Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar - Promosi Budaya, Sejarah, dan Wisata Mandar, Sulawesi Barat
Binuang, Budaya, Foto Budaya, Kuliner, Polewali Mandar
Budaya memang satu hal yang diamis, akan selalu berkembang dan terpengaruh oleh teknologi dan inovasi. Kemajuan inovasi teknologi mesin mempermudah dan menghemat waktu yang digunakan oleh manusia untuk melakukan pekerjaannya. Hal yang sama terjadi di wilayah Sulawesi Barat, dan berlaku pada satu alat dapur yang digunakan untuk mengeruk daging buah kelapa. Masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah pikelluq.
Pada awalnya pikelluq berbentuk miniatur mirip hewan yang memiliki bagian kepala, bagian tubuh, dan ekor, tepat di bagian kepala ditancapkan bilah metal bergerigi untuk mengeruk daging buah. Namun saat ini mungkin dengan alasan "kepraktisan" maka dilakukan modifikasi terhadap "pikelluq" yaitu dengan mengubah bagian "badan"nya dengan menggunakan kayu datar tanpa bentukan miniatur yang mirip dengan hewan, sangat kontras dengan model pikelluq sebenarnya.
![]() |
| pikelluq alat pengeruk kelapa tradisional dengan badan dari kayu biasa tanpa ukiran (Foto : Mujahidin Musa) |
Pikelluq di mata masayarakat Sulawesi Barat, suku Mandar khususnya bukan hanya memiliki fungsi sebagai alat untuk mengeruk daging buah kelapa, tetapi juga memiliki nilai mistis yang konon katanya dapat digunakan untuk mencegah angin ribut.
Pergeseran bentuk pikelluq yang terjadi tak dapat dihindari untuk alasan kemudahan dan efektivitas dan efisiensi biaya dan tenaga yang digunakan. Karena itu, berkembanglah pikelluq yang menggunakan media "baskom" plastik yang dimodifikasi dengan alat utama mesin air yang dijadikan alat penggerak mata pengeruk yang dengan waktu cepat mengambil daging buah kelapa secara efektif.
![]() |
| pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern di binuang (Foto : Mujahidin Musa) |
![]() |
| pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern (Foto : Mujahidin Musa) |
Kelapa memang tidak pernah bisa dipisahkan dari urusan dapur saat berada di Sulawesi Barat, tanahnya yang dianugerahi iklim sesuai dengan pertumbuhan buah kelapa menjadikan wilayah ini banyak ditumbuhi kelapa dan menjadi komoditas besar. Hal ini juga yang melatarbelakangi dunia kuliner Sulbar banyak menggunakan bahan olahan daging buah kelapa (misalnya untuk santan) sebagain bahan pelengkap masakan saat acara-acara pernikahan, selamatan, akikahan, syukuran, dan kenduri-kenduri lainnya.
Kiriman : Mujahidin Musa
Foto Wisata, Majene, Objek Wisata, Tubo Sendana, Wisata, Wisata Majene
Nama permandian ini "Lembang Batu Sambua" terletak di dusun Salubulo, desa Tubo, kec. Tubo Sendana, KM 74 Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Berjarak sekitar 300 meter dari jalan poros kab. Majene-Kab. Mamuju. Jika masyarakat lokal menyebut istilah "lembang" maka itu biasanya akan dianalogikan dengan sungai, dan ini adalah aliran sungai dengan batu kali berukuran besar namun dengan beberapa titik yang memiliki kedalaman beberapa meter.
![]() |
| permandian lembang batu sambua tubo sendana (Foto : Hasbi Djaya) |
Jaraknya cukup dekat dari jalan utama sehingga mudah diakses, hanya berjarak kurang lebih 300 meter, datar, dan tidak menanjak. Debit air yang dimiliki sedang cenderung kecil, namun jika musim hujan datang maka akan lebih deras, ini salah satu ciri khas beberapa permandian atau aliran sungai di Sulawesi Barat, secara umum debit air hanya deras saat musim penghujan datang. Aliran air dari permandian aliran sungai juga banyak dialirkan melalui pipa-pipa ke kampung-kampung disekitar desa Tubo untuk
keperluan MCK (mandi cuci dan kakus).
![]() |
| permandian lembang batu sambua tubo sendana majene (Foto : Hasbi Djaya) |
Terdapat satu titik di lembang batu sambua yang sering digunakan anak-anak disekitar kampung untuk mandi dan melakukan gerakan salto. Jika ingin melakukan gerakan manuver saat terjun anda tidak perlu khawatir, ada titik-titik yang cukup dalam, anda bisa melompat dari batu yg berbentuk bundar diatasnya tanpa takut terbentur.
Ada banyak titik-titik permandian lokal yang tersebar di Sulawesi Barat, Lembang Batu Sambua adalah salah satu dari sekian banyak yang ada dan dikunjungi oleh warga lokal, namun masih ada begitu banyak permandian alam lainnya yang mungkin masih belum terkenal dan hanya diketahui oleh warga yang tinggal di sekitar tempat objek wisata itu saja.
Kec. Tubo Sendana pada awalnya merupakan wilayah yang satu dalam kec. Sendana, namun semenjak dilakukan pemekaran wilayah maka daerah ini menjadi wilayah sendiri. Kawasan Tubo Sendana adalah jalur yang pasti anda lalui jika menelusuri rute Kab. Majene-Kab. Mamuju.
Kiriman : Hasbi Djaya
Binuang, Foto Wisata, Polewali Mandar, Wisata, Wisata Polewali Mandar
Hanya ada dua tikungan tajam yang khas dengan tebing di sisi kiri dan lautan di sisi kanan di jalur trans Sulawesi (Polewali Mandar - Makassar) satunya terletak di kabupaten Barru (Sulawesi Selatan) , dan satunya lagi di Kecamatan Binuang Kab. Polman. Namun semenjak dilakukan pelebaran jalan besar-besaran antara Makassar-Pare-Pare tikungan tajam di kabupaten Barru kemudian dipotong di sisi tebingnya menghilangkan kesan tikungan tajam yang ada, jadilah kemudian tikungan di batas desa Mirring, kec. Binuang Kab. Polewali Mandar menjadi sangat khas saat anda melalui rute Kab. Polewali Mandar - Kota Makassar.
Tikungan ini terletak di perbatasan desa Mirring, tempat sempurna untuk menikung dengan kecepatan yang tentunya terkontrol, saking tajamnya terdapat cermin cembung yang disiapkan di sudut jalan, dimana anda dapat melihat apakah ada atau tidak kendaraan di sisi yang berlawanan dengan anda. Lokasi ini menjadi tempat yang berbahaya sekaligus sebagai tempat untuk menikmati Binuang dengan segala keindahannya. Setiap harinya di waktu sore ada banyak masyarakat yang sengaja menyempatkan diri ke tempat ini atau pejalan yang sekedar mampir untuk sekedar foto bersama dengan latar belakang mangrove (hutan bakau) dan Pulau Battoa, jauh di seberang.
![]() |
| pemandangan sore hari di tikungan desa mirring polman (Foto : Bayu) |
Di sekitar lokasi ini juga pada musim buah anda dapat menemukan dengan mudah warga sekitar tidak jauh dari tikungan tajam akan menjual buah-buahan seperti rambutan, langsat, durian.
![]() | ||
| tikungan desa mirring (Foto : Bayu) |
Ini memang kawasan paling hijau yang dimiliki kabupaten Polewali Mandar, daerah terlengkap untuk menemukan pesisir dengan gugusan pulau-pulau yang dapat tampak dari pesisir. Sebutlah misalnya Pulau Battoa yang tampak dari tepi, belum lagi Pulau Karamsang, Pulau Dea-Dea, dan Pulau Gusung Toraja yang semuanya juga terdapat di kecamatan Binuang, Polman
Kiriman : Bayu
Kuliner, Penja
Siapa yang tidak kenal dengan "penja", nyaris semua orang Mandar, Sulbar pasti tahu dengan ikan ini, ikan yang konon dipercaya jatuh dari langit. Nama ilmiah ikan ini juga tidak banyak diketahui oleh orang awam, orang-orang yang bermukim di Sulawesi Barat, hanya mengenalnya dengan nama "bau penja". Ikan ini berukuran sangat kecil, lebih kecil dari ikan teri dan hanya bisa ditemui pada waktu (musim) tertentu saja. Biasanya kuliner penja di Sulawesi Barat disajikan dengan dimasak ataupun dipanggang. Jika dipanggang maka orang-orang menyebutnya dengan istilah "dipais".
![]() |
| penja pais yang disajikan dengan irisan bawang dan cabe rawit (Foto : Zulkifli Muhammad Siddiq) |
Jika ingin memanggangnya diatas api maka Anda dapat mengikuti salah satu resep cara membuat penja pais dibawah ini yang kami sari dari perbincangan grup di "Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar" (KOMPA DANSA MANDAR)
Untuk bahan
yg dibutuhkan adalah sebagai berikut :
(penja, daun pisang, kelapa agak muda/setengah tua sebaiknya jangan
diparut tapi dikukur dengan tipis agar tidak terlalu halus, setelah itu ditambahkan daun kedondong
muda untuk memberikan rasa asam namun segar)
Untuk alatnya : sebaiknya gunakan piringan yang terbuat dari tanah liat, yang biasa digunakan untuk membuat "jepa", salah satu kuliner Mandar yang terbuat dari singkong/ketela pohon, orang-orang biasa menyebutnya "panjepangan" lalu gunakalah api dari kayu arang/tradisional),
Untuk cara membuatnya semua bahan tadi dicampur menjadi satu kemudian dibungkus dengan daun pisang, lalu dipanggang diatas api. Jika daun telah menjadi layu dan ikannya telah matang, maka anda dapat mengangkat dan menikmatinya, Untuk mendapatkan rasa penja pais yang sempurna sebaiknya anda melahapnya dalam keadaan hangat, agar kesegarannya masih terasa.
Resep membuat penja pais sebenarnya beragam, ada juga yang tidak menggunakan tambahan kelapa saat membungkus ikan penja nya, ada yang hanya menggunakan resep sederhana dengan menambahkan garam dan membungkusnya dengan daun pisang, namun ada juga yang tidak menambahkan daging buah kelapa dengan alasan rasa yang ditimbulkannya akan sangat gurih.
Beberapa kuliner di Sulawesi Barat memang kadang menggunakan bahan "daun kedondong" misalnya saja untuk makanan "nasu kadundung" makanan khas suku Pattae di kec. Binuang Kab.
Polman, masakan ini merupakan ayam kampung yang dimasak dengan tambahan daun kedondong.
Kiriman : Wandi Abbas
Komunitas
Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) saat ini memiliki empat wilayah, diantaranya yaitu KDM Wil. Majene, KDM Wil. Polewali Mandar, KDM Wil. Mamuju, dan KDM Wil. Makassar. Wilayah KDM Mamuju yang terletak di pusat ibukota provinsi Sulawesi Barat menjadi salah satu wilayah yang cukup menarik, ada banyak kegiatan penelusuran dan pengenalan wisata yang telah mereka lakukan. Beberapa dari objek wisata seperti Pulau Karampuang, Air Terjun Tammasapi, Pantai Tanjung Ngalo, Pantai Tanjung Losa, Pantai Lombang-Lombang, Pantai Rangas, dan Ekowisata Lekke sudah mereka jejaki dan kenali.
![]() |
| member kompa dansa mandar wilayah mamuju (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar) |
Wilayah Mamuju menjadi satu dari KDM yang lebih banyak mengenali wisata di Sulawesi Barat, membernya yang dominan adalah pekerja kantoran menggunakan waktu di akhir pekan untuk melakukan "trip" ke tempat-tempat wisata, sembari melepaskan penat dan stress setelah enam hari kerja yang melelahkan.
Kiriman : Pusvawirna Natalia Muchtar
Budaya Mandar, Foto Budaya, Majene
Perairan Sulawesi Barat yang ternyata banyak menyimpan potensi perikanan selalu menjadi kesyukuran sendiri bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai, mereka yang berprofesi sebagai nelayan banyak menggantungkan kehidupan pada laut dan segala isinya. Satu diantaranya yaitu potensi telur ikan terbang yang merupakan komoditi paling berharga dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
Nelayan-nelayan Mandar, Sulawesi Barat selalu memanfaatkan momen tahunan pada bulan April-seotember saat ikan terbang memijah (bertelur). Ikan terbang dalam bahasa lokal disebut "bau tuing-tuing" dan akivitas menangkap telur ikan terbang disebut sebagai "motangnga", para pelakunya disebut "potangnga". Berburu telur ini dilakukan oleh beberapa orang nelayan dalam satu tim yang berada dalam satu perahu bermotor.
![]() |
| armada potangnga nelayan mandar dengan telur ikan terbang yang didapatkan dari laut (Foto : Asdar) |
![]() |
| sandeq potangnga yang digunakan nelayan mandar untuk berburu telur ikan terbang |
Kiriman : Asdar
Berita, Majene, Ulumanda
Menyebrangi
Sungai Makula Ulumanda menuju Desa Seppong Kec, Ulumanda Kab. Majene,
Provinsi Sulawesi Barat mungkin bukan hal yang mudah, beberapa foto dalam tulisan ini mungkin bisa menggambarkannya secara jelas. Ulumanda adalah kecamatan hasil pemekaran dari kecamatan Malunda kab. Majene dan terletak jauh kedalam dataran tinggi di Sulawesi Barat, adapun akses menuju kecamatan ini sangatlah sulit, belum ada fasilitas jalan yang cukup memadai, bahkan kebutuhan akan jembatan juga mutlak diperlukan.
Ulumanda jarang didengarkan gaung dan suaranya, yang terkenal mungkin hanyalah kecamatan Malunda yang akan selalu anda lalui wilayahnya ketika menuju kab. Mamuju dari arah kab. Majene atau kab. Polewali Mandar, yang berbatasan langsung dengan kec. Tapalang kab. Mamuju, sedangkan Ulumanda terletak jauh ke arah pedalaman. Sehubungan dengan letaknya yang berada di pedalaman maka mutlak jika kondisi geografis menjadi salah satu rintangan yang akan anda hadapi ketika berniat menjejakkan kaki ke daerah ini.
Ternyata ada daerah di kab. Majene yang bentang alamnya seperti ini,
sulit dilalui oleh kendaraan warga, lalu jika ingin merefleksi dan membayangkan tinggal di
daerah itu, pasti mobilisasi sulit untuk masuk/keluar daerah, lalu jika aksesnya seperti itu pendidikannya juga pasti sulit, lalu
bagaimana untuk soal ekonomi dan perdagangan?
Dibawah ini adalah gambaran warga yang harus menyeberangi sungai dengan arus cukup deras dengan membawa tabung gas 3 kilogram, butuh perjuangan yang tidak mudah untuk melalui sungai ini.
Dibawah ini adalah gambaran warga yang harus menyeberangi sungai dengan arus cukup deras dengan membawa tabung gas 3 kilogram, butuh perjuangan yang tidak mudah untuk melalui sungai ini.
![]() |
| menyeberangi sungai makula ulumanda majene sulawesi barat (Foto : Masykur Sair) |
Jika ingin menggunakan ojek sepeda motor di kecamatan Ulumanda untuk mencapai desa-desanya maka penumpang dan pengemudi ojek kadang harus bekerja sama untuk menyebrangi sungai. Dengan jarak 30-40 km dapat ditemph dengan waktu tiga jam, seperti itu gambaran betapa akses jalan belum memadai.
![]() |
| akses jalan di ulumanda yang ekstrim, butuh kerjasama pengemudi dan penumpang (Foto : Masykur Sair) |
Kiriman : Masykur Sair
Berita, Teater
Selepas tampil dalam Festival Teater Nasional 2014 di Gedung Kesenian Jakarta pada tanggal 15 Juni 2014, Teater Flamboyant Mandar kemudian menampilkan kembali lakon Koa-koayang di acara kenduri cinta, milik Emha Ainun Najib (Caknun).
![]() |
| lakon koayang mandar di acara kenduri cinta emha ainun nadjib (Foto : Zulkifli Muhammad Siddiq) |
![]() |
| dokumentasi lakon koayang teater flamboyant mandar di kenduri cinta maiyah (Foto : Zulkifli Muhammad Siddiq) |
Saat berdialog bersama aktor muda Teater Flamboyant Mandar yang berasal dari Tinambung, Polman, Sulawesi Barat, Caknun berkata
"Saya ini orang Mandar yang kebetulan Lahir di Jombang". Ia menambahkan bahwa "Pertemuan agung di lingkaran maiyah ini tdk ada urusan dengan pemerintah daerah dan
politik, tetapi ini adalah murni pertemuan yang di Tentukan Oleh
Allah.
Kiriman : Zulkifli Muhammad Siddiq
Berita, Polewali Mandar
Ini mungkin hanya ada di Rea Jaya (Desa Patampanua), kab. Polman, Sulawesi Barat, Piala bergilir
pertandingan domino. Sang pemenang akan membawa pulang tropy ini sampai
waktu yang tidak ditentukan. Maksudnya, bisa saja 2 bulan kemudian, jika ada
even pernikahan lagi sekitaran Desa Patampanua, maka tropy ini di bawa lagi ke
lokasi lomba domino untuk diperebutkan bersama hadiah hiburan lainnya
yang tentu saja ditanggung pemiliki hajatan. Intinya banyak cara
untuk membahagiakan diri dan memacu diri untuk berkompetisi
![]() |
| piala bergilir domino di desa patampanua kab. polewali mandar (Foto : Ibnu Masyis) |
Kiriman : Ibnu Masyis
Berita, Seni, Teater
Mohon doa dan dukungannya untuk kesekian kalinya teman-teman dari Teater Flamboyant Mandar kembali akan membawakan satu karya pertunjukan, dalam Festival Teater Tradisi Nasional dengan mengusung sebuah pementasan berjudul “Lakon Koayang” di gedung Kesenian Jakarta, tanggal 15 Juni 2014.
![]() |
| lakon koayang mandar teater flamboyant (Ilustrasi : Zulkifli Muhammad Siddiq) |
Sutradara : Syuman Saeha
Penata Musik : Irwan
Pimpinan Produksi Ahmad Arif & Muhammad Aslam
Penata Seni: Amir
Pelakon :
Iztislam Tyasa M
Dito Alfiantara
Wahyu Hikarhu
Ahmad Zinnun
Kiriman : Zulkifli Muhammad Siddiq
Foto Sejarah, Sejarah
Ini dia foto Budha dengan lilitan kain yang dikencangkan dari tradisi kesenian Amarawati,
India Selatan yang berkembang pada abad 3-5 masehi. Patung ini
(duplikat?) ditemukan di Sampaga, muara sungai Karama (yang mengalir
dari Kalumpang, Mamuju, Sulawesi Barat). Patung inilah yang kelak menjadi dasar penelusuran oleh
para arkeolog dalam dan luar negeri untuk menelusuri peradaban kuno
Kalumpang, Sulbar.
![]() |
| patung budha yang ditemukan di kalumpang mamuju sulawesi barat (Foto : warisanbuddhanusantara.blogspot.com) |
Kini patung tersebut tersimpan di Museum La Galigo
(lantai 2), kompleks benteng Fort Rotterdam Makassar, Sulawesi Selatan.
Kiriman : Dahri Dahlan
Air Terjun, Foto Wisata, Objek Wisata, Polewali Mandar, Wisata Polewali Mandar
Diantara banyak potensi wisata yang masih tersembunyi dan belum dikenal banyak orang di Kabupaten Polman adalah beberapa permandian dengan air terjun mini yang terletak jauh di pelosok dusun dan desa, salah satunya adalah permandian baqbamappe.
![]() |
| permandian baqbamappe mapilli polman (Foto : Muhammad Hasbi) |
Permandian ba’bamappe terletak di desa Landi Kanusuang kecamatan Mapilli
kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Permandian ini
masih alami dan belum terjamah oleh banyak orang. dilihat dari bebatuan
disekitarnya yang masih licin dan berlumut dan rindangnya pepohonan di
sekitar permandian. Untuk menuju ke permandian tersebut bisa ditempuh
dengan menggunakan kendaraan roda dua dari daerah kecamatan Wonomulyo
namun itupun harus masih berjalan kaki kurang lebih 1 km dengan melalui
sungai dan perkebunan kakao warga sekitar.
![]() |
| jalur menuju permandian baqbamappe (Foto : Muhammad Hasbi) |
![]() |
| mandi di salah saltu air terjun mini di permandian baqbamappe mapiili (Foto : Muhammad Hasbi) |
![]() |
| permandian baqbamappe landi kanusuang (Foto : Muhammad Hasbi) |
![]() |
| menikmati curahan air baqbamappe landi kanusuang (Foto : Aya Ahyar) |
![]() |
| menikmati permandian baqbamappe polman (Foto : Muhammad Hasbi) |
Lokasi aliran air di permandian ini merupakan area sungai Andau bagian Tanasi
dan tidak jauh dari perkampungan landi zaman dahulu
![]() |
| permandian baqbamappe aliran sungai andau (Foto : Muhammad Hasbi) |
Disekitar area permandian tersebut banyak tumbuh pepohonan yang bisa dinikmati buahnya seperti durian dan langsat jika musimnya tiba, jika anda pencinta buah kakao anda dapat menikmati buah kakao secara langsung
Kiriman : Muhammad Hasbi
Berita, Seni
Ada banyak pencapaian gemilang yang ditorehkan oleh beberapa kelompok-kelompok seni di Sulawesi Barat, salah satunya adalah apa yang pernah diraih oleh paduan suara Ekklesia yang berasal dari Kabupaten Polman, Sulawesi Barat.
Ini adalah tim paduan suara (EKKLESIA) Polewali MandarSulawesi Barat , yang berhasil mendapatkan Medali Emas Dalam Ajang SING "N" JOY
MANILA dalam kategori lagu-lagu daerah, saat itu mereka membawakan Lagu
SARAWANDANG & KELLE' SANGGA DILAWE, di Philipina 14-Desember-2013.
![]() |
| paduan suara ekklesia sulbar di filipina (Foto : Yogi Hartono) |
![]() |
| paduan suara ekklesia sulbar saat tampil di filipina (Foto : Yogi Hartono) |
![]() |
| paduan suara ekklesia polman sulbar (Foto : Yogi Hartono) |
![]() |
| formasi lengkap tim paduan suara ekklesia polman sulbar (Foto : Yogi Hartono) |
Kiriman : Yogi Hartono
Seni
Acara peresmian bandara Sumarorong di Kab. Mamasa Provinsi Sulawesi Barat, bulan Maret yang lalu dimeriahkan dengan tampilnya beberapa aspek-aspek seni budaya di Mamasa, diantaranya yaitu penggunaan alat musik khas yang dimiliki oleh daerah ini.
Ragam alat musik dipertunjukkan oleh sekelompok siswa yang mengenakan pakaian adat daerah Mamasa memukau tamu dan penonton yang hadir pada saat itu. Alat musik yg dimainkan oleh salah satu sanggar seni di Kab. Mamasa
(Sanggar Seni Tusan) pada Peresmian Bandara Sumarorong diantaranya yaitu Pompang. Alat Musik yang terbuat dari bambu ini sering di gunakan dalam acara pernikahan atau penyambutan tamu, atau acara-acara tertentu.
![]() |
| ragam alat musik mamasa saat peresmian bandara sumarorong mamasa (Foto : Karantina Pertanian Sulbar) |
![]() |
| alat musik khas mamasa sulbar pada acara peresmian bandara sumarorong (Foto : Karantina Pertanian Sulbar) |
![]() |
| alat musik tradisional mamasa sulbar ditampilkan saat peresmian bandara mamasa (Foto : Karantina Pertanian Sulbar) |
Kiriman : Pusvawirna Natalia Muchtar
Berita, Seni
Selasa, 3/6 pukul 09.45 Wib bertempat di Atrium Hotel Semesta
Semarang Jawa Tengah. Setelah peserta pertama dari Sumatera Utara yang
membawakan musik khas sumatra dipadukan tarian tor-tor, SMP Neg 2 Majene
sebagai wakil sulawesi barat (Sulbar) dalam kegiatan Festival dan Lomba
Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMP berhasil memukau penonton.
Menurut Iwan, salah satu penonton asal Semarang, mengungkapkan bahwa
penampilan wakil Sulbar cukup mengesankan dan sangat sesuai dengan
tema lomba. Iwan berharap wakil dari Sulbar untuk bidang musik tradisi
dapat menjadi peserta terbaik atau paling tidak berkesan di hati para
penonton. Tidak hanya itu, dari pengamatan penulis perangkat musik yang
digunakan, calong menarik perhatian para penonton, pendamping, dan juri.
Salah seorang guru pendamping kontingen asal Banyumas mengatakan bahwa
calong ini adalah alat musik yang unik yang dibuat dengan kreatifitas
yang luar biasa. Ia bahkan menyempatkan diri untuk memotret alat musik
tersebut.
![]() |
| utusan sulbar di festival seni nasional tingkat smp (Foto : Muhammad Junaedi Mahyuddin) |
Perwakilan Sulbar
dengan lagu kelleq2ma diselingi kalindaqda, serta shalawatan yang
diiringi tabuhan rebana dan suara calong ingin menyampaikan pesan untuk
saling menghormati, saling menyayangi, saling memaafkan serta
menghindari iri hati dan membuang rasa dendam.
FLS2N dengan tema "kreasi seni untuk membentuk karakter siswa" dibuka pada senin malam 2/6 di Marina Convention Center dan penutupan acara tersebut direncanakan akan dilaksanakan di halaman Mesjid Agung Semarang 6/6. Acara pembukaan di hadiri oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Gubernur jawa tengah dan para pejabat eselon I-II Provinsi jawa tengah. Dalam kata sambutan Gubernur berharap dari kegiatan ini menghasilkan para seniman2 hebat dan mampu menjadi benteng melawan mengempuran budaya asing. Sejalan dengan perkataan Gubernur Jawa Tengah, Menteri Muh Nuh menyampaikan bahwa pada setiap diri manusia memiliki 3 potensi, apabila 3 potensi itu dikembangkan dan ditanamkan pada peserta didik kita, maka bersandingnya keindahan manusia.
![]() |
| suasana latihan sebelum pementasan festival seni nasional (Foto : Muhammad Junaedi Mahyuddin) |
![]() |
| sutusan sulbar di festival seni nasional tingkat smp 2014 sesaat sebelum tampil (Foto : Muhammad Junaedi Mahyuddin) |
![]() |
| utusan sulbar di festival seni nasional tingkat smp bersama mahasiswa mandar di semarang (Foto : Muhammad Junaedi Mahyuddin) |
Budaya Mandar, Foto Budaya, Majene
Ritus siklus kehidupan manusia adalah hal yang menarik untuk disaksikan di suku Mandar, Sulawesi Barat, ada banyak ritual yang harus dilewati, dan hal ini walaupun sudah mulai berkurang, masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Mandar. Salah satu budaya yang masih bisa direkam saat ini adalah "Mappadzaiq Toyang".
Mappadzaiq Toyang dilaksanakan saat tali pusar bayi sudah kering dan yang terlibat
dalam adat ini yaitu "Sando" dan orang tua bayi. Makna dari prosesi ini adalah memperkenalkan bayi dengan toyang -nya/tempat tidurnya. Secara singkat, ini adalah sejenis salam/ untuk rumah tidur yang baru.
![]() |
| mappadzaiq toyang bayi di suku mandar sulawesi barat (Foto : Indra Ariana) |
Toyang atau "ayunan" dahulu merupakan ayunan yang bentuknya persegi panjang, diperkirakan sesuai dengan ukuran panjang badan bayi, terbuat dari kayu yang sisi-sisinya diikat dengan tali tambang berukuran kecil. Kalau kemudian kadang ayunan ini tidak seimbang, maka akan dibuat pemberat misalnya pada botol air mineral yang ada disisi-sisi ayunan yang terlihat pada gambar diatas.
Inovasi ayunan atau toyang lalu bergerak dan berganti seiring inovasi berubah menjadi ayunan yang memiliki pegas dengan kain atau sarung yang biasa diikatkan pada pengait yang ada pada pegas. Sebelum penggunaan pegas ini, ayunan lama persegi panjang yang banyak ditemukan di suku Mandar, Sulawesi Barat
Seiring perubahan zaman beberapa hal mulai berganti, lilin yang biasa digunakan dan ditancapkan diatas gunungan dari beras dalam wadah mangkuk saat ini juga menggunakan lilin sungguhan, sebenarnya lilin yang digunakan dahulu adalah lilin yang terbuat dari campuran bahan tertentu yang terbuat dari kemiri, atau "beau" namun karena kadang-kadang sulit menemukannya maka lilinnya diganti dengan lilin sungguhan. Lilin yang terbuat dari kemiri ini didaerah kab. Majene misalnya biasa disebut dengan nama "Palla-Pallang" banyak dijual saat menjelang hari lebaran idul fitri. Dan para penjual "palla-pallang" banyak bermunculan di pasar-pasar tradisional jelang momen lebaran.
Kiriman : Indra Ariana
Foto Budaya, Kalumpang, Mamuju
Kalumpang, adalah salah satu kecamatan di Mamuju, provinsi Sulawesi Barat, terletak di dataran tinggi dan pegunungan. Akses untuk menuju daerah ini cenderung sulit, bisa dikatakan mobilisasi masuk dan keluar kecamatan ini tidaklah tinggi. Namun dibalik keterasingannya dari dunia luar, Kalumpang memiliki kekayaaan budaya dan sejarah, dipercaya memiliki situs sejarah berusia 4.000 tahun lebih, dan diduga sebagai tempat awal masuknya migrasi manusia di Sulawesi.
Waktu berkunjung ke Kalumpang saya baru tahu bahwa tas/keranjang khas
buatan masyarakat di sana yang sering digunakan jika masuk hutan/kebun
ternyata disebut TOKEN. Saya teringat dengan tas khas suku asli di Papua
yang bernama NOKEN. Noken di Papua dan Token di Kalumpang sama-sama
dipakai dengan cara digantungkan di kepala dan menjuntai membebani
pundak.
![]() |
| foto noken di papua (Foto : viva.com) |
Kiriman : Dahri Dahlan
Mampie, Opini
Tahun lalu kami berkemah di hutan bakau Mampie. Kami mengintip dan
mengamati pelikan Australia yang transit sebelum melanjutkan migrasi ke
Tiongkok. Waktu itu sudah banyak mobil pengeruk yang mengolah lahan
alami menjadi tambak. Bagaimana kabar hutan bakau Mampie? Apa masih
tersisa untuk tempat singgah burung cantik itu dan untuk ratusan flora
dan fauna di sana?
![]() |
| saat mengamati pelikan di hutan bakau mampie (Foto : Dahri Dahlan) |
Ternyata Kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat menyimpan tempat yang paling baik bagi burung Pelikan, menjadi tempat transit bagi proses migrasi mereka. Pada bulan September kita dapat menjumpai ratusan burung-burung ini mampir untuk mencari makan di kawasan hutan bakau Mampie. Mengapa burung-burung ini menjadikan Mampie sebagai spot persinggahannya? hal ini karena kawasan Mampie termasuk dalam Garis Wallace pusat migrasi burung-burung langka yang berasal dari Australia.
Secara teratur burung Pelikan ini akan mendatangi Mampie, namun menurut informasi yang diperoleh jumlahnya setiap tahun semakin berkurang, hal ini disebabkan karena hilangnya makanan mereka yang ada di dalam kawasan hutan bakau. Sementara itu hutan-hutan ini semakin sempit wilayahnya oleh karena warga setempat mengubahnya menjadi areal tambak. Volume hutan bakau yang semakin kecil masih dapat ditemui di bagian pesisir saja dengan jumlah yang sangat kecil.
Kiriman : Dahri Dahlan
Mamuju, Opini, Tappalang Barat
Setelah
menghabiskan waktu hampir 9 (sembilan) minggu menjelajah dan membongkar
bentang alam Sulawesi Barat, nampak jelas potensi besar untuk industri
pariwisata. Topografi alam yang terdiri dari bentang perbukitan dan
garis pantai yang panjang di pesisir dipersenjatai ratusan teluk-teluk
cantik, menjadikan Sulawesi Barat punya pesona yang dahsyat. Akulturasi
kebudayaan yang aktraktif serta hospitality masyarakatnya, menjadikan
Sulawesi Barat begitu memikat hati.
Banyaknya objek-objek wisata
potensial yang tersebar di setiap penjuru wilayah Sulawesi Barat,
mengharuskan PEMDA setempat untuk bekerja keras dalam menggarap dan
mempromosikan aset tersebut. Namun bukan berarti setiap objek harus
mendapat perhatian dan atau diberikan sentuhan modernisasi terlebih
dahulu, baru kemudian dipasarkan/dipromosikan. Ada baiknya objek-objek
tersebut dipilah-pilah terlebih dahulu, kemudian digarap secara
sistematis sebelum dipublikasikan.
![]() |
| salah satu objek wisata di kec. tappalang barat , mamuju, sulawesi barat, tanjung ngalo (Foto : Hijranah) |
Dari sudut pandang pribadi, saya melihat banyak celah-celah yang kurang efektif dan efisien yang dilakukan oleh aparat terkait. Salah satu contoh: mendata habis setiap objek yang bisa dijadikan objek pariwisata untuk kemudian dikembangkan. Aktifitas tersebut akan memakan waktu dan berpotensi terbengkalai.
Alasannya, mengkoleksi objek-objek tersebut kemudian membuat perencanaan
anggaran dalam rangka pengembangan. Pertanyaannya kemudian, apakah
anggaran untuk sektor tersebut bisa mengcover semuanya..!?. itu mustahil
menurut saya.
Dalam petualangan saya di Sul Bar, saya banyak
bertemu dan berdiskusi dengan pejabat-pejabat pemerintah dari instansi
terkait (Dinas Pariwisata), diantaranya adalah; Kepala Bidang
Pengembangan Pariwisata Kabupaten Majene; Kepala Bidang Pengembangan
Pariwisata Kabupaten Mamuju; Kepala Bidang Pengembangan dan Pemasaran
Pariwisata DISPORABUDPAR Prov. Sulawesi Barat. Dari sudut pandang
seorang diver (penyelam), ada hal yang membuat saya senang karena
pejabat-pejabat yang saya sebutkan diatas telah memprogramkan
pengembangan industri pariwisata selam di Sulawesi Barat pada tahun
2015, bahkan PEMKAB. Mamuju telah akan merealisasikan program tersebut
tahun 2014 ini. Namun, hasil diskusi dengan pejabat-pejabat terkait
membuat saya tergelitik sekaligus prihatin. Betapa tidak, program
pengembangan industri selam yang coba mereka garap terkesan asal-asalan
dan tanpa arah, serta berpotensi menimbulkan dampak negatif yang tidak
bisa diprediksi, karena tidak sesuai dengan prosedur standar dan tanpa
acuan yang jelas.
Berbicara tentang wisata diving (selam), ini
merupakan salah satu industri potensial dalam Pariwisata. Namun bukan
berarti, setiap daerah yang memiliki garis pantai yang panjang dan
hamparan laut yang bagus layak untuk mengembangkan wisata ini. Karena
wisata diving itu sendiri akan mempunyai dampak yang begitu luas dan
mencakup beberapa aspek sosial budaya masyarakat setempat. Sehingga, tidak
boleh asal-asalan dalam penggarapannya.
Setelah saya berkoordinasi dengan salah seorang rekan (Cipto Aji Gunawan) yang ditunjuk sebagai tenaga ahli pengembangan wisata bahari dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, beliau menyatakan siap untuk membantu. Ada pun tahapan awal yang menjadi arahan beliau adalah:
Melakukan survey kelayakan diving meliputi survey potensi, kesiapan masyarakat, sosial budaya dan analisa SWOT terkait aksesibilitas, amenitas dan atraksi pendukung.
Langkah-langkahnya adalah sebagi berikut :
# Pemda setempat (Bupati/Gubernur) mengundang dan meluangkan waktu untuk mendengar presentasi tentang survey pendahuluan itu, kalau mereka setuju maka survey dilakukan dengan hasil merupakan dokumen pengembangan termasuk langkah-langkah yang harus dilakukan, Bisa jadi mulai dari RIPPDA (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah) yang menjadi kewajiban daerah dan perintah Undang-undang. Langkah kongkrit yang paralel dilakukan adalah kegiatan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penggarapan infrastruktur dasar, manajemen pengelolaan dan mulai dilakukan strategi pemasaran termasuk juga membuat penawaran investasi bagi investor.
Kiriman : Uwais Al Qarni
Tulisan Paling Banyak Dibaca
-
Munu Beach, atau pantai Munu adalah sebuah objek wisata baru di kabupaten Majene, Sulawesi Barat yang akhir - akhir ini populer di kalanga...
-
Dua batu ini menjadi saksi dan bukti sejarah lahirnya kesepakatan para leluhur kami di tanah Mandar. Di ikrarkan di wilayah kami yg kami ...
-
Kabupaten Majene baru saja memperingati hari jadinya, peristiwa tersebut dijadikan momentum bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan In...
-
Mosso, adalah desa yang letaknya di dataran tinggi kec. Balanipa, berjarak sekitar 6-7 km dari jalan poros Majene-Polewali, dapat diakses d...
-
Sulawesi Barat sebagai provinsi yang terbentuk pada tahun 2004, banyak menyimpan potensi wisata yang belum dimaksimalkan dengan baik. Objek...
-
Sebut saja ini zi arah tradisi maritim (urgensi museum), yang saya lakukan ke kediaman sang legenda, Kapten Pahlawan Laut di Museum TNI A...
-
Mappakeqdeq boyang (mendirikan rumah) bersama dengan keluarga besar di Lambanan. Meakayyang adaqtaq mipasalili litaqtaq. Lambanan adalah de...
-
Pengembangan wisata adalah mutlak membutuhkan fasilitas akomodasi, jika anda berada di kab. Majene provinsi Sulawesi Barat, dan ingin meman...
-
Berbagi cerita beberapa hari yang lalu saya mengikuti kegiatan membantu tetangga "Mallele boyang" (mengangkat dan memindahkan r...
-
Pulau Tangnga (Pulau Salamaq), Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Melihat lebih dekat Pulau Tangnga (Lebih di kenal dengan pulau Sal...
Labels
Air Terjun
Akomodasi
Alu
Anreapi
Aralle
Arsitektur
Artikel
Banggae
Banggae Timur
Batetangnga
Berita
Binuang
Budaya
Budaya Mandar
Budong-Budong
Bukit
Buku
Bulo
Campalagian
Caving
Figur
Foto
Foto Budaya
Foto Sejarah
Foto Wisata
Gasing
Goa
Gua
Hotel
Kalukku
Kalumpang
Kanang
Karya
Kecantikan
Kegiatan
Kerajaan Binuang
Komunitas
Kuliner
Limboro
Lingkungan
Literasi
Lomba
Luyo
Majene
Makam
Makassar
Malunda
Mamasa
Mambi
Mampie
Mamuju
Mamuju Tengah
Mamuju Utara
Mandar
Obje
Objek Wisata
Opini
Pamboang
Pantai
Pantai Sulbar
Pattae
Penja
Permainan Tradisional
Polewali Mandar
Rebana Mandar
Refleksi
Sandeq
Sandeq Race
Sejarah
Sendana
Seni
Senja
Situs Sejarah
Sulawesi Barat
Sungai
Sungai Mandar
Sutera Mandar
Tapalang
Tapango
Tappalang Barat
Tarian Mandar
Teater
Teluk Mandar
Tinambung
Tokoh
Trip
Tubo Sendana
Ulumanda
Video
Wisata
Wisata Majene
Wisata Mamasa
Wisata Mamuju
Wisata Mamuju Tengah
Wisata Mamuju Utara
Wisata Polewali Mandar
Wisata Polman
Wisma Penginapan
Wonomulyo









































