, , , , , , ,

    Misteri Gua pantai Labuang Campalagian tak henti-hentinya membuat kami terpanggil untuk menelusurinya,  sore itu tanpa ada aba-aba saya dan Bayu kembali ke titik awal penelusuran. Sebelum turun ke Gua kami sejenak bernostalgia, memasang jebakan burung puyuh, kegiatan semasa SD sepulang sekolah. Sambil menunggu teman-teman lain yang ingin ikut menelusuri gua, jebakan demi jebakan kami sebarkan, berharap ada puyuh yang rela kami bodohi.

    Cahaya matahari mulai memerah, menandakan hari mulai sore, teman-teman yang kami tunggu tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya, karena mulai bosan saya dan Bayu mengambil inisiatif untuk turun berdua, dan bergegas ke mulut Gua, sebelum sempat turun kami bertemu dengan penjaga kebun tempat gua berada. Sayapun menyapa si pemilik kebun untuk memancing pembicaraan, dan itu berhasil,  setelah berbincang cukup lama sang empunya kebun mengajak kami ke dalam gua dan memulai penelusuran, bermodalkan 2 buah senter kamipun menerobos gelapnya gua, didalam gua riuh suara jutaan kelelawar menghantam gendang telinga, tak lama pak tua memberi kode senter kepada kami tuk menghampiri beliau, dia menunjuk kearah jalur baru, jalur yang belum kami temukan di penelusuran kedua.

    kelelawar dalam gua pantai labuang campalagian
    Kelelawar yang tinggal dalam gua di Pantai Labuang Campalagian (Foto : Ashari Sarmedi)
    Mengikuti pak tua dari belakang, sesekali menyorotkan cahaya senter ke atap gua, memastikan tak Ada hal yang kami takutkan di atas sana, hal dalam rantai makanan, bila ada produsen pasti ada konsumen, ada banyak kelelawar sudah pasti mengundang ular sebagai pemangsanya, hal itulah yang kami takutkan.

    ruang gua di pantai labuang Campalagian
    Tampakan bagian dalam gua yang dipenuhi oleh kelelawar (Foto : Ashari Sarmedi)
    berjalan menyusuri ruang-ruang dalam gua pantai labuang
    berjalan menyusuri ruang-ruang dalam gua pantai labuang dengan atap gua dipenuhi kelelawar (Foto : Ashari Sarmedi)
    Dengan setengah menunduk penelusuran kami lanjutkan, sesekali wajah kami harus di hantam kelelawar yang terbang berlawanan arah dengan kami, harus diakui jalur kali ini lebih ekstrim dibanding yang sebelumnya, belum jauh kami menelusur, baju kami sudah basah oleh kucuran keringat yang deras akibat pengap dan panas. Pada jarak sekitar 60 meter perjalanan kami memutuskan unuk keluar, karena alasan sudah kurangnya pasokan oksigen dalam ruangan gua yang semakin sempit, Bapak empunya kebun yang mengantar kami juga tampak mengalami sesak nafas, setelah menuju mulut gua untuk keluar rekan yang kami tunggu ternyata sudah menunggu diluar.  

    Kontributor : Ashari Sarmedi

    , , , ,

    Caving, caving berasal dari kata cave yaitu gua, namun orang yang menelusuri di maksud cover, sebelum memasuki mulut gua kita harus mengetahui kode etik gua terlebih dahulu, setiap kegiatan dalam komunitas pasti memiliki aturan main tertentu karenanya setiap petualang cerdas harus menyadari bahwa gua merupakan lingkungan yang sangat sensitif dan mudah tercemar, karenanya penelusuran gua harus :
    1. Tidak mengambil sesuatu, kecuali mengambil gambar (potret)
    2. Tidak meninggalkan sesuatu, kecuali jejak kaki.
    3. Tidak membunuh sesuatu, kecuali waktu.
    Ketiga aturan di atas saya dapatkan di komunitas pecinta alam, dan pastinya berusaha untuk mengaplikasikannya di penelusuran gua.

    Ekspedisi Pertama
    Hari itu melalui postingan gambar gua dari seorang teman, tentang sebuah gua yang terletak di sekitar pantai Labuang, Campalagian. Melihat postingan tersebut timbul rasa penasaran, segeralah saya beserta ketiga teman yang tak jauh dari lokasi tersebut langsung bergegas hanya untuk sekedar melihat lokasi di mana gua itu berada. Dengan hanya berbekal senter dan alat seadanya kami berempat melangkahkan kaki, kurang lebih setengah jam kami mengelilingi daerah pantai Labuang, menyisiri pesisir pantai, namun tak satupun gua yang kami dapati. Kamipun mengambil inisiatif untuk mencarinya lebih jauh ke arah selatan sekitar 100 meter dari bibir pantai, karna menurut salah seorang teman, sewaktu kecil dulu ia pernah melihat gua di tempat itu, tapi yang menjadi masalah adalah ia telah lupa di mana letak tepat gua tersebut.

    saat menelusuri gua pantai labuang campalagian
     Saat menelusuri gua pantai labuang campalagian  (Foto : Muhammad Abrar)
    Kamipun melanjutkan perjalanan di antara semak beluntas, tak begitu lama kami berjalan tiba-tiba tercium aroma tak sedap, "tidak salah lagi guanya pasti sudah dekat", sekitar 5 meter kami berjalan akhirnya kami-pun menemukan gua tersebut. Gua yang telah tertutupi oleh tumbuhan-tumbuhan liar di sekitarnya. Kami berhenti sejenak untuk membicarakan, apakah kita akan melanjutkan ke dalam atau hanya sekedar ingin mengetahui letak dari gua ini ?, dan jawabannya adalah "lanjutkan saja pak ketua". Kami lalu meneruskan rute susur gua berbekal 3 buah senter, salah satu senter telah mulai suap baterainya ."sungguh petualangan yang nekad". 

    harus ekstra hati-hati saat menelusuri gua pantai labuang campalagian
    Ekstra hati-hati saat menelusuri gua pantai labuang campalagian (Foto : Muhammad Abrar)
    saat berada dalam gua pantai labuang campalagian
    Saat berada dalam gua pantai Labuang Campalagian (Foto : Muhammad Abrar)
    ruang dalam gua pantai labuang campalagian
    Ruang dalam gua pantai labuang campalagian (Foto : Muhammad Abrar)
    Berjalan di jalan curam dengan bau kotoran kelelawar yang sangat menyengat , belum lagi harus meloncat dari satu batu ke batu yang lain, sungguh perjalanan yang sangat memuaskan adrenalin, tapi apa daya hanya sekitar 20 meter kami berjalan, kami harus memutuskan untuk segera keluar dari gua, faktor utama karena aroma kotoran kelelawar yang semakin menyengat dan menusuk hidung hingga mencabik-cabik isi perut, belum lagi kekhawatiran akan adanya binatang buas seperti  faktor ular dan lain-lainnya. Dengan penuh keraguan kamipun bergegas ke luar dari gua dan melanjutkan perjalanan menuju bibir pantai Labuang, dan menyaksikan terbenamnya matahari. Lalu sambil mengadakan diskusi kecil-kecilan, dimana kesimpulan diskusi berujung pada recana untuk mengadakan ekspedisi kedua dengan rute yang lebih jauh dan lebih dalam dibanding ekspedisi pertama.

    Kontributor : Muhammad Abrar

    , , , ,

    Setelah penelusuran awal, kami kembali ke Gua Pantai labuang untuk kedua kalinya, bersama 5 teman lainya saya memulai penelusuran, awalnya kami sedikit takut, tapi semua terbuyarkan, rasa penasaran kami yang menggunung terobati juga. 

    Setelah menyusuri gua sepanjang 50 meter, kami berhenti sejenak, kami saling menatap. di depan jalan mulai agak mengecil, hanya bisa dilalui oleh 1 orang itupun dengan merayap, seolah kembali kemasa SMA saat-saat pendiksaran PMI, kamipun menundukkan badan dan mulai merayap, sekitar 20 meter merayap kami melihat ada seberkas cahaya di arah depan.  Kami menghela nafas panjang dan mulai merayap kembali untuk mencapai cahaya itu, betapa terperangahnya kami, ternyata cahaya itu berasal dari bibir pantai, salah satu ujung Gua ini. Wajah yang tadi pucat terganti wajah yang merona karena kepuasan yang tak terhitung, lalu kami berteriak ke laut, menyalurkan semangat yang belum habis.

    member kdm polman dalam gua di pantai labuang campalagian
    Member KDM Polman saat berada dalam gua di Pantai Labuang Campalagian (Foto : Ashari Sarmedi)


    bentukan bagian dalam gua pantai labuang campalagian
    Bentukan bagian dalam gua yang sempit dan minim oksigen (Foto : Ashari Sarmedi)


    member kdm polman saat menyusuri bagian luar gua pantai labuang campalagian
    Member KDM Polman saat menyusuri bagian luar gua Pantai Labuang Campalagian (Foto : Ashari Sarmedi)
    Pada jarak sekitar 60 meter ke bagian dalam gua, terdapat fosil kerang berukuran 30 cm, posisi kerang menempel di langit-langit gua, dari kerang itulah kami sempat melihat tetesan air, bentukan kerang lumayan besar, dan menempel pada posisi yang unik "pemandangan yang indah".
     
    Ada beragam jalur yang terdapat di bagian dalam gua, jalur menuju arah laut menjadi yang paling mungkin kami telusuri, karena untuk menjelajah jauh masuk ke bagian dalam sangat tidak mungkin dengan peralatan yang minim, belum lagi udara semakin pengap dan oksigen terasa sangat kurang.

    Kontributor  : Ashari Sarmedi


Top