Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar - Promosi Budaya, Sejarah, dan Wisata Mandar, Sulawesi Barat
Arsitektur, Budaya, Budaya Mandar
Rumah tradisional Mandar dengan "Tumbaq Lajar"nya. Dari foto ini rumah
tradisional tersebut mempunyai 5 susun Tumbaq Lajar. Artinya ialah yang
menghuni rumah ini adalah bangsawan penuh. Ada juga yang 4 susun
melambangkan yg punya rumah keturunan bangsawan. 3 susun juga keturunan
bangsawan dari hadat.
![]() |
| Rumah adat tradisional suku Mandar (Foto : Tommuane Mandar) |
Saat ini penggunaan Tumbaq Lajar lebih sering
digunakan di gedung-gedung pemerintahan. Contoh di Kantor Bupati Polman
yg Tumbaq Lajarnya 5 susun.
Pada masa pemerintahan Arajang Balanipa
ke-53 Hj. Andi Saharibulang dengan panggilan Puang Monda, bagi
masyarakat Mandar yang mendirikan bangunan tradisional dengan menggunakan
Tumbaq Lajar yang melebihi kadar kebangsawanannya, maka dipastikan
rumahnya akan digusur.
Kontributor : Rajab Ashari
Foto Sejarah, Luyo, Polewali Mandar, Sejarah
Dua batu ini menjadi saksi dan bukti sejarah lahirnya kesepakatan para
leluhur kami di tanah Mandar. Di ikrarkan di wilayah kami yg kami
menamainya Litaq Maringinna Balanipa yang
sekarang menjadi wilayah kecamatan Luyo, kabupaten Polewali Mandar. Kedua batu ini berbentuk kubus
persegi panjang yg satu ukurannya lebih tinggi dan yang satunya lebih pendek
menyimbolkan wilayah pegunungan (Wilayah kerajaan Pitu Ulunna Salu )
dan batu yang pendek menunjukkan wilayah pantai (wilayah kerajaan Pitu Baqbana Binanga)
Menurut cerita leluhur, konon kedua batu tersebut diikat bersama sebagai
simbol penyatuan dari kedua wakil delegasi (Londong Dehata yang mewakili Pitu Ulunna Salu dan Tomepayung (Maraqdia Kedua Balanipa) mewakili Pitu Baqbana Binanga ) Berikrar
sambil meletakkan kaki mereka di batu tersebut.
Isi deklarasi tersebut tertuang dalam perjanjian yang terkenal dengan sebutan Assitaliang Allamungang Batu Di Luyo point penting dari perjanjian itu adalah identitas masing-masing wilayah, persatuan melawan musuh dan tekad menyatu sampai akhir kehidupan. Perjanjian tersebut ditutup dengan sebuah epilog bahwa :
Isi deklarasi tersebut tertuang dalam perjanjian yang terkenal dengan sebutan Assitaliang Allamungang Batu Di Luyo point penting dari perjanjian itu adalah identitas masing-masing wilayah, persatuan melawan musuh dan tekad menyatu sampai akhir kehidupan. Perjanjian tersebut ditutup dengan sebuah epilog bahwa :
"Jangan pernah ada generasi kemudian yang bermimpi untuk menghancurkan perjanjian".(lihat risalah perjanjian).
Ditinjau dari sudut hukum, rupanya nenek moyang orang-orang Mandar lebih dulu mengenal tata cara melakukan perjanjian internasional
(Treaty) dan lebih dulu mengenal konsep-konsep demokrasi dan saya menilai sistem republik dan demokrasi sudah tercipta di Mandar 500 tahun silam jauh sebelum Soekarno dan The Founding Father lainnya mengagas konsep tentang Indoenesia.
Kini artefak itu seakan kehilangan rohnya. Dibiarkan tanpa pemeliharaan, dan generasi Sulawesi Barat hari ini masih banyak yang tidak mengenal sejarahnya sendiri.
Kontributor : Mukhtar Aco
Komunitas
Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) setelah beberapa lama bergerilya melalui media sosial semakin banyak memperoleh apresiasi dari para pemerhati, peminat, dan penggiat budaya, wisata, sejarah, pendidikan, dan lingkungan hidup, ada banyak komentar dan testimoni yang lahir dan dialamatkan pada komunitas online ini.
| Media promosi KOMPA DANSA MANDAR saat trip akbar di kec. Campalagian (Foto : Abd. Rasyid) |
"kagum dengan komunitas ini, tadinya saya pikir cuma komunitas anak-anak muda yang hobby eksis di media sosial, ternyata jauh lebih serius dari itu, sampai ambil bagian dari pertunjukan seni, ternyata membernya juga multi talenta, dibawa ke gunung bisa, dibawa ke panggung juga bisa...sukses buat kalian...negeri Mandar butuh penerus seperti kalian, bergerak semampu dan sebisamu, tidak usah menunggu yang berwenang dan yang berkewajiban, karena sebagai penerus, kita pun berwenang dan berkewajiban atas warisan leluhur kita...innaimo na mappamalaqbiq banua ta, mua tania ita?angkat topi buat kalian...— bangga.
Makassar, Mandar, Opini, Seni
Sejak semalam (28/08/2014) sampai pagi ini (29/08/2014) melihat foto
Komunitas Sureq Bolong yang melakukan pementasan di Makassar (kiriman dari Jayalangkaraq).
![]() |
| Penampilan Ishak dari Sureq Bolong saat pertunjukan di Kampung Budaya Makassar 2014 (Foto : Ishak ) |
Di Makassar pernah lahir satu kelompok musik
yang bernama Laba-Laba Duda Hitam. Kelompok ini cukup disegani dan
dikenal, paling tidak di gedung kesenian Makassar. Paling
membanggakan karena kelompok ini didominasi orang Mandar, sehingga
karakter dan materi lagu/ pertunjukan mereka itu berpijak pada budaya
Mandar. Sebutlah misalnya sayang-sayang,
paccalong, kalindaqdaq, keke, gongga: dieksplor sedemikian rupa dalam
setiap karya original mereka. Sayangnya kelompok ini berumur pendek,
tapi meninggalkan kesan yang manis.
Saat gaung kelompok ini meredup,
para punggawanya kemudian eksis (makin eksis) di Teater Kampus (Terkam)
Universitas Negeri Makassar. Saya mau bilang, mereka lah para guru saya: orang yang
mengajak saya untuk berteater. Kala itu, orang Mandar lagi yang dominan
di Terkam, sehingga ada plesetan bahwa Terkam itu akronim dari teater
kampung. Saya berani berkata, di fase itu-lah kejayaan Mandar dalam
jagad kesenian di Makassar berada. Tanpa menapikan popularitas Alm.
Nurdahlan Jerana, tapi nanti melalui abang Ishak Jenggot, Dalif Palipoi,
Sahabuddin Mahgana: orang mandar memiliki wadah atau kelompok yang
sangat-sangat berbau Mandar. Alhasil, rumah kost saya (Pondok Anugerah)
di Dg. Tata I disesaki para peteater, pemusik, pelukis dan pesastra:
dan dominan orang Mandar. Dari situlah kemudian, Komunitas Sureq Bolong
dirancang. Selain karna mashab kesenian yang kental, kala itu hanya
Teater Flamboyat yang eksis di Polman: dan tidak ada kualitas yang
terakui tanpa kompetisi. Harus ada komunitas lain beberapa tahun ke
depan (kesimpulannya). Hasil dari proses di atas: Dalif membentuk
Sossorang, Sahabuddin merancang One Do, Ishak tetap di Sureq Bolong yang
kemudian membina Madatte Arts.
Lalu seperti yang kita lihat hari ini, sanggar seni tumbuh subur di kabupaten Polewali Mandar: lebih berwarna dan dinamis. Untuk Tinambung saya mencatatnya seperti ini: sebanyak apapun komunitas yang lahir, loyalitas kepada lembaga tetap terjaga. Saya belum pernah mendengar ada komunitas di Tinambung yang gulung tikar. Walau pada kenyataannya, ada lembaga yang dihuni hanya 1-3 orang saja. Tapi hal ini didukung iklim yang baik: mereka saling bantu lintas lembaga. Kedewasaan seperti ini yang sangat sulit dilakukan di Polewali. Tapi lambat laun ke arah itu akan ada: saya mulai saja dari perpecahan di Madatte yang kemudian melahirkan 2 lembaga (tiga kalau Madatte juga dihitung). Pada akhirnya kita akan disatukan oleh kebutuhan. Contoh kasus, Maspit dan Alm. Darmawi pernah masuk formasi Laba-Laba Duda Hitam sekaligus tetap menjadi anggota TF.
Melalui tulisan pendek ini: dan mengamati perkembangan Kab. Balanipa, maka: saatnya ada poros Polewali (hebat dan kreatif dapat dipelajari: hanya persoalan waktu).
Kontributor : Ibnu Masyis
Air Terjun, Bulo, Komunitas, Objek Wisata, Polewali Mandar
Air Terjun Palangpattamua nama dari air terjun tersebut. Objek wisata ini terletak di desa Sabura, kecamatan Bulo, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Berjarak kurang lebih 35 Km
dari kec. Wonomulyo, memiliki tinggi kurang dari 20 meter dengan tebing batu yang
licin.
![]() |
| Air Terjun Palangpattamua (Foto : Bayu) |
![]() |
| Air Terjun Palangpattamua Bulo (Foto : Bayu) |
Air terjun ini bisa dikatakan primadona belantara Sabura, jaraknya sekitar 15 menit dari perkampungan warga setelah menyeberangi Lembang
Masunni, setelah bertemu sungai kecil, maka perjalanan agak
mendaki. Setelah menyusuri sungai kecil yang penuh bebatuan maka di ujung jalan akan bertemu dengan Air Terjun Palangpattamua.
![]() |
| Air Terjun Palangpattamua Bulo Polman (Foto : Bayu) |
![]() |
| Air Terjun Palangpattamua Bulo Polewali Mandar (Foto : Bayu) |
Kami tidak sempat menyusuri semua potensi wisata dan adat kebudayaan di wilayah tersebut, dkarenakan seorang rekan kami "Muhammad Abrar" terjatuh dari motor. Insya Allah, lain waktu ekspedisi ini kami lanjutkan. Wassalam..
Kontributor : Bayu
Kontributor : Bayu
Komunitas, Opini
Seperti
ada gelombang virus budaya dan wisata yang ditularkan dan hal tersebut
tidak pernah kami duga, nyaris menyentuh mereka para pemuda dan
pemudi, mulai dari “daun muda” hingga “daun tua”, tak peduli berapa
interval umur yang ada, semuanya larut dalam euforia bahwa mereka
sedang dalam usaha untuk berwisata sembari memperkenalkan daerah mereka
sendiri.
Kami nyaris tak pernah menyangka bahwa gelombang yang lahir saat ini merupakan efek dari riak budaya wisata yang kami gaungkan kurang lebih setahun yang lalu. Ya, efeknya viral dengan senjata social media yang lebih dahulu dihembuskan oleh para pendiri social media seperti Facebook dan Twitter. Usaha menggelorakan virus cinta tanah kelahiran kami tempuh melalui Facebook, pilihannya jatuh ke aplikasi sosmed ini, paling ampuh untuk wilayah Sulawesi Barat, dengan kisaran pengguna dari tingkat social ekonomi yang rendah, menengah hingga yang tinggi, namun sayang karena grup ini tidaklah terlalu kental dalam menggunakan bahasa daerah sendiri (Mandar) maka kemudian ia sedikit dilirik oleh orang-orang yang menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar bahasa mereka, atau apakah mereka kurang respek dengan penggiat budaya daerah yang mungkin lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, entahlah, yang jelas menyampaikan segala hal tentang budaya dan wisata dalam bahasa daerah tidaklah efektif untuk saat ini, jika tidak dibarengi dengan bahasa nasional, Bahasa Indonesia.
Gema budaya dan wisata nyaris terasa, ada banyak pernak-pernik yang berseliweran di wall (dinding) facebook, testimoni mengenai ketakjuban pada objek wisata, atau hanya sekedar opini mengenai ke-Mandar-an yang kurang kental, Ya, ini memang tentang menyebarkan hal yang berhubungan dengan Mandar dan Sulawesi Barat, namun dalam hal yang lebih dan agak tradisional (budaya –wisata).
Budaya
dan wisata, dua hal ini merupakan citra yang dapat mengangkat suatu
daerah, namun dua hal ini pulalah yang paling banyak menguras biaya
jika ingin mendapat prioritas. Satu contoh kasus untuk hal budaya
adalah dalam perkawinan yang terjadi di suku Mandar, ada begitu banyak
ritual yang terjadi, jika hari ini ingin mengikuti ritual-ritual
tersebut, mulai dari rangkaian messisi hingga acara perkawinan maka
bersiaplah untuk budget dalam jumlah besar, lalu kemudian wajar jika
seorang lelaki di Mandar akan berpikir masak-masak untuk menikahi sang
pujaan hati, belum lagi budaya yang juga berlaku di Mandar jika si
calon mempelai laki-laki akan membawa sejumlah “uang belanja” untuk
biaya operasional pernikahan. Rangkaian pelaksanaan kegiatan budaya
sejatinya memakan biaya yang tidak sedikit, sama halnya dengan
kegiatan-kegiatan kebudayaan yang dilakukan pemerintah, coba saja lirik
di bagian pendanaannya, pasti ada biaya yang jumlahnya segunung.
Dalam ranah budaya kami menelusuri langsung ke lokasinya, mencoba merekam peristiwa dan kejadian yang berlangsung untuk kemudian melakukan pendokumentasian seadanya, sembari melirik sedikit hal yang melatarbelakangi kejadian tersebut dalam aspek yang bernama sejarah. Tetapi, ini masih dalam tahap pengenalan, ada banyak hal penting yang luput, itu tak mengapa, saat ini bukan penting atau tidaknya, tetapi apakah “ada” atau “tidak ada” persoalan “penting” bisa dikoreksi untuk berikutnya.
Lalu untuk wisata seperti apa? Pengembangan wisata nyaris tak ada yang ingin menyentuh, karena sifatnya yang dalam waktu panjang tak dapat dinikmati dalam waktu singkat. Sedikit wilayah yang ingin masuk kedalam ranah “pengembangan wisata” untuk betul-betul melakukan program peningkatan fasilitas, pengadaan sarana dan prasarana, serta promosi. Sama halnya dengan pelaksanaan kegiatan budaya program wisata lebih menyerap banyak budget untuk peaksanaannya, biaya pemeliharaan adalah yang paling banyak dibutuhkan, namun satu hal yang paling penting adalah sarana dan prasarana semisal akses jalan menuju tempat wisata, ini yang paling penting.
Lalu, apa yang kami lakukan? Kami berwisata di negeri sendiri, mengenali potensinya, melakukan sedikit intervensi yang kami bisa, mengenalkan lokasi wisata yang mungkin belum banyak dijamah orang, dan mengabarkannya pada orang lain. Lagi-lagu kami hanya bisa mempromosikannya lewat dunia tulis menulis karena itu metode yang paling efektif untuk merekamnya, dan dalam waktu yang bersamaan menuliskan nama dalam catatan sejarah usaha pelestarian budaya dan wisata di negeri yang dahulu terbelakang.
Kami nyaris tak pernah menyangka bahwa gelombang yang lahir saat ini merupakan efek dari riak budaya wisata yang kami gaungkan kurang lebih setahun yang lalu. Ya, efeknya viral dengan senjata social media yang lebih dahulu dihembuskan oleh para pendiri social media seperti Facebook dan Twitter. Usaha menggelorakan virus cinta tanah kelahiran kami tempuh melalui Facebook, pilihannya jatuh ke aplikasi sosmed ini, paling ampuh untuk wilayah Sulawesi Barat, dengan kisaran pengguna dari tingkat social ekonomi yang rendah, menengah hingga yang tinggi, namun sayang karena grup ini tidaklah terlalu kental dalam menggunakan bahasa daerah sendiri (Mandar) maka kemudian ia sedikit dilirik oleh orang-orang yang menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar bahasa mereka, atau apakah mereka kurang respek dengan penggiat budaya daerah yang mungkin lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, entahlah, yang jelas menyampaikan segala hal tentang budaya dan wisata dalam bahasa daerah tidaklah efektif untuk saat ini, jika tidak dibarengi dengan bahasa nasional, Bahasa Indonesia.
Gema budaya dan wisata nyaris terasa, ada banyak pernak-pernik yang berseliweran di wall (dinding) facebook, testimoni mengenai ketakjuban pada objek wisata, atau hanya sekedar opini mengenai ke-Mandar-an yang kurang kental, Ya, ini memang tentang menyebarkan hal yang berhubungan dengan Mandar dan Sulawesi Barat, namun dalam hal yang lebih dan agak tradisional (budaya –wisata).
| Member KOMPA DANSA MANDAR saat melakukan trip mengunjungi seni bela diri pakkottau di desa parappe kec. Campalagian Lab. Polewali Mandar (Foto : Zulkifli Zain) |
Dalam ranah budaya kami menelusuri langsung ke lokasinya, mencoba merekam peristiwa dan kejadian yang berlangsung untuk kemudian melakukan pendokumentasian seadanya, sembari melirik sedikit hal yang melatarbelakangi kejadian tersebut dalam aspek yang bernama sejarah. Tetapi, ini masih dalam tahap pengenalan, ada banyak hal penting yang luput, itu tak mengapa, saat ini bukan penting atau tidaknya, tetapi apakah “ada” atau “tidak ada” persoalan “penting” bisa dikoreksi untuk berikutnya.
Lalu untuk wisata seperti apa? Pengembangan wisata nyaris tak ada yang ingin menyentuh, karena sifatnya yang dalam waktu panjang tak dapat dinikmati dalam waktu singkat. Sedikit wilayah yang ingin masuk kedalam ranah “pengembangan wisata” untuk betul-betul melakukan program peningkatan fasilitas, pengadaan sarana dan prasarana, serta promosi. Sama halnya dengan pelaksanaan kegiatan budaya program wisata lebih menyerap banyak budget untuk peaksanaannya, biaya pemeliharaan adalah yang paling banyak dibutuhkan, namun satu hal yang paling penting adalah sarana dan prasarana semisal akses jalan menuju tempat wisata, ini yang paling penting.
Lalu, apa yang kami lakukan? Kami berwisata di negeri sendiri, mengenali potensinya, melakukan sedikit intervensi yang kami bisa, mengenalkan lokasi wisata yang mungkin belum banyak dijamah orang, dan mengabarkannya pada orang lain. Lagi-lagu kami hanya bisa mempromosikannya lewat dunia tulis menulis karena itu metode yang paling efektif untuk merekamnya, dan dalam waktu yang bersamaan menuliskan nama dalam catatan sejarah usaha pelestarian budaya dan wisata di negeri yang dahulu terbelakang.
Komunitas, Opini
Dalam
setiap kunjungan budaya dan wisata kami menemukan banyak cinta yang
kadang bersemi dan tumbuh diantara mereka, entah itu cinta yang secara
spontanitas tumbuh, cinta yang sedari dulu dipersiapkan untuk tumbuh,
atau cinta yang tumbuh setelah mereka bertemu dalam kunjungan. Kondisi
pra, present, dan past, hal itu mungkin lebih bisa menggambarkan keadaan
yang ada. Namun selain dari tiga momen tersebut, terdapat fenomena
cinta insidentil yang bisa saja tumbuh, dan hal tersebut yang lebih seru
untuk dicermati, ini mungkin yang paling sulit untuk dirasionalkan,
mengapa ia dapat tumbuh dalam waktu yang tiba-tiba, tanpa rencana.
Kembali pada falsafah cinta yang sering didengung-dengungkan orang awam
bahwa ia tak pernah melihat waktu, tempat dan orang, ia bisa datang
dimanapun, kapanpun dan pada siapapun.
![]() |
| Ilustrasi |
Merupakan
hal yang wajar jika cinta bisa saja tumbuh secara spontan, ada banyak
momen yang terjadi dalam setiap kunjungan yang mereka lakukan dan
kesempatan ini memang ada. Jadilah kemudian kunjungan budaya dan wisata
menjadi ladang dimana cinta disemai dan melahirkan kuncup yang indah.
Cinta seperti apa yang dibentuk? Tentu saja cinta yang akan dibingkai
oleh peristiwa dan kejadian yang berhubungan dengan budaya-wisata pula.
Potensi untuk melakukan pendekatan interpersonal dimungkinkan adanya
atas nama budaya-wisata, hal yang dapat dijadikan alat atau modus untuk
menyelinap di balik “misi tersembunyi” yang ada.
Selain
cinta, diantara mereka juga kadang tumbuh rasa kagum yang bisa terbaca
dari mimik wajah dan roman muka, entahlah kekaguman itu kelak akan
dipancarkan atau tidak, yang jelas jalan untuk terjadinya proses
penyemaian cinta selalu ada. Kekaguman disampaikan kadang dalam lelucon
sederhana, atau pertanyaan simple seputar asal daerah. Lalu setelah itu
apa? hanya mereka yang tahu apakah akan menyemai benih, memupuknya,
hingga kemudian beroleh hasil panennya kelak.
Kegiatan
intens dalam bingkai budaya dan wisata menuntut mereka memiliki
persepsi dan pola pikir yang sama, keadaaan dan peristiwa yang sama
dengan jenis aktivitas yang sama pula. Lalu bagaimana mungkin cinta
tidak akan tumbuh, jika mengetahui segala bentuk perilaku, sifat, dan
karakter yang didapati. Walaupun, berlangsung singkat dan instan
penilaian tidak bijak dilakukan dalam satu kali pengamatan, namun
kondisi dan suasana yang lebih intens bisa membuat pengamatan yang
mestinya beberapa kali dilakukan menjadi disingkat hanya dalam satu kali
pengamatan saja. Keadaan memang bisa sangat mengubah kondisi hati dan
perasaan, dan cinta memang akan selalu bicara soal hati dan perasaan
yang selalu akan buta melihat fakta dan realita yang hadir.
Cinta yang hadir dalam euforia budaya-wisata tidaklah pernah salah dan tak akan pernah bisa disalahkan, ini masih dalam ambang batas yang bisa diterima ketika seorang manusia merasa menjadi lebih nyaman dalam kondisi yang agak tradisional.
Mamasa
Terung belanda atau terong belanda adalah
jenis tanaman anggota keluarga terung-terungan (Solanaceae) yang mulai
di kembangkan di Bogor Jawa Barat sejak tahun 1941. Di Indonesia terung
ini mungkin pertama kali dibawa dan dikembangkan di Indonesia oleh orang
Belanda pada waktu itu sehingga dikenal dengan nama terung belanda,
padahal buah tersebut berasal dari daerah Amazon di Amerika Latin.
Terung belanda aslinya berasal dari Peru, dan sekarang sudah umum dijumpai di daerah tropis. Tumbuh baik di pegunungan/dataran tinggi pada ketinggian 1000 mdpl. Di Jawa Barat dahulu dapat ditemui sedari 450-1700 mdpl. Menghendaki tanah yang kaya akan hara, drainase yang baik, dan tanah yang lembab dan dingin. (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).
Di Kab. Mamasa juga dapat kita jumpai
buah Terong Belanda di kios buah pinggir jalan poros Mamasa mulai dari
Desa Kelapa Dua, Kec.Messawa, Kec,Sumarorong hingga di pasar kota
Mamasa, bisa kita lihat pada foto dibawah buah Terong Belanda yang
direnteng berada di kios pusat penjualan buah. Harga buah terong belanda
Rp.5000,- /renteng dan dalam 1 renteng terdapat 5 biji buah Terong
Belanda.
![]() |
| terong belanda yang dijual di kab. mamasa sulawesi barat (Foto : Wawan Virgiawan) |
Terong belanda di Kab.Mamasa juga masuk dalam menu hidangan
minuman jus dibeberapa warung makan dan jus Tamarilla atau yang lebih
dikenal dengan jus Terong Belanda juga terkenal di Kab. Mamasa.
Selain buah Terong Belanda yang tumbuh di Bumi Kondo Sapata julukan yang dimiliki oleh Kab. Mamasa ada juga buah Manggis dan buah Alpukad, untuk sayuran ada sayur pakis, buncis, sayur labu siam, dan wortel. Saat ini kab. Mamasa telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan buah dan sayur, karena iklimnnya yang sesuai untuk tanaman ini.
Konributor : Wawan Virgiawan
Polewali Mandar, Tapango
Salah satu bendungan yang ada di kecamatan Tapango, kabupaten Polewali Mandar.. Bendungan
Lakejo dibuat tahun 2006, dengan dana PPK dari kabupaten.. Spotnya
lumayan untuk pengambilan gambar, hanya saja ia cenderung tidak terawat.
![]() |
| bendungan lakejo polman (Foto : Bayu) |
![]() |
| Bendungan kecil Lakejo di Kec. Tapango (Foto : Bayu) |
![]() |
| Jembatan kecil yang melintasi bendungan Lakejo, Tapango (Foto : Bayu) |
![]() |
| Aliran air yang jatuh di bendungan Lakejo, Polman (Foto : Bayu) |
![]() |
| Bendungan Lakejo, Tapango, Kab. Polewali Mandar (Foto : Bayu) |
Menurut warga setempat, tempat ini masuk ke dalam peta Pariwisata Polman, tapi entah mengapa tidak dikembangkan.
Kontributor : Bayu
Budaya, Kalumpang, Mamuju
Tana Lotong nama kalumpang dahulu adalah sebuah perkampungan unik khas dataran tinggi, berjarak sekitar 90 kilometer arah timur mamuju ibukota sulawesi barat dengan waktu tempuh hingga 6 jam karena jalan yang menanjak dan berkelok.
![]() |
| tana lotong kalumpang mamuju (Foto : Udhink) |
Kalumpang adalah tempat eksotik yang pernah dikunjungi manusia
austronesia, moyang kita, lebih dari 3800 tahun lalu. Jejak dan buktinya
sudah banyak dilaporkan para arkeolog dalam dan luar negeri.
Diantaranya, tembikar sebagai penanda utama kebudayaan austronesia.
Di kampung etnik nan spektakuler yang masih kuat menjaga adat dan tradisi ini dapat dijumpai berbagai ragam budaya dan kerajinan khas yang tidak ditemukan di tempat lain di indonesia, diantaranya sekomandi tenunan tangan khas kalumpang yang telah dipasarkan hingga ke prancis.
Dapat pula ditemukan patung perunggu budha yang dikemudian dikenal dengan situs patung sikendeng, situs batu prajurit, pare manurung yang tumbuh di batu pare. Situs batu tabuqung (baca: tabu’ung). Kerangka-kerangka manusia diletakkan dalam peti kayu berukir dan diletakkan (bukan ditanam) di tebing batu. Lumpur berwarna biru laut dengan tekstur yang lembut dan wangi dijadikan tembikar yang prosesnya tak terbebas dari mistik dan spritual.
![]() |
| tana lotong kalumpang mamuju sulbar (Foto : Udhink) |
Termasuk situs-situs arkeologi yang sudah di-mark oleh lembaga resmi
negara, misalnya situs minanga sipakko dan kamansi, yang telah diteliti
sejak awal abad xx oleh orang belanda. Selain itu, ada pula berbagai
peralatan batu, seperti beliung persegi, pisau, mata panah, mata tombak,
hingga pemukul kulit kayu dari zaman neolitikum
Di balik rimbunnya hutan kalumpang juga mudah dijumpai pohon kayu ebony (kayu hitam) dan gaharu. Serta menjadi tempat berlangsungnya kehidupan hewan langka seperti rusa dan anoa (hewan khas sulawesi), meskipun kini terancam punah oleh arus deras gelombang investasi tambang dan perkebunan skala besar.
Kini saatnya untuk kembali ke kampung halaman, atau juga bermakna kembali ke dalam kesejatian diri. Merawat memori kolektif akan idealisme sejarah, menafsir dan merekonstruksi keluhuran peradaban leluhur bergegas menginspirasi zaman karena sejarah telah memanggil. Dalam kemasan event bertajuk “TANA LOTONG MEMANGGIL” dengan item kegiatan :
- Festival pedalaman nusantara
- Orang kalumpang dari rantau berbagi cerita tempo doloe
- Riset dan seminar bahasa kalumpang
- Pagelaran seni dan permainan rakyat
- Workshop dan sarasehan
- Fotography dan wisata budaya.
- Touring motor trail jelajah kalumpang
- Rekonstruksi peradaban kalumpang
Event ini juga berupaya menganyam kembali kohesi sosial, budaya dan ekonomi yang pernah ada di antara komunitas pedalaman kalumpang, mamasa, toraja, seko, kulawi, minahasa, larantuka, batak, kalimantan dan pedalaman nusantara lainnya.
Kehadiran dan partisipasi anda akan menambah meriah event ini. Dan rasakan sendiri getaran semangat dan energi menjalani hidup dari tari sayo. Rasakan sendiri bagaimana berpapasan dengan orang-orang yang menuju ladang berbekal tuak pahit dan tombak terhunus dengan kepala anak-anak muncul dari dalam keranjang di punggung; rasakan sendiri aroma tembakau dari lelaki yang melinting tembakaunya dengan kulit jagung ; rasakan sendiri olahraga jantung melawan arus deras sungai karama ; rasakan sendiri menjalani hidup di tengah-tengah orang yang masih mengunyah daun sirih dan pinang di zaman ini, tanpa handphone, facebook, apalagi twiter.
Namun, pesona dan senyum manis gadis-gadis cantik tanpa polesan berkulit putih bersih bersuara merdu dengan pengetahuan musik yang mumpuni akan membuat anda tak ingat pulang.
DATANG DAN NIKMATI, PETUALANGAN MENARIK MENANTI DAN MENANTANG ANDA DI TANA LOTONG DALAM EVENT BERTAJUK “TANA LOTONG MEMANGGIL”.
Kalumpang, 14 – 21 Desember 2014
Kontributor : Udhink
Di balik rimbunnya hutan kalumpang juga mudah dijumpai pohon kayu ebony (kayu hitam) dan gaharu. Serta menjadi tempat berlangsungnya kehidupan hewan langka seperti rusa dan anoa (hewan khas sulawesi), meskipun kini terancam punah oleh arus deras gelombang investasi tambang dan perkebunan skala besar.
Kini saatnya untuk kembali ke kampung halaman, atau juga bermakna kembali ke dalam kesejatian diri. Merawat memori kolektif akan idealisme sejarah, menafsir dan merekonstruksi keluhuran peradaban leluhur bergegas menginspirasi zaman karena sejarah telah memanggil. Dalam kemasan event bertajuk “TANA LOTONG MEMANGGIL” dengan item kegiatan :
- Festival pedalaman nusantara
- Orang kalumpang dari rantau berbagi cerita tempo doloe
- Riset dan seminar bahasa kalumpang
- Pagelaran seni dan permainan rakyat
- Workshop dan sarasehan
- Fotography dan wisata budaya.
- Touring motor trail jelajah kalumpang
- Rekonstruksi peradaban kalumpang
Event ini juga berupaya menganyam kembali kohesi sosial, budaya dan ekonomi yang pernah ada di antara komunitas pedalaman kalumpang, mamasa, toraja, seko, kulawi, minahasa, larantuka, batak, kalimantan dan pedalaman nusantara lainnya.
Kehadiran dan partisipasi anda akan menambah meriah event ini. Dan rasakan sendiri getaran semangat dan energi menjalani hidup dari tari sayo. Rasakan sendiri bagaimana berpapasan dengan orang-orang yang menuju ladang berbekal tuak pahit dan tombak terhunus dengan kepala anak-anak muncul dari dalam keranjang di punggung; rasakan sendiri aroma tembakau dari lelaki yang melinting tembakaunya dengan kulit jagung ; rasakan sendiri olahraga jantung melawan arus deras sungai karama ; rasakan sendiri menjalani hidup di tengah-tengah orang yang masih mengunyah daun sirih dan pinang di zaman ini, tanpa handphone, facebook, apalagi twiter.
Namun, pesona dan senyum manis gadis-gadis cantik tanpa polesan berkulit putih bersih bersuara merdu dengan pengetahuan musik yang mumpuni akan membuat anda tak ingat pulang.
DATANG DAN NIKMATI, PETUALANGAN MENARIK MENANTI DAN MENANTANG ANDA DI TANA LOTONG DALAM EVENT BERTAJUK “TANA LOTONG MEMANGGIL”.
Kalumpang, 14 – 21 Desember 2014
Kontributor : Udhink
Majene, Objek Wisata, Pamboang, Pantai
Laguna Pantai Taraujung Pamboang adalah alasan mengapa anda harus berkunjung kesini, pun selain itu ada lapisan batuannya yang menarik berupa tebing tajam. Ini adalah struktur batuan dengan kolam kecil diantaranya, objek ini terletak di bagian utara pantai di kec. Pamboang Kab. Majene. Jalur menuju objek wisata hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki, tak ada jalur kendaraan bermotor dapat sampai kesini, anda harus trekking sebentar untuk menjejakkan kaki di tempat ini.
![]() |
| laguna pantai taraujung pamboang majene (Foto : Linda Maulida) |
Laguna pantai Taraujung adalah berupa kolam kecil dengn paduan warna dasar laut yang sangat menarik, ragam warna mulai dari biru hingga kehijauan dapat anda saksikan di dasar kolam, ini adalah kolam yang terbentuk sendiri tanpa campur tangan manusia yang dikelilingi oleh batuan alam yang senantiasa digerus oleh ombak pantai. Kolam berisi ikan-ikan kecil yang dapat anda lihat langsung tanpa harus berendam dalam kolam, airnya yang jernih menjadikan anda lebih mudah mengamati ikan yang berenang. Di tepi kolam terdapat tumbuhan perdu berukuran mini dan tidak jauh dari lokasi in terdapat pohon bakau (mangrove) yang tumbuh disepanjang Pantai Taraujung.
![]() |
| foto dengan latar laguna pantai taraujung pamboang (Foto : Linda Maulida) |
![]() |
| laguna pantai taraujung pamboang majene (Foto : Linda Maulida) |
![]() |
| laguna pantai taraujung pamboang majene (Foto : Linda Maulida) |
Laguna dan apisan tebing batu Pantai Taraujung Pamboang, menanti untuk dikunjungi, bagi anda pencinta objek wisata pantai, batuan dan laguna. Spot ini termasuk jarang dikunjungi oleh orang-orang, karena jaraknya yang cukup menantang untuk sampai kesana, belum lagi batuan tajam yang jadi alas pijakan bisa jadi rekan yang paling mengancam.
Kontributor : Linda Maulida
Majene, Pamboang, Pantai
Pantai Taraujung memiliki struktur tebing menarik yang belum banyak dikenali orang, salah satu objek wisata alam yang dapat jadi potensi yang cukup baik untuk dikelola. Struktur batu yang mengagumkan ini tepatnya terdapat di kel. Lalampanua, kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat.Orang-orang mungkin hanya mengenal pantai Taraujung dengan pesona pantainya yang luas, masih merupakan rangkaian dari pesisir yang membentang dari wilayah Pamboang ke arah utara menghadap ke selat Makassar.
![]() | |||
| Tebing batu Taraujung Pamboang Majene (Foto : Linda Maulida) |
![]() |
| Kolam kecil (laguna) Tebing batu Pantai Taraujung Pamboang Majene (Foto : Linda Maulida) |
![]() |
| Tebing batu Pantai Taraujung Pamboang Majene, Sulbar (Foto : Linda Maulida) |
Di bagian tengah struktur tebing batu terdapat kolam kecil (laguna) temoat hidupnya ikan hias yang indah, yang tampak terisi ketika air laut pasang.
Objek wisata tebing batu Pantai Taraujung ini sedikit dikunjungi oleh para pendatang karena sebagian masyarakat yang tinggal disekitar lokasi ini juga masih menganggap tempat ini "angker" sebab itu jarang orang yang mengunjungi pantai Taraujung dan sampai ke spot ini.
Kontributur : Linda Maulida
Komunitas, Sandeq Race
Even lomba perahu Sandeq Race 2014 yang diakhiri di Pantai Manakarra, Mamuju kemarin (20/09/2014) menjadi penutup semua rangkaian etape berat lomba perahu tradisional dengan jarak jauh dengan tantangan yang sangat keras, beberap member komunitas penggiat budaya dan wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) menyempatkan diri mencoba meniru gaya mattimbang perahu sandeq (teknik yang digunakan untuk mencegah perahu terbalik saat mendapat hembusan angin keras di bagian layar)
![]() |
| (Foto : Zulkifli Zain) |
![]() |
| (Foto : Zulkifli Zain) |
![]() |
| (Foto : Zulkifli Zain) |
![]() |
| (Foto : Zulkifli Zain) |
![]() |
| (Foto : Zulkifli Zain) |
Apakah ini bukti kesiapan member Kompa Dansa Mandar untuk mengikuti lomba perahu Sandeq Race tahun 2015 mendatang, yang jelas mengikuti lomba perahu Sandeq butuh keterampilan melayarkan sandeq, ilmu navigasi laut, dan teknik-teknik berlayar tradisional, karena perahu ini sama sekali tak menggunakan teknologi canggih untuk dilayarkan, hanya dibutuhkan dayung dan angin yang menghembus tepat di layar perahu.
Kontributor : Zulkifli Zain
Komunitas, Sandeq Race
Sebagai bentuk hormat dan rasa kebanggaan
kami kepada Puaq As'ad, maka dengan ini kami buatkan baju (The Great
Passandeq) yang dimana profit hasil penjualannya akan disumbangkan
langsung ke Puaq Asad yang betul-betul menjadi inspirasi buat kita semua
di ajang Sandeq Race 2014.
Harga baju 90.000 dengan bahan Cotton
Combed 20s. Setiap pembelian baju maka anda telah
menyumbang 20.000 buat Puaq As'ad. Bagi yang berminat terakhir mendaftar tanggal 23 september 2014.
Silahkan hubungi 085-396-183-193.
Silahkan hubungi 085-396-183-193.
Format Pendaftaran :
Nama :.....................
Alamat :.........................................
Ukuran :...................................
Nomor HandPhone : ....................................
Kontributor : Hasbi
Nama :.....................
Alamat :.........................................
Ukuran :...................................
Nomor HandPhone : ....................................
Kontributor : Hasbi
Budaya, Majene
Pabrik perahu yang terdapat di lingkungan Rangas Timur, kabupaten Majene, Sulawesi Barat, biasa digunakan membuat perahu untuk keperluan melaut, berlayar, dan mencari ikan.
![]() |
| Pabrik perahu di Majene (Foto : Chalik Noor) |
Untuk perahu dengan ukuran kecil dihargai 400 Juta dan yang berukuran kecil 200 juta, harga tiap perahu yang dilepas tergantung pada tingkat harga kayu di pasaran. Perahu yang dibuat adalah perahu bermesin bodi atau biasa disebut "lopi pagae oleh orang-orang setempat.
Kontributor : Chalik Noor
Tulisan Paling Banyak Dibaca
-
Munu Beach, atau pantai Munu adalah sebuah objek wisata baru di kabupaten Majene, Sulawesi Barat yang akhir - akhir ini populer di kalanga...
-
Dua batu ini menjadi saksi dan bukti sejarah lahirnya kesepakatan para leluhur kami di tanah Mandar. Di ikrarkan di wilayah kami yg kami ...
-
Kabupaten Majene baru saja memperingati hari jadinya, peristiwa tersebut dijadikan momentum bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan In...
-
Mosso, adalah desa yang letaknya di dataran tinggi kec. Balanipa, berjarak sekitar 6-7 km dari jalan poros Majene-Polewali, dapat diakses d...
-
Sulawesi Barat sebagai provinsi yang terbentuk pada tahun 2004, banyak menyimpan potensi wisata yang belum dimaksimalkan dengan baik. Objek...
-
Sebut saja ini zi arah tradisi maritim (urgensi museum), yang saya lakukan ke kediaman sang legenda, Kapten Pahlawan Laut di Museum TNI A...
-
Mappakeqdeq boyang (mendirikan rumah) bersama dengan keluarga besar di Lambanan. Meakayyang adaqtaq mipasalili litaqtaq. Lambanan adalah de...
-
Pengembangan wisata adalah mutlak membutuhkan fasilitas akomodasi, jika anda berada di kab. Majene provinsi Sulawesi Barat, dan ingin meman...
-
Pulau Tangnga (Pulau Salamaq), Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Melihat lebih dekat Pulau Tangnga (Lebih di kenal dengan pulau Sal...
-
Pantai Lapeo, kec. Campalagian kab. Polewali Mandar pilihan lain daerah tujuan wisata saat berkunjung ke kec. Campalagian, lokasinya tak ...
Labels
Air Terjun
Akomodasi
Alu
Anreapi
Aralle
Arsitektur
Artikel
Banggae
Banggae Timur
Batetangnga
Berita
Binuang
Budaya
Budaya Mandar
Budong-Budong
Bukit
Buku
Bulo
Campalagian
Caving
Figur
Foto
Foto Budaya
Foto Sejarah
Foto Wisata
Gasing
Goa
Gua
Hotel
Kalukku
Kalumpang
Kanang
Karya
Kecantikan
Kegiatan
Kerajaan Binuang
Komunitas
Kuliner
Limboro
Lingkungan
Literasi
Lomba
Luyo
Majene
Makam
Makassar
Malunda
Mamasa
Mambi
Mampie
Mamuju
Mamuju Tengah
Mamuju Utara
Mandar
Obje
Objek Wisata
Opini
Pamboang
Pantai
Pantai Sulbar
Pattae
Penja
Permainan Tradisional
Polewali Mandar
Rebana Mandar
Refleksi
Sandeq
Sandeq Race
Sejarah
Sendana
Seni
Senja
Situs Sejarah
Sulawesi Barat
Sungai
Sungai Mandar
Sutera Mandar
Tapalang
Tapango
Tappalang Barat
Tarian Mandar
Teater
Teluk Mandar
Tinambung
Tokoh
Trip
Tubo Sendana
Ulumanda
Video
Wisata
Wisata Majene
Wisata Mamasa
Wisata Mamuju
Wisata Mamuju Tengah
Wisata Mamuju Utara
Wisata Polewali Mandar
Wisata Polman
Wisma Penginapan
Wonomulyo































