kemudian akan disempurnakan.

    uji coba sandeq bintang timur sandeq race 2017
    Saat perahu sandeq Bintang Timur pertama kali diluncurkan dengan didorong secara gotong royong oleh masyarakat sekitar Tanjung Batu, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Arham)
    uji coba sandeq bintang timur sandeq race
    Saat perahu sandeq Bintang Timur pertama kali diluncurkan dengan didorong secara gotong royong oleh masyarakat sekitar Tanjung Batu, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Arham)
    Kontributor :
    Foto : Arham
    Teks : Muhammad Tom Andari

    , ,

    Pohon waru, orang Mandar menyebutnya lambagu (baca: lambag[h']u), tangkai lunak yang ada di pangkal daunnya (dulu) digunakan oleh orang Mandar untuk mengkritingkan rambut. Pohon waru banyak ditemukan tumbuh di tepi sungai.
    khasiat pohon waru mandar
    ujung tangkai daun pohon waru (Foto : Dahri Dahlan)
    Caranya, ambil tangkai lunak tersebut, buang daunnya, lalu belah batangnya menjadi dua bagian, tetapi tidak sampai terpisah. Ambil bagian rambut yang mau dikriting, masukkan ujung rambutnya ke dalam tangkai yang sudah dibelah tadi, rapikan dan gulung sampai ke pangkal rambut, atau sampai pada bagian yang ingin dikriting. Jika sudah digulung, simpulkan ujung tangkai lunak tadi. Diamkan seharian lalu dibuka, rambutmu akan kriting. Selamat mencoba.

    Kontributor : Dahri Dahlan

    , , ,

    Kabupaten Majene baru saja memperingati hari jadinya, peristiwa tersebut dijadikan momentum bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Salah satu even menarik yang dilaksanakan oleh pihak panitia adalah pawai budaya, dan dalam kegiatan ini hadir beberapa tinggalan budaya khas Mandar, suku yang menghuni sebagian besar kabupaten Majene. Suku Mandar memiliki tinggalan budaya berupa sarung berbahan sutera, yang diolah dari ulat sutera, dijadikan benang, lalu ditenun menjadi sebuah sarung yang dapat digunakan sebagai kostum untuk upacara-upacara tradisi. Tinggalan budaya ini yang kemudian ditampilkan saat pawai beberapa waktu yang lalu. 

    Dalam pawai budaya ini di salah satu titik terdapat beberapa motif aarung sutera yang dipamerkan, ada begitu banyak sureq, menariknya adalah untuk tiap-tiap sarung sutera dilengkapi dengan identitas nama masing-masing sureq. Sureq adalah motif sarung sutera yang membedakannya dengan sarung yang lain, penamaannya biasa mengikuti trend yang sedang berlangsung saat sarung ditenun. Namun, di suku Mandar terdapat dua macam sureq asli atau dapat dikatakan sureq tradisional, keduanya adalah sureq padzadza dan sureq salaka. Keduanya adalah sureq "klasik" yang sangat populer dan pasti dikenali oleh para pemerhati sarung sutera. 

    Berikut ini adalah beberapa sureq yang ditampilkan dalam pawai budaya yang berlangsung di Majene baru-baru ini :
    1. Sureq Puang Lembang
    2. Sureq Datuk
    3. Sureq Jangan Jangan
    4. Sureq Lowang
    5. Sureq Taqbu-Taqbu
    6. Sureq Cubit-Cubitan
    7. Sureq Maraqdia
    8. Sureq Salaka
    9. Sureq Batu Darim
    10. Sureq Kapala Daerah
    11. Sureq Parara Kos
    sureq sarung sutera mandar
    Sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti)
    Satu yang paling menarik dari nama sureq ini adalah adanya nama "Sureq Cubit-Cubitan" nama yang mungkin jauh dari budaya Mandar namun, penamaan sureq biasanya adalah sesuai dengan trend yang berlaku pada masa itu, kadang juga penamaan sureq biasanya mengikut pada momen atau kegiatan besar yang sedang berlangsung, atau ada peristiwa yang sedang mewabah, maka kemudian nama sureq akan disesuaikan. 

    nama sureq sarung sutera mandar
    Ragam sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti)
    Nama sureq Salaka adalah satu dari dua sureq utama untuk sarung sutera Mandar, sureq ini biasanya digunakan oleh para warga untuk mendatangi momen kematian, motifnya yang didominasi hitam mewakili keadaan berkabung. 

    Selain itu sureq Parara (Padzadza)  juga adalah sureq utama dengan ciri khas berwarna merah, dalam pawai budaya ini ditampilkan modifikasi sureq padzadza yaitu sureq Padzadza kos.

    daftar nama sureq sarung sutera mandar
    Aneka sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti)
    Sarung sutera menjadi tinggalan megah yang hampir dimiliki oleh suku-suku di Sulawesi Selatan dan Barat, merupakan budaya tradisional yang dilakoni oleh kaum perempuan yang mengajarkan kesabaran dan ketelatenan menjalin untaian benang, merapatkan jalinannya hingga menjadi sebuah sarung yang memiliki nilai lebih.

    Kontributor : Desy Yanti

    , ,


    Beginilah kegiatan saya bersama keponakan yang ganteng, ketika awal memasuki bulan Ramadhan, kami sekeluarga berramai ramai membakar beberapa Solung atau Palla-Pallang, ini adalah lilin yang terbuat dari bahan kemiri, kami membakarnya di depan rumah masing-masing setelah magrib jelang malam awal bulan Ramadhan

    Mengapa membakar Solung atau Palla-Pallang ? menurut penuturan orang tua kami, ketika membakar lilin ini di sekeliling rumah, hingga dalam rumah(disimpan di tempat yang tidak memiliki cahaya) diyakini dan dipercaya datang mengundang malaikat pembawa keberkahan dalam rumah, karena umumnya malaikat suka cahaya yang terang benderang. Ini sebuah tradisi yang tidak dapat di hilangkan dari kampung kami tercinta. 

    solung palla pallang tradisi mandar jelang ramadhan
    Tradisi membakar Solung atau Palla-Pallang di suku Mandar jelang bulan Ramadhan (Foto : Anchye Nurdin)

    Perlu kita ketahui solung atau palla-pallang digunakan untuk menyinari sebagai pelita dikala gelap dan umumnya di gunakan juga di tempat sakral seperti pada pernikahan kaum laki laki mandar, dirumah calon mempelai wanita.

    Adapun cara membuat solung atau palla-pallang ini tak yaitu dari buah kemiri yang ditumbuk bercampur kapas, setelah itu ketika halus di remas perlahan, kemudian direkatkan pada bilah bambu yang tipis

    Kontributor : Anchye Nurdin

    , , , ,

    "Pakkottau/Paqmaccaq"
    Kottau dan Maccaq adalah seni beladiri yang dapat ditemukan di wilayah Mandar, Sulawesi Barat, merupakan seni untuk mempertahankan diri yang dipertunjukkan untuk tujuan menghibur, biasanya dapat kita  lihat dalam acara syukuran , khataman, akikahan, dan acara pernikahan. Ini adalah seni pertarungan dan duel antara dua orang yang menggunakan jurus tertentu dan diiringi dengan tabuhan gendang.

    Pertunjukan seni beladiri tradisi ini biasa dilakoni oleh kaum lelaki di Sulawesi Barat yang mempelajari seni ini, biasanya di sela-sela acara atau kenduri maka pertunjukan ini bisa disaksikan, akan ada para masyarakat sekitar yang menyaksikan pertunjukan, dan pasti ada dua orang yang berduel, mungkin bisa dikatakan bermain silat tradisional. Kedua orang biasanya mengenakan pakaian biasa dengan songkok hitam dan sarung yang dililitkan di pinggang, lalu akan ada penabuh gendang beserta gong yang mengiringi pertarungan.

    pakkottau-pamaccaq-binuang-Polewali-Mandar
    Pakkottau/Pamaccaq di Buttu Teneng, Binuang, kab. Polewali Mandar (Foto : Ijhal Marrannuang)
    Pertarungan yang dilakukan tentu saja dengan jurus-jurus silat tertentu, ragam perguruan silat kampung yang menjadi sumber belajar para pemain seni tradisi ini, ada yang sifatnya dibuka untuk umum adapula yag cenderung tertutup, jenis-jenis jurusnya juga sama, hal yang kontras adalah antara kottau dan maccaq, dimana kedua aliran seni beladiri ini cukup berbeda. 

    Permainan seni tradisi ini, lestrai terutama di wilayah pesisir, namun di Binuang utamanya di wilayah pesisir Amassangan juga masih bisa disaksikan. Kaum pemuda yang telah mempelajari teknik seni beladiri ini akan menunjukkan kepiawaiannya bermain silat dan saling menyerang dan bertahan secara bergantian, tampak sederhana, namun sebenarnya punya manfaat yang sangat baik, manfaat utamanya adalah menambah kebugaran, membakar kalori, sambil mengolah tubuh dan fisik, serta hal yang paling utama adalah menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur pendahulu.

    Pakkottau Pamaccaq Di Binuang, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat
    Pakkottau Pamaccaq Di Binuang, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ijhal Marrannuang)
    Terdapat satu wilayah di kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat yaitu di Buttu Te'neng (Binuang II) Kel. Amassangan Kec. Binuang. Sisa-sisa serpihan generasi Mandar yang ada diwilayah ini masih melestarikan apa yang mereka peroleh dari generasi sebelumnya,  mencoba kembali menemukan  apa yang diajarkan pendahulunya secara turun temurun. Mereka adalah keluarga Mandar Majene yang kini hidup di kec. Binuang.

    Kontributor : Ijhal Marrannuang

    , , ,


    Orkes Todioloq, kelompok musik tradisional yang tampil dalam acara ‪hari Lansia Nasional (HLUN) Hari Lanjut Usia Nasional yang diselenggarakan oleh yayasan YAUMI HMT Lapeo Sulawesi Barat di halte nelayan di Lapeo, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat. HLUN diperingati setiap tanggal 29 Mei setiap tahunnya. Tahun ini orkes todioloq hadir menunjukkan kepiawaiannya menggunaan paduan alat musik tradisional, mereka didominasi oleh pemain musik lansia. Ini adalah kelompok musik tua yang telah berdiri semenjak tahun 1981 binaan pak Sudirman dan di gagas oleh Alm. Suwani Parolai Sudirman. 

    Orkes Tradisional Polewali Mandar
    Orkes Tradisional Polewali Mandar (Foto : Rahmien Mahrul)
     
    Alat musik Orkes Tradisional Polewali Mandar
    Alat musik Orkes Tradisional Polewali Mandar (Foto : Rahmien Mahrul)
    Alat musik yang di gunakan antara lain gong, ganrang, basing-basing, sattung, calong, kulung-kulung, gero dan sia-sia. alat musik yang di gunakan masih sangat alami kebanyakan terbuat dari bambu.

    Orkes Todioloq Polewali Mandar
    Orkes Todioloq Polewali Mandar (Foto : Rahmien Mahrul)

    Saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu pemain kelompok musik ini, beliau menjelaskan  bahwa pernah ada bantuan alat musik dari pemerintah akan tetapi mereka menolak dengan alasan "kalau kami menerima bantuan tersebut, maka alat kami sudah tidak tradisional lagi, dan akan hilang" mendengar ungkapan beliau, saya sempat berkaca-kaca mereka begitu menjaga tradisi dalam modernisasi yang semakin pesat.

    Kontributor : Rahmien Mahrul 

    , , ,

    Mamose adalah adat orang Budong-Budong yang harus di lestarikan, ritual ini tepatnya dilaksanakan di desa Tabolang, kec. Topoyo, kab. Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Adat mamose di lakukan tiga kali dalam setahun yang pertama di lakukan sebelum masuk hutan, yang kedua dilakukan setelah selesai merumbut atau setelah membersihkan hutan atau tempat yang nantinya akan di tanamai tanaman dan yang ketiga di lakukan setelah panen.

    Dalam mamose terdapat berbagai ritual yang dilakoni, mulai dengan melakukan aksi menggunakan parang di tempat terbuka di sekitaran rumah adat Budong-Budong dan di saksikan langsung oleh raja dan masyarakat. Dalam aksinya Pamose sebutan bagi tokoh adat yang sedang beraksi dengan berbicara bahasa Budong-Budong lalu menyampaikan pesan-pesan terhadap raja maupun terhadap para masyarakat. Sebelum melakukan aksinya terlebih dahulu iringi dengan musik dengan gendang, saat pamose menghadap ke raja dan tobara musik gendang di hentikan lalu pamose memohon izin terhadap raja dan juga terhadap Tobara (ini adalah sebutan bagi kepala adat).

    Ritual adat Mamose Budong-Budong di Kab. Mamuju Tengah, Sulawesi Barat
    Ritual adat Mamose Budong-Budong di Kab. Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Foto : Rahmien Mahrul)
    Sehari sebelum melakukan ritual adat mamose maka didahului oleh kegiatan "Magora’" menggunakan perahu bermotor (katingting) berjalan menelusuri sungai Budong-Budong, sesaat menghampiri masyarakat yang sudah menunggu di tepian sungai maka akan  di lakukan "Magane", dengan menggunakan parang, bendera,obat tradisional yang di letakkan di atas piring dan juga sebatang kayu yang di tancapkan di tanah, Puntai melakukan ritual agar kiranya kegiatan yang dilakukan berjalan dengan lancar, dahulu kala bukan kayu yang di gunakan akan tetapi manusia yang di tanam sampai kepala, lalu di lempari kemudian kepalanya di ambil di ikat di atas bendera untuk di bawa di arak-arak di atas perahu. 

    Kegiatan Magora dan Magane dalam ritual adat Mamose di kec. Budong-Budong Mamuju Tengah
    Kegiatan Magora dan Magane dalam ritual adat Mamose di kec. Budong-Budong Mamuju Tengah  (Foto : Rahmien Mahrul)
    Agar masyarakat mengetahui kedatangan rombongan di tiup "Tantuang" yang terbuat dari kerang berukuran besar lalu kemudian singgah di setiap tepian sungai bila ada yang menunggu di pinggiran sungai, masyarakat yang menunggu di pinggir sungai lalu menghampiri rombongan lalu menyerahkan seperti rokok, makanan, minuman dan lain sebagainya, di terima langsung oleh Puntai yang merupakan tokoh adat. 

    Aktivitas Puntai dalam ritual adat Mamose Budong-Budong Mamuju Tengah
    Aktivitas Puntai dalam ritual adat Mamose Budong-Budong Mamuju Tengah (Foto : Rahmien Mahrul)
    Puntai kemudian akan mengambil air dari sungai dan dari dalam perahu kemudian di basuhkan ke kepala yang sedang sakit, sebelum rombongan berangkat maka kadang akan terjadi kehebohan yaitu siram menyiram antara rombongan dengan masyarakat yang berada di tepian sungai.

    Kontributor : Rahmien Mahrul

    , , , ,

    Selamat untuk Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar di tahun ke-2 dalam perjalanannya yang terus mendokumentasikan kegiatan budaya dan mempromosikan wisata yang ada di tanah Mandar walupun belum sepenuhnya tapi dalam 2 tahun ini banyak pelajaran yang kita dapat, salut buat KDM, ini kado kami dari KDM POLMAN , Trip budaya Jawa‬ yang ada di Polewali Mandar

    Soponyono ditelinga masyarakat Wonomulyo sudah tidak asing lagi, sebuah sanggar kesenian Jawa Timur yang masih tetap melestarikan kesenian khas Jawa yaitu Reog Ponorogo di tanah Mandar khususnya di Kab. Polewali Mandar.  Reog Ponorogo yang ada di Polewali Mandar sama seperti Reog Ponorogo yang ada di Ponorogo Jawa Timur mulai dari tariannya, peralatan musiknya, aksesoris/pakaian penampil, dan fungsinya.

    Ikon utama Reog Ponorogo yang berukuran besar
    Ikon utama Reog Ponorogo yang berukuran besar (Foto : Gunawan Apriatno)
    Jika melihat asesoris yang digunakan dalam permainan Reog Ponorogo maka kita akan mendapatkan topeng yang seram dan menakutkan, seperti tampak dalam foto dibawah ini, topeng-topeng ini yang kemudian akan digunakan oleh para pemain reog di kab. Polman.

    Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar
    Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno)
    Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar
    Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno)
    Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar
    Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno)
    Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar
    Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno)
    Dalam permainan reog, akan ada seseorang pemain yang memainkan sebuah ikon utama reog yang diletakkan diatas kepala dan dikenakan layaknya topeng namun dengan beban yang lebih berat.

    Ikon utama pertunjukan Reog Ponorogo
    Ikon utama pertunjukan Reog Ponorogo (Foto : Gunawan Apriatno)
    Permainan Reog ponorogo selalu diiringi dengan permainan musik tradisional, dibawah ini adalah salah satu alat musik dari bambu yang digunakan untuk mengiringi permainan reog. 

    Alat musik dari bambu untuk pengiring pertunjukan Reog Ponorogo
    Alat musik dari bambu untuk pengiring pertunjukan Reog Ponorogo (Foto : Gunawan Apriatno)
    Pertunjukan reog juga akan selalu disertai dengan penampilan kuda lumping yang kental dengan dunia magis dan tak bisa dinalar, akan ada pemain kuda lumping yang seolah kerasukan terutama saat sang pawang memainkan cemetinya.

    Aksesoris kuda lumping yang selalu hadir dalam pertunjukan Reog Ponorogo
    Aksesoris kuda lumping yang selalu hadir dalam pertunjukan Reog Ponorogo (Foto : Gunawan Apriatno)
    Seni budaya Reog Ponorogo walaupun jauh dari tanah asalnya di Jawa Timur, masih dapat kita temukan di kecamatan Wonomulyo kab. Polewali Mandar, disini pertunjukan budaya ini masih dapat kita saksikan. Reog Ponorogo dari semua peralatan musik dan aksesoris/pakaian penampil didatangkan langsung dari Ponorogo jawa timur terkecuali penarinya yang langsung di mainkan oleh orang orang Jawa yang ada di Wonomulyo. Reog Ponorogo biasa ditampilkan di acara perkawinan/sunnatan, penyambutan tamu tamu pejabat pemerintahan, dan di kegiatan pemerintahan seperti karnaval budaya.

    Kontributor : Gunawan Apriatno

    ,


    Dia anak Mandar. Dalam dirinya mengalir deras darah petarung, darah penakluk lautan. Dia mendandani perahunya dengan penuh ketelitian, dengan sepenuh rasa keindahan yang dia punyai. Perahu baginya bukan lagi sekadar sarana penopang ekonomi keluarga sebab perahu telah menjadi bagian dari dirinya, dari jiwanya.

    anak mandar pendandani perahu
    Anak Mandar yang sedang pendandani perahunya (Foto : Silmi Djafar)
    Mendandani perahu biasa dilakoni oleh pemuda di suku Mandar, saat tak sedang melaut mereka mengecat kembali perahu-perahu mereka. Mewarnai dengan bakat melukis hanya bermodalkan sepotong kuas dan cat kayu.

    Kontributor : Silmi Djafar


    , ,

    Sakinah namanya, kelas 6 SD, tinggal di Kampung Suruang, Kec. Campalagian, Kab. Polman, Sulawesi Barat. Sulung dari dua bersaudara ini baru saja pulang dari sekolah ketika saya menjumpainya sedang membenahi benang-benang sutera yang akan ditenun menjadi sarung sutera mandar. Adik Sakinah tepatnya tinggal di kampung dekat lapangan, anak dari bapak-ibu Hadi dan Hardi. Saya takjub, anak seusia dia sudah demikian mahir menenun. Lihatlah betapa tangannya yang mungil itu lincah menyusupkan benang lalu menghentak-hentakkan bilah papan penguat. Atau apakah anak seusia dia di Mandar hal itu sudah lumrah? Entahlah. Belum sempat saya mencari tahu tentang itu. Apapun, yang pasti segera melintas rasa girang bahwa warisan budaya tanah Mandar itu insya Allah tidak akan punah. 

    Sakinah menggulung benang untuk bahan menenun sarung sutera Mandar
    Sakinah menggulung benang untuk bahan menenun sarung sutera Mandar (Foto : Silmi Djafar)
    Sakinah menggulung benang untuk menenun sarung sutera MandarSakinah menggulung benang untuk menenun sarung sutera Mandar
    Sakinah menggulung benang untuk menenun sarung sutera Mandar (Foto : Silmi Djafar)
    Sakinah sebelum menenun sarung sutera Mandar
    Sakinah sebelum menenun sarung sutera Mandar (Foto : Silmi Djafar)
    Sakinah saat menenung sarun sutera Mandar
    Sakinah saat menenung sarun sutera Mandar (Foto : Silmi Djafar)
    Mudah-mudahan saya salah, bahwa tadinya ada semacam rasa cemas sarung sutera kebanggaan orang Mandar itu sebentar lagi bakal tersisih karena agaknya tak ada upaya yang cukup dari pihak-pihak yang berkompeten untuk mengembalikan marwah sarung itu seperti masa-masa lampau. Dalam amatan subjektif dan sekilas saya, sarung ini gaungnya kini tak senyaring kain-kain tenun dari daerah lain pada level nasional bahkan regional Sulsel. Saya ingat cerita ibu, konon dulu bangsawan Minang tak merasa lengkap jika tak mempunyai sutera mandar. Masihkah sekarang? Sekali lagi, mudah-mudahan saya salah!

    Di tengah tugas utamanya belajar, Sakinah dapat menyelesaikan selembar sarung dalam seminggu. Sarung-sarung yang ditenunnya adalah sarung pesanan. Upahnya tak tentu. Wajah ibunya tak mengguratkan kesan sedih ketika mengutarakan itu.

    Kontributor : Silmi Djafar

    , , ,

    Peserta Bakti Pemuda Antar Propinsi (BPAP) 2014 Sulawesi Barat yang berasal dari DKI JAKARTA JAMBI dan BALI mendapat kesempatan untuk mencoba tradisi MAPPADENDANG di FESTIVAL BUDAYA TRADISI BATETANGNGA di desa Batetanngnga kecamatan Binuang, kabupaten Polewali Mandar.

    peserta bpap 2014 mappadendang di desa Batetangnga kec. Binuang
    Peserta BPAP 2014 yang mengikuti kegiatan Mappadendang di desa Batetangnga kec. Binuang (Foto : Gunawan Apriatno)
    bpap 2014 mappadendang di desa Batetangnga kec. Binuang
    Peserta BPAP 2014 sebelum kegiatan Mappadendang di desa Batetangnga kec. Binuang (Foto : Gunawan Apriatno)
    bpap 2014 mappadendang Batetangnga kec. Binuang
    Utusan  BPAP 2014 Sulbar saat memegang alu di tradisi Mappadendang, desa Batetangnga kec. Binuang (Foto : Gunawan Apriatno)
    bpap 2014 mappadendang Batetangnga Binuang
    Keseruan saat menumbukkan alu di pertunjukan Mappadendang di desa Batetangnga kec. Binuang (Foto : Gunawan Apriatno)
    Mappadendang adalah tradisi yang dilakukan orang-orang suku Pattae di Batetangnga sebagai suatu rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. 

    Kontributor : Gunawan Apriatno

    , , , ,

    Penampilan tradisi MAPPADENDANG (pesta pasca panen) dalam acara FESTIVAL BUDAYA TRADISI BATETANGNGA di Desa Batetangnga Kec.Binuang Kab.Polewali Mandar. Kegiatan yang dilaksanakan tahun ini cukup  istimewa karena dihadiri oleh utusan BPAP (Bakti Pemuda Antar Provinsi) 2014 untuk Sulawesi Barat yang telah beberapa pekan menetap di desa Batetangnga.

    festival budaya batetangnga 2014
    Foto Mappadendang Festival Budaya Batetangnga 2014  (Foto : Gunawan Apriatno)

    aksi mappadendang di festival budaya batetangnga 2014
    Aksi mappadendang saat festival budaya batetangnga 2014 (Foto : Gunawan Apriatno)

    mappadendang festival budaya batetangnga 2014
    Bagian tradisi mappadendang di festival budaya batetangnga 2014  (Foto : Gunawan Apriatno)

    Member KOMPA DANSA MANDAR di acara mappadendang festival budaya batetangnga 2014 (Foto : Gunawan Apriatno)

    pelakon mappadendang festival budaya batetangnga 2014
    Para pelakon mappadendang festival budaya batetangnga 2014 (Foto : Gunawan Apriatno)

    Festival budaya Pattae yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali oleh LPB (Lintas Pemuda Batetangnga) merupakan bentuk perhatian besar pemuda pemudi Batetangnga dalam pelestarian budayanya sendiri.

    Kontributor : Gunawan Apriatno

    , , ,

    Jauh dari daratan Mandar, ratusan km jaraknya, tetapi atraksi Rebana ala Mandar masih bisa didengarkan menggema di salah satu Pulau di kab. Pangkep. Tetabuhan rebana menggema saat menyambut beberapa wisatawan asal mancanegara yang mengunjungi Pulau Salemo, kab. Pangkep (Pangkajene Kepulauan).

    atraksi rebana mandar di pulau salemo kab. pangkep
    Atraksi rebana mandar di pulau salemo kab. pangkep (Foto : Ahmad Djamaan)
    Beberapa pulau-pulau terluar di kab. Pangkep dominan dihuni oleh orang-orang dari suku Mandar, Sulawesi Barat, sebutlah salah satunya di kelompok pulau Kalukuang Masalima, nyaris penduduk di pulau ini adalah orang-orang Mandar yang masih mempertahankan identitasnya, masih terdengar sangat kental bahasa yang digunakan. Jarak pulau ini cukup jauh dari kota kabupaten, membutuhkan perjalanan laut yang memakan waktu sekitar 14 jam. 

    Kontributor : Ahmad Djamaan

    ,

    Pesona kecantikan ketika dibalut dalam potret budaya akan selalu menarik dan indah untuk dilihat, salah satu tempat merekamnya adalah pada even-even yang bertajuk pemilihan ikon -ikon daerah. Untuk wilayah Sulawesi Barat terdapat even pemilihan Kaka Kandi yang mirip dengan konsep pemilihan Abang-None di Jakarta atau pemilihan Dara-Daeng di Makassar. Kegiatan pemilihan duta provinsi ini kerap menampilkan kontestan dengan menggunakan kostum daerah, salah satu cara mempertahankan aspek budaya daerah hingga tak tergerus modernisasi.

    asia masyita runner up 1 kandi sulbar 2013
    Asia Masyita runner up 1 kandi sulbar 2013 (Foto : Ibaz Al Farizi)
    Pemilihan Kaka Kandi Sulbar menyeleksi putra dan putri daerah yang berkompetisi untuk menjadi duta bagi Sulawesi Barat dalam ranah  pemerintahan, ekonomi, politik sosial budaya dan pariwisata.. Event pemilihan Kaka-Kandi Sulbar menurut sejarahnya pertama kali dimulai pada tahun 2012 saat itu bertepatan dengan peringatan hari jadi Sulawesi Barat. 

    Pemilihan Kaka -Kandi Sulawesi Barat mempersyaratkan peserta sebagai berikut (dikutip dari blog Ikatan Kaka-Kandi Sulbar) :
    1. Warganegara Indonesia  belum menikah berdomisili sebagai penduduk Kabupaten Polewali mandar,Majene,Mamuju,Mamuju Tengah,Mamasa, Mamuju Utara.
    2. Bagipeserta penduduk di luar Provinsi Sulbar namun mewakili atau atasnama Sekolah/PerguruanTinggi di wilayah Provinsi Sulbar.
    3. Usia minimal  19 tahun  dan maksimal  25 tahun pada saat  pendaftaran peserta.
    4. Pendidikan minimal lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Akademi, Perguruan Tinggi dan Sarjana.
    5. Tinggi badan minimal  Pria :  170  cm,  dan  minimal Wanita :  165 cm .
    6. Mampu berbahasa Daerah Kabupaten Masing-masing, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris  secara aktif maupun pasif. 
    Konten pengetahuan budaya dan penggunaan pakaian adat tradisional merupakan salah satu bentuk kampanye dan promosi budaya yang cukup baik dilakukan dalam pemilihan Kaka-Kandi Sulbar, ditengah  minimnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan budaya dan wisata di Sulawesi Barat.

    Kontributor : Ibaz Al Farizi

    , , , ,

    Budaya memang satu hal yang diamis, akan selalu berkembang dan terpengaruh oleh teknologi dan inovasi. Kemajuan inovasi teknologi mesin mempermudah dan menghemat waktu yang digunakan oleh manusia untuk melakukan pekerjaannya. Hal yang sama terjadi di wilayah Sulawesi Barat, dan berlaku pada satu alat dapur yang digunakan untuk mengeruk daging buah kelapa. Masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah pikelluq

    Pada awalnya pikelluq berbentuk miniatur mirip hewan yang memiliki bagian kepala, bagian tubuh, dan ekor, tepat di bagian kepala ditancapkan bilah metal bergerigi untuk mengeruk daging buah. Namun saat ini mungkin dengan alasan "kepraktisan" maka dilakukan modifikasi terhadap "pikelluq" yaitu dengan mengubah bagian "badan"nya dengan menggunakan kayu datar tanpa bentukan miniatur yang mirip dengan hewan, sangat kontras dengan model pikelluq sebenarnya.

    pikelluq alat pengeruk kelapa tradisional
    pikelluq alat pengeruk kelapa tradisional dengan badan dari kayu biasa tanpa ukiran (Foto : Mujahidin Musa)
    Pikelluq di mata masayarakat Sulawesi Barat, suku Mandar khususnya bukan hanya memiliki fungsi sebagai alat untuk mengeruk daging buah kelapa, tetapi juga memiliki nilai mistis yang konon katanya dapat digunakan untuk mencegah angin ribut.

    Pergeseran bentuk pikelluq yang terjadi tak dapat dihindari untuk alasan kemudahan dan efektivitas dan efisiensi biaya dan tenaga yang digunakan. Karena itu, berkembanglah pikelluq  yang menggunakan media "baskom" plastik yang dimodifikasi dengan alat utama mesin air yang dijadikan alat penggerak mata pengeruk yang dengan waktu cepat mengambil daging buah kelapa secara efektif.

    pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern di binuang
    pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern di binuang (Foto : Mujahidin Musa)
    pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern
    pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern (Foto : Mujahidin Musa)
    Kelapa memang tidak pernah bisa dipisahkan dari urusan dapur saat berada di Sulawesi Barat, tanahnya yang dianugerahi iklim sesuai dengan pertumbuhan buah kelapa menjadikan wilayah ini banyak ditumbuhi kelapa dan menjadi komoditas besar. Hal ini juga yang melatarbelakangi dunia kuliner Sulbar banyak menggunakan bahan olahan daging buah kelapa (misalnya untuk santan) sebagain bahan pelengkap masakan saat acara-acara pernikahan, selamatan, akikahan, syukuran, dan kenduri-kenduri lainnya.


    Kiriman : Mujahidin Musa

    , ,

    Perairan Sulawesi Barat yang ternyata banyak menyimpan potensi perikanan selalu menjadi kesyukuran sendiri bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai, mereka yang berprofesi sebagai nelayan banyak menggantungkan kehidupan  pada laut dan segala isinya. Satu diantaranya yaitu potensi telur ikan terbang yang merupakan komoditi paling berharga  dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

    Nelayan-nelayan Mandar, Sulawesi Barat selalu memanfaatkan momen tahunan pada bulan April-seotember saat ikan terbang memijah (bertelur). Ikan terbang dalam bahasa lokal disebut "bau tuing-tuing" dan akivitas menangkap telur ikan terbang disebut sebagai "motangnga", para pelakunya disebut "potangnga". Berburu telur ini dilakukan oleh beberapa orang nelayan dalam satu tim yang berada dalam satu perahu bermotor. 

    armada potangnga nelayan mandar
    armada potangnga nelayan mandar dengan telur ikan terbang yang didapatkan dari laut (Foto : Asdar)
    Telur ikan terbang memang diketahui memilki nilai ekonomi yang sangat tinggi, harganya yang hingga ratusan ribu per kg nya menjadikannya alasan diburu oleh para nelayan, telur-telur yang berwarna kuning-oranye cerah ini setelah ditangkap biasanya akan dijemur dibawah sinar matahari, untuk menghilangkan kadar airnya, hingga kemudian dapat dijual kepada para supllier yang akan membelinya dari nelayan lokal.
    armada sandeq potangnga nelayan mandar dan telur ikan terbang
    armada sandeq potangnga nelayan mandar dan telur ikan terbang yang dijemur (Foto : Asdar)


    sandeq potangnga nelayan mandar
    sandeq potangnga yang digunakan nelayan mandar untuk berburu telur ikan terbang
    Jika anda berkunjung ke Mandar, Sulawesi Barat dan melihat perahu bermotor yang terlihat menggantung benda berwarna kuning-oranya di bagian atas kapal, maka itu adalah "telur ikan terbang" yang sedang dijemur. Pemandangan ini akan banyak anda temui dibulan April-September.

    Kiriman : Asdar

    , ,

    Ritus siklus kehidupan manusia adalah hal yang menarik untuk disaksikan di suku Mandar, Sulawesi Barat, ada banyak ritual yang harus dilewati, dan hal ini walaupun sudah mulai berkurang, masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Mandar. Salah satu budaya yang masih bisa direkam saat ini adalah "Mappadzaiq Toyang".


    Mappadzaiq Toyang dilaksanakan saat tali pusar bayi sudah kering dan yang terlibat dalam adat ini yaitu  "Sando" dan orang tua bayi. Makna dari prosesi ini adalah memperkenalkan bayi dengan toyang -nya/tempat tidurnya. Secara singkat, ini adalah sejenis salam/ untuk rumah tidur yang baru.

    mappadzaiq toyang bayi di mandar
    mappadzaiq toyang bayi di suku mandar sulawesi barat (Foto : Indra Ariana)
    Toyang  atau "ayunan" dahulu merupakan ayunan yang bentuknya persegi panjang, diperkirakan sesuai dengan ukuran panjang badan bayi, terbuat dari kayu yang sisi-sisinya diikat dengan  tali tambang berukuran kecil. Kalau kemudian kadang ayunan ini tidak seimbang, maka akan dibuat pemberat misalnya pada botol air mineral yang ada disisi-sisi ayunan yang terlihat pada gambar diatas. 

    Inovasi ayunan atau toyang lalu bergerak dan berganti seiring inovasi berubah menjadi ayunan yang memiliki pegas dengan kain atau sarung yang biasa diikatkan pada pengait yang ada pada pegas. Sebelum penggunaan pegas ini, ayunan lama persegi panjang yang banyak ditemukan di suku Mandar, Sulawesi Barat


    Seiring perubahan zaman beberapa hal mulai berganti, lilin yang biasa digunakan dan ditancapkan diatas gunungan dari beras dalam wadah mangkuk saat ini juga menggunakan lilin sungguhan, sebenarnya lilin yang digunakan dahulu adalah lilin yang terbuat dari campuran bahan tertentu yang terbuat dari kemiri, atau "beau" namun karena kadang-kadang sulit menemukannya maka lilinnya diganti dengan lilin sungguhan. Lilin yang terbuat dari kemiri ini didaerah kab. Majene misalnya  biasa disebut dengan nama "Palla-Pallang" banyak dijual saat menjelang hari lebaran idul fitri. Dan para penjual "palla-pallang" banyak bermunculan di pasar-pasar tradisional jelang momen lebaran. 

    Kiriman : Indra Ariana


Top