Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar - Promosi Budaya, Sejarah, dan Wisata Mandar, Sulawesi Barat
Showing posts with label Foto Budaya. Show all posts
Budaya, Budaya Mandar, Foto Budaya
Messawe Saeyyang Pattuqduq, juga tradisi yang masih terus bertahan di suku Mandar, Sulawesi Barat setiap bulan Maulid atau dalam penanggalan hijriah yang jatuh pada bulan Rabiul Awal hingga beberapa pekan setelahnya maka daerah-daerah di Mandar akan terdapat banyak pertunjukan messawe saeyyang pattuqduq. Baru saja kemarin (Minggu, 03 Februari 2019) pessawe terakhir dihelat di desa Bala, kecamatan Balanipa, kabupaten Polman, Sulawesi Barat. Ini adalah rangkaian terakhir dari pertunjukan saeyyang pattuqduq yang bisa ditemukan tahun ini.
![]() |
| Tradisi Messawe Saeyyang Pattuqduq dengan penunggang seorang Syarifah yang dihelat tahun ini di desa Pambusuang, kec. Balanipa, kab. Polman, Sulawesi barat (Foto : Wawan Rukman) |
Tradisi yang masih terus dilestarikan di suku Mandar ini akan menghadirkan parade kuda yang menari mengikuti rentak rebana, arak-arakan keliling kampung untuk mereka yang telah mengkhatamkan Al Qur'an. Pemuda atau pemudi yang mengenakan pakaian gaya arab, laki-laki mirip dengan kostum arab dengan gamis panjang Thawb dan penggunaan Kefiyeh, sementara perempuan akan mengenakan kerudung, biasa disebut Baqdawara. Biasanya seekor kuda ditunggangi oleh dua orang, satunya di bagian belakang menggunakan kostum budaya adat Mandar. Jika pasangan di bagian depan adalah orang dewasa, biasanya dibelakangnya duduk anak-anak atau remaja.
![]() |
| Tradisi Messawe Saeyyang Pattuqduq dengan penunggang seorang Syarifah yang dihelat tahun ini di desa Pambusuang, kec. Balanipa, kab. Polman, Sulawesi barat (Foto : Wawan Rukman) |
Saat rebana ditabuh maka sang kuda dan beberapa pesarung (yang memegangi penunggang kuda) akan menjaga agar penunggang kuda tidak jatuh. Mereka akan diarak di sepanjang jalur-jalur jalan dusun hingga pinggiran desa, tidak jarang kegiatan ini masuk kel jalur-jalur utama jalan provinsi, yang membuat kemacetan panjang, seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu di daerah Galung Tulu, kec. Balanipa kab. Polman, rusa jalan lumpuh selama beberapa jam.
Dahulu kegiatan ini tidak begitu ramai, namun karena messawe saeyyang pattuqduq seolah-olah bergeser menjadi pertunjukan yang tampaknya menjadi ajang adu gengsi antara kampung dan desa maka kemudian setia dusun dan desa seolah bertarung menghadirkan jumlah pessawe dan saeyyang pattuqduq dalam jumlah banyak.
Walau ada sedikit pergeseran nilai dari awal maksud pelaksanaan ritual khataman Al Quran ini, namun dari sisi tinjauan atraksi wisata messawe saeyyang pattuqduq sangat menarik bagi para pelancong atau pendatang dari luar daerah.
Kontributor :
Foto : Wawan Rukman
Teks : Muhammad Tom Andari
Berita, Foto, Foto Budaya, Sandeq, Sandeq Race
Perahu Sandeq Bintang Timur, adalah perahu Sandeq yang berasal dari daerah pesisir Tanjung Batu Kabupaten Majene, tahun ini jelang Sandeq Race 2017 dijadwalkan akan turut meramaikan pelaksanaan lomba perahu layar tradisional. Setelah beberapa hari sebelumnya dipersiapkan setiap bagian-bagiannya, hari ini (31 Juli 2017) Bintang Timur diujicoba di pesisir Tanjung Batu.
Tampak bagian sobal (layar) yang cukup lebar dan terbuka lebar seolah siap menerima angin untuk membawanya meluncur jadi yang tercepat bersaing dengan perahu-perahu sandeq nelayan lainnya di kampung-kampung nelayan di Sulawesi Barat.
Bintang Timur pertama kali dilautkan hari ini oleh masyarakat sekitar Tanjung Batu dengan bantuan warga lainnya sekitar 25 an lebih orang turut membantu meluncurkan perahu ini. Ini adalah bagian rutin yang dilakukan sebelum tahapan lomba, menguji coba semua fungsi perahu, terutama pada kestabilan layar, dan bagian-bagian perahu lainnya misalnya baratang, palatto, dan guling. Jika terdapat bagian-bagian yang belum sempurna maka kemudian akan disempurnakan.
![]() |
| Perahu sandeq Bintang Timur saat dalam uji coba di pesisir Tanjung Batu kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Arham) |
![]() |
| Saat perahu sandeq Bintang Timur pertama kali diluncurkan dengan didorong secara gotong royong oleh masyarakat sekitar Tanjung Batu, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Arham) |
![]() |
| Saat perahu sandeq Bintang Timur pertama kali diluncurkan dengan didorong secara gotong royong oleh masyarakat sekitar Tanjung Batu, kab. Majene, Sulawesi Barat (Foto : Arham) |
Foto : Arham
Teks : Muhammad Tom Andari
Budaya, Budaya Mandar, Foto Budaya
Pohon waru, orang Mandar menyebutnya lambagu (baca: lambag[h']u), tangkai
lunak yang ada di pangkal daunnya (dulu) digunakan oleh orang Mandar
untuk mengkritingkan rambut. Pohon waru banyak ditemukan tumbuh di tepi sungai.
![]() |
| ujung tangkai daun pohon waru (Foto : Dahri Dahlan) |
Caranya, ambil tangkai lunak tersebut,
buang daunnya, lalu belah batangnya menjadi dua bagian, tetapi tidak
sampai terpisah. Ambil bagian rambut yang mau dikriting, masukkan ujung
rambutnya ke dalam tangkai yang sudah dibelah tadi, rapikan dan gulung
sampai ke pangkal rambut, atau sampai pada bagian yang ingin dikriting. Jika sudah digulung, simpulkan ujung tangkai lunak tadi. Diamkan seharian lalu dibuka, rambutmu akan kriting. Selamat mencoba.
Kontributor : Dahri Dahlan
- Sureq Puang Lembang
- Sureq Datuk
- Sureq Jangan Jangan
- Sureq Lowang
- Sureq Taqbu-Taqbu
- Sureq Cubit-Cubitan
- Sureq Maraqdia
- Sureq Salaka
- Sureq Batu Darim
- Sureq Kapala Daerah
- Sureq Parara Kos
Budaya, Budaya Mandar, Foto Budaya, Majene
Kabupaten Majene baru saja memperingati hari jadinya, peristiwa tersebut dijadikan momentum bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Salah satu even menarik yang dilaksanakan oleh pihak panitia adalah pawai budaya, dan dalam kegiatan ini hadir beberapa tinggalan budaya khas Mandar, suku yang menghuni sebagian besar kabupaten Majene. Suku Mandar memiliki tinggalan budaya berupa sarung berbahan sutera, yang diolah dari ulat sutera, dijadikan benang, lalu ditenun menjadi sebuah sarung yang dapat digunakan sebagai kostum untuk upacara-upacara tradisi. Tinggalan budaya ini yang kemudian ditampilkan saat pawai beberapa waktu yang lalu.
Dalam pawai budaya ini di salah satu titik terdapat beberapa motif aarung sutera yang dipamerkan, ada begitu banyak sureq, menariknya adalah untuk tiap-tiap sarung sutera dilengkapi dengan identitas nama masing-masing sureq. Sureq adalah motif sarung sutera yang membedakannya dengan sarung yang lain, penamaannya biasa mengikuti trend yang sedang berlangsung saat sarung ditenun. Namun, di suku Mandar terdapat dua macam sureq asli atau dapat dikatakan sureq tradisional, keduanya adalah sureq padzadza dan sureq salaka. Keduanya adalah sureq "klasik" yang sangat populer dan pasti dikenali oleh para pemerhati sarung sutera.
Berikut ini adalah beberapa sureq yang ditampilkan dalam pawai budaya yang berlangsung di Majene baru-baru ini :
![]() |
| Sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti) |
Satu yang paling menarik dari nama sureq ini adalah adanya nama "Sureq Cubit-Cubitan" nama yang mungkin jauh dari budaya Mandar namun, penamaan sureq biasanya adalah sesuai dengan trend yang berlaku pada masa itu, kadang juga penamaan sureq biasanya mengikut pada momen atau kegiatan besar yang sedang berlangsung, atau ada peristiwa yang sedang mewabah, maka kemudian nama sureq akan disesuaikan.
![]() |
| Ragam sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti) |
Nama sureq Salaka adalah satu dari dua sureq utama untuk sarung sutera Mandar, sureq ini biasanya digunakan oleh para warga untuk mendatangi momen kematian, motifnya yang didominasi hitam mewakili keadaan berkabung.
Selain itu sureq Parara (Padzadza) juga adalah sureq utama dengan ciri khas berwarna merah, dalam pawai budaya ini ditampilkan modifikasi sureq padzadza yaitu sureq Padzadza kos.
![]() | |||||||||
| Aneka sureq sarung sutera Mandar di pawai budaya Majene (Foto : Desy Yanti) |
Sarung sutera menjadi tinggalan megah yang hampir dimiliki oleh suku-suku di Sulawesi Selatan dan Barat, merupakan budaya tradisional yang dilakoni oleh kaum perempuan yang mengajarkan kesabaran dan ketelatenan menjalin untaian benang, merapatkan jalinannya hingga menjadi sebuah sarung yang memiliki nilai lebih.
Kontributor : Desy Yanti
Budaya, Budaya Mandar, Foto Budaya
Beginilah kegiatan saya bersama keponakan yang ganteng, ketika awal memasuki bulan Ramadhan, kami sekeluarga berramai ramai membakar beberapa Solung atau Palla-Pallang, ini adalah lilin yang terbuat dari bahan kemiri, kami membakarnya di depan rumah masing-masing setelah magrib jelang malam awal bulan Ramadhan
Mengapa membakar Solung atau Palla-Pallang ? menurut penuturan orang tua kami, ketika membakar lilin ini di sekeliling rumah, hingga dalam rumah(disimpan di tempat yang tidak memiliki cahaya) diyakini dan dipercaya datang mengundang malaikat pembawa keberkahan dalam rumah, karena umumnya malaikat suka cahaya yang terang benderang. Ini sebuah tradisi yang tidak dapat di hilangkan dari kampung kami tercinta.
![]() |
| Tradisi membakar Solung atau Palla-Pallang di suku Mandar jelang bulan Ramadhan (Foto : Anchye Nurdin) |
Perlu kita ketahui solung atau palla-pallang digunakan untuk menyinari sebagai pelita dikala gelap dan umumnya di gunakan juga di tempat sakral seperti pada pernikahan kaum laki laki mandar, dirumah calon mempelai wanita.
Adapun cara membuat solung atau palla-pallang ini tak yaitu dari buah kemiri yang ditumbuk bercampur kapas, setelah itu ketika halus di remas perlahan, kemudian direkatkan pada bilah bambu yang tipis
Kontributor : Anchye Nurdin
Binuang, Budaya, Budaya Mandar, Foto Budaya, Polewali Mandar
"Pakkottau/Paqmaccaq"
Kottau dan Maccaq adalah seni beladiri yang dapat ditemukan di wilayah
Mandar, Sulawesi Barat, merupakan seni untuk mempertahankan diri yang
dipertunjukkan untuk tujuan menghibur, biasanya dapat kita lihat dalam
acara syukuran , khataman, akikahan, dan acara pernikahan. Ini adalah
seni pertarungan dan duel antara dua orang yang menggunakan jurus
tertentu dan diiringi dengan tabuhan gendang.
Pertunjukan seni beladiri tradisi ini biasa dilakoni oleh kaum lelaki di Sulawesi Barat yang mempelajari seni ini, biasanya di sela-sela acara atau kenduri maka pertunjukan ini bisa disaksikan, akan ada para masyarakat sekitar yang menyaksikan pertunjukan, dan pasti ada dua orang yang berduel, mungkin bisa dikatakan bermain silat tradisional. Kedua orang biasanya mengenakan pakaian biasa dengan songkok hitam dan sarung yang dililitkan di pinggang, lalu akan ada penabuh gendang beserta gong yang mengiringi pertarungan.
![]() |
| Pakkottau/Pamaccaq di Buttu Teneng, Binuang, kab. Polewali Mandar (Foto : Ijhal Marrannuang) |
Pertarungan yang dilakukan tentu saja dengan jurus-jurus silat tertentu, ragam perguruan silat kampung yang menjadi sumber belajar para pemain seni tradisi ini, ada yang sifatnya dibuka untuk umum adapula yag cenderung tertutup, jenis-jenis jurusnya juga sama, hal yang kontras adalah antara kottau dan maccaq, dimana kedua aliran seni beladiri ini cukup berbeda.
Permainan seni tradisi ini, lestrai terutama di wilayah pesisir, namun di Binuang utamanya di wilayah pesisir Amassangan juga masih bisa disaksikan. Kaum pemuda yang telah mempelajari teknik seni beladiri ini akan menunjukkan kepiawaiannya bermain silat dan saling menyerang dan bertahan secara bergantian, tampak sederhana, namun sebenarnya punya manfaat yang sangat baik, manfaat utamanya adalah menambah kebugaran, membakar kalori, sambil mengolah tubuh dan fisik, serta hal yang paling utama adalah menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur pendahulu.
![]() |
| Pakkottau Pamaccaq Di Binuang, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : Ijhal Marrannuang) |
Terdapat satu wilayah di kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat yaitu di Buttu Te'neng (Binuang II) Kel. Amassangan Kec. Binuang. Sisa-sisa serpihan generasi Mandar yang ada diwilayah ini masih melestarikan apa yang mereka peroleh dari generasi sebelumnya, mencoba kembali menemukan apa yang diajarkan pendahulunya secara turun temurun. Mereka adalah keluarga Mandar Majene yang kini hidup di kec. Binuang.
Kontributor : Ijhal Marrannuang
Berita, Budaya, Foto Budaya, Polewali Mandar
Orkes Todioloq, kelompok musik tradisional yang tampil dalam acara hari Lansia Nasional (HLUN) Hari Lanjut Usia Nasional yang diselenggarakan oleh yayasan YAUMI HMT Lapeo Sulawesi Barat di halte nelayan di Lapeo, kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat. HLUN diperingati setiap tanggal 29 Mei setiap tahunnya. Tahun ini orkes todioloq hadir menunjukkan kepiawaiannya menggunaan paduan alat musik tradisional, mereka didominasi oleh pemain musik lansia. Ini adalah kelompok musik tua yang telah berdiri semenjak tahun 1981 binaan pak Sudirman dan di gagas oleh Alm. Suwani Parolai Sudirman.
![]() |
| Orkes Tradisional Polewali Mandar (Foto : Rahmien Mahrul) |
Alat musik yang di gunakan antara lain gong, ganrang, basing-basing, sattung, calong, kulung-kulung, gero dan sia-sia. alat musik yang di gunakan masih sangat alami kebanyakan terbuat dari bambu.
![]() |
| Orkes Todioloq Polewali Mandar (Foto : Rahmien Mahrul) |
Saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu pemain kelompok musik ini, beliau menjelaskan bahwa pernah
ada bantuan alat musik dari pemerintah akan tetapi mereka menolak
dengan alasan "kalau kami menerima bantuan tersebut, maka alat kami sudah tidak tradisional lagi, dan akan hilang" mendengar ungkapan beliau, saya sempat berkaca-kaca mereka begitu
menjaga tradisi dalam modernisasi yang semakin pesat.
Kontributor : Rahmien Mahrul
Budaya, Budong-Budong, Foto Budaya, Mamuju Tengah
Mamose adalah adat orang Budong-Budong yang harus di lestarikan, ritual ini tepatnya dilaksanakan di desa Tabolang, kec. Topoyo, kab. Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Adat mamose di lakukan tiga kali dalam setahun yang pertama di lakukan
sebelum masuk hutan, yang kedua dilakukan setelah selesai merumbut atau
setelah membersihkan hutan atau tempat yang nantinya akan di tanamai
tanaman dan yang ketiga di lakukan setelah panen.
Dalam mamose terdapat berbagai ritual yang dilakoni, mulai dengan melakukan aksi menggunakan parang di tempat
terbuka di sekitaran rumah adat Budong-Budong dan di saksikan langsung oleh
raja dan masyarakat. Dalam aksinya Pamose sebutan bagi tokoh adat yang
sedang beraksi dengan berbicara bahasa Budong-Budong lalu menyampaikan
pesan-pesan terhadap raja maupun terhadap para masyarakat. Sebelum
melakukan aksinya terlebih dahulu iringi dengan musik dengan gendang,
saat pamose menghadap ke raja dan tobara musik gendang di hentikan lalu
pamose memohon izin terhadap raja dan juga terhadap Tobara (ini adalah sebutan bagi
kepala adat).
![]() |
| Ritual adat Mamose Budong-Budong di Kab. Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (Foto : Rahmien Mahrul) |
Sehari sebelum melakukan ritual adat mamose maka didahului oleh kegiatan "Magora’"
menggunakan perahu bermotor (katingting) berjalan menelusuri sungai Budong-Budong,
sesaat menghampiri masyarakat yang sudah menunggu di tepian sungai maka akan di lakukan "Magane", dengan menggunakan parang,
bendera,obat tradisional yang di letakkan di atas piring dan juga
sebatang kayu yang di tancapkan di tanah, Puntai melakukan ritual agar
kiranya kegiatan yang dilakukan berjalan dengan lancar, dahulu kala
bukan kayu yang di gunakan akan tetapi manusia yang di tanam sampai
kepala, lalu di lempari kemudian kepalanya di ambil di ikat di atas
bendera untuk di bawa di arak-arak di atas perahu.
![]() |
| Kegiatan Magora dan Magane dalam ritual adat Mamose di kec. Budong-Budong Mamuju Tengah (Foto : Rahmien Mahrul) |
Agar masyarakat
mengetahui kedatangan rombongan di tiup "Tantuang" yang terbuat dari
kerang berukuran besar lalu kemudian singgah di setiap tepian sungai bila ada
yang menunggu di pinggiran sungai, masyarakat yang menunggu di pinggir
sungai lalu menghampiri rombongan lalu menyerahkan seperti rokok,
makanan, minuman dan lain sebagainya, di terima langsung oleh Puntai
yang merupakan tokoh adat.
![]() |
| Aktivitas Puntai dalam ritual adat Mamose Budong-Budong Mamuju Tengah (Foto : Rahmien Mahrul) |
Kontributor : Rahmien Mahrul
Budaya, Foto Budaya, Komunitas, Polewali Mandar, Wonomulyo
Selamat untuk Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar di tahun ke-2 dalam perjalanannya yang terus mendokumentasikan kegiatan
budaya dan mempromosikan wisata yang ada di tanah Mandar walupun belum
sepenuhnya tapi dalam 2 tahun ini banyak pelajaran yang kita dapat, salut
buat KDM, ini kado kami dari KDM POLMAN , Trip budaya Jawa yang ada di Polewali Mandar
Soponyono ditelinga masyarakat Wonomulyo sudah tidak asing lagi, sebuah sanggar kesenian Jawa Timur yang masih tetap melestarikan kesenian khas Jawa yaitu Reog Ponorogo di tanah Mandar khususnya di Kab. Polewali Mandar. Reog Ponorogo yang ada di Polewali Mandar sama seperti Reog Ponorogo yang ada di Ponorogo Jawa Timur mulai dari tariannya, peralatan musiknya, aksesoris/pakaian penampil, dan fungsinya.
![]() |
| Ikon utama Reog Ponorogo yang berukuran besar (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Aksesoris topeng untuk pertunjukan Reog Ponorogo di Kab. Polewali Mandar (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Ikon utama pertunjukan Reog Ponorogo (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Alat musik dari bambu untuk pengiring pertunjukan Reog Ponorogo (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Aksesoris kuda lumping yang selalu hadir dalam pertunjukan Reog Ponorogo (Foto : Gunawan Apriatno) |
Kontributor : Gunawan Apriatno
Budaya, Foto Budaya
Dia anak Mandar. Dalam dirinya mengalir deras darah petarung, darah penakluk lautan. Dia mendandani perahunya dengan penuh ketelitian, dengan sepenuh rasa keindahan yang dia punyai. Perahu baginya bukan lagi sekadar sarana penopang ekonomi keluarga sebab perahu telah menjadi bagian dari dirinya, dari jiwanya.
![]() |
| Anak Mandar yang sedang pendandani perahunya (Foto : Silmi Djafar) |
Mendandani perahu biasa dilakoni oleh pemuda di suku Mandar, saat tak sedang melaut mereka mengecat kembali perahu-perahu mereka. Mewarnai dengan bakat melukis hanya bermodalkan sepotong kuas dan cat kayu.
Kontributor : Silmi Djafar
Budaya, Foto Budaya, Sutera Mandar
Sakinah namanya,
kelas 6 SD, tinggal di Kampung Suruang, Kec. Campalagian, Kab. Polman,
Sulawesi Barat. Sulung dari dua bersaudara ini baru saja pulang dari
sekolah ketika saya menjumpainya sedang membenahi benang-benang sutera
yang akan ditenun menjadi sarung sutera mandar. Adik Sakinah tepatnya tinggal di kampung dekat lapangan, anak dari bapak-ibu Hadi dan Hardi. Saya takjub, anak seusia
dia sudah demikian mahir menenun. Lihatlah betapa tangannya yang mungil
itu lincah menyusupkan benang lalu menghentak-hentakkan bilah
papan penguat. Atau apakah anak seusia dia di Mandar hal itu sudah
lumrah? Entahlah. Belum sempat saya mencari tahu tentang itu. Apapun,
yang pasti segera melintas rasa girang bahwa warisan budaya tanah Mandar
itu insya Allah tidak akan punah.
![]() |
| Sakinah menggulung benang untuk bahan menenun sarung sutera Mandar (Foto : Silmi Djafar) |
![]() | |||
| Sakinah menggulung benang untuk menenun sarung sutera Mandar (Foto : Silmi Djafar) |
![]() |
| Sakinah sebelum menenun sarung sutera Mandar (Foto : Silmi Djafar) |
![]() |
| Sakinah saat menenung sarun sutera Mandar (Foto : Silmi Djafar) |
Mudah-mudahan saya salah, bahwa
tadinya ada semacam rasa cemas sarung sutera kebanggaan orang Mandar
itu sebentar lagi bakal tersisih karena agaknya tak ada upaya yang
cukup dari pihak-pihak yang berkompeten untuk mengembalikan marwah
sarung itu seperti masa-masa lampau. Dalam amatan subjektif dan sekilas
saya, sarung ini gaungnya kini tak senyaring kain-kain tenun dari daerah
lain pada level nasional bahkan regional Sulsel. Saya ingat cerita ibu,
konon dulu bangsawan Minang tak merasa lengkap jika tak mempunyai
sutera mandar. Masihkah sekarang? Sekali lagi, mudah-mudahan saya
salah!
Di tengah tugas utamanya belajar, Sakinah dapat menyelesaikan selembar sarung dalam seminggu. Sarung-sarung yang ditenunnya adalah sarung pesanan. Upahnya tak tentu. Wajah ibunya tak mengguratkan kesan sedih ketika mengutarakan itu.
Kontributor : Silmi Djafar
Binuang, Budaya, Foto Budaya, Polewali Mandar
Peserta Bakti Pemuda Antar Propinsi (BPAP) 2014 Sulawesi Barat yang berasal dari DKI JAKARTA JAMBI dan
BALI mendapat kesempatan untuk mencoba tradisi MAPPADENDANG di FESTIVAL
BUDAYA TRADISI BATETANGNGA di desa Batetanngnga kecamatan Binuang, kabupaten Polewali Mandar.
![]() |
| Peserta BPAP 2014 yang mengikuti kegiatan Mappadendang di desa Batetangnga kec. Binuang (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Peserta BPAP 2014 sebelum kegiatan Mappadendang di desa Batetangnga kec. Binuang (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Utusan BPAP 2014 Sulbar saat memegang alu di tradisi Mappadendang, desa Batetangnga kec. Binuang (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Keseruan saat menumbukkan alu di pertunjukan Mappadendang di desa Batetangnga kec. Binuang (Foto : Gunawan Apriatno) |
Mappadendang adalah tradisi yang dilakukan orang-orang suku Pattae di Batetangnga sebagai suatu rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh.
Kontributor : Gunawan Apriatno
Binuang, Budaya, Foto Budaya, Pattae, Polewali Mandar
Penampilan tradisi MAPPADENDANG (pesta pasca panen) dalam acara FESTIVAL
BUDAYA TRADISI BATETANGNGA di Desa Batetangnga Kec.Binuang Kab.Polewali
Mandar. Kegiatan yang dilaksanakan tahun ini cukup istimewa karena dihadiri oleh utusan BPAP (Bakti Pemuda Antar Provinsi) 2014 untuk Sulawesi Barat yang telah beberapa pekan menetap di desa Batetangnga.
![]() |
| Foto Mappadendang Festival Budaya Batetangnga 2014 (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Aksi mappadendang saat festival budaya batetangnga 2014 (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Bagian tradisi mappadendang di festival budaya batetangnga 2014 (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Member KOMPA DANSA MANDAR di acara mappadendang festival budaya batetangnga 2014 (Foto : Gunawan Apriatno) |
![]() |
| Para pelakon mappadendang festival budaya batetangnga 2014 (Foto : Gunawan Apriatno) |
Festival budaya Pattae yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali oleh LPB (Lintas
Pemuda Batetangnga) merupakan bentuk perhatian besar pemuda pemudi Batetangnga dalam
pelestarian budayanya sendiri.
Kontributor : Gunawan Apriatno
Kontributor : Gunawan Apriatno
Budaya, Budaya Mandar, Foto Budaya, Rebana Mandar
Jauh dari daratan Mandar, ratusan km jaraknya, tetapi atraksi Rebana ala Mandar masih bisa
didengarkan menggema di salah satu Pulau di kab. Pangkep. Tetabuhan rebana menggema saat menyambut beberapa wisatawan asal mancanegara yang mengunjungi Pulau Salemo, kab. Pangkep (Pangkajene Kepulauan).
![]() |
| Atraksi rebana mandar di pulau salemo kab. pangkep (Foto : Ahmad Djamaan) |
Beberapa pulau-pulau
terluar di kab. Pangkep dominan dihuni oleh orang-orang dari suku Mandar,
Sulawesi Barat, sebutlah salah satunya di kelompok pulau Kalukuang Masalima, nyaris penduduk di pulau ini adalah orang-orang Mandar yang masih mempertahankan identitasnya, masih terdengar sangat kental bahasa yang digunakan. Jarak pulau ini cukup jauh dari kota kabupaten, membutuhkan perjalanan laut yang memakan waktu sekitar 14 jam.
Kontributor : Ahmad Djamaan
- Warganegara Indonesia belum menikah berdomisili sebagai penduduk Kabupaten Polewali mandar,Majene,Mamuju,Mamuju Tengah,Mamasa, Mamuju Utara.
- Bagipeserta penduduk di luar Provinsi Sulbar namun mewakili atau atasnama Sekolah/PerguruanTinggi di wilayah Provinsi Sulbar.
- Usia minimal 19 tahun dan maksimal 25 tahun pada saat pendaftaran peserta.
- Pendidikan minimal lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Akademi, Perguruan Tinggi dan Sarjana.
- Tinggi badan minimal Pria : 170 cm, dan minimal Wanita : 165 cm .
- Mampu berbahasa Daerah Kabupaten Masing-masing, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara aktif maupun pasif.
Budaya, Foto Budaya
Pesona kecantikan ketika dibalut dalam potret budaya akan selalu
menarik dan indah untuk dilihat, salah satu tempat merekamnya adalah
pada even-even yang bertajuk pemilihan ikon -ikon daerah. Untuk wilayah
Sulawesi Barat terdapat even pemilihan Kaka Kandi yang mirip dengan
konsep pemilihan Abang-None di Jakarta atau pemilihan Dara-Daeng di
Makassar. Kegiatan pemilihan duta provinsi ini kerap menampilkan kontestan dengan menggunakan kostum daerah, salah satu cara mempertahankan aspek budaya daerah hingga tak tergerus modernisasi.
![]() |
| Asia Masyita runner up 1 kandi sulbar 2013 (Foto : Ibaz Al Farizi) |
Pemilihan Kaka Kandi Sulbar menyeleksi putra dan putri daerah yang berkompetisi untuk menjadi duta bagi Sulawesi Barat dalam ranah pemerintahan, ekonomi, politik sosial budaya dan pariwisata.. Event pemilihan Kaka-Kandi Sulbar menurut sejarahnya pertama kali dimulai pada tahun 2012 saat itu bertepatan dengan peringatan hari jadi Sulawesi Barat.
Pemilihan Kaka -Kandi Sulawesi Barat mempersyaratkan peserta sebagai berikut (dikutip dari blog Ikatan Kaka-Kandi Sulbar) :
Konten pengetahuan budaya dan penggunaan pakaian adat tradisional merupakan salah satu bentuk kampanye dan promosi budaya yang cukup baik dilakukan dalam pemilihan Kaka-Kandi Sulbar, ditengah minimnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan budaya dan wisata di Sulawesi Barat.
Kontributor : Ibaz Al Farizi
Binuang, Budaya, Foto Budaya, Kuliner, Polewali Mandar
Budaya memang satu hal yang diamis, akan selalu berkembang dan terpengaruh oleh teknologi dan inovasi. Kemajuan inovasi teknologi mesin mempermudah dan menghemat waktu yang digunakan oleh manusia untuk melakukan pekerjaannya. Hal yang sama terjadi di wilayah Sulawesi Barat, dan berlaku pada satu alat dapur yang digunakan untuk mengeruk daging buah kelapa. Masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah pikelluq.
Pada awalnya pikelluq berbentuk miniatur mirip hewan yang memiliki bagian kepala, bagian tubuh, dan ekor, tepat di bagian kepala ditancapkan bilah metal bergerigi untuk mengeruk daging buah. Namun saat ini mungkin dengan alasan "kepraktisan" maka dilakukan modifikasi terhadap "pikelluq" yaitu dengan mengubah bagian "badan"nya dengan menggunakan kayu datar tanpa bentukan miniatur yang mirip dengan hewan, sangat kontras dengan model pikelluq sebenarnya.
![]() |
| pikelluq alat pengeruk kelapa tradisional dengan badan dari kayu biasa tanpa ukiran (Foto : Mujahidin Musa) |
Pikelluq di mata masayarakat Sulawesi Barat, suku Mandar khususnya bukan hanya memiliki fungsi sebagai alat untuk mengeruk daging buah kelapa, tetapi juga memiliki nilai mistis yang konon katanya dapat digunakan untuk mencegah angin ribut.
Pergeseran bentuk pikelluq yang terjadi tak dapat dihindari untuk alasan kemudahan dan efektivitas dan efisiensi biaya dan tenaga yang digunakan. Karena itu, berkembanglah pikelluq yang menggunakan media "baskom" plastik yang dimodifikasi dengan alat utama mesin air yang dijadikan alat penggerak mata pengeruk yang dengan waktu cepat mengambil daging buah kelapa secara efektif.
![]() |
| pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern di binuang (Foto : Mujahidin Musa) |
![]() |
| pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern (Foto : Mujahidin Musa) |
Kelapa memang tidak pernah bisa dipisahkan dari urusan dapur saat berada di Sulawesi Barat, tanahnya yang dianugerahi iklim sesuai dengan pertumbuhan buah kelapa menjadikan wilayah ini banyak ditumbuhi kelapa dan menjadi komoditas besar. Hal ini juga yang melatarbelakangi dunia kuliner Sulbar banyak menggunakan bahan olahan daging buah kelapa (misalnya untuk santan) sebagain bahan pelengkap masakan saat acara-acara pernikahan, selamatan, akikahan, syukuran, dan kenduri-kenduri lainnya.
Kiriman : Mujahidin Musa
Budaya Mandar, Foto Budaya, Majene
Perairan Sulawesi Barat yang ternyata banyak menyimpan potensi perikanan selalu menjadi kesyukuran sendiri bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai, mereka yang berprofesi sebagai nelayan banyak menggantungkan kehidupan pada laut dan segala isinya. Satu diantaranya yaitu potensi telur ikan terbang yang merupakan komoditi paling berharga dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
Nelayan-nelayan Mandar, Sulawesi Barat selalu memanfaatkan momen tahunan pada bulan April-seotember saat ikan terbang memijah (bertelur). Ikan terbang dalam bahasa lokal disebut "bau tuing-tuing" dan akivitas menangkap telur ikan terbang disebut sebagai "motangnga", para pelakunya disebut "potangnga". Berburu telur ini dilakukan oleh beberapa orang nelayan dalam satu tim yang berada dalam satu perahu bermotor.
![]() |
| armada potangnga nelayan mandar dengan telur ikan terbang yang didapatkan dari laut (Foto : Asdar) |
![]() |
| sandeq potangnga yang digunakan nelayan mandar untuk berburu telur ikan terbang |
Kiriman : Asdar
Budaya Mandar, Foto Budaya, Majene
Ritus siklus kehidupan manusia adalah hal yang menarik untuk disaksikan di suku Mandar, Sulawesi Barat, ada banyak ritual yang harus dilewati, dan hal ini walaupun sudah mulai berkurang, masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Mandar. Salah satu budaya yang masih bisa direkam saat ini adalah "Mappadzaiq Toyang".
Mappadzaiq Toyang dilaksanakan saat tali pusar bayi sudah kering dan yang terlibat
dalam adat ini yaitu "Sando" dan orang tua bayi. Makna dari prosesi ini adalah memperkenalkan bayi dengan toyang -nya/tempat tidurnya. Secara singkat, ini adalah sejenis salam/ untuk rumah tidur yang baru.
![]() |
| mappadzaiq toyang bayi di suku mandar sulawesi barat (Foto : Indra Ariana) |
Toyang atau "ayunan" dahulu merupakan ayunan yang bentuknya persegi panjang, diperkirakan sesuai dengan ukuran panjang badan bayi, terbuat dari kayu yang sisi-sisinya diikat dengan tali tambang berukuran kecil. Kalau kemudian kadang ayunan ini tidak seimbang, maka akan dibuat pemberat misalnya pada botol air mineral yang ada disisi-sisi ayunan yang terlihat pada gambar diatas.
Inovasi ayunan atau toyang lalu bergerak dan berganti seiring inovasi berubah menjadi ayunan yang memiliki pegas dengan kain atau sarung yang biasa diikatkan pada pengait yang ada pada pegas. Sebelum penggunaan pegas ini, ayunan lama persegi panjang yang banyak ditemukan di suku Mandar, Sulawesi Barat
Seiring perubahan zaman beberapa hal mulai berganti, lilin yang biasa digunakan dan ditancapkan diatas gunungan dari beras dalam wadah mangkuk saat ini juga menggunakan lilin sungguhan, sebenarnya lilin yang digunakan dahulu adalah lilin yang terbuat dari campuran bahan tertentu yang terbuat dari kemiri, atau "beau" namun karena kadang-kadang sulit menemukannya maka lilinnya diganti dengan lilin sungguhan. Lilin yang terbuat dari kemiri ini didaerah kab. Majene misalnya biasa disebut dengan nama "Palla-Pallang" banyak dijual saat menjelang hari lebaran idul fitri. Dan para penjual "palla-pallang" banyak bermunculan di pasar-pasar tradisional jelang momen lebaran.
Kiriman : Indra Ariana
Tulisan Paling Banyak Dibaca
-
Munu Beach, atau pantai Munu adalah sebuah objek wisata baru di kabupaten Majene, Sulawesi Barat yang akhir - akhir ini populer di kalanga...
-
Dua batu ini menjadi saksi dan bukti sejarah lahirnya kesepakatan para leluhur kami di tanah Mandar. Di ikrarkan di wilayah kami yg kami ...
-
Sebut saja ini zi arah tradisi maritim (urgensi museum), yang saya lakukan ke kediaman sang legenda, Kapten Pahlawan Laut di Museum TNI A...
-
Kabupaten Majene baru saja memperingati hari jadinya, peristiwa tersebut dijadikan momentum bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan In...
-
Mosso, adalah desa yang letaknya di dataran tinggi kec. Balanipa, berjarak sekitar 6-7 km dari jalan poros Majene-Polewali, dapat diakses d...
-
Sulawesi Barat sebagai provinsi yang terbentuk pada tahun 2004, banyak menyimpan potensi wisata yang belum dimaksimalkan dengan baik. Objek...
-
Berbagi cerita beberapa hari yang lalu saya mengikuti kegiatan membantu tetangga "Mallele boyang" (mengangkat dan memindahkan r...
-
Pulau Tangnga (Pulau Salamaq), Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Melihat lebih dekat Pulau Tangnga (Lebih di kenal dengan pulau Sal...
-
Pengembangan wisata adalah mutlak membutuhkan fasilitas akomodasi, jika anda berada di kab. Majene provinsi Sulawesi Barat, dan ingin meman...
-
Mappakeqdeq boyang (mendirikan rumah) bersama dengan keluarga besar di Lambanan. Meakayyang adaqtaq mipasalili litaqtaq. Lambanan adalah de...
Labels
Air Terjun
Akomodasi
Alu
Anreapi
Aralle
Arsitektur
Artikel
Banggae
Banggae Timur
Batetangnga
Berita
Binuang
Budaya
Budaya Mandar
Budong-Budong
Bukit
Buku
Bulo
Campalagian
Caving
Figur
Foto
Foto Budaya
Foto Sejarah
Foto Wisata
Gasing
Goa
Gua
Hotel
Kalukku
Kalumpang
Kanang
Karya
Kecantikan
Kegiatan
Kerajaan Binuang
Komunitas
Kuliner
Limboro
Lingkungan
Literasi
Lomba
Luyo
Majene
Makam
Makassar
Malunda
Mamasa
Mambi
Mampie
Mamuju
Mamuju Tengah
Mamuju Utara
Mandar
Obje
Objek Wisata
Opini
Pamboang
Pantai
Pantai Sulbar
Pattae
Penja
Permainan Tradisional
Polewali Mandar
Rebana Mandar
Refleksi
Sandeq
Sandeq Race
Sejarah
Sendana
Seni
Senja
Situs Sejarah
Sulawesi Barat
Sungai
Sungai Mandar
Sutera Mandar
Tapalang
Tapango
Tappalang Barat
Tarian Mandar
Teater
Teluk Mandar
Tinambung
Tokoh
Trip
Tubo Sendana
Ulumanda
Video
Wisata
Wisata Majene
Wisata Mamasa
Wisata Mamuju
Wisata Mamuju Tengah
Wisata Mamuju Utara
Wisata Polewali Mandar
Wisata Polman
Wisma Penginapan
Wonomulyo
















































