, ,

    Rumah tradisional Mandar dengan "Tumbaq Lajar"nya. Dari foto ini rumah tradisional tersebut mempunyai 5 susun Tumbaq Lajar. Artinya ialah yang menghuni rumah ini adalah bangsawan penuh. Ada juga yang 4 susun melambangkan yg punya rumah keturunan bangsawan. 3 susun juga keturunan bangsawan dari hadat.

    Rumah adat tradisional suku Mandar (Foto  : Tommuane Mandar)
    Saat ini penggunaan Tumbaq Lajar lebih sering digunakan di gedung-gedung pemerintahan. Contoh di Kantor Bupati Polman yg Tumbaq Lajarnya 5 susun. 

    Pada masa pemerintahan Arajang Balanipa ke-53 Hj. Andi Saharibulang dengan panggilan Puang Monda, bagi masyarakat Mandar yang mendirikan bangunan tradisional dengan menggunakan Tumbaq Lajar yang melebihi kadar kebangsawanannya, maka dipastikan rumahnya akan digusur. 

    Kontributor : Rajab Ashari

    , , ,

    Dua batu ini menjadi saksi dan bukti sejarah lahirnya kesepakatan para leluhur kami di tanah Mandar. Di ikrarkan di wilayah kami yg kami menamainya Litaq Maringinna Balanipa yang sekarang menjadi wilayah kecamatan Luyo, kabupaten Polewali Mandar. Kedua batu ini berbentuk kubus persegi panjang yg satu ukurannya lebih tinggi dan yang satunya lebih pendek menyimbolkan wilayah pegunungan (Wilayah kerajaan Pitu Ulunna Salu ) dan batu yang pendek menunjukkan wilayah pantai (wilayah kerajaan Pitu Baqbana Binanga)

    Situs allamungang batu di kec. Luyo kab. Polewali Mandar
    Situs allamungang batu di kec. Luyo kab. Polewali Mandar (Foto : Mukhtar Aco)
    Menurut cerita leluhur, konon kedua batu tersebut diikat bersama sebagai simbol penyatuan dari kedua wakil delegasi (Londong Dehata yang mewakili Pitu Ulunna Salu dan Tomepayung (Maraqdia Kedua Balanipa) mewakili Pitu Baqbana Binanga ) Berikrar sambil meletakkan kaki mereka di batu tersebut. 

    Isi deklarasi tersebut tertuang dalam perjanjian yang terkenal dengan sebutan Assitaliang Allamungang Batu Di Luyo point penting dari perjanjian itu adalah identitas masing-masing wilayah, persatuan melawan musuh dan tekad menyatu sampai akhir kehidupan. Perjanjian tersebut ditutup dengan sebuah epilog bahwa :
    "Jangan pernah ada generasi kemudian yang bermimpi untuk menghancurkan perjanjian".(lihat risalah perjanjian).
    Ditinjau dari sudut hukum, rupanya nenek moyang orang-orang Mandar lebih dulu mengenal tata cara melakukan perjanjian internasional (Treaty) dan lebih dulu mengenal konsep-konsep demokrasi dan saya menilai sistem republik dan demokrasi sudah tercipta di Mandar 500 tahun silam jauh sebelum Soekarno dan The Founding Father lainnya mengagas konsep tentang Indoenesia.

    Kini artefak itu seakan kehilangan rohnya. Dibiarkan tanpa pemeliharaan, dan generasi Sulawesi Barat hari ini masih banyak yang tidak mengenal sejarahnya sendiri.

    Kontributor : Mukhtar Aco

    Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) setelah beberapa lama bergerilya melalui media sosial semakin banyak memperoleh apresiasi dari para pemerhati, peminat, dan penggiat budaya, wisata, sejarah, pendidikan, dan lingkungan hidup, ada banyak komentar dan testimoni yang lahir dan dialamatkan pada komunitas online ini.


    Media promosi KOMPA DANSA MANDAR saat trip akbar di kec. Campalagian
    Media promosi KOMPA DANSA MANDAR saat trip akbar di kec. Campalagian (Foto : Abd. Rasyid)
     Ada beragam komentar yang diperoleh oleh KOMPA DANSA MANDAR selama melakukan promosi budaya dan wisata Sulawesi Barat, berikut adalah beberapa diantaranya :

    1. Mahdiah Mahlil

    "kagum dengan komunitas ini, tadinya saya pikir cuma komunitas anak-anak muda yang hobby eksis di media sosial, ternyata jauh lebih serius dari itu, sampai ambil bagian dari pertunjukan seni, ternyata membernya juga multi talenta, dibawa ke gunung bisa, dibawa ke panggung juga bisa...sukses buat kalian...negeri Mandar butuh penerus seperti kalian, bergerak semampu dan sebisamu, tidak usah menunggu yang berwenang dan yang berkewajiban, karena sebagai penerus, kita pun berwenang dan berkewajiban atas warisan leluhur kita...innaimo na mappamalaqbiq banua ta, mua tania ita?angkat topi buat kalian...— bangga.


    2. Ibaz Al Farizi

    "Yakin dan percaya Insya Allah KDM kedepannya akan jadi sebuah komunitas yang besar yang di kenal di seluruh Nusantara.......!!!!! kenapa saya mengatakan seperti ini, karna Solidaritas dan kekompakannya luar biasa Amin....!!!!

    , , ,

    Sejak semalam (28/08/2014) sampai pagi ini (29/08/2014) melihat foto Komunitas Sureq Bolong yang melakukan pementasan di Makassar (kiriman dari Jayalangkaraq). 
    Penampilan Ishak Jenggot dalam Kampung Budaya Makassar 2014
    Penampilan Ishak dari Sureq Bolong saat pertunjukan di Kampung Budaya Makassar 2014 (Foto : Ishak )
    Di Makassar pernah lahir satu kelompok musik yang bernama Laba-Laba Duda Hitam. Kelompok ini cukup disegani dan dikenal, paling tidak di gedung kesenian Makassar. Paling membanggakan karena kelompok ini didominasi orang Mandar, sehingga karakter dan materi lagu/ pertunjukan mereka itu berpijak pada budaya Mandar. Sebutlah misalnya sayang-sayang, paccalong, kalindaqdaq, keke, gongga: dieksplor sedemikian rupa dalam setiap karya original mereka. Sayangnya kelompok ini berumur pendek, tapi meninggalkan kesan yang manis. 

    Saat gaung kelompok ini meredup, para punggawanya kemudian eksis (makin eksis) di Teater Kampus (Terkam) Universitas Negeri Makassar. Saya mau bilang, mereka lah para guru saya: orang yang mengajak saya untuk berteater. Kala itu, orang Mandar lagi yang dominan di Terkam, sehingga ada plesetan bahwa Terkam itu akronim dari teater kampung. Saya berani berkata, di fase itu-lah kejayaan Mandar dalam jagad kesenian di Makassar berada. Tanpa menapikan popularitas Alm. Nurdahlan Jerana, tapi nanti melalui abang Ishak Jenggot, Dalif Palipoi, Sahabuddin Mahgana: orang mandar memiliki wadah atau kelompok yang sangat-sangat berbau Mandar. Alhasil, rumah kost saya (Pondok Anugerah) di Dg. Tata I disesaki para peteater, pemusik, pelukis dan pesastra: dan dominan orang Mandar. Dari situlah kemudian, Komunitas Sureq Bolong dirancang. Selain karna mashab kesenian yang kental, kala itu hanya Teater Flamboyat yang eksis di Polman: dan tidak ada kualitas yang terakui tanpa kompetisi. Harus ada komunitas lain beberapa tahun ke depan (kesimpulannya). Hasil dari proses di atas: Dalif membentuk Sossorang, Sahabuddin merancang One Do, Ishak tetap di Sureq Bolong yang kemudian membina Madatte Arts. 

    Lalu seperti yang kita lihat hari ini, sanggar seni tumbuh subur di kabupaten Polewali Mandar: lebih berwarna dan dinamis. Untuk Tinambung saya mencatatnya seperti ini: sebanyak apapun komunitas yang lahir, loyalitas kepada lembaga tetap terjaga. Saya belum pernah mendengar ada komunitas di Tinambung yang gulung tikar. Walau pada kenyataannya, ada lembaga yang dihuni hanya 1-3 orang saja. Tapi hal ini didukung iklim yang baik: mereka saling bantu lintas lembaga. Kedewasaan seperti ini yang sangat sulit dilakukan di Polewali. Tapi lambat laun ke arah itu akan ada: saya mulai saja dari perpecahan di Madatte yang kemudian melahirkan 2 lembaga (tiga kalau Madatte juga dihitung). Pada akhirnya kita akan disatukan oleh kebutuhan. Contoh kasus, Maspit dan Alm. Darmawi pernah masuk formasi Laba-Laba Duda Hitam sekaligus tetap menjadi anggota TF. 

    Melalui tulisan pendek ini: dan mengamati perkembangan Kab. Balanipa, maka: saatnya ada poros Polewali (hebat dan kreatif dapat dipelajari: hanya persoalan waktu).

    Kontributor : Ibnu Masyis

    , , , ,

    Air Terjun Palangpattamua nama dari air terjun tersebut. Objek wisata ini terletak di desa Sabura, kecamatan Bulo, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Berjarak kurang lebih 35 Km dari kec. Wonomulyo,  memiliki tinggi kurang dari 20 meter dengan tebing batu yang licin.

    Air Terjun Palangpattamua
    Air Terjun Palangpattamua (Foto : Bayu)

    Air Terjun Palangpattamua Bulo
    Air Terjun Palangpattamua Bulo (Foto : Bayu)
    Air terjun ini bisa dikatakan primadona belantara Sabura, jaraknya sekitar 15 menit dari perkampungan warga setelah menyeberangi Lembang Masunni, setelah bertemu sungai kecil, maka perjalanan agak mendaki. Setelah menyusuri sungai kecil yang penuh bebatuan maka di ujung jalan akan bertemu dengan Air Terjun Palangpattamua. 

    Air Terjun Palangpattamua Bulo Polman
    Air Terjun Palangpattamua Bulo Polman (Foto : Bayu)

    Air Terjun Palangpattamua Bulo Polewali Mandar
    Air Terjun Palangpattamua Bulo Polewali Mandar (Foto : Bayu)
    Desa Sabura sendiri berada di daerah teritorial Aruang Sabura yang dalam 4 aruang, Aruang Sabura disebut Ibu, sementara Bapak berada di Aruang Rappang, Anak di Aruang Batu, dan Cucu di Aruang Tapango.

    Kami tidak sempat menyusuri semua potensi wisata dan adat kebudayaan di wilayah tersebut, dkarenakan seorang rekan kami "Muhammad Abrar" terjatuh dari motor. Insya Allah, lain waktu ekspedisi ini kami lanjutkan. Wassalam..

    Kontributor : Bayu

    ,

    Seperti ada gelombang virus budaya dan wisata yang ditularkan dan hal tersebut tidak pernah kami duga, nyaris menyentuh mereka para pemuda dan pemudi, mulai dari “daun muda” hingga “daun tua”, tak peduli berapa interval umur yang ada, semuanya larut dalam euforia bahwa mereka sedang dalam usaha untuk berwisata sembari memperkenalkan daerah mereka sendiri.

    Kami nyaris tak pernah menyangka bahwa gelombang yang lahir saat ini merupakan efek dari riak budaya wisata yang kami gaungkan kurang lebih setahun yang lalu. Ya, efeknya viral dengan senjata social media yang lebih dahulu dihembuskan oleh para pendiri social media seperti Facebook dan Twitter. Usaha menggelorakan virus cinta tanah kelahiran kami tempuh melalui Facebook, pilihannya jatuh ke aplikasi sosmed ini, paling ampuh untuk wilayah Sulawesi Barat, dengan kisaran pengguna dari tingkat social ekonomi yang rendah, menengah hingga yang tinggi, namun sayang karena grup ini tidaklah terlalu kental dalam menggunakan bahasa daerah sendiri (Mandar) maka kemudian ia sedikit dilirik oleh orang-orang yang menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar bahasa mereka, atau apakah mereka kurang respek dengan penggiat budaya daerah yang mungkin lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, entahlah, yang jelas menyampaikan segala hal tentang budaya dan wisata dalam bahasa daerah tidaklah efektif untuk saat ini, jika tidak dibarengi dengan bahasa nasional, Bahasa Indonesia.

    Gema budaya dan wisata nyaris terasa, ada banyak pernak-pernik yang berseliweran di wall (dinding) facebook, testimoni mengenai ketakjuban pada objek wisata, atau hanya sekedar opini mengenai ke-Mandar-an yang kurang kental, Ya, ini memang tentang menyebarkan hal yang berhubungan dengan Mandar dan Sulawesi Barat, namun dalam hal yang lebih dan agak tradisional (budaya –wisata).

    member kompa dansa mandar menyaksikan pakkottau di desa parappe campalagian polman
    Member KOMPA DANSA MANDAR saat melakukan trip mengunjungi seni bela diri pakkottau di desa parappe kec. Campalagian Lab. Polewali Mandar  (Foto : Zulkifli Zain)
    Budaya dan wisata, dua hal ini merupakan citra yang dapat mengangkat suatu daerah, namun dua hal ini pulalah yang paling banyak menguras biaya jika ingin mendapat prioritas. Satu contoh kasus untuk hal budaya adalah dalam perkawinan yang terjadi di suku Mandar, ada begitu banyak ritual yang terjadi, jika hari ini ingin mengikuti ritual-ritual tersebut, mulai dari rangkaian messisi hingga acara perkawinan maka bersiaplah untuk budget dalam jumlah besar, lalu kemudian wajar jika seorang lelaki di Mandar akan berpikir masak-masak untuk menikahi sang pujaan hati, belum lagi budaya yang juga berlaku di Mandar jika si calon mempelai laki-laki akan membawa sejumlah “uang belanja” untuk biaya operasional pernikahan. Rangkaian pelaksanaan kegiatan budaya sejatinya memakan biaya yang tidak sedikit, sama halnya dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan yang dilakukan pemerintah, coba saja lirik di bagian pendanaannya, pasti ada biaya yang jumlahnya segunung.

    Dalam ranah budaya kami menelusuri langsung ke lokasinya, mencoba merekam peristiwa dan kejadian yang berlangsung untuk kemudian melakukan pendokumentasian seadanya, sembari melirik sedikit hal yang melatarbelakangi kejadian tersebut dalam aspek yang bernama sejarah. Tetapi, ini masih dalam tahap pengenalan, ada banyak hal penting yang luput, itu tak mengapa, saat ini bukan penting atau tidaknya, tetapi apakah “ada” atau “tidak ada” persoalan “penting” bisa dikoreksi untuk berikutnya.

    Lalu untuk wisata seperti apa? Pengembangan wisata nyaris tak ada yang ingin menyentuh, karena sifatnya yang dalam waktu panjang tak dapat dinikmati dalam waktu singkat. Sedikit wilayah yang ingin masuk kedalam ranah “pengembangan wisata” untuk betul-betul melakukan program peningkatan fasilitas, pengadaan sarana dan prasarana, serta promosi. Sama halnya dengan pelaksanaan kegiatan budaya program wisata lebih menyerap banyak budget untuk peaksanaannya, biaya pemeliharaan adalah yang paling banyak dibutuhkan, namun satu hal yang paling penting adalah sarana dan prasarana semisal akses jalan menuju tempat wisata, ini yang paling penting.

    Lalu, apa yang kami lakukan? Kami berwisata di negeri sendiri, mengenali potensinya, melakukan sedikit intervensi yang kami bisa, mengenalkan lokasi wisata yang mungkin belum banyak dijamah orang, dan mengabarkannya pada orang lain. Lagi-lagu kami hanya bisa mempromosikannya lewat dunia tulis menulis karena itu metode yang paling efektif untuk merekamnya, dan dalam waktu yang bersamaan menuliskan nama dalam catatan sejarah usaha pelestarian budaya dan wisata di negeri yang dahulu terbelakang.

    ,

    Dalam setiap kunjungan budaya dan wisata kami menemukan banyak cinta yang kadang bersemi dan tumbuh diantara mereka, entah itu cinta yang secara spontanitas tumbuh, cinta yang sedari dulu dipersiapkan untuk tumbuh, atau cinta yang tumbuh setelah mereka bertemu dalam kunjungan. Kondisi pra, present, dan past, hal itu mungkin lebih bisa menggambarkan keadaan yang ada. Namun selain dari tiga momen tersebut, terdapat fenomena cinta insidentil yang bisa saja tumbuh, dan hal tersebut yang lebih seru untuk dicermati, ini mungkin yang paling sulit untuk dirasionalkan, mengapa ia dapat tumbuh dalam waktu yang tiba-tiba, tanpa rencana. Kembali pada falsafah cinta yang sering didengung-dengungkan orang awam bahwa ia tak pernah melihat waktu, tempat dan orang, ia bisa datang dimanapun, kapanpun dan pada siapapun.
    cinta budaya wisata kompa dansa mandar
    Ilustrasi
     Merupakan hal yang wajar jika cinta bisa saja tumbuh secara spontan, ada banyak momen yang terjadi dalam setiap kunjungan yang mereka lakukan dan kesempatan ini memang ada. Jadilah kemudian kunjungan budaya dan wisata menjadi ladang dimana cinta disemai dan melahirkan kuncup yang indah. Cinta seperti apa yang dibentuk? Tentu saja cinta yang akan dibingkai oleh peristiwa dan kejadian yang berhubungan dengan budaya-wisata pula. Potensi untuk melakukan pendekatan interpersonal dimungkinkan adanya atas nama budaya-wisata, hal yang dapat dijadikan alat atau modus untuk menyelinap di balik “misi tersembunyi” yang ada.

    Selain cinta, diantara mereka juga kadang tumbuh rasa kagum yang bisa terbaca dari mimik wajah dan roman muka, entahlah kekaguman itu kelak akan dipancarkan atau tidak, yang jelas jalan untuk terjadinya proses penyemaian cinta selalu ada. Kekaguman disampaikan kadang dalam lelucon sederhana, atau pertanyaan simple seputar asal daerah. Lalu setelah itu apa? hanya mereka yang tahu apakah akan menyemai benih, memupuknya, hingga kemudian beroleh hasil panennya kelak.

    Kegiatan intens dalam bingkai budaya dan wisata menuntut mereka memiliki persepsi dan pola pikir yang sama, keadaaan dan peristiwa yang sama dengan jenis aktivitas yang sama pula. Lalu bagaimana mungkin cinta tidak akan tumbuh, jika mengetahui segala bentuk perilaku, sifat, dan karakter yang didapati. Walaupun, berlangsung singkat dan instan penilaian tidak bijak dilakukan dalam satu kali pengamatan, namun kondisi dan suasana yang lebih intens bisa membuat pengamatan yang mestinya beberapa kali dilakukan menjadi disingkat hanya dalam satu kali pengamatan saja. Keadaan memang bisa sangat mengubah kondisi hati dan perasaan, dan cinta memang akan selalu bicara soal hati dan perasaan yang selalu akan buta melihat fakta dan realita yang hadir.

    Cinta yang hadir dalam euforia budaya-wisata tidaklah pernah salah dan tak akan pernah bisa disalahkan, ini masih dalam ambang batas yang bisa diterima ketika seorang manusia merasa menjadi lebih nyaman dalam kondisi yang agak tradisional.

    Terung belanda atau terong belanda adalah jenis tanaman anggota keluarga terung-terungan (Solanaceae) yang mulai di kembangkan di Bogor Jawa Barat sejak tahun 1941. Di Indonesia terung ini mungkin pertama kali dibawa dan dikembangkan di Indonesia oleh orang Belanda pada waktu itu sehingga dikenal dengan nama terung belanda, padahal buah tersebut berasal dari daerah Amazon di Amerika Latin.

    Terung belanda aslinya berasal dari Peru, dan sekarang sudah umum dijumpai di daerah tropis. Tumbuh baik di pegunungan/dataran tinggi pada ketinggian 1000 mdpl. Di Jawa Barat dahulu dapat ditemui sedari 450-1700 mdpl. Menghendaki tanah yang kaya akan hara, drainase yang baik, dan tanah yang lembab dan dingin. (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

    Di Kab. Mamasa juga dapat kita jumpai buah Terong Belanda di kios buah pinggir jalan poros Mamasa mulai dari Desa Kelapa Dua, Kec.Messawa, Kec,Sumarorong hingga di pasar kota Mamasa, bisa kita lihat pada foto dibawah buah Terong Belanda yang direnteng berada di kios pusat penjualan buah. Harga buah terong belanda Rp.5000,- /renteng dan dalam 1 renteng terdapat 5 biji buah Terong Belanda.
     
    terong belanda yang dijual di kab. mamasa sulawesi barat
    terong belanda yang dijual di kab. mamasa sulawesi barat (Foto : Wawan Virgiawan)
    Terong belanda di Kab.Mamasa juga masuk dalam menu hidangan minuman jus dibeberapa warung makan dan jus Tamarilla atau yang lebih dikenal dengan jus Terong Belanda juga terkenal di Kab. Mamasa. 

    Selain buah Terong Belanda yang tumbuh di Bumi Kondo Sapata julukan yang dimiliki oleh Kab. Mamasa ada juga buah Manggis dan buah Alpukad, untuk sayuran ada sayur pakis, buncis, sayur labu siam, dan wortel. Saat ini kab. Mamasa telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan buah dan sayur, karena iklimnnya yang sesuai untuk tanaman ini. 
     
    Konributor : Wawan Virgiawan

    ,

    Salah satu bendungan yang ada di kecamatan Tapango, kabupaten Polewali Mandar.. Bendungan Lakejo dibuat tahun 2006, dengan dana PPK dari kabupaten.. Spotnya  lumayan untuk pengambilan gambar, hanya saja ia cenderung tidak terawat. 

    bendungan lakejo polman
    bendungan lakejo polman (Foto : Bayu)
    Bendungan kecil Lakejo di Kec. Tapango
    Bendungan kecil Lakejo di Kec. Tapango (Foto : Bayu)

    Jembatan kecil yang melintasi bendungan Lakejo, Tapango
    Jembatan kecil yang melintasi bendungan Lakejo, Tapango (Foto : Bayu)

    Aliran air yang jatuh di bendungan Lakejo, Polman
    Aliran air yang jatuh di bendungan Lakejo, Polman (Foto : Bayu)
    Bendungan Lakejo, Tapango, Kab. Polewali Mandar
    Bendungan Lakejo, Tapango, Kab. Polewali Mandar (Foto : Bayu)
     Menurut warga setempat, tempat ini masuk ke dalam peta Pariwisata Polman, tapi entah mengapa tidak dikembangkan.

    Kontributor : Bayu

    , ,

    Tana Lotong nama kalumpang dahulu adalah sebuah perkampungan unik khas dataran tinggi, berjarak sekitar 90 kilometer arah timur mamuju ibukota sulawesi barat dengan waktu tempuh hingga 6 jam karena jalan yang menanjak dan berkelok.
    tana lotong kalumpang mamuju
    tana lotong kalumpang mamuju (Foto : Udhink)
    Kalumpang adalah tempat eksotik yang pernah dikunjungi manusia austronesia, moyang kita, lebih dari 3800 tahun lalu. Jejak dan buktinya sudah banyak dilaporkan para arkeolog dalam dan luar negeri. Diantaranya, tembikar sebagai penanda utama kebudayaan austronesia.

    Di kampung etnik nan spektakuler yang masih kuat menjaga adat dan tradisi ini dapat dijumpai berbagai ragam budaya dan kerajinan khas yang tidak ditemukan di tempat lain di indonesia, diantaranya sekomandi tenunan tangan khas kalumpang yang telah dipasarkan hingga ke prancis.

    Dapat pula ditemukan patung perunggu budha yang dikemudian dikenal dengan situs patung sikendeng, situs batu prajurit, pare manurung yang tumbuh di batu pare. Situs batu tabuqung (baca: tabu’ung). Kerangka-kerangka manusia diletakkan dalam peti kayu berukir dan diletakkan (bukan ditanam) di tebing batu. Lumpur berwarna biru laut dengan tekstur yang lembut dan wangi dijadikan tembikar yang prosesnya tak terbebas dari mistik dan spritual. 
    tana lotong kalumpang mamuju sulbar
    tana lotong kalumpang mamuju sulbar (Foto : Udhink)
    Termasuk situs-situs arkeologi yang sudah di-mark oleh lembaga resmi negara, misalnya situs minanga sipakko dan kamansi, yang telah diteliti sejak awal abad xx oleh orang belanda. Selain itu, ada pula berbagai peralatan batu, seperti beliung persegi, pisau, mata panah, mata tombak, hingga pemukul kulit kayu dari zaman neolitikum

    Di balik rimbunnya hutan kalumpang juga mudah dijumpai pohon kayu ebony (kayu hitam) dan gaharu. Serta menjadi tempat berlangsungnya kehidupan hewan langka seperti rusa dan anoa (hewan khas sulawesi), meskipun kini terancam punah oleh arus deras gelombang investasi tambang dan perkebunan skala besar.
    Kini saatnya untuk kembali ke kampung halaman, atau juga bermakna kembali ke dalam kesejatian diri. Merawat memori kolektif akan idealisme sejarah, menafsir dan merekonstruksi keluhuran peradaban leluhur bergegas menginspirasi zaman karena sejarah telah memanggil. Dalam kemasan event bertajuk “TANA LOTONG MEMANGGIL” dengan item kegiatan :
    - Festival pedalaman nusantara
    - Orang kalumpang dari rantau berbagi cerita tempo doloe
    - Riset dan seminar bahasa kalumpang
    - Pagelaran seni dan permainan rakyat
    - Workshop dan sarasehan
    - Fotography dan wisata budaya.
    - Touring motor trail jelajah kalumpang
    - Rekonstruksi peradaban kalumpang

    Event ini juga berupaya menganyam kembali kohesi sosial, budaya dan ekonomi yang pernah ada di antara komunitas pedalaman kalumpang, mamasa, toraja, seko, kulawi, minahasa, larantuka, batak, kalimantan dan pedalaman nusantara lainnya.

    Kehadiran dan partisipasi anda akan menambah meriah event ini. Dan rasakan sendiri getaran semangat dan energi menjalani hidup dari tari sayo. Rasakan sendiri bagaimana berpapasan dengan orang-orang yang menuju ladang berbekal tuak pahit dan tombak terhunus dengan kepala anak-anak muncul dari dalam keranjang di punggung; rasakan sendiri aroma tembakau dari lelaki yang melinting tembakaunya dengan kulit jagung ; rasakan sendiri olahraga jantung melawan arus deras sungai karama ; rasakan sendiri menjalani hidup di tengah-tengah orang yang masih mengunyah daun sirih dan pinang di zaman ini, tanpa handphone, facebook, apalagi twiter.

    Namun, pesona dan senyum manis gadis-gadis cantik tanpa polesan berkulit putih bersih bersuara merdu dengan pengetahuan musik yang mumpuni akan membuat anda tak ingat pulang.
    DATANG DAN NIKMATI, PETUALANGAN MENARIK MENANTI DAN MENANTANG ANDA DI TANA LOTONG DALAM EVENT BERTAJUK “TANA LOTONG MEMANGGIL”.
    Kalumpang, 14 – 21 Desember 2014

    Kontributor : Udhink

    , , ,

    Laguna Pantai Taraujung Pamboang adalah alasan mengapa anda harus berkunjung kesini, pun selain itu ada lapisan batuannya yang menarik berupa tebing tajam. Ini adalah struktur batuan dengan kolam kecil diantaranya, objek ini terletak di bagian utara pantai di kec. Pamboang Kab. Majene. Jalur menuju objek wisata hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki, tak ada jalur kendaraan bermotor dapat sampai kesini, anda harus trekking sebentar untuk menjejakkan kaki di tempat ini. 

    laguna pantai taraujung pamboang majene
    laguna pantai taraujung pamboang majene (Foto : Linda Maulida)
    Laguna pantai Taraujung adalah berupa kolam kecil dengn paduan warna dasar laut yang sangat menarik, ragam warna mulai dari biru hingga kehijauan dapat anda saksikan di dasar kolam, ini adalah kolam yang terbentuk sendiri tanpa campur tangan manusia yang dikelilingi oleh batuan alam yang senantiasa digerus oleh ombak pantai. Kolam berisi ikan-ikan kecil yang dapat anda lihat langsung tanpa harus berendam dalam kolam, airnya yang jernih menjadikan anda lebih mudah mengamati ikan yang berenang. Di tepi kolam terdapat tumbuhan perdu berukuran mini dan tidak jauh dari lokasi in terdapat pohon bakau (mangrove) yang tumbuh disepanjang Pantai Taraujung. 

    foto dengan latar laguna pantai taraujung pamboang
    foto dengan latar laguna pantai taraujung pamboang  (Foto : Linda Maulida)
    Ingin berfoto dengan latar belakang laguna ini, maka anda akan mendapatkan foto yang sangat indah, paduan warnanya sangat serasi dan terbentuk dengan natural.
    foto dengan latar laguna pantai taraujung pamboang majene
    laguna pantai taraujung pamboang majene (Foto : Linda Maulida)
    Lapisan batuan alam yang mengelilingi kolam (laguna) adalah bentukan alam yang tersusun begitu sempurna, natural dan dapat memperkuat elemen foto saat anda abadikan.
    laguna pantai taraujung pamboang majene (Foto : Linda Maulida)
    Laguna dan apisan tebing batu Pantai Taraujung Pamboang, menanti untuk dikunjungi, bagi anda pencinta objek wisata pantai, batuan dan laguna. Spot ini termasuk jarang dikunjungi oleh orang-orang, karena jaraknya yang cukup menantang untuk sampai kesana, belum lagi batuan tajam yang jadi alas pijakan bisa jadi rekan yang paling mengancam. 

    Kontributor : Linda Maulida

    , ,

    Pantai Taraujung memiliki struktur tebing menarik yang belum banyak dikenali orang, salah satu objek wisata alam yang dapat jadi potensi yang cukup baik untuk dikelola. Struktur batu yang mengagumkan ini tepatnya terdapat di kel. Lalampanua, kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat.Orang-orang mungkin hanya mengenal pantai Taraujung dengan pesona pantainya yang luas, masih merupakan rangkaian dari pesisir yang membentang dari wilayah Pamboang ke arah utara menghadap ke selat Makassar.
    Tebing batu Taraujung Pamboang Majene
    Tebing batu Taraujung Pamboang Majene (Foto : Linda Maulida)


    Tebing batu Pantai Taraujung Pamboang Majene
    Kolam kecil (laguna) Tebing batu Pantai Taraujung Pamboang Majene (Foto : Linda Maulida)
    Tebing batu Pantai Taraujung Pamboang Majene, Sulbar
    Tebing batu Pantai Taraujung Pamboang Majene, Sulbar (Foto : Linda Maulida)
     Di bagian tengah struktur tebing batu terdapat kolam kecil (laguna) temoat hidupnya ikan hias yang indah, yang tampak terisi ketika air laut pasang.

    Objek wisata tebing batu Pantai Taraujung ini sedikit dikunjungi oleh para pendatang karena sebagian masyarakat yang tinggal disekitar lokasi ini juga masih menganggap tempat ini "angker" sebab itu jarang orang yang mengunjungi pantai Taraujung dan sampai ke spot ini.

    Kontributur : Linda Maulida

    ,

    Even lomba perahu Sandeq Race 2014 yang diakhiri di Pantai Manakarra, Mamuju kemarin (20/09/2014) menjadi penutup semua rangkaian etape berat lomba perahu tradisional dengan jarak jauh dengan tantangan yang sangat keras, beberap member komunitas penggiat budaya dan wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) menyempatkan diri mencoba meniru gaya mattimbang perahu sandeq (teknik yang digunakan untuk mencegah perahu terbalik saat mendapat hembusan angin keras di bagian layar)

    berusaha menyeimbangkan saat mattimbang perahu sandeq
    (Foto : Zulkifli Zain)
    mattimbang perahu sandeq
    (Foto : Zulkifli Zain)
    mattimbang perahu sandeq di palatto
    (Foto : Zulkifli Zain)

    menarik pengendali layar saat mattimbang
    (Foto : Zulkifli Zain)
    mattimbang berdua di bagian palatto perahu sandeq
    (Foto : Zulkifli Zain)
    Apakah ini bukti kesiapan member Kompa Dansa Mandar untuk mengikuti lomba perahu Sandeq Race tahun 2015 mendatang, yang jelas mengikuti lomba perahu Sandeq butuh keterampilan melayarkan sandeq, ilmu navigasi laut, dan teknik-teknik berlayar tradisional, karena perahu ini sama sekali tak menggunakan teknologi canggih untuk dilayarkan, hanya dibutuhkan dayung dan angin yang menghembus tepat di layar perahu.

    Kontributor : Zulkifli Zain

    ,

    Sebagai bentuk hormat dan rasa kebanggaan kami kepada Puaq As'ad, maka dengan ini kami buatkan baju (The Great Passandeq) yang dimana profit hasil penjualannya akan disumbangkan langsung ke Puaq Asad yang betul-betul menjadi inspirasi buat kita semua di ajang Sandeq Race 2014.


    Harga baju 90.000 dengan bahan Cotton Combed 20s. Setiap pembelian baju maka anda telah menyumbang 20.000 buat Puaq As'ad. Bagi yang berminat terakhir mendaftar tanggal 23 september 2014.
    Silahkan hubungi 085-396-183-193.

    Format Pendaftaran :
    Nama :.....................
    Alamat :.........................................
    Ukuran :...................................
    Nomor HandPhone : ....................................


    Kontributor : Hasbi

    ,

    Pabrik perahu yang terdapat di lingkungan Rangas Timur, kabupaten Majene, Sulawesi Barat, biasa digunakan membuat perahu untuk keperluan melaut, berlayar, dan mencari ikan. 
     
    Pabrik perahu di Rangas Timur (Foto : Chalik Noor)
    Pabrik perahu di Majene (Foto : Chalik Noor)

    Untuk perahu dengan ukuran kecil dihargai 400 Juta dan yang berukuran kecil 200 juta, harga tiap perahu yang dilepas tergantung pada tingkat harga kayu di pasaran. Perahu yang dibuat adalah perahu bermesin bodi atau biasa disebut "lopi pagae oleh orang-orang setempat.

    Kontributor : Chalik Noor


Top