,

    Ada Pendopo Di Kampung Jawa. Ada Kampung Jawa Di Tanah Mandar (Doeloe dan Sekarang)

    Pendopo di kecamatan Wonomulyo kab. Polewali mandar menurut sejarahnya dibangun sebelum kolonisasi (transmigrasi zaman belanda-1938) datang ke daerah Wonomulyo selain pendopo dibangun juga sarana lain diantaranya Rumah Jabatan Asisten Wedana (Camat) Selapan-selapan (tempat pertemuan selama tiga puluh lima hari) Bedeng-bedeng (gudang-gudang penyimpanan makanan), bibit dan perkakas pertanian, Poliklinik, Lapangan, Pasar, tanah Lanbau (perkebunan) yang sekarang digunakan sebagai pasar ikan. 

    pendopo kantor camat wonomulyo polewali mandar
    (Foto Atas : kolonisatie van javanen te mapili-res.celebes en onderh-1938, Foto bawah : pendopo sebagai bagian dari kantor kecamatan Wonomulyo, kab. Polewali Mandar)
    Tata ruang wonomulyo sekilas mirip tata ruang di wilayah Jawa bisa kita lihat dengan adanya alun-alun (merupakan suatu lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan dan dapat digunakan kegiatan masyarakat yang beragam) di depan pendopo kemudian dibangun mesjid besar di samping alun-alun dan juga dibangun pasar di depan alun-alun.

    Sebelum terbentuk sebuah pemerintahan adalah wilayah yang diperintah dalam kekuasaan distrik mapilli dan distrik tapango sebagai daerah swapraja
    Pendopo dari awal dibangun dan hingga kini masih tetap difungsikan sebagai tempat pertemuan masyarakat, kegiatan perlombaan kesenian dan juga sebagai rumah jabatan kepala kecamatan 

    Kontributor : 
    Teks : Gunawan Apriatno
    Foto : Gunawan Apriatno

    , , ,

    Dua batu ini menjadi saksi dan bukti sejarah lahirnya kesepakatan para leluhur kami di tanah Mandar. Di ikrarkan di wilayah kami yg kami menamainya Litaq Maringinna Balanipa yang sekarang menjadi wilayah kecamatan Luyo, kabupaten Polewali Mandar. Kedua batu ini berbentuk kubus persegi panjang yg satu ukurannya lebih tinggi dan yang satunya lebih pendek menyimbolkan wilayah pegunungan (Wilayah kerajaan Pitu Ulunna Salu ) dan batu yang pendek menunjukkan wilayah pantai (wilayah kerajaan Pitu Baqbana Binanga)

    Situs allamungang batu di kec. Luyo kab. Polewali Mandar
    Situs allamungang batu di kec. Luyo kab. Polewali Mandar (Foto : Mukhtar Aco)
    Menurut cerita leluhur, konon kedua batu tersebut diikat bersama sebagai simbol penyatuan dari kedua wakil delegasi (Londong Dehata yang mewakili Pitu Ulunna Salu dan Tomepayung (Maraqdia Kedua Balanipa) mewakili Pitu Baqbana Binanga ) Berikrar sambil meletakkan kaki mereka di batu tersebut. 

    Isi deklarasi tersebut tertuang dalam perjanjian yang terkenal dengan sebutan Assitaliang Allamungang Batu Di Luyo point penting dari perjanjian itu adalah identitas masing-masing wilayah, persatuan melawan musuh dan tekad menyatu sampai akhir kehidupan. Perjanjian tersebut ditutup dengan sebuah epilog bahwa :
    "Jangan pernah ada generasi kemudian yang bermimpi untuk menghancurkan perjanjian".(lihat risalah perjanjian).
    Ditinjau dari sudut hukum, rupanya nenek moyang orang-orang Mandar lebih dulu mengenal tata cara melakukan perjanjian internasional (Treaty) dan lebih dulu mengenal konsep-konsep demokrasi dan saya menilai sistem republik dan demokrasi sudah tercipta di Mandar 500 tahun silam jauh sebelum Soekarno dan The Founding Father lainnya mengagas konsep tentang Indoenesia.

    Kini artefak itu seakan kehilangan rohnya. Dibiarkan tanpa pemeliharaan, dan generasi Sulawesi Barat hari ini masih banyak yang tidak mengenal sejarahnya sendiri.

    Kontributor : Mukhtar Aco

    ,

    Ini dia foto Budha dengan lilitan kain yang dikencangkan dari tradisi kesenian Amarawati, India Selatan yang berkembang pada abad 3-5 masehi. Patung ini (duplikat?) ditemukan di Sampaga, muara sungai Karama (yang mengalir dari Kalumpang, Mamuju, Sulawesi Barat). Patung inilah yang kelak menjadi dasar penelusuran oleh para arkeolog dalam dan luar negeri untuk menelusuri peradaban kuno Kalumpang, Sulbar.

    patung budha yang ditemukan di kalumpang mamuju sulawesi barat
    patung budha yang ditemukan di kalumpang mamuju sulawesi barat (Foto : warisanbuddhanusantara.blogspot.com)
    Kini patung tersebut tersimpan di Museum La Galigo (lantai 2), kompleks benteng Fort Rotterdam Makassar, Sulawesi Selatan.

    Kiriman : Dahri Dahlan

    , , , ,

    Kompleks makam Tambulese, adalah lokasi pemakaman bersejarah yang dimiliki oleh Majene, Sulawesi Barat. Berada di Lingkungan Teppo, Kelurahan Baru, Kecamatan Banggae Kabupaten Majene dengan topografi di atas bukit dengan ketinggian sekitar 55 m dari permukaan laut. Dalam kawasan kompleks terdapat sekitar 79 buah makam dengan berbagai macam ukuran, dan bahan nisan. 

    Kompleks Tambulese berbeda jika dibandingkan dengan makam-makam bersejarah lain yang ditemukan di kabupaten Majene, yaitu bahwa batu yang digunakan untuk membuat nisan terbuat daribatu berwarna putih. Jika di kompleks makam Imanang, Kubang dan pemakaman raja dan hadat banggae Mandar Ondongang dominan menggunakan bahan makam yang terbuat dari batu nisan berwarna hitam, maka kompleks makam Tambulese sangat berbeda. 

    Anda dapat mengakses objek wisata bersejarah ini dari pusat kota Majene menuju daerah utara tidak jauh dari Rumah Sakit Umum Daerah Kab, Majene, anda berbelok ke arah kanan  tepat di persimpangan lampu merah menuju lingkungan Teppoq. Tepat di gerbang makam maka anda akan disambut dengan penanda sederhana berwarna putih beratapkan seng  bertuliskan "Kompleks Makam Tambulese", di sudut kanan tertulis Dinas P&K Kab, Majene, dari teknik penulisannya kita sudah bisa menebak kapan penanda ini dibuat, saat ini pegelolaannya berada di bawah DISPORABUDPAR kabupaten.

    penanda di gerbang kompleks makam tambulese majene
    penanda di gerbang kompleks makam tambulese majene (Foto : Nasbi)
     Bahan batu nisan makam yang digunakan didominasi bahan batu solid berwarna putih dengan aturan yang cukup rapi terlihat. Untuk bentuk nisan nyaris sama bentuknya dengan nisan yang terdapat di pemakaman raja dan hadat kerajaan Banggae di buttu Ondongang.

    batu nisan kompleks makam tambulese
    batu nisan kompleks makam tambulese (Foto : Nasbi)




     Memiliki nisan dengan ragam hias unik dengan pola tertentu dan terlihat sagat artistik, diperkirakan dibuat dengan teknik memahat batu yang sangat berkembang di masa itu. Ada pekerjaan memahat batu yang sangat detail di setiap pola yang terlihat.

    nisan makam kompleks tambulese majene
    nisan makam kompleks tambulese majene (Foto : Nasbi)
    Diantara beberapa makam terdapat beberapa yang berukuran agak lebih besar dibandingkan lainnya, tampaknya semakin besar dan tinggi ukuran makam yang ada maka makin tingi status sosial pemilik makam semasa hidupnya. Disamping itu juga terdapat makam lainnya yang berukuran agak kecil, dengan nisan yang langsung terlihat di atasa permukaan tanah, tidak memiliki tingkatan batu.

    berbagai jenis makam di kompleks makam tambulese majene
    berbagai jenis makam di kompleks makam tambulese majene (Foto : Nasbi)
     Dari ragam hias  di nisan makam terlihat pola bunga dan daun, salah satu ciri khas pemakaman yang diidentikkan dengan Islam dengan arah membujur dari utara ke selatan dan menghadap barat atau timur. 

    ragam hias di nisan kompleks makam tambulese majene
    ragam hias di nisan kompleks makam tambulese majene (Foto : Nasbi)
    Kompleks makam ini cukup indah, ada banyak pohon kelapa berukurn kecil di sekitarnya. Karena berada di ketinggian, di sisi bukit Totoli dan berada diatas tebing yang dibawahnya terdapat sungai kecil menambah panorama berbeda makam ini. 

    Kiriman : Nasbi 

    , ,

    alquran peninggalan syekh abd mannan salabose
    alquran peninggalan syekh abd mannan (Foto : Adasi)

    alquran peninggalan syekh abd mannan banggae
    alquran peninggalan syekh abd mannan banggae (Foto : Adasi)
    Alquran peninggalan Syekh Abd Mannan, salah satu penyebar agama Islam di wilayah Banggae Kab. Majene Sulawesi Barat. Merupakan peninggalan Alquran yang cukup tua di wilayah ini, hanya dipertunjukkan ke khalayak umum dua kali dalam setahun, yaitu pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan saat bulan Ramadhan tiba

    Kiriman : Adasi

    ,

    makam tomepayung raja balanipa
    Makam Tomepayung Raja Kedua Kerajaan Balanipa (Foto : Fajrin Syawal)

    Dimana Pelestarian ?

    Kiriman : Fajrin Syawal


Top