, , , ,

    Budaya memang satu hal yang diamis, akan selalu berkembang dan terpengaruh oleh teknologi dan inovasi. Kemajuan inovasi teknologi mesin mempermudah dan menghemat waktu yang digunakan oleh manusia untuk melakukan pekerjaannya. Hal yang sama terjadi di wilayah Sulawesi Barat, dan berlaku pada satu alat dapur yang digunakan untuk mengeruk daging buah kelapa. Masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah pikelluq

    Pada awalnya pikelluq berbentuk miniatur mirip hewan yang memiliki bagian kepala, bagian tubuh, dan ekor, tepat di bagian kepala ditancapkan bilah metal bergerigi untuk mengeruk daging buah. Namun saat ini mungkin dengan alasan "kepraktisan" maka dilakukan modifikasi terhadap "pikelluq" yaitu dengan mengubah bagian "badan"nya dengan menggunakan kayu datar tanpa bentukan miniatur yang mirip dengan hewan, sangat kontras dengan model pikelluq sebenarnya.

    pikelluq alat pengeruk kelapa tradisional
    pikelluq alat pengeruk kelapa tradisional dengan badan dari kayu biasa tanpa ukiran (Foto : Mujahidin Musa)
    Pikelluq di mata masayarakat Sulawesi Barat, suku Mandar khususnya bukan hanya memiliki fungsi sebagai alat untuk mengeruk daging buah kelapa, tetapi juga memiliki nilai mistis yang konon katanya dapat digunakan untuk mencegah angin ribut.

    Pergeseran bentuk pikelluq yang terjadi tak dapat dihindari untuk alasan kemudahan dan efektivitas dan efisiensi biaya dan tenaga yang digunakan. Karena itu, berkembanglah pikelluq  yang menggunakan media "baskom" plastik yang dimodifikasi dengan alat utama mesin air yang dijadikan alat penggerak mata pengeruk yang dengan waktu cepat mengambil daging buah kelapa secara efektif.

    pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern di binuang
    pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern di binuang (Foto : Mujahidin Musa)
    pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern
    pikelluq alat pengeruk kelapa yang modern (Foto : Mujahidin Musa)
    Kelapa memang tidak pernah bisa dipisahkan dari urusan dapur saat berada di Sulawesi Barat, tanahnya yang dianugerahi iklim sesuai dengan pertumbuhan buah kelapa menjadikan wilayah ini banyak ditumbuhi kelapa dan menjadi komoditas besar. Hal ini juga yang melatarbelakangi dunia kuliner Sulbar banyak menggunakan bahan olahan daging buah kelapa (misalnya untuk santan) sebagain bahan pelengkap masakan saat acara-acara pernikahan, selamatan, akikahan, syukuran, dan kenduri-kenduri lainnya.


    Kiriman : Mujahidin Musa

    , , , , ,

    Nama permandian ini "Lembang Batu Sambua" terletak di dusun Salubulo, desa Tubo, kec. Tubo Sendana, KM 74 Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Berjarak sekitar 300 meter dari jalan poros kab. Majene-Kab. Mamuju. Jika masyarakat lokal menyebut istilah "lembang" maka itu biasanya akan dianalogikan dengan sungai, dan ini adalah aliran sungai dengan batu kali berukuran besar namun dengan beberapa titik yang memiliki kedalaman beberapa meter.

    permandian lembang batu sambua tubo sendana
    permandian lembang batu sambua tubo sendana (Foto : Hasbi Djaya)
    Jaraknya cukup dekat dari jalan utama sehingga  mudah diakses, hanya berjarak kurang lebih 300 meter, datar, dan tidak menanjak. Debit air yang dimiliki sedang cenderung kecil, namun jika musim hujan datang maka akan lebih deras, ini salah satu ciri khas beberapa permandian atau aliran sungai di Sulawesi Barat, secara umum debit air hanya deras saat musim penghujan datang. Aliran air dari permandian aliran sungai juga banyak dialirkan melalui pipa-pipa ke kampung-kampung disekitar desa Tubo untuk keperluan MCK (mandi cuci dan kakus). 

    permandian lembang batu sambua tubo sendana majene
    permandian lembang batu sambua tubo sendana majene (Foto : Hasbi Djaya)
    Terdapat satu titik di lembang batu sambua yang sering digunakan anak-anak disekitar kampung untuk mandi dan melakukan gerakan salto. Jika ingin melakukan gerakan manuver saat terjun anda tidak perlu khawatir, ada titik-titik yang cukup dalam, anda bisa melompat dari batu yg berbentuk bundar diatasnya tanpa takut terbentur. 

    Ada banyak titik-titik permandian lokal yang tersebar di Sulawesi Barat, Lembang Batu Sambua adalah salah satu dari sekian banyak yang ada dan dikunjungi oleh warga lokal, namun masih ada begitu banyak permandian alam lainnya yang mungkin masih belum terkenal dan hanya diketahui oleh warga yang tinggal di sekitar tempat objek wisata itu saja. 

    Kec. Tubo Sendana pada awalnya merupakan wilayah yang satu dalam kec. Sendana, namun semenjak dilakukan pemekaran wilayah maka daerah ini menjadi wilayah sendiri. Kawasan Tubo Sendana adalah jalur yang pasti anda lalui jika menelusuri rute Kab. Majene-Kab. Mamuju.

    Kiriman : Hasbi Djaya

    , , , ,

    Hanya ada dua tikungan tajam yang khas dengan tebing di sisi kiri dan lautan di sisi kanan di jalur trans Sulawesi (Polewali Mandar - Makassar) satunya terletak di kabupaten Barru (Sulawesi Selatan) , dan satunya lagi di Kecamatan Binuang Kab. Polman. Namun semenjak dilakukan pelebaran jalan besar-besaran antara Makassar-Pare-Pare tikungan tajam di kabupaten Barru kemudian dipotong di sisi tebingnya menghilangkan kesan tikungan tajam yang ada, jadilah kemudian tikungan di batas desa Mirring, kec. Binuang Kab. Polewali Mandar menjadi sangat khas saat anda melalui rute Kab. Polewali Mandar - Kota Makassar. 

    Tikungan ini terletak di perbatasan desa Mirring, tempat sempurna untuk menikung dengan kecepatan yang tentunya terkontrol, saking tajamnya terdapat cermin cembung yang disiapkan di sudut jalan, dimana anda dapat melihat apakah ada atau tidak kendaraan di sisi yang berlawanan dengan anda. Lokasi ini menjadi tempat yang berbahaya sekaligus sebagai tempat untuk menikmati Binuang dengan segala keindahannya. Setiap harinya di waktu sore ada banyak masyarakat yang sengaja menyempatkan diri ke tempat ini atau pejalan yang sekedar mampir untuk sekedar foto bersama dengan latar belakang mangrove (hutan bakau) dan Pulau Battoa, jauh di seberang.
    pemandangan tikungan desa mirring polman
    pemandangan sore hari di tikungan desa mirring polman (Foto : Bayu)
     Di sekitar lokasi ini juga pada musim buah anda dapat menemukan dengan mudah warga sekitar tidak jauh dari tikungan tajam  akan menjual buah-buahan seperti rambutan, langsat, durian. 
    tikungan desa mirring
    tikungan desa mirring (Foto : Bayu)

    Ini memang kawasan paling hijau yang dimiliki kabupaten Polewali Mandar, daerah terlengkap untuk menemukan pesisir dengan gugusan pulau-pulau yang dapat tampak dari pesisir. Sebutlah misalnya Pulau Battoa yang tampak dari tepi, belum lagi Pulau Karamsang, Pulau Dea-Dea, dan Pulau Gusung Toraja yang semuanya juga terdapat di kecamatan Binuang, Polman


    Kiriman : Bayu

    ,

    Siapa yang tidak kenal dengan "penja", nyaris semua orang Mandar, Sulbar pasti tahu dengan ikan ini, ikan yang konon dipercaya jatuh dari langit. Nama ilmiah ikan ini juga tidak banyak diketahui oleh orang awam, orang-orang yang bermukim di Sulawesi Barat, hanya mengenalnya dengan nama "bau penja". Ikan ini berukuran sangat kecil, lebih kecil dari ikan teri dan hanya bisa ditemui pada waktu (musim) tertentu saja. Biasanya kuliner penja di Sulawesi Barat disajikan dengan dimasak ataupun dipanggang. Jika dipanggang maka orang-orang menyebutnya dengan istilah "dipais".

    resep cara membuat penja pais
    penja pais yang disajikan dengan irisan bawang dan cabe rawit (Foto : Zulkifli Muhammad Siddiq)
    Jika ingin memanggangnya diatas api maka Anda dapat mengikuti salah satu resep cara membuat penja pais dibawah ini yang kami sari dari perbincangan grup di  "Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar" (KOMPA DANSA MANDAR)

    Untuk bahan yg dibutuhkan adalah sebagai berikut :
    (penja, daun pisang, kelapa agak muda/setengah tua sebaiknya jangan diparut tapi dikukur dengan tipis agar tidak terlalu halus, setelah itu ditambahkan daun kedondong  muda untuk memberikan rasa asam namun segar) 

    Untuk alatnya : sebaiknya gunakan piringan yang terbuat dari tanah liat, yang biasa digunakan untuk membuat "jepa", salah satu kuliner Mandar yang terbuat dari singkong/ketela pohon, orang-orang biasa menyebutnya "panjepangan" lalu gunakalah api dari kayu arang/tradisional),

    Untuk cara membuatnya semua bahan tadi dicampur menjadi satu  kemudian dibungkus dengan daun pisang, lalu dipanggang diatas api. Jika daun telah menjadi layu dan ikannya telah matang, maka anda dapat mengangkat dan menikmatinya, Untuk mendapatkan rasa penja pais yang sempurna sebaiknya anda melahapnya dalam keadaan hangat, agar kesegarannya masih terasa.

    Resep membuat penja pais sebenarnya beragam, ada juga yang tidak menggunakan tambahan kelapa saat membungkus ikan penja nya, ada yang hanya menggunakan resep sederhana dengan menambahkan garam dan membungkusnya dengan daun pisang, namun ada juga yang tidak menambahkan daging buah kelapa dengan alasan rasa yang ditimbulkannya akan sangat gurih.

    Beberapa kuliner di Sulawesi Barat memang kadang menggunakan bahan "daun kedondong" misalnya saja untuk makanan "nasu kadundung" makanan khas suku Pattae di kec. Binuang Kab. Polman, masakan ini merupakan ayam kampung yang dimasak dengan tambahan daun kedondong.

    Kiriman : Wandi Abbas

    Komunitas Penggiat Budaya Dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) saat ini memiliki empat wilayah, diantaranya yaitu KDM Wil. Majene, KDM Wil. Polewali Mandar, KDM Wil. Mamuju, dan KDM Wil. Makassar. Wilayah KDM Mamuju yang terletak di pusat ibukota provinsi Sulawesi Barat menjadi salah satu wilayah yang cukup menarik, ada banyak kegiatan penelusuran dan pengenalan wisata yang telah mereka lakukan. Beberapa dari objek wisata seperti Pulau Karampuang, Air Terjun Tammasapi, Pantai Tanjung Ngalo, Pantai Tanjung Losa, Pantai Lombang-Lombang, Pantai Rangas, dan Ekowisata Lekke sudah mereka jejaki dan kenali.
    member kompa dansa mandar wilayah mamuju
    member kompa dansa mandar wilayah mamuju (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)
    Wilayah Mamuju menjadi satu dari KDM yang lebih banyak mengenali wisata di Sulawesi Barat, membernya yang dominan adalah pekerja kantoran menggunakan waktu di akhir pekan untuk melakukan "trip" ke tempat-tempat wisata, sembari melepaskan penat dan stress setelah enam hari kerja yang melelahkan. 

    Kiriman : Pusvawirna Natalia Muchtar


    , ,

    Perairan Sulawesi Barat yang ternyata banyak menyimpan potensi perikanan selalu menjadi kesyukuran sendiri bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai, mereka yang berprofesi sebagai nelayan banyak menggantungkan kehidupan  pada laut dan segala isinya. Satu diantaranya yaitu potensi telur ikan terbang yang merupakan komoditi paling berharga  dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

    Nelayan-nelayan Mandar, Sulawesi Barat selalu memanfaatkan momen tahunan pada bulan April-seotember saat ikan terbang memijah (bertelur). Ikan terbang dalam bahasa lokal disebut "bau tuing-tuing" dan akivitas menangkap telur ikan terbang disebut sebagai "motangnga", para pelakunya disebut "potangnga". Berburu telur ini dilakukan oleh beberapa orang nelayan dalam satu tim yang berada dalam satu perahu bermotor. 

    armada potangnga nelayan mandar
    armada potangnga nelayan mandar dengan telur ikan terbang yang didapatkan dari laut (Foto : Asdar)
    Telur ikan terbang memang diketahui memilki nilai ekonomi yang sangat tinggi, harganya yang hingga ratusan ribu per kg nya menjadikannya alasan diburu oleh para nelayan, telur-telur yang berwarna kuning-oranye cerah ini setelah ditangkap biasanya akan dijemur dibawah sinar matahari, untuk menghilangkan kadar airnya, hingga kemudian dapat dijual kepada para supllier yang akan membelinya dari nelayan lokal.
    armada sandeq potangnga nelayan mandar dan telur ikan terbang
    armada sandeq potangnga nelayan mandar dan telur ikan terbang yang dijemur (Foto : Asdar)


    sandeq potangnga nelayan mandar
    sandeq potangnga yang digunakan nelayan mandar untuk berburu telur ikan terbang
    Jika anda berkunjung ke Mandar, Sulawesi Barat dan melihat perahu bermotor yang terlihat menggantung benda berwarna kuning-oranya di bagian atas kapal, maka itu adalah "telur ikan terbang" yang sedang dijemur. Pemandangan ini akan banyak anda temui dibulan April-September.

    Kiriman : Asdar

    , ,

    Menyebrangi Sungai Makula Ulumanda menuju Desa Seppong Kec, Ulumanda Kab. Majene, Provinsi Sulawesi Barat mungkin bukan hal yang mudah, beberapa foto dalam tulisan ini mungkin bisa menggambarkannya secara jelas. Ulumanda adalah kecamatan hasil pemekaran dari kecamatan Malunda kab. Majene dan terletak jauh kedalam dataran tinggi di Sulawesi Barat, adapun akses menuju kecamatan ini sangatlah sulit, belum ada fasilitas jalan yang cukup memadai, bahkan kebutuhan akan jembatan juga mutlak diperlukan. 

    Ulumanda jarang didengarkan gaung dan suaranya, yang terkenal mungkin hanyalah kecamatan Malunda yang akan selalu anda lalui wilayahnya ketika menuju kab. Mamuju dari arah kab. Majene atau kab. Polewali Mandar, yang berbatasan langsung dengan kec. Tapalang kab. Mamuju, sedangkan Ulumanda terletak jauh ke arah pedalaman. Sehubungan dengan letaknya yang berada di pedalaman maka mutlak jika kondisi geografis menjadi salah satu rintangan yang akan anda hadapi ketika berniat menjejakkan kaki ke daerah ini.
    menyeberangi sungai makula kec ulumanda majene sulbar
    menyeberangi sungai makula kec ulumanda majene sulbar  (Foto : Masykur Sair)

    Ternyata ada daerah di kab. Majene yang bentang alamnya seperti ini, sulit dilalui oleh kendaraan warga, lalu jika ingin merefleksi dan membayangkan tinggal di daerah itu, pasti mobilisasi sulit untuk masuk/keluar daerah, lalu jika aksesnya seperti itu pendidikannya juga pasti sulit, lalu bagaimana untuk soal ekonomi dan perdagangan?

    Dibawah ini adalah gambaran warga yang harus menyeberangi sungai dengan arus cukup deras dengan membawa tabung gas 3 kilogram, butuh perjuangan yang tidak mudah untuk melalui sungai ini.

    menyeberangi sungai makula ulumanda majene sulawesi barat
    menyeberangi sungai makula ulumanda majene sulawesi barat (Foto : Masykur Sair)
    Menurut penuturan Masykur Sair, terdapat fakta menarik tentang Ulumanda, bahwa rata-rata siswa yang ada di daerah ini bersekolah, sehingga dugaan bahwa pendidikan sulit di Ulumanda mungkin agak sedikit bertentangan,  untuk pendidikan yang lebih tinggi ada yang melanjutkan di kabupaten, bahkan ada yang hingga ke Makassar, Sulawesi Selatan. Fakta lain yang menarik dari Ulumanda adalah mereka pemeluk ajaran agama Islam yang taat, setiap waktu ibadah sampai maka Masjid akan penuh terisi di lima waktu shalat.Semangat dan motivasi warga di daerah ini yang membuatnya masih "bergerak" untuk menantang rintangan yang ada.

    Jika ingin menggunakan ojek sepeda motor di kecamatan Ulumanda untuk mencapai desa-desanya maka penumpang dan pengemudi ojek kadang harus bekerja sama untuk menyebrangi sungai.  Dengan jarak 30-40 km dapat ditemph dengan waktu tiga jam, seperti itu gambaran betapa akses jalan belum memadai.

    akses jalan di ulumanda yang ekstrim
    akses jalan di ulumanda yang ekstrim, butuh kerjasama pengemudi dan penumpang (Foto : Masykur Sair)
    Untuk ukuran akses di kab. Majene maka ini adalah daerah yang paling sulit, kondisi jalan juga merupakan hal yang masih sangat memprihatinkan, jika ingin menuju daerah ini maka anda mutlak menggunakan mobil offroad yang akan menemani mendaki gunung dan bukit yang cukup tinggi, singkatnya tidak mudah untuk mencapai desa-desa yang ada. Dokumentasi foto yang dilampirkan di atas diambil pada hari kamis, tanggal 12 Juni 2014

    Kiriman : Masykur Sair

    ,

    Selepas tampil dalam Festival Teater Nasional 2014 di Gedung Kesenian Jakarta pada tanggal 15 Juni 2014, Teater Flamboyant Mandar kemudian menampilkan kembali lakon Koa-koayang di acara kenduri cinta, milik Emha Ainun Najib (Caknun).
    lakon koayang mandar di acara kenduri cinta emha ainun nadjib
    lakon koayang mandar di acara kenduri cinta emha ainun nadjib (Foto : Zulkifli Muhammad Siddiq)
    lakon koayang teater flamboyant mandar di acara kenduri cinta emha ainun nadjib
    dokumentasi lakon koayang teater flamboyant mandar di kenduri cinta maiyah (Foto : Zulkifli Muhammad Siddiq)
    Saat berdialog bersama aktor muda Teater Flamboyant Mandar yang berasal dari Tinambung, Polman, Sulawesi Barat, Caknun berkata "Saya ini orang Mandar yang kebetulan Lahir di Jombang". Ia menambahkan bahwa "Pertemuan agung di lingkaran maiyah ini tdk ada urusan dengan pemerintah daerah dan politik, tetapi ini adalah murni pertemuan yang di Tentukan Oleh Allah. 

    Kiriman : Zulkifli Muhammad Siddiq

    ,

    Ini mungkin hanya ada di Rea Jaya (Desa Patampanua), kab. Polman, Sulawesi Barat, Piala bergilir pertandingan domino. Sang pemenang akan membawa pulang tropy ini sampai waktu yang tidak ditentukan. Maksudnya, bisa saja 2 bulan kemudian, jika ada even pernikahan lagi sekitaran Desa Patampanua, maka tropy ini di bawa lagi ke lokasi lomba domino untuk diperebutkan bersama hadiah hiburan lainnya yang tentu saja ditanggung pemiliki hajatan. Intinya banyak cara untuk membahagiakan diri dan memacu diri untuk berkompetisi

    piala bergilir domino patampanua polman
    piala bergilir domino di desa patampanua kab. polewali mandar (Foto : Ibnu Masyis)
     Kiriman : Ibnu Masyis

    , ,

    Mohon doa dan dukungannya untuk kesekian kalinya teman-teman dari Teater Flamboyant Mandar kembali akan membawakan satu karya pertunjukan, dalam Festival Teater Tradisi Nasional dengan mengusung sebuah pementasan berjudul “Lakon Koayang” di gedung Kesenian Jakarta, tanggal 15 Juni 2014.
    lakon koayang mandar teater flamboyant
    lakon koayang mandar teater flamboyant (Ilustrasi : Zulkifli Muhammad Siddiq)
    Naskah : Amru Sa'dong
    Sutradara : Syuman Saeha
    Penata Musik : Irwan
    Pimpinan Produksi Ahmad Arif & Muhammad Aslam
    Penata Seni: Amir

    Pelakon :
    Iztislam Tyasa M
    Dito Alfiantara
    Wahyu Hikarhu
    Ahmad Zinnun

    Kiriman : Zulkifli Muhammad Siddiq

    ,

    Ini dia foto Budha dengan lilitan kain yang dikencangkan dari tradisi kesenian Amarawati, India Selatan yang berkembang pada abad 3-5 masehi. Patung ini (duplikat?) ditemukan di Sampaga, muara sungai Karama (yang mengalir dari Kalumpang, Mamuju, Sulawesi Barat). Patung inilah yang kelak menjadi dasar penelusuran oleh para arkeolog dalam dan luar negeri untuk menelusuri peradaban kuno Kalumpang, Sulbar.

    patung budha yang ditemukan di kalumpang mamuju sulawesi barat
    patung budha yang ditemukan di kalumpang mamuju sulawesi barat (Foto : warisanbuddhanusantara.blogspot.com)
    Kini patung tersebut tersimpan di Museum La Galigo (lantai 2), kompleks benteng Fort Rotterdam Makassar, Sulawesi Selatan.

    Kiriman : Dahri Dahlan

    , , , ,

    Diantara banyak potensi wisata yang masih tersembunyi dan belum dikenal banyak orang di Kabupaten Polman adalah beberapa permandian dengan air terjun mini yang terletak jauh di pelosok dusun dan desa, salah satunya adalah permandian baqbamappe. 

    permandian baqbamappe mapilli polman
    permandian baqbamappe mapilli polman (Foto : Muhammad Hasbi)
    Permandian ba’bamappe terletak di desa Landi Kanusuang kecamatan Mapilli kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Permandian ini masih alami dan  belum terjamah oleh banyak orang. dilihat dari bebatuan disekitarnya yang masih licin dan berlumut dan rindangnya pepohonan di sekitar permandian. Untuk menuju ke permandian tersebut bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dari daerah kecamatan Wonomulyo namun itupun harus masih berjalan kaki kurang lebih 1 km dengan melalui sungai dan  perkebunan kakao warga sekitar.
    jalur menuju permandian baqbamappe
    jalur menuju permandian baqbamappe (Foto : Muhammad Hasbi)
    air terjun mini di permandian baqbamappe
    mandi di salah saltu air terjun mini di permandian baqbamappe mapiili (Foto : Muhammad Hasbi)
    Untuk menikmati keindahan panorama alam permandian Landi Kanusuang tersebut alangkah baiknya anda datang pada saat debit air sedang besar karna daerah tersebut saat musim kemarau boleh dikatakan air terjunnya minim curahan air , tutur salah seorang kawan yang berdomisili di dekat permandian.

    permandian baqbamappe landi kanusuang
    permandian baqbamappe landi kanusuang (Foto : Muhammad Hasbi)
    mandi di permandian baqbamappe landi kanusuang
    menikmati curahan air baqbamappe landi kanusuang (Foto : Aya Ahyar)
    menikmati permandian baqbamappe polman
    menikmati permandian baqbamappe polman (Foto : Muhammad Hasbi)
    Lokasi aliran air di permandian ini merupakan area sungai Andau bagian Tanasi dan tidak jauh dari perkampungan landi zaman dahulu

    permandian baqbamappe aliran sungai andau
    permandian baqbamappe aliran sungai andau (Foto : Muhammad Hasbi)
    Disekitar area permandian tersebut banyak tumbuh pepohonan yang bisa dinikmati buahnya seperti durian dan langsat jika musimnya tiba, jika anda pencinta buah kakao anda dapat menikmati buah kakao secara langsung

    Kiriman : Muhammad Hasbi

    ,

    Ada banyak pencapaian gemilang yang ditorehkan oleh beberapa kelompok-kelompok seni di Sulawesi Barat, salah satunya adalah apa yang pernah diraih oleh paduan suara Ekklesia yang berasal dari Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. 

    Ini adalah tim paduan suara (EKKLESIA) Polewali MandarSulawesi Barat , yang berhasil mendapatkan Medali Emas Dalam Ajang SING "N" JOY MANILA dalam kategori lagu-lagu daerah, saat itu mereka membawakan Lagu SARAWANDANG & KELLE' SANGGA DILAWE, di Philipina 14-Desember-2013.

    paduan suara ekklesia sulbar di filipina
    paduan suara ekklesia sulbar di filipina (Foto : Yogi Hartono)
    aksi paduan suara ekklesia sulbar di filipina
    paduan suara ekklesia sulbar saat tampil di filipina (Foto : Yogi Hartono)
    paduan suara ekklesia polman sulbar
    paduan suara ekklesia polman sulbar (Foto : Yogi Hartono)
    tim paduan suara ekklesia polman sulbar
    formasi lengkap tim paduan suara ekklesia polman sulbar (Foto : Yogi Hartono)
     Kiriman :  Yogi Hartono

    Acara peresmian bandara Sumarorong di Kab. Mamasa Provinsi Sulawesi Barat, bulan Maret yang lalu dimeriahkan dengan tampilnya beberapa aspek-aspek seni budaya di Mamasa, diantaranya yaitu penggunaan alat musik khas yang dimiliki oleh daerah ini. 

    Ragam alat musik dipertunjukkan oleh sekelompok siswa yang mengenakan pakaian adat daerah Mamasa memukau tamu dan penonton yang hadir pada saat itu.  Alat musik yg dimainkan oleh salah satu sanggar seni di Kab. Mamasa (Sanggar Seni Tusan) pada Peresmian Bandara Sumarorong diantaranya yaitu Pompang. Alat Musik yang terbuat dari bambu ini sering di gunakan dalam acara pernikahan atau penyambutan tamu, atau acara-acara tertentu.
     
    ragam alat musik mamasa
    ragam alat musik mamasa saat peresmian bandara sumarorong mamasa  (Foto : Karantina Pertanian Sulbar)
    alat musik khas mamasa sulbar
    alat musik khas mamasa sulbar pada acara peresmian bandara sumarorong (Foto : Karantina Pertanian Sulbar)
    alat musik tradisional mamasa sulbar
    alat musik tradisional mamasa sulbar ditampilkan saat peresmian bandara mamasa (Foto : Karantina Pertanian Sulbar)
     Kiriman : Pusvawirna Natalia Muchtar

    ,

    Selasa, 3/6 pukul 09.45 Wib bertempat di Atrium Hotel Semesta Semarang Jawa Tengah. Setelah peserta pertama dari Sumatera Utara yang membawakan musik khas sumatra dipadukan tarian tor-tor, SMP Neg 2 Majene sebagai wakil sulawesi barat (Sulbar) dalam kegiatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMP berhasil memukau penonton. Menurut Iwan, salah satu penonton asal Semarang, mengungkapkan bahwa penampilan wakil Sulbar cukup mengesankan dan sangat sesuai dengan tema lomba. Iwan berharap wakil dari Sulbar untuk bidang musik tradisi dapat menjadi peserta terbaik atau paling tidak berkesan di hati para penonton. Tidak hanya itu, dari pengamatan penulis perangkat musik yang digunakan, calong menarik perhatian para penonton, pendamping, dan juri. Salah seorang guru pendamping kontingen asal Banyumas mengatakan bahwa calong ini adalah alat musik yang unik yang dibuat dengan kreatifitas yang luar biasa. Ia bahkan menyempatkan diri untuk memotret alat musik tersebut.
    utusan sulbar di festival seni nasional tingkat smp
    utusan sulbar di festival seni nasional tingkat smp (Foto : Muhammad Junaedi Mahyuddin)
    Perwakilan Sulbar dengan lagu kelleq2ma diselingi kalindaqda, serta shalawatan yang diiringi tabuhan rebana dan suara calong ingin menyampaikan pesan untuk saling menghormati, saling menyayangi, saling memaafkan serta menghindari iri hati dan membuang rasa dendam.

    FLS2N dengan tema "kreasi seni untuk membentuk karakter siswa" dibuka pada senin malam 2/6 di Marina Convention Center dan penutupan acara tersebut direncanakan akan dilaksanakan di halaman Mesjid Agung Semarang 6/6. Acara pembukaan di hadiri oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Gubernur jawa tengah dan para pejabat eselon I-II Provinsi jawa tengah. Dalam kata sambutan Gubernur berharap dari kegiatan ini menghasilkan para seniman2 hebat dan mampu menjadi benteng melawan mengempuran budaya asing. Sejalan dengan perkataan Gubernur Jawa Tengah, Menteri Muh Nuh menyampaikan bahwa pada setiap diri manusia memiliki 3 potensi, apabila 3 potensi itu dikembangkan dan ditanamkan pada peserta didik kita, maka bersandingnya keindahan manusia.
    suasana latihan sebelum pementasan festival seni nasional sulbar
    suasana latihan sebelum pementasan festival seni nasional  (Foto : Muhammad Junaedi Mahyuddin)
    utusan sulbar di festival seni nasional tingkat smp 2014
    sutusan sulbar di festival seni nasional tingkat smp 2014 sesaat sebelum tampil (Foto : Muhammad Junaedi Mahyuddin)
    Beberapa mahasiswa asal Mandar yang mengenyam pendidikan di Semarang bersama pendamping dan siswa SMP Neg 2 Majene, wakil Sulbar dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
    utusan sulbar di festival seni nasional tingkat smp bersama mahasiswa mandar
    utusan sulbar di festival seni nasional tingkat smp bersama mahasiswa mandar di semarang (Foto : Muhammad Junaedi Mahyuddin)
    Kiriman : Muhammad Junaedi Mahyuddin

    , ,

    Ritus siklus kehidupan manusia adalah hal yang menarik untuk disaksikan di suku Mandar, Sulawesi Barat, ada banyak ritual yang harus dilewati, dan hal ini walaupun sudah mulai berkurang, masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Mandar. Salah satu budaya yang masih bisa direkam saat ini adalah "Mappadzaiq Toyang".


    Mappadzaiq Toyang dilaksanakan saat tali pusar bayi sudah kering dan yang terlibat dalam adat ini yaitu  "Sando" dan orang tua bayi. Makna dari prosesi ini adalah memperkenalkan bayi dengan toyang -nya/tempat tidurnya. Secara singkat, ini adalah sejenis salam/ untuk rumah tidur yang baru.

    mappadzaiq toyang bayi di mandar
    mappadzaiq toyang bayi di suku mandar sulawesi barat (Foto : Indra Ariana)
    Toyang  atau "ayunan" dahulu merupakan ayunan yang bentuknya persegi panjang, diperkirakan sesuai dengan ukuran panjang badan bayi, terbuat dari kayu yang sisi-sisinya diikat dengan  tali tambang berukuran kecil. Kalau kemudian kadang ayunan ini tidak seimbang, maka akan dibuat pemberat misalnya pada botol air mineral yang ada disisi-sisi ayunan yang terlihat pada gambar diatas. 

    Inovasi ayunan atau toyang lalu bergerak dan berganti seiring inovasi berubah menjadi ayunan yang memiliki pegas dengan kain atau sarung yang biasa diikatkan pada pengait yang ada pada pegas. Sebelum penggunaan pegas ini, ayunan lama persegi panjang yang banyak ditemukan di suku Mandar, Sulawesi Barat


    Seiring perubahan zaman beberapa hal mulai berganti, lilin yang biasa digunakan dan ditancapkan diatas gunungan dari beras dalam wadah mangkuk saat ini juga menggunakan lilin sungguhan, sebenarnya lilin yang digunakan dahulu adalah lilin yang terbuat dari campuran bahan tertentu yang terbuat dari kemiri, atau "beau" namun karena kadang-kadang sulit menemukannya maka lilinnya diganti dengan lilin sungguhan. Lilin yang terbuat dari kemiri ini didaerah kab. Majene misalnya  biasa disebut dengan nama "Palla-Pallang" banyak dijual saat menjelang hari lebaran idul fitri. Dan para penjual "palla-pallang" banyak bermunculan di pasar-pasar tradisional jelang momen lebaran. 

    Kiriman : Indra Ariana

    , ,

    Kalumpang, adalah salah satu kecamatan di Mamuju, provinsi Sulawesi Barat, terletak di dataran tinggi dan pegunungan. Akses untuk menuju daerah ini cenderung sulit, bisa dikatakan mobilisasi masuk dan keluar kecamatan ini tidaklah tinggi. Namun dibalik keterasingannya dari dunia luar, Kalumpang memiliki kekayaaan budaya dan sejarah, dipercaya memiliki situs sejarah berusia 4.000 tahun lebih, dan diduga sebagai tempat awal masuknya migrasi manusia di Sulawesi.

    Waktu berkunjung ke Kalumpang saya baru tahu bahwa tas/keranjang khas buatan masyarakat di sana yang sering digunakan jika masuk hutan/kebun ternyata disebut TOKEN. Saya teringat dengan tas khas suku asli di Papua yang bernama NOKEN. Noken di Papua dan Token di Kalumpang sama-sama dipakai dengan cara digantungkan di kepala dan menjuntai membebani pundak. 

    foto noken di papua
    foto noken di papua (Foto : viva.com)
    Kiriman : Dahri Dahlan

    ,

    Tahun lalu kami berkemah di hutan bakau Mampie. Kami mengintip dan mengamati pelikan Australia yang transit sebelum melanjutkan migrasi ke Tiongkok. Waktu itu sudah banyak mobil pengeruk yang mengolah lahan alami menjadi tambak. Bagaimana kabar hutan bakau Mampie? Apa masih tersisa untuk tempat singgah burung cantik itu dan untuk ratusan flora dan fauna di sana?

    mengamati pelikan di hutan bakau mampie
    saat mengamati pelikan di hutan bakau mampie (Foto : Dahri Dahlan)
    Ternyata Kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat menyimpan tempat yang paling baik bagi burung Pelikan, menjadi tempat transit bagi proses migrasi mereka. Pada bulan September kita dapat menjumpai ratusan burung-burung ini mampir untuk mencari makan di kawasan hutan bakau Mampie. Mengapa burung-burung ini menjadikan Mampie sebagai spot persinggahannya? hal ini karena kawasan Mampie termasuk dalam Garis Wallace pusat migrasi burung-burung langka yang berasal dari Australia.

    Secara teratur burung Pelikan ini akan mendatangi Mampie, namun menurut informasi yang diperoleh jumlahnya setiap tahun semakin berkurang, hal ini disebabkan karena hilangnya makanan mereka yang ada di dalam kawasan hutan bakau. Sementara itu hutan-hutan ini semakin sempit wilayahnya oleh karena warga setempat mengubahnya menjadi areal tambak. Volume hutan bakau yang semakin kecil masih dapat ditemui di bagian pesisir saja dengan jumlah yang sangat kecil.

    Kiriman : Dahri Dahlan

    , ,

    Setelah menghabiskan waktu hampir 9 (sembilan) minggu menjelajah dan membongkar bentang alam Sulawesi Barat, nampak jelas potensi besar untuk industri pariwisata. Topografi alam yang terdiri dari bentang perbukitan dan garis pantai yang panjang di pesisir dipersenjatai ratusan teluk-teluk cantik, menjadikan Sulawesi Barat punya pesona yang dahsyat. Akulturasi kebudayaan yang aktraktif serta hospitality masyarakatnya, menjadikan Sulawesi Barat begitu memikat hati.

    Banyaknya objek-objek wisata potensial yang tersebar di setiap penjuru wilayah Sulawesi Barat, mengharuskan PEMDA setempat untuk bekerja keras dalam menggarap dan mempromosikan aset tersebut. Namun bukan berarti setiap objek harus mendapat perhatian dan atau diberikan sentuhan modernisasi terlebih dahulu, baru kemudian dipasarkan/dipromosikan. Ada baiknya objek-objek tersebut dipilah-pilah terlebih dahulu, kemudian digarap secara sistematis sebelum dipublikasikan.

    pasir putih tanjung ngalo tappalang barat mamuju
    salah satu objek wisata di kec. tappalang barat , mamuju, sulawesi barat,  tanjung ngalo (Foto : Hijranah)
    Dari sudut pandang pribadi, saya melihat banyak celah-celah yang kurang efektif dan efisien yang dilakukan oleh aparat terkait. Salah satu contoh: mendata habis setiap objek yang bisa dijadikan objek pariwisata untuk kemudian dikembangkan. Aktifitas tersebut akan memakan waktu dan berpotensi terbengkalai. Alasannya, mengkoleksi objek-objek tersebut kemudian membuat perencanaan anggaran dalam rangka pengembangan. Pertanyaannya kemudian, apakah anggaran untuk sektor tersebut bisa mengcover semuanya..!?. itu mustahil menurut saya.

    Dalam petualangan saya di Sul Bar, saya banyak bertemu dan berdiskusi dengan pejabat-pejabat pemerintah dari instansi terkait (Dinas Pariwisata), diantaranya adalah; Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Kabupaten Majene; Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Kabupaten Mamuju; Kepala Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata DISPORABUDPAR Prov. Sulawesi Barat. Dari sudut pandang seorang diver (penyelam), ada hal yang membuat saya senang karena pejabat-pejabat yang saya sebutkan diatas telah memprogramkan pengembangan industri pariwisata selam di Sulawesi Barat pada tahun 2015, bahkan PEMKAB. Mamuju telah akan merealisasikan program tersebut tahun 2014 ini. Namun, hasil diskusi dengan pejabat-pejabat terkait membuat saya tergelitik sekaligus prihatin. Betapa tidak, program pengembangan industri selam yang coba mereka garap terkesan asal-asalan dan tanpa arah, serta berpotensi menimbulkan dampak negatif yang tidak bisa diprediksi, karena tidak sesuai dengan prosedur standar dan tanpa acuan yang jelas.

    Berbicara tentang wisata diving (selam), ini merupakan salah satu industri potensial dalam Pariwisata. Namun bukan berarti, setiap daerah yang memiliki garis pantai yang panjang dan hamparan laut yang bagus layak untuk mengembangkan wisata ini. Karena wisata diving itu sendiri akan mempunyai dampak yang begitu luas dan mencakup beberapa aspek sosial budaya masyarakat setempat. Sehingga, tidak boleh asal-asalan dalam penggarapannya.

    Setelah saya berkoordinasi dengan salah seorang rekan (Cipto Aji Gunawan) yang ditunjuk sebagai tenaga ahli pengembangan wisata bahari dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, beliau menyatakan siap untuk membantu. Ada pun tahapan awal yang menjadi arahan beliau adalah:
    Melakukan survey kelayakan diving meliputi survey potensi, kesiapan masyarakat, sosial budaya dan analisa SWOT terkait aksesibilitas, amenitas dan atraksi pendukung.
    Langkah-langkahnya adalah sebagi berikut :
    # Pemda setempat (Bupati/Gubernur) mengundang dan meluangkan waktu untuk mendengar presentasi tentang survey pendahuluan itu, kalau mereka setuju maka survey dilakukan dengan hasil merupakan dokumen pengembangan termasuk langkah-langkah yang harus dilakukan, Bisa jadi mulai dari RIPPDA (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah) yang menjadi kewajiban daerah dan perintah Undang-undang. Langkah kongkrit yang paralel dilakukan adalah kegiatan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penggarapan infrastruktur dasar, manajemen pengelolaan dan mulai dilakukan strategi pemasaran termasuk juga membuat penawaran investasi bagi investor.

    Kiriman : Uwais Al Qarni


Top