, ,

    Pulau Popoongang atau biasa dituliskan Pulau Popoongan adalah salah satu pulau-pulau kecil yang menyusun kepulauan Balak-Balakang, secara administratif terletak di kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, karena jarak 60 mil laut dari perairan Mamuju maka kemudian pulau-pulau dalam wilayah Balak-Balakang ini jarang tersentuh. 

    Untuk soal potensi wisata barisan pulau di Balak-Balakang berada di level atas, untuk menemui pulau dengan pasir putih sangat mudah di tempat ini. Posisinya yang berada di selat Makassar antara Sulawesi dan Kalimantan dengan perairan dangkal menjadi tempat terbaik untuk tumbuhnya terumbu karang, hal yang sangat disukai wisatawan yang menikmati bentang bawah laut.

    pulau popoongang balak balakang mamuju
    Potret pantai berpasir putih di Pulau Popoongang yang diambil saat Ekspedisi Nusantara Jaya 2107 bulan September di kepulauan Balak-Balakang kab. Mamuju, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)
    Hanya sayang, Balak-Balakang lebih banyak dikunjungi wisatawan via Kalimantan Timur. Jalur terdekat untuk menuju pulau-pulau ini adalah via Kab. Paser atau dari Balikpapan. Sementara wisatawan yang berasal dari Sulawesi Barat bisa dikatakan nihil. Kalaupun ada yang berkunjung dari Sulbar, biasanya memiliki kepentingan yang urgen jika ingin menuju Balak-Balakang misanya untuk kepentingan ekonomi (mencari ikan), keperluan riset (peneliti), kewajiban pendidikan (guru dan pendidik). 

    pantai pulau popoongan mamuju sulbar
    Potret pantai berpasir putih di Pulau Popoongang yang diambil saat Ekspedisi Nusantara Jaya 2107 bulan September di kepulauan Balak-Balakang kab. Mamuju, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)
    Dari sekian pulau yang ada di Balak-Balakang, maka Pulau Popoongang memiliki struktur pasir putih yang sangat menarik. Gradsasi warna laut dari biru muda hingga biru tua dengan perairan yang tidak terlalu dalam, serta pasir putih dengan tekstur putih dan halus. Dari dokumentasi terakhir yang sempat dipotret Hasbi Djaya September 2017, peserta Ekspedisi Nusantara Jaya Sulawesi Barat yang baru-baru ini kembali dari pelayaran ke Balak Balakang, Popoongan memang memiliki pesona yang sangat layak untuk diunggulkan menjadi tujuan wisata.

    Hal tersulit yang dihadapi untuk mencapai Pulau Popoongang adalah akses nya yang sangat sulit, butuh biaya besar yang dihabiskan untuk menyeberangi selat Makassar menuju Balak-Balakang dari kab. Mamuju. Dari kajian pariwisata, maka syarat "kemudahan akses" belum tercapau untuk menjadikan kepulauan Balak-Balakang menjadi tujuan wisata, hal ini dapat ditangani jika otoritas setempat menyediakan alat transportasi dari Mamuju menuju Balak-Balakang.

    pulau popongan mamuju sulbar
    Potret pantai berpasir putih di Pulau Popoongang yang diambil saat Ekspedisi Nusantara Jaya 2107 bulan September di kepulauan Balak-Balakang kab. Mamuju, Sulawesi Barat (Foto : Hasbi Djaya)
    Popoongang, punya potensi yang sangat baik untuk jadi tujuan wisata bawah laut, terumbu karangnya menjadi jualan yang sangat baik.

    Hasil perikanan laut juga sangat melimpah di sekitar perairan Balak-Baakang, bahkan mudah menemukan "lobster" di perairannya. Nelayan-nelayan suku Mandar di Sulawesi Barat dari Rangas, Majene bahkan kadang berlayar sampai ke sekitar wilayah ini untuk berburu ikan-ikan karang berukuran besar. 

    Kontributor :
    Foto : Hasbi Djaya
    Teks : Hasbi Djaya

    ,

    Anjungan Pantai Manakarra Mamuju semakin mendekati proses penyelesaian dan perampungan, dapat dilihat dengan jelas bagian pesisir pantai yang direklamasi dan disulap menjadi tempat publik yang menarik. belum lagi ditambahkan landmark berwarna merah bertuliskan "Pantai Manakarra". Pemandangan ini jelas terekam dalam foto-foto dibawah ini.

    pantai manakarra mamuju
    Anjungan pantai Manakarra menuju proses peramapungan (Foto : Hasbi)
    Pada bagian depan terdapat sebuah miniatur perahu sandeq dengan tema "putih" , perahu sandeq merupakan perahu tradisional bercadik kebanggaan orang-orang Sulawesi Barat. 
    pantai manakarra mamuju sulbar
    Anjungan pantai Manakarra menuju proses peramapungan dengan desain atap berebntuk meja (Foto : Hasbi)
    Satu hal yang unik dari anjungan ini adalah terdapat beberapa atap yang berbentuk meja berwarna putih di hadapan landmark "Pantai Manakarra" sampai saat ini belum ada jenis atap yang seperti ini di Sulawesi Barat, ini adalah desain pertama yang pernah dibangun di Sulbar. Ini nantinya akan membuat kawasan anjungan menjadi semakin menarik.
    pantai manakarra mamuju sulawesi barat
    Anjungan pantai Manakarra menuju proses perampungan (Foto : Hasbi)
    Anjungan yang dibuat memuat konten budaya sebuah perahu Sandeq yang merekam kehidupan bahari orang-orang Sulawesi Barat, hampir sama seperti anjungan Pantai Losari di Makassar yang memajang ikon budaya di daerah ruang publik di sepanjang pantai.

    anjungan pantai manakarra mamuju sulbar
    Anjungan pantai Manakarra dengan miniatur perahu Sandeq  (Foto : Hasbi)
    Anjungan pantai Manakarra belum sepenuhnya rampung, namun bisa dikatakan mendekati rampung, hanya beberapa proses lagi maka ruang publik ini akan dapat dinikmati oleh masyarakat Mamuju dan Sulawesi Barat secara keseluruhan. Ini akan membuat aktivitas di sekitar pantai Manakarra akan semakin ramai oleh para pengunjung. 

    Kontributor : Hasbi


    Jembatan bolong yang ada di kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat ini merupakan salah satu pilihan objek wisata ketika anda berkunjung ke Mamuju dari arah selatan kota. Kita membutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit dari kota Mamuju untuk sampai ke tempat ini. Jika anda menempuh jalur dari selatan kota maka anda akan melalui jembatan bolong sebelum tiba di Mamuju. Sangat rugi rasanya jika kita melewatkan tempat ini untuk tidak sejenak beristirahat sambil mengabadikan momen-momen bersama keluarga atau teman terdekat anda. 

    Jembatan Bolong Mamuju yang baru di Sulawesi Barat
    Jembatan Bolong Mamuju yang baru di Sulawesi Barat (Foto : Hasby)
    Dahulu, jembatan bolong sangat santer dan kental dengan cerita mistis dan angker, ada banyak kendaraan yang harus mengalami kelainan dan keanehan di tempat ini, dari sekedar kasus mesin mati tiba-tiba, adanya penampakan makhluk astral, hingga terjadinya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan berbeda.Jembatan ini selalu jadi perhatian khusus bagi para pengendara, baii sepeda motor atau mobil, semua pengendara hampir tahu dan sudah menjadi rahasia umum jika tidak boleh sembarangan saat melintasi jembatan ini.

    Namun saat ini semenjak dibangunnya jembatan baru yang berwarna kuning, jembatan Bolong telah menjadi salah satu destinasi wisata yang ada di Sulawesi Barat. Ada banyak orang-orang yang kadang mampir hanya untuk berfoto narsis, warga setempat yang memadati jembatan saat sore, adanya penjual buah-buahan lokal (jika musim buah tiba), beberapa diantaranya yaitu buah durian, rambutan, serta langsat. Selain itu juga terdapat warung makan sederhana bagi yang ingin mampir dan mengisi perut kosong.

    Semenjak trend batu akik berkembang maka disekitar Jembatan Bolong juga dapat kita temukan dengan mudah para penjaja bahan batu akik, menjual bahan batu dalam bentuik bongkahan, lebih parah lagi, ada bagian-bagian stalaktit/stalakmit gua yang turut diperjualbelikan oleh para pedagang batu akik.

    Kontributor : Hasby

    , , , ,

    Saya memulai petualangan menjejaki bagian Kali Mamuju akhir pekan ini, bersama dengan beberapa rekan untuk menelusuri bagian hulu sungai Soqdo, sedikit lebih kedalam bagian sungai. Kami menelusuri bagian sungai dan bergerak ke arah hulu ke satu titik yang juga menarik untuk didatangi. 
    hulu sungai soqdo kali mamuju sulawesi barat
    Bagian hulu sungai soqdo kali mamuju sulawesi barat (Foto : Fahmir Ahmad)
     Bagian sungai ini adalah sisi lain dari sungai so'do, orang orang biasa menyebutnya Kali Mamuju, tempat ini berada sekitar kurang lebih 300 meter dari tempat yang sering dipadati oleh masyarakat. Akses jalan menuju bagian sungai Sodo ini terbilang cukup baik, dapat ditempuh dengan berjalan kaki, butuh beberapa menit untuk melakukan trekking, tentunya ke arah bagian pedalaman (hulu). Ada bagian hutan, kebun kakao, dan pohon durian yang akan kita lalui saat menuju bagian sungai Sodo ini.

    bagian hulu sungai soqdo kali mamuju
    Bagian hulu sungai Soqdo atau Kali Mamuju (Foto : Fahmira Ahmad)
    bagian hulu sungai soqdo kali mamuju sulbar
    Bagian hulu sungai soqdo, Kali Mamuju, Sulbar (Foto : Fahmira Ahmad) 
    Keadaannya sepi pengunjung, namun memiliki suasana yang sejuk. Bagian hulu sungai ini memiliki lokasi  untuk untuk berenang yang cukup luas, namun pada bagian sungai yang terletak ditengah tampak jelas kedalamannya, bagian tepinya masih cukup dangkal, dan tentu saja aman untuk jadi tempat mandi dan bermain air yang seru. 
    Bagian hulu sungai Soqdo dengan batu kali di tepiannya
    Bagian hulu sungai Soqdo dengan batu kali di tepiannya (Foto : Fahmira Ahmad)
    Ada yang menarik disini, saya sempat menemukan beberapa jenis kupu-kupu yang cantik, tapi karena keterbatasan kamera saya untuk memperbesar gambar saya tak bisa mengambil potretnya yang detail dan dari jarak dekat, yang jelas ini penanda kalau keadaan vegetasi sekitar sungai masih terjaga dan alami. Hari ini saya menutup pekan ketiga Februari dengan berkunjung ke tempat baru ini, semoga nanti saya bisa berkunjung lagi. 

    Kontributor : Fahmira Ahmad

    ,

    Sungai yang ada di Kelurahan Tasiu' Timur. Kec. Kalukku, Kab. Mamuju ini adalah sungai yang membentang luas membelah pegunungan yang ada di sekitarnya. Di sungai ini terdapat beberapa penambangan pasir yang menjadi sumber penghidupan masyarakat di sekitarnya. Warga setempat bekerja menambang pasir untuk digunakan sebagai salah satu material bangunan. Tak jarang juga dijumpai anak-anak kecil yang bermain dipinggiran sungai hanya untuk berenang atau sekedar menangkap ikan-ikan kecil.

    penambangan pasir di tasiu timur kalukku mamuju
    Proses penambangan pasir di Tasiu Timur, kec.Kalukku, kab. Mamuju (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    Proses penambangan pasir di Tasiu Timur, kec.Kalukku, kab. Mamuju (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    Penambang  pasir di Kalukku ini sudah menggunakan teknologi modern untuk menganbil pasir dari dasar sungai, tak lagi menggunakan sekop atau alat-alat tradisional dan manual, mereka menggunakan mesin yang mengisap pasir dan disaring di daratan, terdapat kawat penyaring yang dibuat dan berada tepat diujung mulut pipa pengisap, karena itu pasir yang telah diisap lewat mesin langsung disaring dengan kawat.

    kontributor kompa dansa mandar di kalukku
    Kontributor KOMPA DANSA MANDAR saat berada di sungai Tasiu Timur, Kalukku, kab. Mamuju (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
    Sungai ini banyak memiliki batu dan air yang jernih, menjadi tempat bagi warga baik muda hingga orang tua menghabiskan waktu di bawah terik sinar matahari, mencari nafkah untuk keluarga mereka. 
    Kontributor : Muhammad Putra Ardiansyah

    ,

    5 Desember 2014 bertempat di Rumah Baca Lenterra Manakarra, Mamuju. Member Kompa Dansa Mandar (Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar) menghadiri diskusi dengan tajuk "Menuliskan Mandar". Diskusi kali ini menghadirkan seorang narasumber budayawan muda Mandar "Muhammad Ridwan Alimuddin". 

    ridwan alimuddin diskusi menuliskan mandar
    ridwan alimuddin dalam diskusi menuliskan mandar di rumah baca lentera manakarra  (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)
    film dokumenter baharuddin lopa diskusi menuliskan mandar
    film dokumenter baharuddin lopa yang diputar saat diskusi menuliskan mandar di rumah baca lentera manakarra (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)
    suasana diskusi menuliskan mandar di rumah baca lentera manakarra mamuju
    suasana diskusi menuliskan mandar di rumah baca lentera manakarra mamuju (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)
    Diskusi diawali dengan pemutaran film dokumenter tentang Peristiwa Panyapuang Galung Lombok atau rangkaian pembantaian korban 40.000 di Sulawesi Selatan serta ditutup dengan film tentang biografi jaksa Agung Indonesia masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid, Alm. Baharuddin Lopa. 

    Satu kalimat kutipan dari seorang Ridwan Alimuddin yang layak dijadikan pedoman dan terekam di kepala saat mengikuti diskusi. adalah "Menulis sejarah boleh salah asal jangan bohong"

    Kontributor : Pusvawirna Natalia Muchtar

    , ,

    Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar dalam rapat pembentukan Tim Kreatif Karewata Magazine di rumah baca lentera Manakarra Jl. Sultan Hasanuddin No 5 Mamuju (samping kantor lurah Binanga)(15/11.2014).

    tim karewata magazine rapat bersama kompa dansa mandar mamuju
    tim karewata magazine rapat bersama kompa dansa mandar mamuju (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

    kompa dansa mandar mamuju saat mengikuti rapat tim kreatif karewata magazine (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

    Karewata Magazine adalah cikal bakal media cetak yang kontennya diantaranya berisi rubrik seputar budaya dan wisata di Sulawesi Barat.

    Kontributor : Pusvawirna Natalia Muchtar


Top